
HERMINA LAGON, Kolam renang hotel Danau Toba.
Medan.
Sore itu Brenda dan Ela duduk
di tenda kolam renang. Ramai juga pengunjungnya. Selain ingin memanjakan
tubuhnya dengan sentuhan air kolam yang dingin, mereka juga ingin menjaga
kesehatan.
Brenda terpaku saat Ela sibuk mengolesi sunblock di lengannya. Ela memperhatikan Brenda yang terlihat murung.
“Kamu kenapa sih,
Nda? Melamun mulu?”
“Ugh.... aku
terpaksa menerima tawaran Maryati, La,”
“Kamu sudah
menyetujuinya?”
“Terpaksa,”
“Ya ampun, Nda...”
Ela menepuk jidatnya.
“Kenapa kamu
lakukan itu?”
“Kamu mau melunasi
hutang-hutangku?”
“Tapi tidak dengan
cara begini kan, Nda...?”
“Ugh... aku
bingung, Laaaa....”
Ela
menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar keputusan Brenda. Ini bukan sosok
sahabatnya. Brenda itu seorang gadis modis, fashionable, pintar dan cantik. Ia harus
menerima cowok autis seperti Ryan, itu sama aja bunuh diri.
“Aku menjalani ini hanya sebulan kok, La.
Setelah itu aku terbebas dari Ryan…”
“Itu akan menjadi masalah besar buatmu, Nda.
Kamu akan semakin merasa kesepian jika jauh dari Ryan… Dan kamu akan
__ADS_1
benar-benar jatuh cinta padanya,”
“Itu tidak akan terjadi, La.”
Brenda meraih sunblock dari tangan Ela lalu mengolesinya di kaki dan lengan tangannya. Ela nyebur
duluan di kolam sambil mengepak-ngepakkan tangannya. Menyelam
lalu timbul di ujung kolam.
Brenda kembali
terpaku dengan pikiran menerawang jauh.
“Oh Tuhan...
apakah masa depanku harus seperti ini...?” gumamnya pelan. Kemudian ia nyebur di kolam sambil berenang gaya atlet terkenal. Tidak banyak yang mereka perbincangkan.
Pukul tujuh malam mereka keluar dari kolam
menuju mobil masing-masing. Ela hanya berharap Brenda mampu mengontrol dirinya.
Brenda singgah sebentar ke mesin ATM dan matanya terbelalak kaget melihat angka di
rekeningnya. Dua ratus juta rupiah.Sedikit girang namun ada rasa
sesak di dadanya. Uang itu akan ia gunakan untuk melunasi sebagian
hutang-hutangnya di bank. Kalau hanya bersandiwara selama sebulan saja, Brenda
masih bisa mentolerir. Ini juga demi Ryan.
Brenda kembali
Ela. Tapi sayang ponsel Ela nggak aktif. Terdengar nada tulalit. Brenda
meletakkan ponselnya di dashboard kiri dan memutar ke kanan memasuki gerbang rumahnya.
“Halo, La… Kamu kemana aja sih?” tanya Brenda
melalui ponselnya.
“Biasa. Mempersiapkan pernikahan kami. Ada apa
rupanya?”
“Maryati sudah mentransfer uangnya ke
rekeningku. Dua ratus juta, La…”
“Dua ratus juta? Mau kamu apakan uang sebanyak
itu?”
“Aku mau bayar hutang-hutangku di bank. Aku
nggak mau setiap hari dihantui debt-collector yang judesnya
minta ampun,”
“Selebihnya akan kamu pakai untuk apa? Membuka
__ADS_1
restauran baru?”
“Aku belum memikirkannya, La. Mungkin aku
invest aja dulu, siapa tahu aku membutuhkannya,”
“Oke, itu pilihan yang bagus. Asal jangan kamu
benar-benar kepincut dengan putranya Maryati, hahahaha…” Ela cekakakan di
seberang sana.
“Ugh… kamu selalu saja mencibirku. Aku nggak
bakalan jatuh cinta dengan cowok itu,”
“Yah, kamu pegang aja kata-katamu…”
“Kamu membuat semangatku memudar. Udah ah, aku
mau tidur. Besok aku harus menjenguk Ryan lagi,”
“Baiklah… Met istirahat ya, Nda…”
“Yup.”
Brenda
membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit
kamarnya. Miniatur bintang-bintang dan bulan didekorasi begitu bagusnya.
Matanya menerawang jauh ke bayangan-banyangan Yuda. Ia masih berharap cinta
Yuda. Ia sangat mencintai laki-laki itu sejak pertama sekali masuk kuliah. Tapi
Yuda selalu saja banyak yang menggandrungi. Itu membuat Brenda cemburu dan
sakit hati.
Saat ini ia justru
ingin merajut cinta Yuda kembali dan memiliki Yuda seutuhnya. Namun apakah kali
ini Dewi fortuna kembali padanya?
“Ugh.... Yuda
nyebelin. Napa sih kamu nggak mau tahu perasaanku?” Brenda bergumam dalam hati.
Ia juga membayangkan laki-laki yang pernah merayunya dan menjadi kekasihnya.
Semuanya sama. Buaya. Matre dan suka berkhianat.
Terkadang Brenda
jenuh menghadapi cowok yang banyak tingkahnya. Apalagi kalau
sudah dikasih hati, semua mau disakiti. Seenaknya.
Puuhh... Brenda memeluk guling sambil mematikan lampu tidur.
__ADS_1