RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 28


__ADS_3

Brenda menemui


Ela di tempat kerjanya. Di sebuah publikasi majalah Medan. Ela masih sibuk di


ruang kerjanya ketika Brenda datang. Setelah merapikan berkas-berkasnya, Ela


mengajak Brenda ke ruang tamu.


“Ada apalagi


sih, Nda? Wajahmu bête mulu?” tanya Ela sambil membawa minuman hangat dan


menyerahkannya ke Brenda. Brenda menerima mug dari tangan Ela.


“Ughhh…. Aku


sebel lihat Maryati, La. Masa sih dia menyuruhku menikah dengan Ryan…”


“Menikah dengan


Ryan? Oh my God…. Lantas apa tindakanmu?”


Ela duduk di dekat Brenda.


“Aku bingung,


La. Aku nggak tahu harus ngomong apa ke Maryati. Dia menawariku sejumlah uang


yang banyak,”


“Dan kamu


tergiur dengan uang itu? Pikirkan, Nda… Ini masalah masa depanmu..?”


“Aku tahu, La.


Saat ini aku sedang bingung… Sementara hatiku sangat mencintai Yuda dan Dedy


datang melamarku. Mana yang harus aku pilih?”


“Lebih baik kamu


terima lamaran dokter Dedy. Masa depanmu akan cemerlang dan lebih terjamin,


Nda….”


“Tapi aku tidak


mencintai dokter Dedy, La…”


“Cinta itu bisa


dibina setelah menikah, Nda… Apa kamu masih mengharap cinta Yuda?”


Brenda hening


sejenak, lalu berujar.


“Aku akan


mempertanyakan kesungguhan hati Yuda. Aku ingin menemuinya sekali lagi. Jika ia


tetap menganggapku sebagai pacar bohongan aku akan menerima dokter Dedy walau


tak mencintainya,”


“Itu keputusan


yang tepat, Nda…”


Brenda


menundukkan kepalanya dan kembali termenung.


“Sudah sore,


kita pulang yuk…”


“Temani aku


sebentar lagi, La…”


Ela mendesah berat, lalu ia mengajak Brenda jalan-jalan.


“Bagaimana kalau


kita jalan-jalan ke Mall. Siapa tahu pikiranmu bisa tenang, Nda,”

__ADS_1


“Usulmu boleh


juga. Sudah lama aku nggak ke butiq langganan kita,”


“Kamu masih punya uang?”


“Cukuplah sisa dari pembayaran Maryati,”


“Hehehe... Yuk…”


Ela beranjak


diikuti Brenda sambil menyandang tasnya dan merapikan bajunya. Sedikit sentuhan


make up dan pemerah bibirdipoles lewat kaca make up.


Kemudian mobil mereka meluncur di jalan hitam.



Setelah menghabiskan waktu di Mall dan belanja beberapa keperluan, Brenda


kembali menyetir mobilnya. Ia sudah membeli pengharum


mobil dan memperbaiki AC di dalamnya agar lebih sejuk.


Brenda merasa dirinya bukanlah seorang gadis yang cantik, tapi sangat konyol dan sangat malang. Hidupnya penuh


dengan rintangan. Baik dari keuangan, pacar bahkan soal jodoh. Ela lebih


beruntung dari Brenda.


Dulu teman-teman Brenda bilang kalau Brenda sangat sempurna, memiliki


tubuh tinggi semampai. Wajah cantik dan berkulit putih. Kalau berjalan bak


seorang fotomodel profesional. Namun Brenda selalu dihadapkan dengan berbagai


masalah. Tentang cinta dan kehidupan.


Brenda tidak memiliki sebuah pegangan hidup yang kokoh. Seperti layaknya


teman-teman seusianya. Ia hanya seorang perempuan muda yang cukup cantik


bekerja sebagai guru private di kotanya.


hingga beberapa meter harus ngantri. Matahari sore membakar sebagian aspal dan


warung-warung kecil di pinggir jalan. Tidak terlalu terik, tapi membuatnya gerah.


Untung saja AC dalam mobilnya sudah diperbaiki. Ia tidak lagi merasa kepanasan.


Handphonenya berdering


di dashboard kiri dengan nada dering yang cukup kencang. Brenda mengambilnya


dengan sebelah tangan sambil sesekali memperhatikan mobil-mobil yang terjebak


macet. Ia memperhatikan reminder di ponselnya.


“Nda… kamu pulang kan malam ini?”


“Iya, Ma… Brenda ke rumah mama malam ini,”


“Baguslah… Kalau begitu mama tunggu,”


“Ok, Ma…”


Klik. Brenda mematikan ponselnya.


Lampu ruang tamu menyala, menandakan ada tamu yang datang. Brenda


menghentikan mobilnya di depan gerbang. Ia masuk melalui pintu belakang dan


bertemu dengan mamanya.


“Loh… kenapa dari belakang, Nda…?”


“Segan, Ma. Pasti ada tamu papa di ruangan kan?”


Perempuan baya itu tersenyum.


“Bukan tamu papa, tapi tamu untukmu,”


“Tamu Brenda?” Brenda mengerutkan keningnya. “Siapa?”


“Sudah bersihkan dulu badanmu, kamu mandi sana. Setelah mandi baru kamu

__ADS_1


temui tamumu itu,”


Brenda terus berpikir, siapa tamunya kali ini. Dia penasaran.


Wangi sabun lavender menyeruak sampai ke ruang tamu. Brenda keluar dari


kamar mandi dan mengganti bajunya di kamar. Setelah menyisir rambutnya dan


memberikan sedikit bedak serta pemerah bibir, Brenda keluar menemui tamunya. Langkahnya


sedikit tertahan melihat Dedy duduk di sana.


Brenda enggan menyapa Dedy, namun papanya keburu menyambut kehadiran


Brenda.


“Nda… ini dokter Dedy. Katanya dia ingin ketemu denganmu, “


Brenda tersenyum kaku. “Iya, Pa…”


“Hai, Nda…” sapa Dedy.


“Hai juga…”


“Hmm… kalau begitu saya ke dalam dulu ya, Nak Dedy…”pamit papa seraya beranjak dari tempat duduknya.


“Baik, Om…”


Papa berlalu dan Brenda duduk di depan Dedy. Ia menunduk ketika Dedy


menatapnya dengan lekat.


“Ada apa kamu kemari, Ded?” tanya Brenda tidak bersahabat.


“Bagaimana tawaranku, Nda? Mau kan kamu menikah denganku?” tanyanya.


Brenda terbelalak.


“Menikah denganmu?”


“Yah… menikah denganku…”


“Tapi kita belum melalui masa pacaran, Ded…?”


“Aku tidak butuh pacaran. Kita sudah sama-sama dewasa dan mungkin kita


sudah satu hati, Nda…”


Behh… Brenda tidak setuju dengan keputusan itu. Bukankah dengan


berpacaran kita bisa lebih mengenal pasangan kita? Dan mengetahui kelebihan dan


kekurangan pasangan kita?


“Masih terlalu dini, Ded….”


“Apalagi yang kamu tunggu, Nda…? Aku sangat mencintaimu…”


“Ded… maafkan aku. Aku nggak bisa menerima ajakanmu begitu saja. Aku


butuh proses… Pernikahan itu sesuatu yang sangat sakral… Dan butuh waktu untuk menyatukan dua hati,”


“Kamu menolak cintaku, Nda?”


“Bukan begitu, Ded...”


Brenda memalingkan wajahnya.


“Tapi kenapa, Nda? Apa yang kamu tunggu? Usia kita sudah sama-sama


matang. Kita akan membina sebuah keluarga kecil yang bahagia.”


“Aku butuh waktu dan ruang dalam hatiku,”


Dedy terdiam sejenak, kemudian


berujar.


“Baiklah… Aku akan terus menunggumu. Aku ingin kamu memikirkan hal itu baik-baik, Nda. Aku pamit. Sampaikan


salamku kepada kedua orangtuamu.”Ucap Dedy pamit.


Brenda menunduk dan membiarkan Dedy pergi. Pikirannya semakin kacau. Sepertinya Dedy


sungguh-sungguh ingin mempersuntingnya, namun Brenda masih menunggu keputusan


Yuda.

__ADS_1



__ADS_2