
Brrrr…. Angin dingin berhembus menyentuh tubuh Brenda yang duduk bersama
Maryati di sebuah taman. Pemandangan puncak Brastagi memang indah dengan pohon-pohon
pinus yang bertengger di sisi jalan serta nuansa kehijauan dari daun-daun
pohon. Angin dingin membuat Brenda mendekap tangannya di dada. Sesekali ia
menoleh ke Ryan yang duduk terpaku di sebuah kursi sambil memainkan bola
kristal. Brenda mendekatinya, lalu duduk di depan Ryan.
“Bagus ya pemandangannya…” ucap Brenda mengawali pembicaraan.
Ryan diam saja sambil menatap Brenda lalu pandangannya beralih pada
pohon-pohon pinus di depan. Brenda ikut menikmati pemandangan indah itu. Ia
mendekap tangannya di dada dengan erat.
“Kamu kedinginan…?” tanya Ryan datar.
Brenda hanya tersenyum sambil mendekap tubuhnya. Kemudian Ryan membuka
jaketnya dan memberikannya ke Brenda. Brenda merasa ini suatu mujizat yang
sangat luar biasa. Ia tak pernah mendapatkan perlakuan romantis dari cowok yang pernah ia kenal. Apalagi
dengan Franky, mantan kekasihnya yang egois.
“Kamu pakai saja jaketku…” ucap Ryan.
“Tapi, Yan… Kamu nggak kedinginan?”
Ryan menggeleng. Wajahnya tetap tak memberikan respon apa-apa. Ryan asyik
memainkan bola kristalnya berulang-ulang. Brenda menerima jaket Ryan dan
mengenakannya dengan cepat. Sebentar saja kehangatan menyusup di tubuh indah
Brenda. Wangi parfum X-edition menyeruak dari jaket Ryan. Brenda menghirupnya sesaat, hmmmm… Wangi khas
cowok. Brenda kembali menatap Ryan dengan lekat, namun cowok itu mengalihkan
pandangan.
“Kamu suka pemandangannya?” tanya Brenda basa-basi.
Ryan mengangguk. “Ya…”
“Bagus ya…? Kamu sering ke Brastagi?”
Ryan menggeleng.
“Aku tidak suka bepergian,”
“Kalau aku suka bepergian. Itu
bisa membuat otak kita yang jenuh menjadih pulih kembali. Aku suka ke Brastagi.
Selain hawanya sejuk dan segar, nggak sumpek kayak Medan.”
Brenda tersenyum. Ia bahkan tidak tahu mau memulai darimana agar Ryan mau
bersahabat dengannya. Ia seperti dihadapkan dengan seorang big boss di sebuah perusahaan. Canggung dan grogi
“Boleh aku berteman denganmu?” tanya Brenda kemudian.
Ryan kembali diam. Ia memperhatikan bola kristal di tangan kanannya. Brenda semakin salah tingkah. Sungguh… ini
perkenalan yang berbeda dari
sebelumnya. Perkenalan dua insan
yang dipertemukan begitu saja. Brenda tidak pernah merasakan secanggung
ini di depan cowok.
Ryan bangkit dari duduknya menghampiri Maryati yang asyik menikmati
pemandangan alam. Brenda hanya memperhatikannya dari tempat duduk, lalu
menghela berat. Brenda tersenyum tipis melihat tingkah Ryan bermanja dengan
Maryati. Namun dari sifat kekanak-kanakannya, Ryan memiliki sifat lelaki
dewasa. Mungkin hanya waktu yang mengatur segalanya.
Brenda ikut bergabung dengan Maryati di sebuah tenda yang sudah tersedia
hidangan lezat. Ada buah segar dan beberapa ikan bakar. Hidangan yang cukup
menggugah selera di suasana dingin.
Di sela-sela santapan yang nikmat ia memperhatikan Ryan dan mempelajari
apa keinginan Ryan. Ia benar-benar ingin membantu Ryan keluar dari keterpurukan
mental yang selama ini membelenggu kehidupannya.
Ryan tidak banyak bicara seperti pemuda lainnya. Ia memang cenderung diam
dan memperhatikan lawan bicaranya dengan wajah tanpa ekspresi. Seolah tak ada
kebahagiaan dalam hidupnya. Senyum merupakan hal yang sangat mahal baginya.
Menjelang sore mereka kembali ke Medan. Brenda sangat menikmati
kebersamaanya dengan Ryan, namun Ryan sama sekali tidak memberikan kesan yang
menarik. Ia asyik memainkan bola kristalnya.
Loby hotel terlihat ramai
para undangan. Brenda mengenakan gaun coklat tua dengan aksesoris yang menawan.
Kelihatan cantik dengan make up yang merata serta pemerah pipih yang lembut.
Yuda terlihat di sudut ruangan bersama para tetamunya. Jamuan makan malam yang
romantis.
Brenda
memperhatikan teman-teman Yuda yang semua berstelan tuksedo dan gaun mewah.
Sebagai pengusaha muda yang memiliki perusahaan dibidang industri tekstil, Yuda
patut diacungi jempol. Ia pengusaha muda yang sukses.
Yuda menghampiri
Brenda yang duduk sendirian. Senyumnya mengembang seraya mengangkat gelas
minumannya. Brenda menatap Yuda dengan lekat. Ah… wajah itu benar-benar
membuatnya mabuk kepayang.
“Maaf ya, aku
mengacuhkanmu…”
“Nggak apa-apa
kok, Yud… Aku maklum…”
Yuda duduk di
dekat Brenda.
“Kamu bisa
dansa?”
“Hmmm…”
“Ayolah, dansa
denganku…” ajak Yuda.
“Aku nggak bisa,
Yud…”
“Aku akan
__ADS_1
mengajarimu. Ikuti gerakanku dan kamu akan merasakan indahnya tarian lantai,”
Brenda tersenyum
tipis. Yuda bangkit dan menggenggam jemari tangan Brenda. Mereka menuju lantai
dansa yang sudah ada beberapa orang disana. Brenda mengikti gerakan Yuda dengan
langkah-langkah yang rumit.
“Kenapa kamu
tidak menikah lagi?” tanya Brenda disela-sela musik sendu yang membawa mereka
pada tarian dansa yang lembut.
“Kamu suka
dansa?”
Brenda
tersenyum. “Jawab dulu pertanyaanku,”
“Yah… aku belum
ingin cepat-cepat mencari pengganti… Aku takut seperti yang dulu.”
“Mengapa kamu pacaran dengannya?”
“Terpaksa!”
“Terpaksa?”
“Yah, aku
dijodohkan orangtuaku. Padahal dia bukan gadis pujaanku,”
“Lantas, seperti
apa gadis pujaanmu?”
“Yah… simple
aja, yang mengerti tentangku,”
Brenda kembali
mengikuti gerakan Yuda. Ia mendekatkan wajahnya ke dada cowok itu hingga
mendengar detak jantungnya yang seirama.
“Apa kegiatanmu
sehari-hari?”
“Aku mengurus
bisnis papaku dan membuka sebuah restoran. Yah… dengan pengunjung yang cukup
banyak. Kudengar kamu juga menggeluti dunia kuliner. Bagaimana restauranmu?”
“Aku bangkrut.
Aku menyudahi usahaku dan menjadi gadis biasa tanpa karir tanpa pendamping…”
“Jadi kamu belum
punya pendamping juga?”
“Yah, begitulah
kenyataanya,”
“Padahalkamu
gadis yang cantik, Nda…”
“Itu tidak
menjamin apapun, Yud. Kehidupanku berubah seratus delapan puluh derajat,”
“Oh ya..? Aku
turut prihatin. Hidup memang terus berubah, Nda…”
“Ya, seperti
Mereka kembali
menikmati musik dengan gerakan-gerakan melangkah kecil. Seperti dansa-dansa
para aktor hollywod yang kawakan.
“Kenapa kamu
masih sendiri?” tanya Yuda ingin tahu.
“Aku belum menemukan
lelaki yang cocok di hatiku. Yah, andai saja ada seorang pangeran tampan yang
mengetuk hatiku…” kata-kata Brenda seolah menginginkan Yuda mengatakan cinta
padanya. Namun Yuda tak berkata apa-apa. Ia asyik menikmati alunan musiksendu
dari loudspeaker dual band.
Beberapa menit
kemudian Yuda menyudahi tarian mereka. Brenda sedikit kesal. Padahal ia sudah
membuka jalan untuk Yuda mengetuk hatinya kembali.
“Sebentar ya,
Nda. Aku temui dulu rekan-rekanku. Ada bisnis yang ingin kami bicarakan,” kata
Yuda.
Brenda
mengangguk dengan senyum hambar. Yuda kembali ke rekan-rekan kerjanya,
sementara Brenda duduk terpaku sambil menikmati alunan musik sendu. Setelah
jamuan makan malam selesai, Yuda mengantar Brenda ke rumahnya. Sepanjang
perjalanan mereka lebih banyak diam.
“Apa rencanamu
selanjutnya?” tanya Brenda mencairkan suasana.
“Hm… aku akan
meneruskan usaha papaku dan menjadikan usaha itu sebagai perusahaan raksasa di
kota Medan,”
“Oh…” Brenda
menunduk.
Yuda tetap tidak
memberi reaksi apa-apa pada
kata-kata Brenda. Sementara Brenda sangat mengharapkan laki-laki itu
mengutarakan kata cintanya.
Mobil mewah
hitam metalik tiba di depan rumah kontrakan Brenda.
“Sudah sampai…”
Brenda
terkesiap. “Yah… sampai ketemu,” Brenda membuka pintu mobil dan keluar. Yuda
melambaikan tangan begitu saja tanpa ada kata sapa yang mesra atau yang romatis
ke Brenda. Brenda masuk ke dalam rumah dengan perasaan hampa. Padahal ia
berharap Yuda mengerti perasaannya.
__ADS_1
Brenda
merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil melenguh kesal.
“Dasar cowok
*****,” umpatnya. “Padahal aku sudah dandan habis-habisan dan mengharapkan
cinta darinya. Kenapa Yuda adem ayem aja sih?”
Brenda merungut
kesal. Matanya menatap langit-langit kamar dan membiarkan malam membawanya pada
kehampaan hati yang luka. Cintanya begitu dalam ke Yuda.
Keesokan paginya
Brenda bangun dengan berat. Pertemuannya malam itu membuat hatinya kecewa. Sungguh,
cintanya bertepuk sebelah tangan saja. Brenda beranjak ke meja kecil dan mengambil
ponsenya. Ia menghubungi Ela.
“Halo, Nda…
Tumben kamu nelpon pagi-pagi. Ada apa?”
“Aku sebel lihat
Yuda, La,” Brenda membuka pembicaraan. Ia memberengut.
“Memangnya
kenapa?”
“Masak sih dia
tega-teganya cuma ngajak aku makan malam begitu aja. Padahalaku kan
berharap lebih,”
Ela melenguh. “Kamu
itu aneh ya, Nda. Nggak mungkin dong Yuda nembak kamu begitu cepat. Cinta itu
butuh proses,”
“Proses apalagi?
Sudah jelas-jelas dia juga menjomblo,”
“Ini masalah
hati, Nda. Mungkin kamu bukan pilihan hatinya,”
“Lantas ngapain
dia ngajak aku nemeni makan malam segala?Dari dulu juga aku udah naksir
ama Yuda, La. Nasib aja yang mempertemukan aku dengan Franky, si cowok sialan
itu,”
“Ya sudah, jangan diambil hati. Mungkin ini awal dari
pertemuan kalian. Yuda juga perlu pedekate kan sama kamu?”
“Nggak zaman!” Brenda cemberut sambil membuka gorden kamarnya.
“Bagaimana perkembangan cowok idiot itu?” tanya Ela tampa
bertimbang rasa.Ela ingin mengalihkan pembicaraan.
“Ela! Sekali lagi aku tekankan ke kamu,jangan mengatakan dia cowok idiot. Ryan itu cowok baik. Kasihan dia kalau
terus-terusan dipojokkan seperti itu!”
“Iya-iya, aku minta maaf. Aku jadi penasaran.
Kenapa nggak kamu kenalkan aku dengannya?”
“Belum saatnya. Ryan tidak suka keramaian apalagi bertemu
orang asing sepertimu. Denganku aja dia masih asing,”
“Beehh... Memangnya aku Alien dari planet Pluto?” Ela
mendengus.
“Setidaknya kamu
jangan terkejut melihat tingkah lakunya. Udah ah, aku mau mandi.”
Brenda mematikan
ponselnya, lalu meletakkannya di meja. Hari ini banyak kegiatan yang harus
diselesaikan. Selain ke rumah Ryan, Brenda harusmengunjungi beberapa murid
barunya. Anak-anak SD dan SMP.
Sore yang
menyebalkan. Baim menemui Brenda di sebuah cafe. Ia marah-marah karena Brenda
sengaja menegurnya kemarin dan tidak mengangkat handponenya.
“Kamu apa-apaan
sih, Nda? Kamu sengaja memergokiku?!” sergah Baim emosi.
“Itu bukan
urusanku. Mulai detik ini kamu jangan pernah temui aku lagi, titik!”
“Nggak bisa,
Nda. Aku masih mengharapkan cintamu,”
“Mengharap
cintaku? Setelah dengan mata dan kepalaku melihatmu di toko bersama gadis lain?
Kamu jangan memaksakankehendakmu, Im? Aku nggak sedikitpun mencintaimu!”
“Aku akan
berusaha agar kamu bisa mencintaiku, Nda,”
“Jangan harap!
Kamu itu laki-laki playboy yang suka mempermainkan perempuan! Siapa gadis yang
bersamamu?”
“Itu teman
kampusku,”
“Dan ia marah
besar saat tahu aku menyapamu?”
“Aku nggak ada
hubungan apa-apa dengannya. Kamu salah sangka. Itu nggak seperti yang kamu bayangkan, Nda!”
“Sudahlah, Im.
Aku pusing. Aku muak dengan rayuan gombalmu. Aku nggak tertarik denganmu. Maaf, aku buru-buru.
Kerjaanku masih banyak!”
Brenda beranjak
meninggalkan Baim. Makin ribet aja kalau cowok itu dilayani.
“Nda…tunggu,
Nda…! Aku belum selesai bicara,”
Brenda nggak
__ADS_1
peduli. Ia terus saja menuju mobilnya dan melaju di jalan raya. Baim terlihat
kesal sambil menghempaskan kaki kanannya.