
Wajah Franky bermain-main lagi di mata Brenda. Dia benar-benar muak
dengan cowok itu dan lebih muak lagi ketika bertemu di bioskop bersama cewek
lain. Itu membuat hati Brenda ingin meledak.
Brenda duduk di sofa sambil menyelonjorkan kakinya. Pikirannya kini
sedang kalut. Kata-kata kapan
menikah terngiang-ngiang lagi di benaknya. Sementara Ela akan menikah dengan
Renold.
“Bu… tadi ada telpon dari pihak bank…”
Brenda mendongak ke pembantunya.
“Apa katanya, Bik?”
“Ibu harus segera melunasi hutang-hutang, kalau tidak mereka akan datang
ke rumah ini, Bu…”
Brenda menghela berat. “Ya sudah, saya akan urus nanti. Buatkan saya susu
coklat ya, Bik…”
“Maaf, Bu… Susunya habis. Ibu belum memberi saya uang belanja,”
Brenda terdiam. “Ya ampuuunnn…. Maaf, Bik… Saya lupa,”
Brenda mengambil tas kerjanya dan menarik dompet kecil di dalamnya.
Mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dan memberikannya ke Narti. Ia
melirik sejenak ke dompetnya. Tinggal beberapa lembar yang tersisa.
‘Oh my God… bantu aku ya Allah…’
Sudah dua hari Ryan
berada di rumah sakit. Belum ada perubahan, namun Ryan sudah sadar dengan
menggerakkan jari-jari
tangannya. Maryati dengan penuh kasih sayang menunggu putranya di ruang
perawatan.
“Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?” tanya Maryati ke dokter yang
menangani penyakit Ryan.
“Anak ibu baik-baik saja. Biarkan dia istirahat ya,”
“Terima kasih, Dok…”
Maryati menatap Ryan dengan senyuman tipis dan mata berkaca-kaca.
“Syukurlah anakku… kamu baik-baik saja…”
Maryati duduk di
samping Ryan sambil terus berdoa. Ryan membuka matanya dan menatap Maryati.
“Ma…” ucapnya
serak.
Maryati
tersenyum. “Ya, Sayang…. Mama disini. Kamu sudah sadar?”
Ryan mengangguk.
“Ryan mau cinta, Ma…”
Kata-kata itu
lagi yang membuat Maryati terpaku. Seberapa besarkah rasa cinta putranya kepada
gadis dalam lukisan itu?
“Iya, Sayang…
Mama tahu… Tapi mama tidak tahu siapa Ryan cinta?”
“Ryan mau
cinta…. Ryan mau cinta….”
Maryati berusaha
membujuk Ryan agar tenang di tempat tidurnya. Ryan diam dan meminta bola
kristalnya dari Maryati. Ia membiarkan Ryan menenangkan pikirannya dengan bola
itu, lalu ia keluar dan duduk di bangku tunggu.
Suara tapak
sepatu terdengar di koridor rumah sakit. Itu suara sepatu Brenda. Brenda
__ADS_1
mengenakan stiletto dan membawa seikat bunga segar. Berjalan menuju
ruang perawatan Ryan.
Brenda melihat
Maryati yang wajahnya terlihat sedih.
“Pagi, Tante…”
ia menyapa perempuan baya itu dengan seulas senyum.
“Brenda… kamu
sudah datang?” Maryati menghapus matanya yang sempat merebak.
“Sudah, Tante…”
Brenda duduk di sebelah Maryati. “Bagaimana keadaan Ryan?”
“Sudah mulai
membaik, hanya saja ia butuh istirahat penuh,”
“Oh…”
“Nda...” gumam Maryati pelan. Brenda menoleh, menatap wajah
perempuan itu yang tampak sangat lelah.
“Boleh saya minta bantuan kamu?” ujar Maryati.
“Apa yang bisa saya bantu, Tante?”tanya Brenda ingin tahu.
Maryati menoleh ke Brenda. Menatap gadis itu dengan
lekat, namun pendar matanya yang bening tak mampu berucap. Brenda sedikit
bingung melihat Maryati.
“Saya ingin kamu berpura-pura mencintai Ryan...”ucapnya penuh harap.
Brenda sedikit terkejut.
“Maksud, Tante?” Brenda mengerutkan keningnya.
Maryati menghela sejenak. “Saya akan memberi dua ratus
juta untukmu, Nda. Kamu harus meyakinkan Ryan, kalau kamulah gadis dalam
lukisannya itu,”
“Tapi, Tante...”
“Tolong, Ndaaa... Ini hanya sebulan saja...”
hanya bersandiwara? Ryan akan semakin terluka...”
“Itu tidak akan terjadi, Nda...”
Brenda terdiam dengan pikiran bingung. Ia tidak dapat
memberikan keputusan begitu saja ke Maryati. Tawaran itu sangat tidak mungkin
diterimanya, namun dengan imbalan yang begitu besar dan demi melunasi
hutang-hutangnya, Brenda meminta waktu beberapa hari untuk menjawabnya.
“Beri saya waktu, Tante...”
Maryati tersenyum tipis. “Baiklah... saya akan menunggu
keputusanmu, Nda.”
Brenda mengangguk canggung.
“Saya melihat Ryan dulu, Tante...”
Brenda masuk ke ruang Ryan, lalu duduk di kursi. Brenda
memperhatikan wajah Ryan dengan lekat. Cowok itu sudah tertidur. Kepalanya
diperban dan lengannya terlihat bengkak. Keadaan Ryan sangat memprihatinkan.
“Aku bingung, La. Maryati
menyuruhku berpura-pura mencintai putranya,” Brenda memulai ceritanya.
“What?”Ela terkejut.
“Lantas kamu menerimanya?”
“Aku bingung, La. Maryati
menawariku bayaran yang cukup banyak. Dua ratus juta,”
“Dua ratus juta?” mulut
Ela menganga.
“Iya… tutup dulu mulutmu, bau jigong…”
Ela sewot sambil menutup
mulutnya lalu berkata.
__ADS_1
“Dan kamu tergiur dengan uang
sebanyak itu? Brenda-Brenda... pikirkan masa depanmu. Kamu nggak mungkin pacaran dengan cowok idiot seperti Ryan,”
“Huussttt... Ela... Aku kan
sudah bilang ke kamu jangan sekali-kali mengucilkan Ryan. Dia tidak bersalah.
Dia hanya menjadi korban penderitaan yang sangat berat,”
Ela mengangkat bahunya.
“Okey... Aku harap kamu tidak terlanjur mencintai cowok itu. Masih banyak cowok
yang lebih sempurna dari Ryan, Nda. Ada Yuda, yang cakep dan pengusaha. Dedy,
seorang dokter... Mau yang mana pilihanmu...?”
“Sudahlah, La. Aku nggak
mungkin mencintai Ryan. Aku sangat mencintai Yuda, tapi nggak ada respon dari
dia,”
“Kalau dokter Dedy bagaimana?”
“Aku nggak tahu seluk
beluknya, La. Keluarganya bagaimana?”
“Dia dari keluarga baik-baik,
Nda. Kamu nggak perlu khawatir,”
Brenda menerima pesanannya, lalu menyeruput minuman yang baru
saja diletakkan sang pelayan. Ela memainkan pipet minumannya.
“Bagaimana dengan cowok
ambisius itu?”
“Ugh…. Aku jenuh menghadapinya,
La. Aku takut dia nekad nyakiti aku,”
“Dia masih mengganggumu?”
“Itulah yang terjadi dengan Ryan. Baim melabrak Ryan habis-habisan hingga
terjadi perkelahian. Ryan memukul Baim dengan pas bunga. Aku takut Baim
melakukan lebih dari itu, La,”
“Kamu jangan khawatir, Nda. Om-ku seorang polisi dan sepupuku Brimob. Aku bisa melaporkan dia kapan saja jika menyakitimu,”
“Makasih, La. Setelah ini aku nggak tahu apa yang akan diperbuat Baim,”
Brenda merasa khawatir.
“Kamu jangan takut, Nda. Aku siap membantumu 24 jam…”
Brenda tersenyum tipis. “Kayak Kamtib aja kamu… Hahahaha….” Mereka tertawa berbarengan.
“Bagaimana persiapan
pernikahan kalian?” tanya Brenda mengalihkan pembicaraan.
“Kami sudah mendesain bentuk
undangan dan fitting baju pernikahan,”
“Wah... kamu pasti cantik
sekali dengan baju pengantinmu,
La...”
“Aku harap begitu dan hanya
sekali saja mengenakannya,”
“Yah, kalau pasanganmu nggak
selingkuh... hahahaha...”
“Brendaaaa... Ugh... kamu
mendoakan aku begitu ya? Ihhh...”
“Enggak dong... aku ingin kamu
bahagia bersama Renold,”
“Ugh... kamu jahat...”
“Hehehe...”
Brenda menyantap hidangannya
dengan lahap. Kemudian mereka ngobrol lagi seputar Yuda. Cowok tampan yang dulu
pernah dilirik Brenda, namun nggak ada tanda-tanda dari Yuda. Padahal besar harapan Brenda
menjadi kekasih Yuda.
__ADS_1