
Ryan berdiri di balkon
kamarnya sambil memandang ke depan. Ia terpaku sambil memainkan bola
kristalnya. Entah apa yang ia renungkan. Maryati menghampiri putranya dengan
perasaan gundah. Ia berdiri di samping Ryan.
“Kamu melamun
apa, Yan?”
Ryan menoleh ke
Maryati dengan pandangan teduh.
“Ryan mau cinta,
Ma…” ucapnya datar.
“Cinta?” Maryati
tersenyum tipis. “Ryan masih cinta dengan gadis dalam lukisan itu?”
Ryan menggeleng.
“Lantas?”
“Ryan cinta
Brenda, Ma…”
Maryati
tersenyum. “Ryan katakan aja sendiri ke Brenda,”
“Brenda nggak
marah kan, Ma?”
“Enggak dong
sayang…”
Ryan turun dari
balkon kamarnya menuju teras depan. Ia menunggu kedatangan Brenda sambil memegang
seikat mawar putih di tangannya. Ia ingin memberikan mawar itu ke Brenda. Kini
Ryan benar-benar menyukai Brenda. Ia mencintai Brenda.
Brenda muncul di
gerbang setelah mobilnya di parkir. Senyumnya mengembang ketika melihat Ryan
menyambut kedatangannya. Ryan memberikan bunga itu ke Brenda.
“Ini untuk
Brenda…” ucap Ryan.
Brenda
memperhatikan mawar putih yang dibentuk sangat indah. Dicampur bunga-bunga
kecil dengan daun yang hijau segar.
“Wah… bagus
banget…” Brenda menerima rangkaian bunga dari Ryan.
“Brenda suka?”
Brenda
mengangguk sambil mencium bunga itu.
“Hmmm… aku
suka,”
“Ryan yang
bikin,”
“Oh… Kamu hebat,
Yan…”
Brenda
melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batu-batu
sungai. Kemudian ia duduk di kursi kayu yang dibentuk sedemikian rupa sambil
meletakkan bunganya.
“Hari ini kita
belajar apa, Nda?” tanya Ryan.
“Ryan mau
belajar apa? Bahasa Inggris, Sejarah atau permainan?”
“Hmmm… Ryan mau
sejarah…”
“Kalau begitu
kita ke museum. Disana banyak peninggalan-peninggalan zaman dulu,”
“Seperti Putri
Hijau?”
“Yah,
begitulah…”
“Ryan mau…”
__ADS_1
“Kalau begitu
kita pamit dulu sama mama kamu,”
Setelah
berpamitan Brenda dan Ryan menuju museum sejarah. Banyak
peninggalan-peninggalan zaman dulu yang sudah mulai tak terurus.
Brenda terkejut
ketika seseorang menarik tangannya dengan kasar. Laki-laki itu berkepala botak
memakai kaus hitam.
“Baim! Kamu
apa-apa-an sih?!” sergah Brenda sedikit emosi.
“Oh…jadi kamu lebih
memilih laki-laki idiot itu dari pada aku?!” Mata Baim melotot ke Brenda.
“Ini tidak ada urusannya
denganmu, Im!”
“Sekarang
menjadi urusanku, Brenda! Kamu perempuan ****! Bodoh! Apa sih kurangnya aku di
matamu, Nda?! Aku cowok sempurna, kaya, ganteng dan tidak idiot seperti dia!”
“Tutup mulutmu!
Kamu itu egois! Playboy!”
“Dan aku tidak
dungu seperti pacarmu!”
Ryan berusaha
merelai tangan Baim yang mencengkeram bahu Brenda. Namun Baim malah menghajar Ryan
habis-habisan. Ia memukul Ryan hingga Ryan terhempas jauh. Brenda berusaha menarik
tubuh Baim agar tidak memukul Ryan.
“Baimm!! Jangan
sakiti dia! Dia tidak bersalah…! Baiimmm!!!”
Baim tidak
perduli, ia terus menghajar Ryan hingga Ryan tersungkur. Ryan berusaha melawan
namun ditangkis Baim dengan cepat.
Brenda minta
tolong pada siapa saja agar membantu Ryan. Akhirnya Baim diamankan beberapa
Brenda menghubungi Ela. Dan Ela menghubungi saudaranya yang bekerja sebagai
polisi. Polisi datang dan menangkap Baim.
Ryan sedikit
terluka dengan bibir berdarah. Hidungnya juga mengeluarkan darah.
“Ryan nggak
apa-apa?” tanya Brenda khawatir.
Ryan terlihat sempoyongan
sambil memegangi hidungnya.
“Ryan baik-baik
aja,” ucapnya.
Ela datang
terburu-buru dan menghampiri Brenda yang memapah Ryan.
“Kamu baik-baik
aja, Nda?” tanya Ela cemas.
“Aku baik-baik
aja, La,” ucap Brenda sambil menutup hidung Ryan dengan tisu.
“Sebaiknya kita
bawa ke dokter, Nda… Dia pendarahan…”
“Nggak usah, La.
Aku nggak mau Maryati semakin cemas. Aku akan mengatasinya. Ryan hanya mimisan
biasa,”
“Oh….”
Ela terdiam
memperhatikan Ryan.
“Jadi ini cowok
yang kamu bilang itu?” bisiknya pelan.
“Iya, La. Ini
Ryan…”
Ela tersenyum
tipis.
__ADS_1
“Kenapa kamu
tersenyum?”
Ela menarik
Brenda agak menjauh ke Ryan.
“Aku nggak
nyangka, Nda… Dia tampan sekali…”
“Ugh… kamu mau
meledekku ya?” Brenda sedikit sewot.
“Bener… Dia
nggak kelihatan kok autisnya,”
“Sudah ah, La.
Jangan menghiburku,”
“Andai saja dia
nggak autis…”
“Elaaa…. Sudah
ah. Kamu nggak bosan-bosannya mencibir Ryan.”
Brenda kembali
menghampiri Ryan dan menyumbat hidung Ryan dengan tisu agar darah berhenti
keluar. Setelah Ryan membaik, Brenda mengantar Ryan pulang ke rumah.
Maryati meneguk minumannya, lalu meletakannya di atas meja. Teh
hangat dan camilan kecil. Brenda juga menikmati tehnya yang disuguhkan Maryati.
“Nda…” gumamnya
pelan.
Brenda
meletakkan mugnya ke atas meja.
“Ya, Tante…”
“Ryan sangat
menyukaimu. Dia sungguh-sungguh mencintaimu, Nda…”
“Tapi, Tante…
Saya tidak…”
“Nda… saya
mohon, menikahlah dengan Ryan…”
Brenda
terbelalak kaget. Menikah dengan Ryan? ‘Oh… cobaan apalagi yang harus aku
hadapi?’ ratap Brenda.
“Tante… saya…”
Brenda terlihat
bingung.
“Saya mohon,
Nda… Kasihan Ryan… Saya tidak mau ia menderita untuk yang kedua kalinya,”
“Tapi bagaimana
mungkin saya menikah dengan Ryan, Tante… Saya sudah punya kekasih…”
“Lupakan saja
kekasihmu itu. Saya mohon, Nda… Saya akan membayar berapapun yang kamu minta,”
“Saya nggak
bisa, Tante…”
“Apa karena Ryan
autis?”
Brenda terdiam.
Ia menikmati dengan getir setiap kata-kata Maryati yang dihujamkan padanya.
“Beri saya
waktu, Tante…” Brenda menunduk. Pikirannya semakin kalutdengan permohonan Maryati.
Menikahi Ryan itu sama saja ia bunuh diri. Membunuh semua karakternya sebagai
wanita karir dan fashionable.
“Baiklah, Nda.
Saya akan memberimu waktu, tapi tolong… Menikahlah dengan Ryan….” ujar Maryati
seraya beranjak dari duduknya. “Saya masih banyak kerjaan…” Maryati meninggal
Brenda sendiri di tempat duduknya.
Brenda beranjak
dengan lemas. Permainan apalagi yang direncanakan Maryati hingga ia menyuruh
Brenda menikah dengan Ryan. Sungguh sebuah keputusan yang berat dan pahit baginya.
__ADS_1