RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 12


__ADS_3

Brrrr…. Angin dingin berhembus menyentuh tubuh Brenda yang duduk bersama


Maryati di sebuah taman. Pemandangan puncak Brastagi memang indah dengan pohon-pohon


pinus yang bertengger di sisi jalan serta nuansa kehijauan dari daun-daun


pohon. Angin dingin membuat Brenda mendekap tangannya di dada. Sesekali ia


menoleh ke Ryan yang duduk terpaku di sebuah kursi sambil memainkan bola


kristal. Brenda mendekatinya, lalu duduk di depan Ryan.


“Bagus ya pemandangannya…” ucap Brenda mengawali pembicaraan.


Ryan diam saja sambil menatap Brenda lalu pandangannya beralih pada


pohon-pohon pinus di depan. Brenda ikut menikmati pemandangan indah itu. Ia


mendekap tangannya di dada dengan erat.


“Kamu kedinginan…?” tanya Ryan datar.


Brenda hanya tersenyum sambil mendekap tubuhnya. Kemudian Ryan membuka


jaketnya dan memberikannya ke Brenda. Brenda merasa ini suatu mujizat yang


sangat luar biasa. Ia tak pernah mendapatkan perlakuan romantis dari cowok yang pernah ia kenal. Apalagi


dengan Franky, mantan kekasihnya yang egois.


“Kamu pakai saja jaketku…” ucap Ryan.


“Tapi, Yan… Kamu nggak kedinginan?”


Ryan menggeleng. Wajahnya tetap tak memberikan respon apa-apa. Ryan asyik


memainkan bola kristalnya berulang-ulang. Brenda menerima jaket Ryan dan


mengenakannya dengan cepat. Sebentar saja kehangatan menyusup di tubuh indah


Brenda. Wangi parfum X-edition menyeruak dari jaket Ryan. Brenda menghirupnya sesaat, hmmmm… Wangi khas


cowok. Brenda kembali menatap Ryan dengan lekat, namun cowok itu mengalihkan


pandangan.


“Kamu suka pemandangannya?” tanya Brenda basa-basi.


Ryan mengangguk. “Ya…”


“Bagus ya…? Kamu sering ke Brastagi?”


Ryan menggeleng.


“Aku tidak suka bepergian,”


“Kalau aku suka bepergian. Itu


bisa membuat otak kita yang jenuh menjadih pulih kembali. Aku suka ke Brastagi.


Selain hawanya sejuk dan segar, nggak sumpek kayak Medan.”


Brenda tersenyum. Ia bahkan tidak tahu mau memulai darimana agar Ryan mau


bersahabat dengannya. Ia seperti dihadapkan dengan seorang big boss di sebuah perusahaan. Canggung dan grogi


“Boleh aku berteman denganmu?” tanya Brenda kemudian.


Ryan kembali diam. Ia memperhatikan bola kristal di tangan kanannya.  Brenda semakin salah tingkah. Sungguh… ini


perkenalan yang berbeda dari


sebelumnya. Perkenalan dua insan


yang dipertemukan begitu saja. Brenda tidak pernah merasakan secanggung


ini di depan cowok.


Ryan bangkit dari duduknya menghampiri Maryati yang asyik menikmati


pemandangan alam. Brenda hanya memperhatikannya dari tempat duduk, lalu


menghela berat. Brenda tersenyum tipis melihat tingkah Ryan bermanja dengan


Maryati. Namun dari sifat kekanak-kanakannya, Ryan memiliki sifat lelaki


dewasa. Mungkin hanya waktu yang mengatur segalanya.


Brenda ikut bergabung dengan Maryati di sebuah tenda yang sudah tersedia


hidangan lezat. Ada buah segar dan beberapa ikan bakar. Hidangan yang cukup


menggugah selera di suasana dingin.


Di sela-sela santapan yang nikmat ia memperhatikan Ryan dan mempelajari


apa keinginan Ryan. Ia benar-benar ingin membantu Ryan keluar dari keterpurukan


mental yang selama ini membelenggu kehidupannya.


Ryan tidak banyak bicara seperti pemuda lainnya. Ia memang cenderung diam


dan memperhatikan lawan bicaranya dengan wajah tanpa ekspresi. Seolah tak ada


kebahagiaan dalam hidupnya. Senyum merupakan hal yang sangat mahal baginya.


Menjelang sore mereka kembali ke Medan. Brenda sangat menikmati


kebersamaanya dengan Ryan, namun Ryan sama sekali tidak memberikan kesan yang


menarik. Ia asyik memainkan bola kristalnya.



Loby hotel terlihat ramai


para undangan. Brenda mengenakan gaun coklat tua dengan aksesoris yang menawan.


Kelihatan cantik dengan make up yang merata serta pemerah pipih yang lembut.


Yuda terlihat di sudut ruangan bersama para tetamunya. Jamuan makan malam yang


romantis.


Brenda


memperhatikan teman-teman Yuda yang semua berstelan tuksedo dan gaun mewah.


Sebagai pengusaha muda yang memiliki perusahaan dibidang industri tekstil, Yuda


patut diacungi jempol. Ia pengusaha muda yang sukses.


Yuda menghampiri


Brenda yang duduk sendirian. Senyumnya mengembang seraya mengangkat gelas


minumannya. Brenda menatap Yuda dengan lekat. Ah… wajah itu benar-benar


membuatnya mabuk kepayang.


“Maaf ya, aku


mengacuhkanmu…”


“Nggak apa-apa


kok, Yud… Aku maklum…”


Yuda duduk di


dekat Brenda.


“Kamu bisa


dansa?”


“Hmmm…”


“Ayolah, dansa


denganku…” ajak Yuda.


“Aku nggak bisa,


Yud…”


“Aku akan

__ADS_1


mengajarimu. Ikuti gerakanku dan kamu akan merasakan indahnya tarian lantai,”


Brenda tersenyum


tipis. Yuda bangkit dan menggenggam jemari tangan Brenda. Mereka menuju lantai


dansa yang sudah ada beberapa orang disana. Brenda mengikti gerakan Yuda dengan


langkah-langkah yang rumit.


“Kenapa kamu


tidak menikah lagi?” tanya Brenda disela-sela musik sendu yang membawa mereka


pada tarian dansa yang lembut.


“Kamu suka


dansa?”


Brenda


tersenyum. “Jawab dulu pertanyaanku,”


“Yah… aku belum


ingin cepat-cepat mencari pengganti… Aku takut seperti yang dulu.”


“Mengapa kamu pacaran dengannya?”


“Terpaksa!”


“Terpaksa?”


“Yah, aku


dijodohkan orangtuaku. Padahal dia bukan gadis pujaanku,”


“Lantas, seperti


apa gadis pujaanmu?”


“Yah… simple


aja, yang mengerti tentangku,”


Brenda kembali


mengikuti gerakan Yuda. Ia mendekatkan wajahnya ke dada cowok itu hingga


mendengar detak jantungnya yang seirama.


“Apa kegiatanmu


sehari-hari?”


“Aku mengurus


bisnis papaku dan membuka sebuah restoran. Yah… dengan pengunjung yang cukup


banyak. Kudengar kamu juga menggeluti dunia kuliner. Bagaimana restauranmu?”


“Aku bangkrut.


Aku menyudahi usahaku dan menjadi gadis biasa tanpa karir tanpa pendamping…”


“Jadi kamu belum


punya pendamping juga?”


“Yah, begitulah


kenyataanya,”


“Padahalkamu


gadis yang cantik, Nda…”


“Itu tidak


menjamin apapun, Yud. Kehidupanku berubah seratus delapan puluh derajat,”


“Oh ya..? Aku


turut prihatin. Hidup memang terus berubah, Nda…”


“Ya, seperti


Mereka kembali


menikmati musik dengan gerakan-gerakan melangkah kecil. Seperti dansa-dansa


para aktor hollywod yang kawakan.


“Kenapa kamu


masih sendiri?” tanya Yuda ingin tahu.


“Aku belum menemukan


lelaki yang cocok di hatiku. Yah, andai saja ada seorang pangeran tampan yang


mengetuk hatiku…” kata-kata Brenda seolah menginginkan Yuda mengatakan cinta


padanya. Namun Yuda tak berkata apa-apa. Ia asyik menikmati alunan musiksendu


dari loudspeaker dual band.


Beberapa menit


kemudian Yuda menyudahi tarian mereka. Brenda sedikit kesal. Padahal ia sudah


membuka jalan untuk Yuda mengetuk hatinya kembali.


“Sebentar ya,


Nda. Aku temui dulu rekan-rekanku. Ada bisnis yang ingin kami bicarakan,” kata


Yuda.


Brenda


mengangguk dengan senyum hambar. Yuda kembali ke rekan-rekan kerjanya,


sementara Brenda duduk terpaku sambil menikmati alunan musik sendu. Setelah


jamuan makan malam selesai, Yuda mengantar Brenda ke rumahnya. Sepanjang


perjalanan mereka lebih banyak diam.


“Apa rencanamu


selanjutnya?” tanya Brenda mencairkan suasana.


“Hm… aku akan


meneruskan usaha papaku dan menjadikan usaha itu sebagai perusahaan raksasa di


kota Medan,”


“Oh…” Brenda


menunduk.


Yuda tetap tidak


memberi reaksi apa-apa pada


kata-kata Brenda. Sementara Brenda sangat mengharapkan laki-laki itu


mengutarakan kata cintanya.


Mobil mewah


hitam metalik tiba di depan rumah kontrakan Brenda.


“Sudah sampai…”


Brenda


terkesiap. “Yah… sampai ketemu,” Brenda membuka pintu mobil dan keluar. Yuda


melambaikan tangan begitu saja tanpa ada kata sapa yang mesra atau yang romatis


ke Brenda. Brenda masuk ke dalam rumah dengan perasaan hampa. Padahal ia


berharap Yuda mengerti perasaannya.

__ADS_1


Brenda


merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil melenguh kesal.


“Dasar cowok


*****,” umpatnya. “Padahal aku sudah dandan habis-habisan dan mengharapkan


cinta darinya. Kenapa Yuda adem ayem aja sih?”


Brenda merungut


kesal. Matanya menatap langit-langit kamar dan membiarkan malam membawanya pada


kehampaan hati yang luka. Cintanya begitu dalam ke Yuda.



Keesokan paginya


Brenda bangun dengan berat. Pertemuannya malam itu membuat hatinya kecewa. Sungguh,


cintanya bertepuk sebelah tangan saja. Brenda beranjak ke meja kecil dan mengambil


ponsenya. Ia menghubungi Ela.


“Halo, Nda…


Tumben kamu nelpon pagi-pagi. Ada apa?”


“Aku sebel lihat


Yuda, La,” Brenda membuka pembicaraan. Ia memberengut.


“Memangnya


kenapa?”


“Masak sih dia


tega-teganya cuma ngajak aku makan malam begitu aja. Padahalaku kan


berharap lebih,”


Ela melenguh. “Kamu


itu aneh ya, Nda. Nggak mungkin dong Yuda nembak kamu begitu cepat. Cinta itu


butuh proses,”


“Proses apalagi?


Sudah jelas-jelas dia juga menjomblo,”


“Ini masalah


hati, Nda. Mungkin kamu bukan pilihan hatinya,”


“Lantas ngapain


dia ngajak aku nemeni makan malam segala?Dari dulu juga aku udah naksir


ama Yuda, La. Nasib aja yang mempertemukan aku dengan Franky, si cowok sialan


itu,”


“Ya sudah, jangan diambil hati. Mungkin ini awal dari


pertemuan kalian. Yuda juga perlu pedekate kan sama kamu?”


“Nggak zaman!” Brenda cemberut sambil membuka gorden kamarnya.


“Bagaimana perkembangan cowok idiot itu?” tanya Ela tampa


bertimbang rasa.Ela ingin mengalihkan pembicaraan.


“Ela! Sekali lagi aku tekankan ke kamu,jangan mengatakan dia cowok idiot. Ryan itu cowok baik. Kasihan dia kalau


terus-terusan dipojokkan seperti itu!”


“Iya-iya, aku minta maaf. Aku jadi penasaran.


Kenapa nggak kamu kenalkan aku dengannya?”


“Belum saatnya. Ryan tidak suka keramaian apalagi bertemu


orang asing sepertimu. Denganku aja dia masih asing,”


“Beehh... Memangnya aku Alien dari planet Pluto?” Ela


mendengus.


“Setidaknya kamu


jangan terkejut melihat tingkah lakunya. Udah ah, aku mau mandi.”


Brenda mematikan


ponselnya, lalu meletakkannya di meja. Hari ini banyak kegiatan yang harus


diselesaikan. Selain ke rumah Ryan, Brenda harusmengunjungi beberapa murid


barunya. Anak-anak SD dan SMP.



Sore yang


menyebalkan. Baim menemui Brenda di sebuah cafe. Ia marah-marah karena Brenda


sengaja menegurnya kemarin dan tidak mengangkat handponenya.


“Kamu apa-apaan


sih, Nda? Kamu sengaja memergokiku?!” sergah Baim emosi.


“Itu bukan


urusanku. Mulai detik ini kamu jangan pernah temui aku lagi, titik!”


“Nggak bisa,


Nda. Aku masih mengharapkan cintamu,”


“Mengharap


cintaku? Setelah dengan mata dan kepalaku melihatmu di toko bersama gadis lain?


Kamu jangan memaksakankehendakmu, Im? Aku nggak sedikitpun mencintaimu!”


“Aku akan


berusaha agar kamu bisa mencintaiku, Nda,”


“Jangan harap!


Kamu itu laki-laki playboy yang suka mempermainkan perempuan! Siapa gadis yang


bersamamu?”


“Itu teman


kampusku,”


“Dan ia marah


besar saat tahu aku menyapamu?”


“Aku nggak ada


hubungan apa-apa dengannya. Kamu salah sangka. Itu nggak  seperti yang kamu bayangkan, Nda!”


“Sudahlah, Im.


Aku pusing. Aku muak dengan rayuan gombalmu. Aku nggak  tertarik denganmu. Maaf, aku buru-buru.


Kerjaanku masih banyak!”


Brenda beranjak


meninggalkan Baim. Makin ribet aja kalau cowok itu dilayani.


“Nda…tunggu,


Nda…! Aku belum selesai bicara,”


Brenda nggak

__ADS_1


peduli. Ia terus saja menuju mobilnya dan melaju di jalan raya. Baim terlihat


kesal sambil menghempaskan kaki kanannya.


__ADS_2