
Ryan memainkan bola kristalnya dan duduk di kursi jepara. Pikirannya kacau. Kepalanya
bergoyang-goyang dengan keringat yang bercucuran. Giginya bergelatuk. Pemandangan kota Medan sore itu
terlihat buram di matanya. Ia tidak tahu mengapa Brenda begitu marah padanya, sehingga meluapkan
kata-kata yang ditakuti Ryan.
Maryati memperhatikan putra satu-satunya
dengan hati miris.Ia menghampiri Ryan yang duduk terpaku, lalu mengelus kepalanya.
“Sabarlah anakku… Semuanya pasti berlalu…”
“Ryan mau cinta…. Ryan mau cinta….”
“Mama tahu sayang… Ryan harus sabar…”
Maryati memeluk Ryan dengan erat. Ia berharap Ryan mampu menghadapi semua
ini dengan pikiran tentang dan tidak melakukan tindakan-tindakan aneh. Seperti
sebelum-sebelumnya. Ryan menyakiti tubuhnya sendiri. Menggigit lengan tangannya
sampai berdarah.
Maryati menoleh pelan ketika Andrean
menyapanya. Senyuman Andrean tak semanis dulu, yang pernah ia kagumi saat
mereka berpacaran. Andrean menghampiri Maryati sambil menatapnya dengan tajam.
“Bagaimana keadaan Ryan, Mar?” tanya Andrean
basa-basi.
“Dia baik-baik saja,”
Ada kecanggungan pada Andrean saat dekat
dengan Maryati. Tidak seperti dulu, saat mereka merajut cinta monyet dan
akhirnya memutuskan menikah dengan tekat yang kuat.
“Kembalilah padaku, Mar... Aku sangat
mencintaimu...” ujar Andrean sedikit ragu.
Maryati tertunduk dengan dua pilihan
yang sangat sulit. Begitu banyak cobaan yang ia hadapi tanpa didampingi
Andrean. Ia juga berjuang keras demi hidup yang serba abu-abu. Maryati
mendongak menatap Andrean penuh arti. Wajah laki-laki itu telah pudar dalam
hatinya.
“Maafkan aku, Ndre... Aku tidak bisa
merajut cinta itu kembali. Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing. Lebih
baik kamu kembali dengan keluargamu. Jangan sia-siakan mereka,”
“Mar... aku sangat mencintaimu dari dulu
sampai sekarang...”
“Buang saja rasa cintamu padaku, Ndre...
Semuanya sudah berubah,”
“Tapi, Mar.... Aku nggak bisa kehilangan
dirimu untuk yang kedua kali,”
“Mungkin itu lebih baik. Daripada kamu
kehilangan kedua-duanya. Biarkan aku dengan kehidupanku. Aku sudah cukup
bahagia bersama Ryan tanpa ada kamu di samping kami, dan itu sudah kulalui selama
dua puluh empat tahun,”
Andrean tak berkata apa-apa. Ia hanya
menyesali kejadian dua puluh empat tahun lalu. Mengapa ia meninggalkan
perempuan yang sangat ia cintai. Gontai langkahnya meninggalkan kediaman
Maryati sambil menunduk dengan hati kecewa.
Maryati terduduk di kursi sambil
sesenggukan. Ia menelan pahit-pahit kepergian laki-laki yang dulu sangat ia
cintai, hingga ia tak mendengarkan nasehat kedua orangtuanya. Cinta memang
__ADS_1
tidak selalu memiliki.
Ada laki-laki lain yang menantikan
kehadiran Maryati. Dia adalah Baskoro, teman kampusnya dulu. Baskoro datang menemui
Maryati. Setelah kehadiran Andrean, akhirnya ia memilih Baskoro sebagai
pendamping hidupnya. Ia menolak ajakan Andrean untuk kembali padanya. Itu semua
tidak mungkin ia lakukan. Semuanya sudah berubah, Andrean tidak lagi miliknya.
Kini Andrean milik seorang perempuan necis yang gayanya selangit.
“Aku sudah tidak sabar merencanakan hari pernikahan kita, Mar..” ujar
Baskoro sambil memijit pundak Maryati yang duduk di kursi taman.
“Aku juga begitu, Bas. Tapi aku masih memikirkan putraku,”
“Kenapa lagi dengan Ryan?”
“Dia sedang jatuh cinta,”
“Hhhmm… bagus itu, Mar. Apa masalahmu?”
Maryati menghela nafas dengan berat. “Dia mencintai gadis bernama
Brenda,”
“Oh, ya? Siapa dia?”
“Seorang gadis yang selama ini mengajar Ryan. Aku bingung, Bas. Aku juga
khawatir dengan perkembangan mentalnya,”
“Bukankan kamu sudah mengajarinya tentang pendidikan ****? Dan mengenal
alat reproduksi lawan jenis?”
“Itu sudah kuajarkan sejak ia berusia sepuluh tahun, Bas. Aku khawatir
Ryan tidak mampu mengontrol dirinya? Dan aku juga belum pernah ketemu dengan
anak autis yang menikah,”
“Sabarlah, Mar. Ryan itu butuh proses dan dia harus terus diarahkan
dengan hal-hal yang positif,”
“Entahlah, Bas…. Apakah aku sanggup?”
“Anakmu, anakku juga…”
“Bass…” Maryati menggenggam jemari Baskoro dari pundaknya. Ia tersenyum
bahagia dengan mata berkaca-kaca.
Ryan memandangi kanvas putih di depannya. Menorehkan warna hitam di sana,
namun tidak menemukan titik imajinasi yang menguatkan lukisannya. Warna-warna
itu seakan pudar begitu saja. Itu yang membuat Ryan semakin kacau. Ia membuang
kuas lukisnya lalu menarik-narik rambutnya dengan kuat.
PRAAANNNKK…. BRAAAAKKKK….
Nafasnya tersengal dengan mata memerah.
PRENTAAANNKKK… GUBRAAAKKK…
Ryan menghempaskan semua alat-alat lukisnya. Menghempaskan kanvas putih
dan lukisan-lukisannya.
“ARRRGGGHHHHKKKK…..” Ryan menjerit-jerit, lalu menggigit-gigit lengannya
seperti seorang pecandu narkoba.
Maryati yang mendengar teriakan Ryan sontak terkejut.
“Ada apa, Mar?” tanya Baskoro ingin tahu.
“Ryan, Bas…”
Ia bersama Baskoro buru-buru meninggalkan taman dan menghampiri kamar
Ryan di lantai dua. Nafas Maryati tersengal menaiki anak tangga. Setelah berada
di depan pintu kamar Ryan, Maryati mencoba membukanya, namun nggak bisa
terbuka. Ryan menguncinya dari dalam.
“Ryan… Kamu tenang, Nak… Jangan buat mama khawatir…” teriak Maryati panik
sambil menggedor pintu.
__ADS_1
“Yan… kalau ada masalah kita bicara baik-baik yuk…” bujuk Baskoro
kemudian.
Ryan diam saja di kamarnya. Ia meremas-remas rambutnya.
“Bagaimana ini, Bas…? Aku khawatir terjadi apa-apa dengan Ryan…”
“Tenang, Mar… Kita bujuk sekali lagi…”
“RYAN NGGAK SALAAHH…. RYAN NGGAK SALAH….” teriak Ryan dari dalam.
“Mama tahu Ryan nggak salah… Buka pintunya, Yan….”
“ARRRGGHKKKK… RYAN MAU CINTA….”
Maryati menangis di depan pintu kamar Ryan. Ia menggigit bibirnya sambil
sesenggukan. Baskoro menggenggam jemari Maryati untuk menguatkan hati perempuan
itu. Perempuan yang sangat ia cintai.
“Tenang, Mar…. Tenang…”
“Aku harus bagaimana, Bas…?”
“Kita ke rumah gadis
itu, Mar,”
“Maksudmu Brenda?”
“Iya,”
“Aku nggak tahu rumahnya…”
“Oh, Maryati… Mengapa kamu tidak meminta alamat rumahnya?”
“Aku tidak teringat akan hal itu, Bas…”
Baskoro terdiam sambil berfikir, sementara Maryati terus menggedor pintu
kamar Ryan. Mendadak saja situasi menjadi hening. Nggak ada lagi teriakan Ryan
yang membuat Maryati menjadi panik, namun keheningan itu semakin membuat
Maryati khawatir.
‘Apa yang terjadi dengan Ryan..?’ bathinnya.
“Ryan sudah tenang, Mar…” ujar Baskoro.
Maryati menatap Baskoro dengan lekat. Ada cewas diraut wajahnya.
“Aku justru khawatir, Bas..? Apa yang terjadi dengan Ryan di dalam? Kita
dobrak aja pintunya,” pinta Maryati.
“Aku akan mendobrak pintunya,”
“Butuh dua orang untuk mendobraknya, Bas. Sebentar aku panggilkan
Dirman…” Maryati turun ke bawah memanggil Dirman, supirnya.
Beberapa detik kemudian Maryati tergopoh bersama Dirman menuju kamar
Ryan. Baskoro segera mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar Ryan.
Dirman mengikuti gerakan Baskoro sambil menghitung.
“Satu… Dua… Tigaaa…”
BRAAAAAAAAAAAKKK
Pintu terbuka, namun ada kerusakan sedikit pada engsel dan induk kunci.
Maryati dan Baskoro berhambur masuk mencari Ryan. Maryati memperhatikan kamar
Ryan yang berantakan. Cat lukis berserakan beserta kanvas-kanvas putih dengan
warna tidak merata. Wajah Maryati terlihat semakin cemas. Matanya mengedar
mencari putra satu-satunya.
“Ryaannn….” jeritnya ketika melihat tubuh Ryan tergeletak di lantai
bersimbah darah. Baskoro buru-buru menghampiri Maryati yang sudah sesenggukan.
“Kenapa dengan Ryan, Mar?”
Maryati menangis. “Aku nggak tahu, Bas. Lebih baik segera kita bawa ke rumah sakit. Ryan
banyak mengeluarkan darah,”
“Iya,”
Baskoro mengangkat tubuh Ryan dan segera memasukkan ke dalam mobil.
Maryati duduk dengan hati kalut dan cemas. Ia terus menangis tak henti-hentinya.
__ADS_1