RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 20


__ADS_3

HERMINA LAGON, Kolam renang hotel Danau Toba.


Medan.


Sore itu Brenda dan Ela duduk


di tenda kolam renang. Ramai juga pengunjungnya. Selain ingin memanjakan


tubuhnya dengan sentuhan air kolam yang dingin, mereka juga ingin menjaga


kesehatan.


Brenda terpaku saat Ela sibuk mengolesi sunblock di lengannya. Ela memperhatikan Brenda yang terlihat murung.


“Kamu kenapa sih,


Nda? Melamun mulu?”


“Ugh.... aku


terpaksa menerima tawaran Maryati, La,”


“Kamu sudah


menyetujuinya?”


“Terpaksa,”


“Ya ampun, Nda...”


Ela menepuk jidatnya.


“Kenapa kamu


lakukan itu?”


“Kamu mau melunasi


hutang-hutangku?”


“Tapi tidak dengan


cara begini kan, Nda...?”


“Ugh... aku


bingung, Laaaa....”


Ela


menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar keputusan Brenda. Ini bukan sosok


sahabatnya. Brenda itu seorang gadis modis, fashionable, pintar dan cantik. Ia harus


menerima cowok autis seperti Ryan, itu sama aja bunuh diri.


“Aku menjalani ini hanya sebulan kok, La.


Setelah itu aku terbebas dari Ryan…”


“Itu akan menjadi masalah besar buatmu, Nda.


Kamu akan semakin merasa kesepian jika jauh dari Ryan… Dan kamu akan

__ADS_1


benar-benar jatuh cinta padanya,”


“Itu tidak akan terjadi, La.”


Brenda meraih sunblock dari tangan Ela lalu mengolesinya di kaki dan lengan tangannya. Ela nyebur


duluan di kolam sambil mengepak-ngepakkan tangannya. Menyelam


lalu timbul di ujung kolam.


Brenda kembali


terpaku dengan pikiran menerawang jauh.


“Oh Tuhan...


apakah masa depanku harus seperti ini...?” gumamnya pelan. Kemudian ia nyebur di kolam sambil berenang gaya atlet terkenal. Tidak banyak yang mereka perbincangkan.


Pukul tujuh malam mereka keluar dari kolam


menuju mobil masing-masing. Ela hanya berharap Brenda mampu mengontrol dirinya.


Brenda singgah sebentar ke mesin ATM dan matanya terbelalak kaget melihat angka di


rekeningnya. Dua ratus juta rupiah.Sedikit girang namun ada rasa


sesak di dadanya. Uang itu akan ia gunakan untuk melunasi sebagian


hutang-hutangnya di bank. Kalau hanya bersandiwara selama sebulan saja, Brenda


masih bisa mentolerir. Ini juga demi Ryan.


Brenda kembali


Ela. Tapi sayang ponsel Ela nggak aktif. Terdengar nada tulalit. Brenda


meletakkan ponselnya di dashboard kiri dan memutar ke kanan memasuki gerbang rumahnya.



“Halo, La… Kamu kemana aja sih?” tanya Brenda


melalui ponselnya.


“Biasa. Mempersiapkan pernikahan kami. Ada apa


rupanya?”


“Maryati sudah mentransfer uangnya ke


rekeningku. Dua ratus juta, La…”


“Dua ratus juta? Mau kamu apakan uang sebanyak


itu?”


“Aku mau bayar hutang-hutangku di bank. Aku


nggak mau setiap hari dihantui debt-collector yang judesnya


minta ampun,”


“Selebihnya akan kamu pakai untuk apa? Membuka

__ADS_1


restauran baru?”


“Aku belum memikirkannya, La. Mungkin aku


invest aja dulu, siapa tahu aku membutuhkannya,”


“Oke, itu pilihan yang bagus. Asal jangan kamu


benar-benar kepincut dengan putranya Maryati, hahahaha…” Ela cekakakan di


seberang sana.


“Ugh… kamu selalu saja mencibirku. Aku nggak


bakalan jatuh cinta dengan cowok itu,”


“Yah, kamu pegang aja kata-katamu…”


“Kamu membuat semangatku memudar. Udah ah, aku


mau tidur. Besok aku harus menjenguk Ryan lagi,”


“Baiklah… Met istirahat ya, Nda…”


“Yup.”


Brenda


membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit


kamarnya. Miniatur bintang-bintang dan bulan didekorasi begitu bagusnya.


Matanya menerawang jauh ke bayangan-banyangan Yuda. Ia masih berharap cinta


Yuda. Ia sangat mencintai laki-laki itu sejak pertama sekali masuk kuliah. Tapi


Yuda selalu saja banyak yang menggandrungi. Itu membuat Brenda cemburu dan


sakit hati.


Saat ini ia justru


ingin merajut cinta Yuda kembali dan memiliki Yuda seutuhnya. Namun apakah kali


ini Dewi fortuna kembali padanya?


“Ugh.... Yuda


nyebelin. Napa sih kamu nggak mau tahu perasaanku?” Brenda bergumam dalam hati.


Ia juga membayangkan laki-laki yang pernah merayunya dan menjadi kekasihnya.


Semuanya sama. Buaya. Matre dan suka berkhianat.


Terkadang Brenda


jenuh menghadapi cowok yang banyak tingkahnya. Apalagi kalau


sudah dikasih hati, semua mau disakiti. Seenaknya.


Puuhh... Brenda memeluk guling sambil mematikan lampu tidur.


__ADS_1


__ADS_2