
Brenda menemui
Ela di tempat kerjanya. Di sebuah publikasi majalah Medan. Ela masih sibuk di
ruang kerjanya ketika Brenda datang. Setelah merapikan berkas-berkasnya, Ela
mengajak Brenda ke ruang tamu.
“Ada apalagi
sih, Nda? Wajahmu bête mulu?” tanya Ela sambil membawa minuman hangat dan
menyerahkannya ke Brenda. Brenda menerima mug dari tangan Ela.
“Ughhh…. Aku
sebel lihat Maryati, La. Masa sih dia menyuruhku menikah dengan Ryan…”
“Menikah dengan
Ryan? Oh my God…. Lantas apa tindakanmu?”
Ela duduk di dekat Brenda.
“Aku bingung,
La. Aku nggak tahu harus ngomong apa ke Maryati. Dia menawariku sejumlah uang
yang banyak,”
“Dan kamu
tergiur dengan uang itu? Pikirkan, Nda… Ini masalah masa depanmu..?”
“Aku tahu, La.
Saat ini aku sedang bingung… Sementara hatiku sangat mencintai Yuda dan Dedy
datang melamarku. Mana yang harus aku pilih?”
“Lebih baik kamu
terima lamaran dokter Dedy. Masa depanmu akan cemerlang dan lebih terjamin,
Nda….”
“Tapi aku tidak
mencintai dokter Dedy, La…”
“Cinta itu bisa
dibina setelah menikah, Nda… Apa kamu masih mengharap cinta Yuda?”
Brenda hening
sejenak, lalu berujar.
“Aku akan
mempertanyakan kesungguhan hati Yuda. Aku ingin menemuinya sekali lagi. Jika ia
tetap menganggapku sebagai pacar bohongan aku akan menerima dokter Dedy walau
tak mencintainya,”
“Itu keputusan
yang tepat, Nda…”
Brenda
menundukkan kepalanya dan kembali termenung.
“Sudah sore,
kita pulang yuk…”
“Temani aku
sebentar lagi, La…”
Ela mendesah berat, lalu ia mengajak Brenda jalan-jalan.
“Bagaimana kalau
kita jalan-jalan ke Mall. Siapa tahu pikiranmu bisa tenang, Nda,”
__ADS_1
“Usulmu boleh
juga. Sudah lama aku nggak ke butiq langganan kita,”
“Kamu masih punya uang?”
“Cukuplah sisa dari pembayaran Maryati,”
“Hehehe... Yuk…”
Ela beranjak
diikuti Brenda sambil menyandang tasnya dan merapikan bajunya. Sedikit sentuhan
make up dan pemerah bibirdipoles lewat kaca make up.
Kemudian mobil mereka meluncur di jalan hitam.
Setelah menghabiskan waktu di Mall dan belanja beberapa keperluan, Brenda
kembali menyetir mobilnya. Ia sudah membeli pengharum
mobil dan memperbaiki AC di dalamnya agar lebih sejuk.
Brenda merasa dirinya bukanlah seorang gadis yang cantik, tapi sangat konyol dan sangat malang. Hidupnya penuh
dengan rintangan. Baik dari keuangan, pacar bahkan soal jodoh. Ela lebih
beruntung dari Brenda.
Dulu teman-teman Brenda bilang kalau Brenda sangat sempurna, memiliki
tubuh tinggi semampai. Wajah cantik dan berkulit putih. Kalau berjalan bak
seorang fotomodel profesional. Namun Brenda selalu dihadapkan dengan berbagai
masalah. Tentang cinta dan kehidupan.
Brenda tidak memiliki sebuah pegangan hidup yang kokoh. Seperti layaknya
teman-teman seusianya. Ia hanya seorang perempuan muda yang cukup cantik
bekerja sebagai guru private di kotanya.
hingga beberapa meter harus ngantri. Matahari sore membakar sebagian aspal dan
warung-warung kecil di pinggir jalan. Tidak terlalu terik, tapi membuatnya gerah.
Untung saja AC dalam mobilnya sudah diperbaiki. Ia tidak lagi merasa kepanasan.
Handphonenya berdering
di dashboard kiri dengan nada dering yang cukup kencang. Brenda mengambilnya
dengan sebelah tangan sambil sesekali memperhatikan mobil-mobil yang terjebak
macet. Ia memperhatikan reminder di ponselnya.
“Nda… kamu pulang kan malam ini?”
“Iya, Ma… Brenda ke rumah mama malam ini,”
“Baguslah… Kalau begitu mama tunggu,”
“Ok, Ma…”
Klik. Brenda mematikan ponselnya.
Lampu ruang tamu menyala, menandakan ada tamu yang datang. Brenda
menghentikan mobilnya di depan gerbang. Ia masuk melalui pintu belakang dan
bertemu dengan mamanya.
“Loh… kenapa dari belakang, Nda…?”
“Segan, Ma. Pasti ada tamu papa di ruangan kan?”
Perempuan baya itu tersenyum.
“Bukan tamu papa, tapi tamu untukmu,”
“Tamu Brenda?” Brenda mengerutkan keningnya. “Siapa?”
“Sudah bersihkan dulu badanmu, kamu mandi sana. Setelah mandi baru kamu
__ADS_1
temui tamumu itu,”
Brenda terus berpikir, siapa tamunya kali ini. Dia penasaran.
Wangi sabun lavender menyeruak sampai ke ruang tamu. Brenda keluar dari
kamar mandi dan mengganti bajunya di kamar. Setelah menyisir rambutnya dan
memberikan sedikit bedak serta pemerah bibir, Brenda keluar menemui tamunya. Langkahnya
sedikit tertahan melihat Dedy duduk di sana.
Brenda enggan menyapa Dedy, namun papanya keburu menyambut kehadiran
Brenda.
“Nda… ini dokter Dedy. Katanya dia ingin ketemu denganmu, “
Brenda tersenyum kaku. “Iya, Pa…”
“Hai, Nda…” sapa Dedy.
“Hai juga…”
“Hmm… kalau begitu saya ke dalam dulu ya, Nak Dedy…”pamit papa seraya beranjak dari tempat duduknya.
“Baik, Om…”
Papa berlalu dan Brenda duduk di depan Dedy. Ia menunduk ketika Dedy
menatapnya dengan lekat.
“Ada apa kamu kemari, Ded?” tanya Brenda tidak bersahabat.
“Bagaimana tawaranku, Nda? Mau kan kamu menikah denganku?” tanyanya.
Brenda terbelalak.
“Menikah denganmu?”
“Yah… menikah denganku…”
“Tapi kita belum melalui masa pacaran, Ded…?”
“Aku tidak butuh pacaran. Kita sudah sama-sama dewasa dan mungkin kita
sudah satu hati, Nda…”
Behh… Brenda tidak setuju dengan keputusan itu. Bukankah dengan
berpacaran kita bisa lebih mengenal pasangan kita? Dan mengetahui kelebihan dan
kekurangan pasangan kita?
“Masih terlalu dini, Ded….”
“Apalagi yang kamu tunggu, Nda…? Aku sangat mencintaimu…”
“Ded… maafkan aku. Aku nggak bisa menerima ajakanmu begitu saja. Aku
butuh proses… Pernikahan itu sesuatu yang sangat sakral… Dan butuh waktu untuk menyatukan dua hati,”
“Kamu menolak cintaku, Nda?”
“Bukan begitu, Ded...”
Brenda memalingkan wajahnya.
“Tapi kenapa, Nda? Apa yang kamu tunggu? Usia kita sudah sama-sama
matang. Kita akan membina sebuah keluarga kecil yang bahagia.”
“Aku butuh waktu dan ruang dalam hatiku,”
Dedy terdiam sejenak, kemudian
berujar.
“Baiklah… Aku akan terus menunggumu. Aku ingin kamu memikirkan hal itu baik-baik, Nda. Aku pamit. Sampaikan
salamku kepada kedua orangtuamu.”Ucap Dedy pamit.
Brenda menunduk dan membiarkan Dedy pergi. Pikirannya semakin kacau. Sepertinya Dedy
sungguh-sungguh ingin mempersuntingnya, namun Brenda masih menunggu keputusan
Yuda.
__ADS_1