RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 29


__ADS_3

Brenda menghentikan


mobilnya ketika melihat Yuda di sebuah café bersama seorang perempuan baya yang


gayanya necis seperti germo. Nggak tahu siapa dia. Yang jelas Yuda punya


hubungan dengan perempuan itu.


“Ugh… ternyata Yuda suka sama tante-tante…” umpat Brenda kesal.


Brenda ingin menemui Yuda dan meminta kejelasan dari Yuda. Namun ia


menunggu di mobil sampai Yuda keluar dari café.


Sudah hampir satu jam Brenda menunggu dengan kesal, namun Yuda belum


muncul juga. Ketika ia ingin membuka pintu, Yuda keluar bersama


perempuan tadi, kemudian masuk ke dalam mobil.


“Mereka mau kemana sih?” hati Brenda terasa dicabik-cabik. Api cemburu


mulai membara.


Brenda mengikuti mobil Yuda dari belakang. Lampu-lampu jalan terang


menyala di pinggiran jalan. Brenda menyusuri jalan Jamin Ginting hingga di  perbatasan Pancur Batu. Brenda mengernyitkan


kening. Ia bingung Yuda mau pergi kemana. Mobil Yuda belok di sebuah hotel di


pinggiran jalan Jamin Ginting yang lumayan mewah. Brenda ikut memutar mobilnya


dan berusaha menjaga jarak agar tidak ketahuan. Mobil Yuda berhenti di


parkiran. Yuda keluar bersama perempuan itu. Kemudian seorang laki-laki


menghampiri mereka sambil berjabat tangan.


‘Mau apa Yuda kemari?’ bathin Brenda penasaran. Api cemburu mulai


tersulut di dadanya. Brenda memperhatikan Yuda sampai masuk ke sebuah hotel.


Kemudian ia turun dan mengintai dari jauh. Yuda menerima kunci kamar dari


seorang resepsionis.


‘Yuda nyewa kamar? Dasar laki-laki buaya. Brengsek!’ Brenda terus


mengumpat kesal.


Brenda semakin penasaran. Ia masuk dan menanyakan kamar berapa yang disewa


Yuda. Di lobi hotel ia melihat perempuan yang bersama Yuda duduk sambil


menghisap rokok. Minuman beralkohol ada di depannya.


Brenda semakin bingung. Siapa yang diajak kencandengan Yuda? Brenda  menunju kamar 203 dengan tergesa. Setelah


sampai di depan pintu Brenda mengetuk pintu kamar dengan kuat. Agak lama ia


menunggu pintu di buka dan Yuda terkejut ketika melihat Brenda ada di sana. Ia


masih mengenakan handuk bersama laki-laki.


“Brenda…?” sapa Yuda gugup. “Sedang apa kamu disini?”


“Yuda? Kamu…?” Mata Brenda terbelalak. “Aku nggak nyangka sama sekali,


Yud… Kamu benar-benar menjijikkan! Aku kecewa melihatmu! Dasar pecundang!”


“Nda… dengar dulu penjelasanku,”


“Cukup, Yuda!Ternyata kamu cowok brengsek!”


Brenda beranjak dari kamar yang disewa Yuda. Yuda bingung dan kacau


dengan wajah memerah. Ia tidak dapat berkata apa-apa selain bingung dengan


pikiran tak menentu. Kedoknya sudah diketahui Brenda. Brenda pulang dengan


kesal. Ia sangat kecewa begitu melihat Yuda di sebuah kamar hotel bersama seorang laki-laki.



Brenda terisak di kamar Ela. Ia curhat tentang Yuda yang memiliki


kelainan ****. Yuda menyukai sesama jenis. Padahal selama ini Yuda terkenal


playboy dan suka gonta-ganti pacar. Dan mantan istrinya yang diceraikan.


“Sudahlah, Nda… Yuda memang bukan untukmu kali. Allah sudah memberijalan


untukmu dan menunjukkan siapa Yuda sebenarnya,”


“Tapi aku sangat kecewa, La. Kenapa Yuda harus menjadi gay? Padahal aku


sangat mencintainya,”


“Kamu nggak perlu sedih. Masih ada Dedy yang setia menanti cintamu. Kamu


harus menerimanya, Nda…”


Brenda menghapus airmatanya dengan tisu. Ia terlihat berantakan. Ela mengelus


rambut Brenda yang tergerai.


“Bagaimana dengan tawaran Maryati? Kamu tetap menerimanya?”


“Entahlah, La… Aku bingung… mengapa kehidupanku harus seperti ini?”


Ela berusaha menghibur hati sahabatnya, sementara ia terus mempersiapkan


hari pernikahannya dengan Renold.



Brenda tidak lagi mendapat kabar dari


Baim. Dengar cerita, ternyata Baim adik tiri Ryan. Papa Baim adalah papa Ryan


yang dulu meninggalkan Maryati ketika usia kandungan Maryati baru sebulan. Kini


Baim di kirim ke Jakarta untuk melanjutkan kuliahnya. Brenda sangat bersyukur


karena terlepas dari cowok arogan seperti Baim. Saat ini ia harus memilih jalan


hidupnya.


Brenda ke rumah Maryati dengan keputusan yang matang dan


sangat berat.


Ryan memang sosok cowok yang baik dan pengertian di


matanya. Ia


hanya memiliki keterbelakangan mental sebagai cowok sejati. Brenda duduk di


sofa empuk sambil menikmati teh hangat buatan Maryati. Aroma teh bercampur


melati serasa segar di tenggorokan.


“Nda…” Maryati memulai pembicaraan. Brenda mendongak menatap perempuan


baya itu.Entah mengapa kali ini ia seperti berhadapan dengan

__ADS_1


atasan yang mengintrogasi stafnya.


“Bagaimana keputusanmu?” tanya Maryati kemudian.


Brenda meletakkan mug tehnya di atas meja. Ia mendegut ludahnya yang


getir.


“Maafkan saya, Tante… Saya tidak bisa menerima tawaran, Tante…”


“Kamu sudah mempertimbangkan matang-matang keputusanmu?”


“Ya,” jawab Brenda singkat.


Maryati menatap Brenda dengan lekat. Ada pemberontakan bathin di sana.


“Kalau begitu, kamu harus mengembalikan uang yang pernah saya transfer ke


rekeningmu.”ucapnya dingin.


“Maksud, Tante?” Brenda terbelalak.


“Saya tidak mau berurusan denganmu lagi, Nda. Kamu sudah mematahkan


semangat hidup Ryan. Dia adalah anak saya satu-satunya dan


dialah masa depan saya.”


Brenda bingung dan jadi serba salah. Dia


tidak tau permainan yang direncanakan Maryati. Ia bingung harus mengembalikan uang yang sudah


ia gunakan untuk melunasi hutang-hutangnya. Itu


mustahil.


“Tante…”


“Cukup..!!!” Maryati mengangkat tangannya sebagai isyarat. “Ryan adalah


harta saya satu-satunya, Nda. Saya tidak mau ada seseorang yang mengucilkan anak


saya. Dia mutiara dalam hidup saya, Nda… Saya beri waktu seminggu untuk


mengembalikan uang saya.” Nada suara Maryati terdengar berat.


Brenda kembali menundukkan kepalanya mendengar penuturan Maryati. Ia juga


berpikir bagaimana membayar uang Maryati yang sudah ia pergunakan. Darimana ia


mencari uang sebanyak itu? Brenda menggigit bibirnya.


“Saya juga nggak segan-segan melaporkanmu ke polisi,”


Brenda mendongak dengan mata terbelalak. Ia sama sekali nggak pernah


membayangkan Maryati sekejam itu melaporkannya ke polisi. Atas tuduhan apa?


Brenda menghapus matanya dengan sapu tangan, lalu ia beranjak dari tempat


duduknya.


“Saya permisi, Tante…” pamitnya berat. Maryati tidak menyahut dan


membelakangi Brenda. Brenda keluar dengan hati sedih. Langkahnya


sangat berat. Di gazebo ia bertemu Ryan. Brenda menatap cowok itu dengan


lekat dan penuh amarah.


“Brenda mau kemana?” tanya Ryan polos.


Brenda tidak menyahut. Ia melangkahkan kakinyadan


meninggalkan Ryan begitu saja. Ryan mengikuti langkah Brenda.


Brenda berhenti di depan pintu gerbang, lalu


berpaling menatap Ryan.


“Kamu puas kan sudah membuatku menderita?!Ini semua gara-gara kamu,


Ryan! Kamu yang telah menghancurkan masa depanku! Apa sih mau kamu dan mamamu?!


Hah?!!” bentak Brenda dengan penuh emosi.


Ryan bingung menatap Brenda dengan takut.


“Ryan tidak salah… Ryan tidak salah….”


“Mamamu


menyuruhku berpura-pura mencintamu, Yan! Dan kini mamamu ingin aku menikah


denganmu?! Behh… aku nggak mau menikah dengan cowok idiot sepertimu!!!” sembur Brenda


meluap-luap.


Ryan semakin


kebingungan melihat Brenda marah-marah kepadanya.


“Kamu itu hanya


cowok bodoh yang memiliki harta, Yan… Namun kamu nggak punya hati!”


Ryan menarik-narik rambutnya sambil menggigit bibirnya. Ia benar-benar


nggak tahu apa permasalahan Brenda.


Brenda membuka pintu mobil, lalu menstarter mobilnya dan tancap gas


dengan pikiran kacau. Uang 200 juta yang ditransfer Maryati sudah ia gunakan untuk melunasi


hutang-hutangnya dan keperluan lain. Hanya sisa beberapa puluh juta lagi.


Brenda menggigit bibirnya dengan pandangan nanar. Ia terlihat berantakan


di dalam mobil. Bayangan wajah Maryati terlihat bagaikan monster di matanya.


Atau kah ini bentuk kebodohannya yang telah diperalat Maryati atau karena


keadaan yang memaksa dirinya menerima tawaran perempuan kaya itu.


Brenda menghentikan mobilnya di sebuah café yang tidak begitu ramai


pengunjungnya. Ia pernah mengunjungi tempat itu beberapa kali. Suasananya


tenang dan cocok untuk orang-orang sepertinya. Interior café yang artistik


serta peyanan yang menyenangkan.


Brenda duduk dengan pandangan kosong. Ia meneguk minumannya beberapa


kali.  Ia mengambil ponselnya dari dalam


tas dan menghubungi Ela. Hanya Ela sahabat satu-satunya yang mau mengerti


tentang perasaan Brenda.


“La, aku di HOT CAFÉ. Kamu kesini dong…” suara Brenda terdengar parau.


“Ngapain kamu disana?”


“Tidur… Ya makanlah, minum… masa luluran!” Brenda sedikit sewot.

__ADS_1


“Ya udah… bentar lagi aku kesana. Masih ada kerjaan yang harus aku


selesaikan,”


“Cepetan…. Keburu aku step,


Laaa.”


“Iya-iya… nih anak kenapa sih…?”


Klik.


Ela mematikan ponselnya. Tinggal Brenda yang merungut-rungut sendiri.


Beberapa menit kemudian Ela datang sambil celingukan mencari Brenda.


Brenda melambaikan tangan ketika melihat Ela yang sibuk memperhatikan


sudut-sudut ruangan. Ela segera menghampiri Brenda dan duduk di kursi sambil


meletakkan tas sandangnya.


“Lama banget sih?” gerutu Brenda kecil.


“Macet, Nda… Kamu kenapa lagi sih?”


“Aku sebel lihat Maryati, La. Dia meminta uangnya kembali. Ini semua seperti


mimpi buruk dalam hidupku. Aku nggak tahu harus mencari uang itu


dimana?” Wajah Brenda terlihat memelas.


“Maryati benar-benar keterlaluan, Nda.


Dia tidak seharusnya melakukan hal itu. Memaksakan hak azasi seseorang demi


kepentingan pribadi,”


“Aku harus bagaimana, La. Aku menolak


menikah dengan Ryan dan dia menuntutku mengembalikan uangnya. Itu nggak adil... Aku kan sudah menjalani skenario


yang ia buat untuk pura-pura mencintai putranya,”


Brenda terlihat sock.


“Aku kan sudah bilang ke kamu, itu akan menjadi bumerang dalam hidupmu, Nda.


Kenapa juga kamu turuti,”


“Aku pikir tidak begini jadinya, La. Semua di luar dugaanku,”


“Sabar, Nda… Mungkin Maryati ingin melihat Ryan bahagia. Buktinya Ryan


senang dekat denganmu,”


“Tapi itu nggak mungkin, La. Bagaimana aku menikah dengan cowok autis


seperti Ryan? Aku nggak bisa membayangkan hal itu, La. Bagaimana nanti


tanggapan teman-teman kalau tahu suamiku ternyata penderita autis? Brenda yang


dulu supermodel di kampus banyak ditaksir cowok menikah dengan cowok idiot?


Ohh… hancurlah sudah masa depanku…”


“Kamu terima aja tawaran dokter Dedy, Nda… Mungkin dia bisa membantumu.


Aku yakin dia mau melunasi uang Maryati yang sudah kamu pergunakan,”


“Oh My God…. Ela… Aku tidak mencintai Dedy. Sedikitpun nggak ada rasa


cinta itu singgah di hatiku,”


“Cinta itu akan kamu bina setelah berumah tangga, Nda…”


“Itu pasti sangat sulit sekali, La. Hidup bersama laki-laki yang tidak


kita cintai,”


“Lantas kamu ingin mencari laki-laki seperti apa?”


Brenda menunduk. Sudah banyak laki-laki yang ia kenal. Semuanya sama


saja. Selalu menghianati cintanya. Tidak ada yang benar-benar tulus


mencintainya.


“Aku jenuh, La… Semua laki-laki sama aja,”


“Ayolah… kamu jangan pesimis begitu. Hidup ini nggak indah tanpa


pasangan,”


“Aku tahu. Tapi aku bosan mengenal laki-laki, La. Sudah cukup mereka


menyakiti hatiku. Mungkin untuk sementara ini aku akan melupakan sosok


laki-laki dari kehidupanku,”


“Ohh… Brenda… kamu jangan menjadi gadis bodoh. Kamu mau dianggap sebagai perawan tua


yang nggak laku-laku?”


“Ughh… Ela… Kamu jangan menakuti aku begitu… Ini hanya untuk sementara.


Selama hatiku belum terbuka,”


“Sudahlah… kamu terima aja dokter Dedy… Aku pusing mendengarkan


curhatanmu yang setiap hari mengeluh,”


“Ok… aku nggak akan pernah lagi curhat denganmu….”


“Hmmm…. Ngambek niii….”


“Biarin…”


“Ya udah…. Kalau begitu aku pulang dulu,” Ela pura-pura beranjak.


“Elaaa….. please deh… Jangan


membuatku semakin step….”


“Kamu sih, sok ngambekan….”


“Iya-iya, aku nggak ngambek,”


“Nah… gitu dong. Hadapi semua ini dengan senyuman…”


Brenda sewot. “Aku udah kesel begini kamu suruh senyum? Yang bisa aku


hanya meringis sambil sesenggukan,”


Ela prihatin juga melihat sahabatnya. Sementara hari pernikahannya terus


di ambang


pintu. Apakah ia akan bahagia diatas penderitaan Brenda?


“Sudah malam, Nda. Kita pulang yuk…” ajak Ela kemudian. Dengan malas


Brenda beringsut dari tempat duduknya. Tidak ada pembicaraan yang menarik sore


ini.

__ADS_1



__ADS_2