RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 10


__ADS_3

M


inggu pagi yang tak


menyenangkan. Brenda duduk di teras depan sambil membaca beberapa surat kabar.


Di meja kecil tersedia susu hangat buatan pembantunya dan sedikit cemilan. Beberapa


menit yang lalu seorang debt collector menelponnya. Tagihan bulan ini sudah melewati


batas pembayaran. Brenda pusing. Sementara ia harus menutupi hutang bank


lainnya.


Handphonenya berdering


tak karuan. Suaranya memadati ruang tamu.


“Bik… ambilkan


hape saya,” Brenda menyuruh pembantunya. Malas juga ia bergerak kalau sudah


PeWe. Posisi Wenak.


“Ini, Bu…” sang


pembantu memberikan hp ke Brenda. Ia memperhatikan layar di ponselnya.


Harap-harap cemas. Kostumer atau dari pihak bank?


“Ya halo…”


sapanya lembut.


“Selamat pagi,


Bu. Dengan bu Brenda?”


Deg… Jantung


Brenda berdebug kencang. Ini pasti dari Bank.


“Ya, saya


sendiri,” sahutnya.


“Kami dari bank


X, Bu. Tagihan ibu sudah melewati jatuh tempo dan ibu sudah menunggak dua


bulan. Kapan ibu mau bayar?”


Brenda


kelabakan. “Hm… i..iya, Bu. Besok saya bayar,”


“Ibu dikenakan


denda loh, Bu,”


“Nggak apa-apa,


Bu. Nanti saya bayar juga dendanya,”


“Benar ya, Bu.


Kalau tidak saya akan datang ke rumah ibu,”


“E..e.e.. nggak


usah… Nggak usah repot-repot, Bu. Saya langsung aja ke bank…”


“Baik kalau begitu, saya tunggu. Terima kasih atas kerjasamanya,”


Klik.


Huh… Brenda


melenguh. Satu lagi beban masalahnya. Bertambah terus-menerus. Seperti bom


waktu yang kapan saja bisa meledak. Bagaimana ia mendapatkan uang begitu


banyak? Untuk kehidupan sehari-hari saja dia harus pontang-panting.


Situasi begini


memang tidak menyenangkan. Menjadi beban pikiran yang acap kali muncul ketika


melihat credit card yang menumpuk di selipan dompetnya. Mengapa ia begitu *****


mempercayai cowok brengsek seperti Franky hingga ia harus dikejar-kejar


kolektor.


Tiba-tiba handphonenya berdering


lagi. Brenda tersentak dengan jantung tak teratur. Ternyata dari Ela. Sialan.


Sampai spot jantung…


“Duhh… Ela…


kalau mau telpon bilang-bilang napa? Aku kaget banget nih…”


“Mau bilang apa?


Justru aku nelpon mau ngomong sama kamu. Memangnya ada apa sih? Kayak orang


ketakutan gitu?”


“Tuh, para


kolektor sadis. Mereka menghantuiku setiap hari, La. Sampai ke toilet aja aku


dikejar-kejar. Kamu tahu sendiri kan ancaman para kolektor yang cerewetnya nujubila?”


“Makanya lunasi tuh tagihan. Pake kartu kredit nggak


perlu banyak-banyak. Kalau begini kan repot,”


“Uuugghhh... Ela, bantu aku dong...”


“Salahmu sendiri,”


“Kamu nggak setia kawan,”


“Aku sudah memperingatkanmu. Jangan terpancing dengan tawaran-tawaran bank yang nggak


jelas. Kartu kreditmu aja sampai sepuluh,”

__ADS_1


Brenda cembetut. “Kamu keterlaluan, La,”


“Masa bodoh ah. Aku mau ke acarareunian. Kamu ikut?”


Brenda membelalak. “Reuni? Reuni apa-an?”


“Makanya kamu baca tuh undangan yang aku selipin di tasmu.


Memangnya nggak kamu baca?”


“Aku nggak tahu. Lagi pula kamu baru memberitahuku


sekarang. Salahmu sendiri. Aku gak ikut,”


“Ayolah, Nda... Kamu seperti kurang pergaulan aja,”


“Hmm...  Lagian kamu nggak


kasih tahu aku jauh-jauh hari,”


“Sori, aku


lupa,”


“Yaudah, kamu


pergi aja ma Reynold!”


“Please, Nda… Kamu


akan menyesal,”


“Aku malu, La. Aku nggak punya pasangan,”


“Nggak papa, Nda. Banyak juga kok yang nggak bawa pasangan. Siapa tahu aja jodohmu ada


di sana,”


Brenda menaikan satu kakinya ke kursi. “Kamu pergi sama


Reynold?”


“Ya iyalah…Masa sama mang Paiman?”


“Ugh... nggak asyik...”


“Ayo lah, Nda. Kamu bakalan ketinggalancerita-cerita seru dari temen-temen SMP,”


Wajah Brenda masih seperti jeruk purut.


“Ntar ah, aku ganti baju dulu,”


“Cepat ya...  acaranya


jam sepuluh,”


“Iya-iya..”


Klik... tutsss... Brenda mematikan ponselnya. Lama ia


begerak dari tempat duduknya. Acara reuni yang menyebalkan. Apalagi


perginya sendirian. Brenda bisa diejek sebagai a loser. Jomblowati? Ighh... seumur-umur baru kali ini dapat julukan begitu. Brenda beranjak dengan kesal.



berkelas dengan aksesoris yang menawan membuat Brenda terlihat seksi dan


cantik. Hak tinggi dengan warna senada, benar-benar matching. Brenda terlihat


seperti seorang selebritis. Make up yang natural namun terkesan cantik terlihat


dari pancaran matanya yang bening.


Brenda


melangkahkan kakinya ragu-ragu. Hampir saja ia terpeleset karena terpijak kulit


semangka yang berserak di lantai. Untung masih kuat penopangnya, hingga Brenda


bisa menyeimbangkan tubuh dengan gerakan yang cepat. Di ruangan sudah ramai


sahabat-sahabatnya. Ada Anton, Fery, Heru, Nita, Melani dan yang lain. Ia mengulas senyum manisnya


ketika sahabat-sahabat SMPnya menyapa.


“Kamu cantik sekali,


Nda…” puji seorang teman.


“Terima kasih…”


Brenda tersipu.


“Duhh… kayak


selebritis,” ucap yang lain.


“Ah, kalian bisa


aja,”


Lagi-lagi Brenda


tersenyum grogi. Ia kembali berjalan mencari sosok Ela.


‘Dimana si


kunyuk itu?’ bathinnya.


Tiba-tiba saja


suara berat menyapanya.


“Halo, Nda…”


sapanya. Reflex Brenda menoleh ke arah suara itu. Seorang cowok cakep berdiri


tegak dengan setelan jeans dan kemeja. Wajahnya membuat Brenda terkagum-kagum


sekaligus salah tingkah. Wajah cakepnya nggak membosankan. Mata yang tajam


dengan alis yang tegas. Bibirnya merah dan basah. Benar-benar cowok idola.


“Yuda…?”


gumamnya  seraya tersenyum.


“Hei… apa

__ADS_1


kabar?” tanya Yuda kemudian.


“Baik, kamu?”


“Aku baik-baik


saja. Sendirian? Mana pasanganmu?”


Brenda semakin


salah tingkah.


“Iya nih… Belum


ada yang nempel di hatiku. Kalau kamu sama siapa?” tanya Brenda ingin tahu.


Dulu Brenda


sangat mengagumi Yuda, tapi Yuda tidak memberi respon apa-apa. Setelah perpisahan, mereka tidak lagi pernah


ketemu. Yuda pindah ke Jakarta dan melanjutkan sekolah di sana.


“Tuch…” kata


Yuda sambil menunjuk seorang gadis di pojokan. Hati Brenda seperti hancur


berkeping-keping. Ia tersenyum kecut.


“Dia


tunanganmu?” tanyanya kemudian. Yuda malah tersenyum.


“Bagaimana


menurutmu? Apa dia pantas menjadi pendampingku?”


“Yah, kalau itu


pilihanmu. Aku rasa pantas-pantas aja,”


“Hahahaha….”


Yuda tertawa ngakak. “Dia itu sepupuku. Aku sudah putus  dengan pacarku,”


“Putus?”


“Iya… dua bulan


yang lalu,”


“Kalian ada


masalah?”


“Yah, setiap


manusia itukan selalu punya masalah. Dalam berumah tangga juga. Kami sudah


tidak sependapat,”


“Ohh…”


Brenda menaikkan alisnya


lalu tersenyum. Senyuman Yuda berkali-kali membuat hatinya rontok. Padahal


Brenda sangat mengharapkan cinta Yuda sejak masih kuliah.


Handphone Brenda


berdering, nada sms. Dari Ela. Dahi Brenda berkerut, lalu membuka pesan di


inbox messenger.


Sory, Nda. Q gak bsa datang… tiba-tiba Renold


ngajak ke rmh sakit, nyokapnya di ruang ICU.


Brenda melenguh


kesal. ‘Huh, Ela. Ini namanya penjebakan,’


Brenda terus


mengumpat nggak karuan. Bayangkan saja reuni tanpa pasangan, sementara


teman-teman mereka udah pada punya pacar, dan ada yang udah berumah tangga.


Kamu keterlaluan, La!


Brenda membalas


sms Ela.


Nikmati aja, Nda. Jgn sia-siakan waktumu


Kalau ada gebetan langsung aja diserbu


xixixi…


Brenda lagi-lagi


mengumpat.


“Aku kesana dulu


ya, Nda… Nggak enak ninggalin sepupuku,”ujar Yuda.


“Iya, Yud… Nggak


apa-apa kok,” sahut Brenda sekenahnya.


Yuda kembali bergabung


dengan sepupunya. Tinggal Brenda yang duduk terpaku dengan perasaan tak menentu


sampai acara berakhir. Perhatiannya terus saja ke Yuda. Cowok itu benar-benar


membuat hatinya berdebar-debar.


Acara reunian


selesai begitu saja dan lagi-lagi Brenda terjerat dengan perasaannya sendiri.


Yuda juga pergi begitu saja tanpa pamit ke Brenda.



__ADS_1


__ADS_2