
Brenda menghentikan
mobilnya ketika melihat Yuda di sebuah café bersama seorang perempuan baya yang
gayanya necis seperti germo. Nggak tahu siapa dia. Yang jelas Yuda punya
hubungan dengan perempuan itu.
“Ugh… ternyata Yuda suka sama tante-tante…” umpat Brenda kesal.
Brenda ingin menemui Yuda dan meminta kejelasan dari Yuda. Namun ia
menunggu di mobil sampai Yuda keluar dari café.
Sudah hampir satu jam Brenda menunggu dengan kesal, namun Yuda belum
muncul juga. Ketika ia ingin membuka pintu, Yuda keluar bersama
perempuan tadi, kemudian masuk ke dalam mobil.
“Mereka mau kemana sih?” hati Brenda terasa dicabik-cabik. Api cemburu
mulai membara.
Brenda mengikuti mobil Yuda dari belakang. Lampu-lampu jalan terang
menyala di pinggiran jalan. Brenda menyusuri jalan Jamin Ginting hingga di perbatasan Pancur Batu. Brenda mengernyitkan
kening. Ia bingung Yuda mau pergi kemana. Mobil Yuda belok di sebuah hotel di
pinggiran jalan Jamin Ginting yang lumayan mewah. Brenda ikut memutar mobilnya
dan berusaha menjaga jarak agar tidak ketahuan. Mobil Yuda berhenti di
parkiran. Yuda keluar bersama perempuan itu. Kemudian seorang laki-laki
menghampiri mereka sambil berjabat tangan.
‘Mau apa Yuda kemari?’ bathin Brenda penasaran. Api cemburu mulai
tersulut di dadanya. Brenda memperhatikan Yuda sampai masuk ke sebuah hotel.
Kemudian ia turun dan mengintai dari jauh. Yuda menerima kunci kamar dari
seorang resepsionis.
‘Yuda nyewa kamar? Dasar laki-laki buaya. Brengsek!’ Brenda terus
mengumpat kesal.
Brenda semakin penasaran. Ia masuk dan menanyakan kamar berapa yang disewa
Yuda. Di lobi hotel ia melihat perempuan yang bersama Yuda duduk sambil
menghisap rokok. Minuman beralkohol ada di depannya.
Brenda semakin bingung. Siapa yang diajak kencandengan Yuda? Brenda menunju kamar 203 dengan tergesa. Setelah
sampai di depan pintu Brenda mengetuk pintu kamar dengan kuat. Agak lama ia
menunggu pintu di buka dan Yuda terkejut ketika melihat Brenda ada di sana. Ia
masih mengenakan handuk bersama laki-laki.
“Brenda…?” sapa Yuda gugup. “Sedang apa kamu disini?”
“Yuda? Kamu…?” Mata Brenda terbelalak. “Aku nggak nyangka sama sekali,
Yud… Kamu benar-benar menjijikkan! Aku kecewa melihatmu! Dasar pecundang!”
“Nda… dengar dulu penjelasanku,”
“Cukup, Yuda!Ternyata kamu cowok brengsek!”
Brenda beranjak dari kamar yang disewa Yuda. Yuda bingung dan kacau
dengan wajah memerah. Ia tidak dapat berkata apa-apa selain bingung dengan
pikiran tak menentu. Kedoknya sudah diketahui Brenda. Brenda pulang dengan
kesal. Ia sangat kecewa begitu melihat Yuda di sebuah kamar hotel bersama seorang laki-laki.
Brenda terisak di kamar Ela. Ia curhat tentang Yuda yang memiliki
kelainan ****. Yuda menyukai sesama jenis. Padahal selama ini Yuda terkenal
playboy dan suka gonta-ganti pacar. Dan mantan istrinya yang diceraikan.
“Sudahlah, Nda… Yuda memang bukan untukmu kali. Allah sudah memberijalan
untukmu dan menunjukkan siapa Yuda sebenarnya,”
“Tapi aku sangat kecewa, La. Kenapa Yuda harus menjadi gay? Padahal aku
sangat mencintainya,”
“Kamu nggak perlu sedih. Masih ada Dedy yang setia menanti cintamu. Kamu
harus menerimanya, Nda…”
Brenda menghapus airmatanya dengan tisu. Ia terlihat berantakan. Ela mengelus
rambut Brenda yang tergerai.
“Bagaimana dengan tawaran Maryati? Kamu tetap menerimanya?”
“Entahlah, La… Aku bingung… mengapa kehidupanku harus seperti ini?”
Ela berusaha menghibur hati sahabatnya, sementara ia terus mempersiapkan
hari pernikahannya dengan Renold.
Brenda tidak lagi mendapat kabar dari
Baim. Dengar cerita, ternyata Baim adik tiri Ryan. Papa Baim adalah papa Ryan
yang dulu meninggalkan Maryati ketika usia kandungan Maryati baru sebulan. Kini
Baim di kirim ke Jakarta untuk melanjutkan kuliahnya. Brenda sangat bersyukur
karena terlepas dari cowok arogan seperti Baim. Saat ini ia harus memilih jalan
hidupnya.
Brenda ke rumah Maryati dengan keputusan yang matang dan
sangat berat.
Ryan memang sosok cowok yang baik dan pengertian di
matanya. Ia
hanya memiliki keterbelakangan mental sebagai cowok sejati. Brenda duduk di
sofa empuk sambil menikmati teh hangat buatan Maryati. Aroma teh bercampur
melati serasa segar di tenggorokan.
“Nda…” Maryati memulai pembicaraan. Brenda mendongak menatap perempuan
baya itu.Entah mengapa kali ini ia seperti berhadapan dengan
__ADS_1
atasan yang mengintrogasi stafnya.
“Bagaimana keputusanmu?” tanya Maryati kemudian.
Brenda meletakkan mug tehnya di atas meja. Ia mendegut ludahnya yang
getir.
“Maafkan saya, Tante… Saya tidak bisa menerima tawaran, Tante…”
“Kamu sudah mempertimbangkan matang-matang keputusanmu?”
“Ya,” jawab Brenda singkat.
Maryati menatap Brenda dengan lekat. Ada pemberontakan bathin di sana.
“Kalau begitu, kamu harus mengembalikan uang yang pernah saya transfer ke
rekeningmu.”ucapnya dingin.
“Maksud, Tante?” Brenda terbelalak.
“Saya tidak mau berurusan denganmu lagi, Nda. Kamu sudah mematahkan
semangat hidup Ryan. Dia adalah anak saya satu-satunya dan
dialah masa depan saya.”
Brenda bingung dan jadi serba salah. Dia
tidak tau permainan yang direncanakan Maryati. Ia bingung harus mengembalikan uang yang sudah
ia gunakan untuk melunasi hutang-hutangnya. Itu
mustahil.
“Tante…”
“Cukup..!!!” Maryati mengangkat tangannya sebagai isyarat. “Ryan adalah
harta saya satu-satunya, Nda. Saya tidak mau ada seseorang yang mengucilkan anak
saya. Dia mutiara dalam hidup saya, Nda… Saya beri waktu seminggu untuk
mengembalikan uang saya.” Nada suara Maryati terdengar berat.
Brenda kembali menundukkan kepalanya mendengar penuturan Maryati. Ia juga
berpikir bagaimana membayar uang Maryati yang sudah ia pergunakan. Darimana ia
mencari uang sebanyak itu? Brenda menggigit bibirnya.
“Saya juga nggak segan-segan melaporkanmu ke polisi,”
Brenda mendongak dengan mata terbelalak. Ia sama sekali nggak pernah
membayangkan Maryati sekejam itu melaporkannya ke polisi. Atas tuduhan apa?
Brenda menghapus matanya dengan sapu tangan, lalu ia beranjak dari tempat
duduknya.
“Saya permisi, Tante…” pamitnya berat. Maryati tidak menyahut dan
membelakangi Brenda. Brenda keluar dengan hati sedih. Langkahnya
sangat berat. Di gazebo ia bertemu Ryan. Brenda menatap cowok itu dengan
lekat dan penuh amarah.
“Brenda mau kemana?” tanya Ryan polos.
Brenda tidak menyahut. Ia melangkahkan kakinyadan
meninggalkan Ryan begitu saja. Ryan mengikuti langkah Brenda.
Brenda berhenti di depan pintu gerbang, lalu
berpaling menatap Ryan.
“Kamu puas kan sudah membuatku menderita?!Ini semua gara-gara kamu,
Ryan! Kamu yang telah menghancurkan masa depanku! Apa sih mau kamu dan mamamu?!
Hah?!!” bentak Brenda dengan penuh emosi.
Ryan bingung menatap Brenda dengan takut.
“Ryan tidak salah… Ryan tidak salah….”
“Mamamu
menyuruhku berpura-pura mencintamu, Yan! Dan kini mamamu ingin aku menikah
denganmu?! Behh… aku nggak mau menikah dengan cowok idiot sepertimu!!!” sembur Brenda
meluap-luap.
Ryan semakin
kebingungan melihat Brenda marah-marah kepadanya.
“Kamu itu hanya
cowok bodoh yang memiliki harta, Yan… Namun kamu nggak punya hati!”
Ryan menarik-narik rambutnya sambil menggigit bibirnya. Ia benar-benar
nggak tahu apa permasalahan Brenda.
Brenda membuka pintu mobil, lalu menstarter mobilnya dan tancap gas
dengan pikiran kacau. Uang 200 juta yang ditransfer Maryati sudah ia gunakan untuk melunasi
hutang-hutangnya dan keperluan lain. Hanya sisa beberapa puluh juta lagi.
Brenda menggigit bibirnya dengan pandangan nanar. Ia terlihat berantakan
di dalam mobil. Bayangan wajah Maryati terlihat bagaikan monster di matanya.
Atau kah ini bentuk kebodohannya yang telah diperalat Maryati atau karena
keadaan yang memaksa dirinya menerima tawaran perempuan kaya itu.
Brenda menghentikan mobilnya di sebuah café yang tidak begitu ramai
pengunjungnya. Ia pernah mengunjungi tempat itu beberapa kali. Suasananya
tenang dan cocok untuk orang-orang sepertinya. Interior café yang artistik
serta peyanan yang menyenangkan.
Brenda duduk dengan pandangan kosong. Ia meneguk minumannya beberapa
kali. Ia mengambil ponselnya dari dalam
tas dan menghubungi Ela. Hanya Ela sahabat satu-satunya yang mau mengerti
tentang perasaan Brenda.
“La, aku di HOT CAFÉ. Kamu kesini dong…” suara Brenda terdengar parau.
“Ngapain kamu disana?”
“Tidur… Ya makanlah, minum… masa luluran!” Brenda sedikit sewot.
__ADS_1
“Ya udah… bentar lagi aku kesana. Masih ada kerjaan yang harus aku
selesaikan,”
“Cepetan…. Keburu aku step,
Laaa.”
“Iya-iya… nih anak kenapa sih…?”
Klik.
Ela mematikan ponselnya. Tinggal Brenda yang merungut-rungut sendiri.
Beberapa menit kemudian Ela datang sambil celingukan mencari Brenda.
Brenda melambaikan tangan ketika melihat Ela yang sibuk memperhatikan
sudut-sudut ruangan. Ela segera menghampiri Brenda dan duduk di kursi sambil
meletakkan tas sandangnya.
“Lama banget sih?” gerutu Brenda kecil.
“Macet, Nda… Kamu kenapa lagi sih?”
“Aku sebel lihat Maryati, La. Dia meminta uangnya kembali. Ini semua seperti
mimpi buruk dalam hidupku. Aku nggak tahu harus mencari uang itu
dimana?” Wajah Brenda terlihat memelas.
“Maryati benar-benar keterlaluan, Nda.
Dia tidak seharusnya melakukan hal itu. Memaksakan hak azasi seseorang demi
kepentingan pribadi,”
“Aku harus bagaimana, La. Aku menolak
menikah dengan Ryan dan dia menuntutku mengembalikan uangnya. Itu nggak adil... Aku kan sudah menjalani skenario
yang ia buat untuk pura-pura mencintai putranya,”
Brenda terlihat sock.
“Aku kan sudah bilang ke kamu, itu akan menjadi bumerang dalam hidupmu, Nda.
Kenapa juga kamu turuti,”
“Aku pikir tidak begini jadinya, La. Semua di luar dugaanku,”
“Sabar, Nda… Mungkin Maryati ingin melihat Ryan bahagia. Buktinya Ryan
senang dekat denganmu,”
“Tapi itu nggak mungkin, La. Bagaimana aku menikah dengan cowok autis
seperti Ryan? Aku nggak bisa membayangkan hal itu, La. Bagaimana nanti
tanggapan teman-teman kalau tahu suamiku ternyata penderita autis? Brenda yang
dulu supermodel di kampus banyak ditaksir cowok menikah dengan cowok idiot?
Ohh… hancurlah sudah masa depanku…”
“Kamu terima aja tawaran dokter Dedy, Nda… Mungkin dia bisa membantumu.
Aku yakin dia mau melunasi uang Maryati yang sudah kamu pergunakan,”
“Oh My God…. Ela… Aku tidak mencintai Dedy. Sedikitpun nggak ada rasa
cinta itu singgah di hatiku,”
“Cinta itu akan kamu bina setelah berumah tangga, Nda…”
“Itu pasti sangat sulit sekali, La. Hidup bersama laki-laki yang tidak
kita cintai,”
“Lantas kamu ingin mencari laki-laki seperti apa?”
Brenda menunduk. Sudah banyak laki-laki yang ia kenal. Semuanya sama
saja. Selalu menghianati cintanya. Tidak ada yang benar-benar tulus
mencintainya.
“Aku jenuh, La… Semua laki-laki sama aja,”
“Ayolah… kamu jangan pesimis begitu. Hidup ini nggak indah tanpa
pasangan,”
“Aku tahu. Tapi aku bosan mengenal laki-laki, La. Sudah cukup mereka
menyakiti hatiku. Mungkin untuk sementara ini aku akan melupakan sosok
laki-laki dari kehidupanku,”
“Ohh… Brenda… kamu jangan menjadi gadis bodoh. Kamu mau dianggap sebagai perawan tua
yang nggak laku-laku?”
“Ughh… Ela… Kamu jangan menakuti aku begitu… Ini hanya untuk sementara.
Selama hatiku belum terbuka,”
“Sudahlah… kamu terima aja dokter Dedy… Aku pusing mendengarkan
curhatanmu yang setiap hari mengeluh,”
“Ok… aku nggak akan pernah lagi curhat denganmu….”
“Hmmm…. Ngambek niii….”
“Biarin…”
“Ya udah…. Kalau begitu aku pulang dulu,” Ela pura-pura beranjak.
“Elaaa….. please deh… Jangan
membuatku semakin step….”
“Kamu sih, sok ngambekan….”
“Iya-iya, aku nggak ngambek,”
“Nah… gitu dong. Hadapi semua ini dengan senyuman…”
Brenda sewot. “Aku udah kesel begini kamu suruh senyum? Yang bisa aku
hanya meringis sambil sesenggukan,”
Ela prihatin juga melihat sahabatnya. Sementara hari pernikahannya terus
di ambang
pintu. Apakah ia akan bahagia diatas penderitaan Brenda?
“Sudah malam, Nda. Kita pulang yuk…” ajak Ela kemudian. Dengan malas
Brenda beringsut dari tempat duduknya. Tidak ada pembicaraan yang menarik sore
ini.
__ADS_1