RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 17


__ADS_3

Wajah Franky bermain-main lagi di mata Brenda. Dia benar-benar muak


dengan cowok itu dan lebih muak lagi ketika bertemu di bioskop bersama cewek


lain. Itu membuat hati Brenda ingin meledak.


Brenda duduk di sofa sambil menyelonjorkan kakinya. Pikirannya kini


sedang kalut. Kata-kata kapan


menikah terngiang-ngiang lagi di benaknya. Sementara Ela akan menikah dengan


Renold.


“Bu… tadi ada telpon dari pihak bank…”


Brenda mendongak ke pembantunya.


“Apa katanya, Bik?”


“Ibu harus segera melunasi hutang-hutang, kalau tidak mereka akan datang


ke rumah ini, Bu…”


Brenda menghela berat. “Ya sudah, saya akan urus nanti. Buatkan saya susu


coklat ya, Bik…”


“Maaf, Bu… Susunya habis. Ibu belum memberi saya uang belanja,”


Brenda terdiam. “Ya ampuuunnn…. Maaf, Bik… Saya lupa,”


Brenda mengambil tas kerjanya dan menarik dompet kecil di dalamnya.


Mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dan memberikannya ke Narti. Ia


melirik sejenak ke dompetnya. Tinggal beberapa lembar yang tersisa.


‘Oh my God… bantu aku ya Allah…’



Sudah dua hari Ryan


berada di rumah sakit. Belum ada perubahan, namun Ryan sudah sadar dengan


menggerakkan jari-jari


tangannya. Maryati dengan penuh kasih sayang menunggu putranya di ruang


perawatan.


“Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?” tanya Maryati ke dokter yang


menangani penyakit Ryan.


“Anak ibu baik-baik saja. Biarkan dia istirahat ya,”


“Terima kasih, Dok…”


Maryati menatap Ryan dengan senyuman tipis dan mata berkaca-kaca.


“Syukurlah anakku… kamu baik-baik saja…”


Maryati duduk di


samping Ryan sambil terus berdoa. Ryan membuka matanya dan menatap Maryati.


“Ma…” ucapnya


serak.


Maryati


tersenyum. “Ya, Sayang…. Mama disini. Kamu sudah sadar?”


Ryan mengangguk.


“Ryan mau cinta, Ma…”


Kata-kata itu


lagi yang membuat Maryati terpaku. Seberapa besarkah rasa cinta putranya kepada


gadis dalam lukisan itu?


“Iya, Sayang…


Mama tahu… Tapi mama tidak tahu siapa Ryan cinta?”


“Ryan mau


cinta…. Ryan mau cinta….”


Maryati berusaha


membujuk Ryan agar tenang di tempat tidurnya. Ryan diam dan meminta bola


kristalnya dari Maryati. Ia membiarkan Ryan menenangkan pikirannya dengan bola


itu, lalu ia keluar dan duduk di bangku tunggu.



Suara tapak


sepatu terdengar di koridor rumah sakit. Itu suara sepatu Brenda. Brenda

__ADS_1


mengenakan stiletto dan membawa seikat bunga segar. Berjalan menuju


ruang perawatan Ryan.


Brenda melihat


Maryati yang wajahnya terlihat sedih.


“Pagi, Tante…”


ia menyapa perempuan baya itu dengan seulas senyum.


“Brenda… kamu


sudah datang?” Maryati menghapus matanya yang sempat merebak.


“Sudah, Tante…”


Brenda duduk di sebelah Maryati. “Bagaimana keadaan Ryan?”


“Sudah mulai


membaik, hanya saja ia butuh istirahat penuh,”


“Oh…”


“Nda...” gumam Maryati pelan. Brenda menoleh, menatap wajah


perempuan itu yang tampak sangat lelah.


“Boleh saya minta bantuan kamu?” ujar Maryati.


“Apa yang bisa saya bantu, Tante?”tanya Brenda ingin tahu.


Maryati menoleh ke Brenda. Menatap gadis itu dengan


lekat, namun pendar matanya yang bening tak mampu berucap. Brenda sedikit


bingung melihat Maryati.


“Saya ingin kamu berpura-pura mencintai Ryan...”ucapnya penuh harap.


Brenda sedikit terkejut.


“Maksud, Tante?” Brenda mengerutkan keningnya.


Maryati menghela sejenak. “Saya akan memberi dua ratus


juta untukmu, Nda. Kamu harus meyakinkan Ryan, kalau kamulah gadis dalam


lukisannya itu,”


“Tapi, Tante...”


“Tolong, Ndaaa... Ini hanya sebulan saja...”


hanya bersandiwara? Ryan akan semakin terluka...”


“Itu tidak akan terjadi, Nda...”


Brenda terdiam dengan pikiran bingung. Ia tidak dapat


memberikan keputusan begitu saja ke Maryati. Tawaran itu sangat tidak mungkin


diterimanya, namun dengan imbalan yang begitu besar dan demi melunasi


hutang-hutangnya, Brenda meminta waktu beberapa hari untuk menjawabnya.


“Beri saya waktu, Tante...”


Maryati tersenyum tipis. “Baiklah... saya akan menunggu


keputusanmu, Nda.”


Brenda mengangguk canggung.


“Saya melihat Ryan dulu, Tante...”


Brenda masuk ke ruang Ryan, lalu duduk di kursi. Brenda


memperhatikan wajah Ryan dengan lekat. Cowok itu sudah tertidur. Kepalanya


diperban dan lengannya terlihat bengkak. Keadaan Ryan sangat memprihatinkan.



“Aku bingung, La. Maryati


menyuruhku berpura-pura mencintai putranya,” Brenda memulai ceritanya.


“What?”Ela terkejut.


“Lantas kamu menerimanya?”


“Aku bingung, La. Maryati


menawariku bayaran yang cukup banyak. Dua ratus juta,”


“Dua ratus juta?” mulut


Ela menganga.


“Iya… tutup dulu mulutmu, bau jigong…”


Ela sewot sambil menutup


mulutnya lalu berkata.

__ADS_1


“Dan kamu tergiur dengan uang


sebanyak itu? Brenda-Brenda... pikirkan masa depanmu. Kamu nggak mungkin pacaran dengan cowok idiot seperti Ryan,”


“Huussttt... Ela... Aku kan


sudah bilang ke kamu jangan sekali-kali mengucilkan Ryan. Dia tidak bersalah.


Dia hanya menjadi korban penderitaan yang sangat berat,”


Ela mengangkat bahunya.


“Okey... Aku harap kamu tidak terlanjur mencintai cowok itu. Masih banyak cowok


yang lebih sempurna dari Ryan, Nda. Ada Yuda, yang cakep dan pengusaha. Dedy,


seorang dokter... Mau yang mana pilihanmu...?”


“Sudahlah, La. Aku nggak


mungkin mencintai Ryan. Aku sangat mencintai Yuda, tapi nggak ada respon dari


dia,”


“Kalau dokter Dedy bagaimana?”


“Aku nggak tahu seluk


beluknya, La. Keluarganya bagaimana?”


“Dia dari keluarga baik-baik,


Nda. Kamu nggak perlu khawatir,”


Brenda menerima pesanannya, lalu menyeruput minuman yang baru


saja diletakkan sang pelayan. Ela memainkan pipet minumannya.


“Bagaimana dengan cowok


ambisius itu?”


“Ugh…. Aku jenuh menghadapinya,


La. Aku takut dia nekad nyakiti aku,”


“Dia masih mengganggumu?”


“Itulah yang terjadi dengan Ryan. Baim melabrak Ryan habis-habisan hingga


terjadi perkelahian. Ryan memukul Baim dengan pas bunga. Aku takut Baim


melakukan lebih dari itu, La,”


“Kamu jangan khawatir, Nda. Om-ku seorang polisi dan sepupuku Brimob. Aku bisa melaporkan dia kapan saja jika menyakitimu,”


“Makasih, La. Setelah ini aku nggak tahu apa yang akan diperbuat Baim,”


Brenda merasa khawatir.


“Kamu jangan takut, Nda. Aku siap membantumu 24 jam…”


Brenda tersenyum tipis. “Kayak Kamtib aja kamu… Hahahaha….” Mereka tertawa berbarengan.


“Bagaimana persiapan


pernikahan kalian?” tanya Brenda mengalihkan pembicaraan.


“Kami sudah mendesain bentuk


undangan dan fitting baju pernikahan,”


“Wah... kamu pasti cantik


sekali dengan baju pengantinmu,


La...”


“Aku harap begitu dan hanya


sekali saja mengenakannya,”


“Yah, kalau pasanganmu nggak


selingkuh... hahahaha...”


“Brendaaaa... Ugh... kamu


mendoakan aku begitu ya? Ihhh...”


“Enggak dong... aku ingin kamu


bahagia bersama Renold,”


“Ugh... kamu jahat...”


“Hehehe...”


Brenda menyantap hidangannya


dengan lahap. Kemudian mereka ngobrol lagi seputar Yuda. Cowok tampan yang dulu


pernah dilirik Brenda, namun nggak ada tanda-tanda dari Yuda. Padahal besar harapan Brenda


menjadi kekasih Yuda.


__ADS_1


__ADS_2