RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 30


__ADS_3

Ryan memainkan bola kristalnya dan duduk di kursi jepara. Pikirannya kacau. Kepalanya


bergoyang-goyang dengan keringat yang bercucuran. Giginya bergelatuk. Pemandangan kota Medan sore itu


terlihat buram di matanya. Ia tidak tahu mengapa Brenda begitu marah padanya, sehingga meluapkan


kata-kata yang ditakuti Ryan.


Maryati memperhatikan putra satu-satunya


dengan hati miris.Ia menghampiri Ryan yang duduk terpaku, lalu mengelus kepalanya.


“Sabarlah anakku… Semuanya pasti berlalu…”


“Ryan mau cinta…. Ryan mau cinta….”


“Mama tahu sayang… Ryan harus sabar…”


Maryati memeluk Ryan dengan erat. Ia berharap Ryan mampu menghadapi semua


ini dengan pikiran tentang dan tidak melakukan tindakan-tindakan aneh. Seperti


sebelum-sebelumnya. Ryan menyakiti tubuhnya sendiri. Menggigit lengan tangannya


sampai berdarah.



Maryati menoleh pelan ketika Andrean


menyapanya. Senyuman Andrean tak semanis dulu, yang pernah ia kagumi saat


mereka berpacaran. Andrean menghampiri Maryati sambil menatapnya dengan tajam.


“Bagaimana keadaan Ryan, Mar?” tanya Andrean


basa-basi.


“Dia baik-baik saja,”


Ada kecanggungan pada Andrean saat dekat


dengan Maryati. Tidak seperti dulu, saat mereka merajut cinta monyet dan


akhirnya memutuskan menikah dengan tekat yang kuat.


“Kembalilah padaku, Mar... Aku sangat


mencintaimu...” ujar Andrean sedikit ragu.


Maryati tertunduk dengan dua pilihan


yang sangat sulit. Begitu banyak cobaan yang ia hadapi tanpa didampingi


Andrean. Ia juga berjuang keras demi hidup yang serba abu-abu. Maryati


mendongak menatap Andrean penuh arti. Wajah laki-laki itu telah pudar dalam


hatinya.


“Maafkan aku, Ndre... Aku tidak bisa


merajut cinta itu kembali. Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Lebih


baik kamu kembali dengan keluargamu. Jangan sia-siakan mereka,”


“Mar... aku sangat mencintaimu dari dulu


sampai sekarang...”


“Buang saja rasa cintamu padaku, Ndre...


Semuanya sudah berubah,”


“Tapi, Mar.... Aku nggak bisa kehilangan


dirimu untuk yang kedua kali,”


“Mungkin itu lebih baik. Daripada kamu


kehilangan kedua-duanya. Biarkan aku dengan kehidupanku. Aku sudah cukup


bahagia bersama Ryan tanpa ada kamu di samping kami, dan itu sudah kulalui selama


dua puluh empat tahun,”


Andrean tak berkata apa-apa. Ia hanya


menyesali kejadian dua puluh empat tahun lalu. Mengapa ia meninggalkan


perempuan yang sangat ia cintai. Gontai langkahnya meninggalkan kediaman


Maryati sambil menunduk dengan hati kecewa.


Maryati terduduk di kursi sambil


sesenggukan. Ia menelan pahit-pahit kepergian laki-laki yang dulu sangat ia


cintai, hingga ia tak mendengarkan nasehat kedua orangtuanya. Cinta memang

__ADS_1


tidak selalu memiliki.


Ada laki-laki lain yang menantikan


kehadiran Maryati. Dia adalah Baskoro, teman kampusnya dulu. Baskoro datang menemui


Maryati. Setelah kehadiran Andrean, akhirnya ia memilih Baskoro sebagai


pendamping hidupnya. Ia menolak ajakan Andrean untuk kembali padanya. Itu semua


tidak mungkin ia lakukan. Semuanya sudah berubah, Andrean tidak lagi miliknya.


Kini Andrean milik seorang perempuan necis yang gayanya selangit.


“Aku sudah tidak sabar merencanakan hari pernikahan kita, Mar..” ujar


Baskoro sambil memijit pundak Maryati yang duduk di kursi taman.


“Aku juga begitu, Bas. Tapi aku masih memikirkan putraku,”


“Kenapa lagi dengan Ryan?”


“Dia sedang jatuh cinta,”


“Hhhmm… bagus itu, Mar. Apa masalahmu?”


Maryati menghela nafas dengan berat. “Dia mencintai gadis bernama


Brenda,”


“Oh, ya? Siapa dia?”


“Seorang gadis yang selama ini mengajar Ryan. Aku bingung, Bas. Aku juga


khawatir dengan perkembangan mentalnya,”


“Bukankan kamu sudah mengajarinya tentang pendidikan ****? Dan mengenal


alat reproduksi lawan jenis?”


“Itu sudah kuajarkan sejak ia berusia sepuluh tahun, Bas. Aku khawatir


Ryan tidak mampu mengontrol dirinya? Dan aku juga belum pernah ketemu dengan


anak autis yang menikah,”


“Sabarlah, Mar. Ryan itu butuh proses dan dia harus terus diarahkan


dengan hal-hal yang positif,”


“Entahlah, Bas…. Apakah aku sanggup?”


“Anakmu, anakku juga…”


“Bass…” Maryati menggenggam jemari Baskoro dari pundaknya. Ia tersenyum


bahagia dengan mata berkaca-kaca.



Ryan memandangi kanvas putih di depannya. Menorehkan warna hitam di sana,


namun tidak menemukan titik imajinasi yang menguatkan lukisannya. Warna-warna


itu seakan pudar begitu saja. Itu yang membuat Ryan semakin kacau. Ia membuang


kuas lukisnya lalu menarik-narik rambutnya dengan kuat.


PRAAANNNKK…. BRAAAAKKKK….


Nafasnya tersengal dengan mata memerah.


PRENTAAANNKKK… GUBRAAAKKK…


Ryan menghempaskan semua alat-alat lukisnya. Menghempaskan kanvas putih


dan lukisan-lukisannya.


“ARRRGGGHHHHKKKK…..” Ryan menjerit-jerit, lalu menggigit-gigit lengannya


seperti seorang pecandu narkoba.


Maryati yang mendengar teriakan Ryan sontak terkejut.


“Ada apa, Mar?” tanya Baskoro ingin tahu.


“Ryan, Bas…”


Ia bersama Baskoro buru-buru meninggalkan taman dan menghampiri kamar


Ryan di lantai dua. Nafas Maryati tersengal menaiki anak tangga. Setelah berada


di depan pintu kamar Ryan, Maryati mencoba membukanya, namun nggak bisa


terbuka. Ryan menguncinya dari dalam.


“Ryan… Kamu tenang, Nak… Jangan buat mama khawatir…” teriak Maryati panik


sambil menggedor pintu.

__ADS_1


“Yan… kalau ada masalah kita bicara baik-baik yuk…” bujuk Baskoro


kemudian.


Ryan diam saja di kamarnya. Ia meremas-remas rambutnya.


“Bagaimana ini, Bas…? Aku khawatir terjadi apa-apa dengan Ryan…”


“Tenang, Mar… Kita bujuk sekali lagi…”


“RYAN NGGAK SALAAHH…. RYAN NGGAK SALAH….” teriak Ryan dari dalam.


“Mama tahu Ryan nggak salah… Buka pintunya, Yan….”


“ARRRGGHKKKK… RYAN MAU CINTA….”


Maryati menangis di depan pintu kamar Ryan. Ia menggigit bibirnya sambil


sesenggukan. Baskoro menggenggam jemari Maryati untuk menguatkan hati perempuan


itu. Perempuan yang sangat ia cintai.


“Tenang, Mar…. Tenang…”


“Aku harus bagaimana, Bas…?”


“Kita ke rumah gadis


itu, Mar,”


“Maksudmu Brenda?”


“Iya,”


“Aku nggak tahu rumahnya…”


“Oh, Maryati… Mengapa kamu tidak meminta alamat rumahnya?”


“Aku tidak teringat akan hal itu, Bas…”


Baskoro terdiam sambil berfikir, sementara Maryati terus menggedor pintu


kamar Ryan. Mendadak saja situasi menjadi hening. Nggak ada lagi teriakan Ryan


yang membuat Maryati menjadi panik, namun keheningan itu semakin membuat


Maryati khawatir.


‘Apa yang terjadi dengan Ryan..?’ bathinnya.


“Ryan sudah tenang, Mar…” ujar Baskoro.


Maryati menatap Baskoro dengan lekat. Ada cewas diraut wajahnya.


“Aku justru khawatir, Bas..? Apa yang terjadi dengan Ryan di dalam? Kita


dobrak aja pintunya,” pinta Maryati.


“Aku akan mendobrak pintunya,”


“Butuh dua orang untuk mendobraknya, Bas. Sebentar aku panggilkan


Dirman…” Maryati turun ke bawah memanggil Dirman, supirnya.


Beberapa detik kemudian Maryati tergopoh bersama Dirman menuju kamar


Ryan. Baskoro segera mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar Ryan.


Dirman mengikuti gerakan Baskoro sambil menghitung.


“Satu… Dua… Tigaaa…”


BRAAAAAAAAAAAKKK


Pintu terbuka, namun ada kerusakan sedikit pada engsel dan induk kunci.


Maryati dan Baskoro berhambur masuk mencari Ryan. Maryati memperhatikan kamar


Ryan yang berantakan. Cat lukis berserakan beserta kanvas-kanvas putih dengan


warna tidak merata. Wajah Maryati terlihat semakin cemas. Matanya mengedar


mencari putra satu-satunya.


“Ryaannn….” jeritnya ketika melihat tubuh Ryan tergeletak di lantai


bersimbah darah. Baskoro buru-buru menghampiri Maryati yang sudah sesenggukan.


“Kenapa dengan Ryan, Mar?”


Maryati menangis. “Aku nggak tahu, Bas. Lebih baik segera kita bawa ke rumah sakit. Ryan


banyak mengeluarkan darah,”


“Iya,”


Baskoro mengangkat tubuh Ryan dan segera memasukkan ke dalam mobil.


Maryati duduk dengan hati kalut dan cemas. Ia terus menangis tak henti-hentinya.

__ADS_1



__ADS_2