
M
inggu pagi yang tak
menyenangkan. Brenda duduk di teras depan sambil membaca beberapa surat kabar.
Di meja kecil tersedia susu hangat buatan pembantunya dan sedikit cemilan. Beberapa
menit yang lalu seorang debt collector menelponnya. Tagihan bulan ini sudah melewati
batas pembayaran. Brenda pusing. Sementara ia harus menutupi hutang bank
lainnya.
Handphonenya berdering
tak karuan. Suaranya memadati ruang tamu.
“Bik… ambilkan
hape saya,” Brenda menyuruh pembantunya. Malas juga ia bergerak kalau sudah
PeWe. Posisi Wenak.
“Ini, Bu…” sang
pembantu memberikan hp ke Brenda. Ia memperhatikan layar di ponselnya.
Harap-harap cemas. Kostumer atau dari pihak bank?
“Ya halo…”
sapanya lembut.
“Selamat pagi,
Bu. Dengan bu Brenda?”
Deg… Jantung
Brenda berdebug kencang. Ini pasti dari Bank.
“Ya, saya
sendiri,” sahutnya.
“Kami dari bank
X, Bu. Tagihan ibu sudah melewati jatuh tempo dan ibu sudah menunggak dua
bulan. Kapan ibu mau bayar?”
Brenda
kelabakan. “Hm… i..iya, Bu. Besok saya bayar,”
“Ibu dikenakan
denda loh, Bu,”
“Nggak apa-apa,
Bu. Nanti saya bayar juga dendanya,”
“Benar ya, Bu.
Kalau tidak saya akan datang ke rumah ibu,”
“E..e.e.. nggak
usah… Nggak usah repot-repot, Bu. Saya langsung aja ke bank…”
“Baik kalau begitu, saya tunggu. Terima kasih atas kerjasamanya,”
Klik.
Huh… Brenda
melenguh. Satu lagi beban masalahnya. Bertambah terus-menerus. Seperti bom
waktu yang kapan saja bisa meledak. Bagaimana ia mendapatkan uang begitu
banyak? Untuk kehidupan sehari-hari saja dia harus pontang-panting.
Situasi begini
memang tidak menyenangkan. Menjadi beban pikiran yang acap kali muncul ketika
melihat credit card yang menumpuk di selipan dompetnya. Mengapa ia begitu *****
mempercayai cowok brengsek seperti Franky hingga ia harus dikejar-kejar
kolektor.
Tiba-tiba handphonenya berdering
lagi. Brenda tersentak dengan jantung tak teratur. Ternyata dari Ela. Sialan.
Sampai spot jantung…
“Duhh… Ela…
kalau mau telpon bilang-bilang napa? Aku kaget banget nih…”
“Mau bilang apa?
Justru aku nelpon mau ngomong sama kamu. Memangnya ada apa sih? Kayak orang
ketakutan gitu?”
“Tuh, para
kolektor sadis. Mereka menghantuiku setiap hari, La. Sampai ke toilet aja aku
dikejar-kejar. Kamu tahu sendiri kan ancaman para kolektor yang cerewetnya nujubila?”
“Makanya lunasi tuh tagihan. Pake kartu kredit nggak
perlu banyak-banyak. Kalau begini kan repot,”
“Uuugghhh... Ela, bantu aku dong...”
“Salahmu sendiri,”
“Kamu nggak setia kawan,”
“Aku sudah memperingatkanmu. Jangan terpancing dengan tawaran-tawaran bank yang nggak
jelas. Kartu kreditmu aja sampai sepuluh,”
__ADS_1
Brenda cembetut. “Kamu keterlaluan, La,”
“Masa bodoh ah. Aku mau ke acarareunian. Kamu ikut?”
Brenda membelalak. “Reuni? Reuni apa-an?”
“Makanya kamu baca tuh undangan yang aku selipin di tasmu.
Memangnya nggak kamu baca?”
“Aku nggak tahu. Lagi pula kamu baru memberitahuku
sekarang. Salahmu sendiri. Aku gak ikut,”
“Ayolah, Nda... Kamu seperti kurang pergaulan aja,”
“Hmm... Lagian kamu nggak
kasih tahu aku jauh-jauh hari,”
“Sori, aku
lupa,”
“Yaudah, kamu
pergi aja ma Reynold!”
“Please, Nda… Kamu
akan menyesal,”
“Aku malu, La. Aku nggak punya pasangan,”
“Nggak papa, Nda. Banyak juga kok yang nggak bawa pasangan. Siapa tahu aja jodohmu ada
di sana,”
Brenda menaikan satu kakinya ke kursi. “Kamu pergi sama
Reynold?”
“Ya iyalah…Masa sama mang Paiman?”
“Ugh... nggak asyik...”
“Ayo lah, Nda. Kamu bakalan ketinggalancerita-cerita seru dari temen-temen SMP,”
Wajah Brenda masih seperti jeruk purut.
“Ntar ah, aku ganti baju dulu,”
“Cepat ya... acaranya
jam sepuluh,”
“Iya-iya..”
Klik... tutsss... Brenda mematikan ponselnya. Lama ia
begerak dari tempat duduknya. Acara reuni yang menyebalkan. Apalagi
perginya sendirian. Brenda bisa diejek sebagai a loser. Jomblowati? Ighh... seumur-umur baru kali ini dapat julukan begitu. Brenda beranjak dengan kesal.
berkelas dengan aksesoris yang menawan membuat Brenda terlihat seksi dan
cantik. Hak tinggi dengan warna senada, benar-benar matching. Brenda terlihat
seperti seorang selebritis. Make up yang natural namun terkesan cantik terlihat
dari pancaran matanya yang bening.
Brenda
melangkahkan kakinya ragu-ragu. Hampir saja ia terpeleset karena terpijak kulit
semangka yang berserak di lantai. Untung masih kuat penopangnya, hingga Brenda
bisa menyeimbangkan tubuh dengan gerakan yang cepat. Di ruangan sudah ramai
sahabat-sahabatnya. Ada Anton, Fery, Heru, Nita, Melani dan yang lain. Ia mengulas senyum manisnya
ketika sahabat-sahabat SMPnya menyapa.
“Kamu cantik sekali,
Nda…” puji seorang teman.
“Terima kasih…”
Brenda tersipu.
“Duhh… kayak
selebritis,” ucap yang lain.
“Ah, kalian bisa
aja,”
Lagi-lagi Brenda
tersenyum grogi. Ia kembali berjalan mencari sosok Ela.
‘Dimana si
kunyuk itu?’ bathinnya.
Tiba-tiba saja
suara berat menyapanya.
“Halo, Nda…”
sapanya. Reflex Brenda menoleh ke arah suara itu. Seorang cowok cakep berdiri
tegak dengan setelan jeans dan kemeja. Wajahnya membuat Brenda terkagum-kagum
sekaligus salah tingkah. Wajah cakepnya nggak membosankan. Mata yang tajam
dengan alis yang tegas. Bibirnya merah dan basah. Benar-benar cowok idola.
“Yuda…?”
gumamnya seraya tersenyum.
“Hei… apa
__ADS_1
kabar?” tanya Yuda kemudian.
“Baik, kamu?”
“Aku baik-baik
saja. Sendirian? Mana pasanganmu?”
Brenda semakin
salah tingkah.
“Iya nih… Belum
ada yang nempel di hatiku. Kalau kamu sama siapa?” tanya Brenda ingin tahu.
Dulu Brenda
sangat mengagumi Yuda, tapi Yuda tidak memberi respon apa-apa. Setelah perpisahan, mereka tidak lagi pernah
ketemu. Yuda pindah ke Jakarta dan melanjutkan sekolah di sana.
“Tuch…” kata
Yuda sambil menunjuk seorang gadis di pojokan. Hati Brenda seperti hancur
berkeping-keping. Ia tersenyum kecut.
“Dia
tunanganmu?” tanyanya kemudian. Yuda malah tersenyum.
“Bagaimana
menurutmu? Apa dia pantas menjadi pendampingku?”
“Yah, kalau itu
pilihanmu. Aku rasa pantas-pantas aja,”
“Hahahaha….”
Yuda tertawa ngakak. “Dia itu sepupuku. Aku sudah putus dengan pacarku,”
“Putus?”
“Iya… dua bulan
yang lalu,”
“Kalian ada
masalah?”
“Yah, setiap
manusia itukan selalu punya masalah. Dalam berumah tangga juga. Kami sudah
tidak sependapat,”
“Ohh…”
Brenda menaikkan alisnya
lalu tersenyum. Senyuman Yuda berkali-kali membuat hatinya rontok. Padahal
Brenda sangat mengharapkan cinta Yuda sejak masih kuliah.
Handphone Brenda
berdering, nada sms. Dari Ela. Dahi Brenda berkerut, lalu membuka pesan di
inbox messenger.
Sory, Nda. Q gak bsa datang… tiba-tiba Renold
ngajak ke rmh sakit, nyokapnya di ruang ICU.
Brenda melenguh
kesal. ‘Huh, Ela. Ini namanya penjebakan,’
Brenda terus
mengumpat nggak karuan. Bayangkan saja reuni tanpa pasangan, sementara
teman-teman mereka udah pada punya pacar, dan ada yang udah berumah tangga.
Kamu keterlaluan, La!
Brenda membalas
sms Ela.
Nikmati aja, Nda. Jgn sia-siakan waktumu
Kalau ada gebetan langsung aja diserbu
xixixi…
Brenda lagi-lagi
mengumpat.
“Aku kesana dulu
ya, Nda… Nggak enak ninggalin sepupuku,”ujar Yuda.
“Iya, Yud… Nggak
apa-apa kok,” sahut Brenda sekenahnya.
Yuda kembali bergabung
dengan sepupunya. Tinggal Brenda yang duduk terpaku dengan perasaan tak menentu
sampai acara berakhir. Perhatiannya terus saja ke Yuda. Cowok itu benar-benar
membuat hatinya berdebar-debar.
Acara reunian
selesai begitu saja dan lagi-lagi Brenda terjerat dengan perasaannya sendiri.
Yuda juga pergi begitu saja tanpa pamit ke Brenda.
__ADS_1