RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 27


__ADS_3

Ryan berdiri di balkon


kamarnya sambil memandang ke depan. Ia terpaku sambil memainkan bola


kristalnya. Entah apa yang ia renungkan. Maryati menghampiri putranya dengan


perasaan gundah. Ia berdiri di samping Ryan.


“Kamu melamun


apa, Yan?”


Ryan menoleh ke


Maryati dengan pandangan teduh.


“Ryan mau cinta,


Ma…” ucapnya datar.


“Cinta?” Maryati


tersenyum tipis. “Ryan masih cinta dengan gadis dalam lukisan itu?”


Ryan menggeleng.


“Lantas?”


“Ryan cinta


Brenda, Ma…”


Maryati


tersenyum. “Ryan katakan aja sendiri ke Brenda,”


“Brenda nggak


marah kan, Ma?”


“Enggak dong


sayang…”


Ryan turun dari


balkon kamarnya menuju teras depan. Ia menunggu kedatangan Brenda sambil memegang


seikat mawar putih di tangannya. Ia ingin memberikan mawar itu ke Brenda. Kini


Ryan benar-benar menyukai Brenda. Ia mencintai Brenda.


Brenda muncul di


gerbang setelah mobilnya di parkir. Senyumnya mengembang ketika melihat Ryan


menyambut kedatangannya. Ryan memberikan bunga itu ke Brenda.


“Ini untuk


Brenda…” ucap Ryan.


Brenda


memperhatikan mawar putih yang dibentuk sangat indah. Dicampur bunga-bunga


kecil dengan daun yang hijau segar.


“Wah… bagus


banget…” Brenda menerima rangkaian bunga dari Ryan.


“Brenda suka?”


Brenda


mengangguk sambil mencium bunga itu.


“Hmmm… aku


suka,”


“Ryan yang


bikin,”


“Oh… Kamu hebat,


Yan…”


Brenda


melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batu-batu


sungai. Kemudian ia duduk di kursi kayu yang dibentuk sedemikian rupa sambil


meletakkan bunganya.


“Hari ini kita


belajar apa, Nda?” tanya Ryan.


“Ryan mau


belajar apa? Bahasa Inggris, Sejarah atau permainan?”


“Hmmm… Ryan mau


sejarah…”


“Kalau begitu


kita ke museum. Disana banyak peninggalan-peninggalan zaman dulu,”


“Seperti Putri


Hijau?”


“Yah,


begitulah…”


“Ryan mau…”

__ADS_1


“Kalau begitu


kita pamit dulu sama mama kamu,”


Setelah


berpamitan Brenda dan Ryan menuju museum sejarah. Banyak


peninggalan-peninggalan zaman dulu yang sudah mulai tak terurus.


Brenda terkejut


ketika seseorang menarik tangannya dengan kasar. Laki-laki itu berkepala botak


memakai kaus hitam.


“Baim! Kamu


apa-apa-an sih?!” sergah Brenda sedikit emosi.


“Oh…jadi kamu lebih


memilih laki-laki idiot itu dari pada aku?!” Mata Baim melotot ke Brenda.


“Ini tidak ada urusannya


denganmu, Im!”


“Sekarang


menjadi urusanku, Brenda! Kamu perempuan ****! Bodoh! Apa sih kurangnya aku di


matamu, Nda?! Aku cowok sempurna, kaya, ganteng dan tidak idiot seperti dia!”


“Tutup mulutmu!


Kamu itu egois! Playboy!”


“Dan aku tidak


dungu seperti pacarmu!”


Ryan berusaha


merelai tangan Baim yang mencengkeram bahu Brenda. Namun Baim malah menghajar Ryan


habis-habisan. Ia memukul Ryan hingga Ryan terhempas jauh. Brenda berusaha menarik


tubuh Baim agar tidak memukul Ryan.


“Baimm!! Jangan


sakiti dia! Dia tidak bersalah…! Baiimmm!!!”


Baim tidak


perduli, ia terus menghajar Ryan hingga Ryan tersungkur. Ryan berusaha melawan


namun ditangkis Baim dengan cepat.


Brenda minta


tolong pada siapa saja agar membantu Ryan. Akhirnya Baim diamankan beberapa


Brenda menghubungi Ela. Dan Ela menghubungi saudaranya yang bekerja sebagai


polisi. Polisi datang dan menangkap Baim.


Ryan sedikit


terluka dengan bibir berdarah. Hidungnya juga mengeluarkan darah.


“Ryan nggak


apa-apa?” tanya Brenda khawatir.


Ryan terlihat sempoyongan


sambil memegangi hidungnya.


“Ryan baik-baik


aja,” ucapnya.


Ela datang


terburu-buru dan menghampiri Brenda yang memapah Ryan.


“Kamu baik-baik


aja, Nda?” tanya Ela cemas.


“Aku baik-baik


aja, La,” ucap Brenda sambil menutup hidung Ryan dengan tisu.


“Sebaiknya kita


bawa ke dokter, Nda… Dia pendarahan…”


“Nggak usah, La.


Aku nggak mau Maryati semakin cemas. Aku akan mengatasinya. Ryan hanya mimisan


biasa,”


“Oh….”


Ela terdiam


memperhatikan Ryan.


“Jadi ini cowok


yang kamu bilang itu?” bisiknya pelan.


“Iya, La. Ini


Ryan…”


Ela tersenyum


tipis.

__ADS_1


“Kenapa kamu


tersenyum?”


Ela menarik


Brenda agak menjauh ke Ryan.


“Aku nggak


nyangka, Nda… Dia tampan sekali…”


“Ugh… kamu mau


meledekku ya?” Brenda sedikit sewot.


“Bener… Dia


nggak kelihatan kok autisnya,”


“Sudah ah, La.


Jangan menghiburku,”


“Andai saja dia


nggak autis…”


“Elaaa…. Sudah


ah. Kamu nggak bosan-bosannya mencibir Ryan.”


Brenda kembali


menghampiri Ryan dan menyumbat hidung Ryan dengan tisu agar darah berhenti


keluar. Setelah Ryan membaik, Brenda mengantar Ryan pulang ke rumah.



Maryati meneguk minumannya, lalu meletakannya di atas meja. Teh


hangat dan camilan kecil. Brenda juga menikmati tehnya yang disuguhkan Maryati.


“Nda…” gumamnya


pelan.


Brenda


meletakkan mugnya ke atas meja.


“Ya, Tante…”


“Ryan sangat


menyukaimu. Dia sungguh-sungguh mencintaimu, Nda…”


“Tapi, Tante…


Saya tidak…”


“Nda… saya


mohon, menikahlah dengan Ryan…”


Brenda


terbelalak kaget. Menikah dengan Ryan? ‘Oh… cobaan apalagi yang harus aku


hadapi?’ ratap Brenda.


“Tante… saya…”


Brenda terlihat


bingung.


“Saya mohon,


Nda… Kasihan Ryan… Saya tidak mau ia menderita untuk yang kedua kalinya,”


“Tapi bagaimana


mungkin saya menikah dengan Ryan, Tante… Saya sudah punya kekasih…”


“Lupakan saja


kekasihmu itu. Saya mohon, Nda… Saya akan membayar berapapun yang kamu minta,”


“Saya nggak


bisa, Tante…”


“Apa karena Ryan


autis?”


Brenda terdiam.


Ia menikmati dengan getir setiap kata-kata Maryati yang dihujamkan padanya.


“Beri saya


waktu, Tante…” Brenda menunduk. Pikirannya semakin kalutdengan permohonan Maryati.


Menikahi Ryan itu sama saja ia bunuh diri. Membunuh semua karakternya sebagai


wanita karir dan fashionable.


“Baiklah, Nda.


Saya akan memberimu waktu, tapi tolong… Menikahlah dengan Ryan….” ujar Maryati


seraya beranjak dari duduknya. “Saya masih banyak kerjaan…” Maryati meninggal


Brenda sendiri di tempat duduknya.


Brenda beranjak


dengan lemas. Permainan apalagi yang direncanakan Maryati hingga ia menyuruh


Brenda menikah dengan Ryan. Sungguh sebuah keputusan yang berat dan pahit baginya.

__ADS_1



__ADS_2