RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 15


__ADS_3

Maryati panik


ketika melihat Ryan pulang dengan bibir berdarah. Dia tahu kelakuan Ryan pasti


merepotkan orang di sekitarnya.


“Kamu kenapa,


Yan?” tanya Maryati dengan perasaan kalud. “Ryan berkelahi?”


Ryan menggeleng,


lalu menunduk.


“Kenapa dengan


Ryan, Nda?”


“Hhh… tante…


Maafkan saya…”


“Yan… katakan


pada mama, Ryan berkelahi?”


“Ryan tidak suka


kelahi,”


“Lantas kenapa


bibir Ryan berdarah?”


Ryan tidak


menyahut. Ia duduk sambil memainkan bola kristal yang selalu dibawanya.


“Hh… maafkan


saya, Tante,” ujar Brenda kemudian. “Tadi ada sedikit masalah di restoran. Itu bukan salah Ryan,”


Maryati


terkejut. “Ada perampok di restoran?”


Brenda


menggelang.


“Bukan. Tapi ada


seorang laki-laki yang berbuat onar. Ryan ingin melindungi saya,


Tante,”


“Oh, ya Tuhan.... Kamu tidak


apa-apa, Nda?”


Brenda mengangguk pelan. “Saya baik-baik saja, Tante,”


“Syukurlah…”


Maryati menghela lega. “Hati-hati, Nak Brenda. Jaman sekarang orang pada nekadmelakukan


apa saja,”


“Iya, Tante.


Saya minta maaf, kejadian ini menimpa Ryan,”


“Tidak apa-apa.


Ini bukan kesalahanmu,”


“Kalau begitu


saya permisi dulu, Tante. Saya mau menenangkan diri dulu. Saya benar-benar shock...”


“Silahkan, Nak


Brenda. Hati-hati di jalan.”


Brenda mengangguk sambil berlalu. Pikirannya kacau.


Seperti ditumpuki berton-ton kerikil. Mengapa kehidupannya jadi berantakan


seperti ini. Brenda berkali-kali menghela berat. Kelakuan Baim masih terngiang


di matanya. Cowok itu benar-benar nekat.



Baim dirawat di


rumah sakit setelah menelepon orangtuanya. Mereka


tidak terima atas apa yang sudah menimpa putranya. Orangtua Baim berusaha


mencari rumah Ryan. Mereka ingin menuntut atas tuduhan


penganiayaan.


Maryati terkejut ketika beberapa polisi datang ke


rumahnya. Wajahnya terlihat pias dengan kehadiran mereka.


“Kami akan membawa putra ibu,”


“Putra saya? Memangnya ada apa dengannya?” tanya Maryati


heran.


“Putra ibu menganiaya seseorang...”


Maryati terdiam dengan pandangan tajam. Ia menarik nafas


dengan berat lalu mengelus dadanya.


“Anak saya tidak bersalah, Pak. Apa yang bisa ia lakukan?


Itu tidak mungkin, Pak?!”


“Maaf, Bu. Ini perintah dari atasan saya. Lebih baik


serahkan anak ibu segara, agar masalahnya tidak semakin panjang,”


“Pak... Tolong... anak saya tidak bersalah,”


“Kita bereskan di kantor polisi saja, Bu. Laporan yang kami terima


begitu adanya. Jadi kalau ingin melindungi anak ibu sebaiknya ibu ikut ke


kantor polisi,”

__ADS_1


Beberapa polisi mencari keberadaan Ryan. Mereka menggedor


kamar Ryan yang ketakutan. Ryan menjerit-jerit sambil menunduk. Ia benar-benar


shock dengan kehadiran laki-laki berperawakan tinggi besar dan menariknya dengan paksa. Ryan


meronta-ronta, namun mereka tetap membawa Ryan


dengan paksa.


Maryati tidak dapat berbuat apa-apa selain menangis hingga


tubuhnya terguncang.


“Jangan sakiti anak saya, Pak...” Maryati berusaha


merelai tangan-tangan kekar dari tubuh Ryan.


“Tenang, Bu. Anak ibu akan baik-baik saja sampai di


kantor polisi,”


“Apa jaminannya kalau anak saya akan baik-baik saja kalau


kalian begitu kasar membawa anak saya?!”


“Kami berusaha membujuknya, Bu...”


Ryan memanggil-manggil Maryati dengan suara perih. Dia


benar-benar ketakutan seperti anak kecil. Maryati menangis lagi sambil melihat


kepergian para polisi yang membawa anaknya.



Maryati duduk di bangku tamu. Ia tertunduk sambil menahan


tangisnya.Berharap Ryan baik-baik saja.


‘Apalagi cobaan yang Kamu berikan


padaku ya Allah...’ gumamnya sedih.


“Maryati...” suara berat membuyarkan tangisnya. Ia mendongak


menatap seseorang yang menegurnya.


“Andrean...” sapanya berat.


Andrean adalah laki-laki yang sangat ia rindukan.


Laki-laki itu pergi meninggalkan dirinya dan Ryan begitu saja. Dua puluh empat


tahu yang lalu. Perkawinan mereka tidak disetujui ibu Andrean.


Maryati terpaku. Ada gejolak rindu dalam hatinya. Rindu yang sekian


lama tidak ia temukan. Maryati beranjak dari duduknya, menyambut kehadiran


Andrean.


“Apa yang kamu lakukan disini, Mar?”tanya Andrean penasaran.


Maryati


menghapus airmatanya. “Aku menjenguk putraku,”ucapnya sendu.


“Putramu?”Andrean terbelalak. Ia tak pernah tahu tentang putranya.


“Itu tidak


mungkin, Mar… Kamu menghianati cintaku?”


“Tidak, Ndre…


Dia buah cinta kita…”


Andre menggeleng. “Tidak...! Kamu menipuku, Mar! Kenapa?”


“Aku tidak menipumu, Ndre. Dia anak kita, hasil buah


cinta kita. Kenapa kamu beranggapan begitu padaku? Sekian lama aku menantikan


kehadiranmu, Ndre... Dimana tanggung jawabmu?”


“Kenapa selama ini kamu tidak memberitahuku, Mar?


Kenapa?”


Maryati


menggigit bibirnya.


“Kamu pergi ketika aku belum sempat memberitahumu, Ndre. Kamu


meninggalkan aku ketika usia kandunganku baru sebulan. Aku sangat menderita hidup


tanpa dirimu, Ndre… Sedangkan ibumu mengusirku begitu keji,”


Maryati terduduk di kursi sambil menangis.


“Perkawinan kita memang tidak pernah disetujui ibumu,


Ndre. Ibumu berusaha memisahkan kita dengan alasan kamu menuntut ilmu di


Australia. Hidupku terkatung-katung mempertahankan buah hatiku...” Maryati


terisak. “Dan yang paling aku sesali mengapa aku membiarkanmu pergi... Aku


melahirkan anak kita di rumah temanku, dengan semua kekurangan. Anakku kurang


gizi dan ia menderita autis...”


“Autisss...?” Andrean menatap Maryati dengan pendar mata


berkaca-kaca.


“Yah... dan aku sangat terpukul saat itu. Duniaku serasa


gelap...”


Maryati menatap


wajah Andrean yang mulai kelihatan berkerut. Garis-garis penuaan terlihat jelas


di wajah tampannya. Andrean menarik nafas berat, lalu menghembuskannya


perlahan.


“Dimana anak kita, Mar? Katakan padaku…?”


Maryati


menghapus airmatanya yang sempat menggenang.

__ADS_1


“Dia di ruang tahanan,”ucapnya sedih. Tubuhnya terguncang menahan tangis.


Andrean terdiam, lalu mendongakkan wajah Maryati.


“Apa maksudmu,


Mar?”


“Ini nggak


pernah terjadi sebelumnya, Ndre. Ryan dijemput oleh polisi dengan tuduhan


kekerasan. Apa salah anakku?” Maryati sesenggukan. Andrean terduduk di kursi.


“Jadi…. Ryan anak kita…”


“Iya, Ndre... Dia anak kita. Ada apa?”


“Baim mengadu


dipukul seseorang dan orang itu Ryan…”


“Lantas kamu yang


mengadu ke kantor polisi?”


“Oh… Mar…


Maafkan aku… Maafkan akuu….” Andrean terlihat menyesal. Ia seperti dihantam sebongkah batu yang sangat besar. Ia


tersadar kalau dia baru saja dari ruang tahanan dan membiarkan beberapa polisi menghajar Ryan.


“Jadii... dia anak kita?” suara Andrean terbata. Maryati


menatap wajah Andrean dengan lekat.


“Kenapa, Ndre...?”tanya Maryati penasaran.


Andrean terduduk lemas sambil memukul dinding, lalu memukul dirinya


sendiri. Ia menangis.


“Maafkan aku, Mar... Maafkan aku… Aku menyuruh mereka menghajar


anak kita...”


“Andree....” bibir Maryati terasa keluh.


Buru-buru Andrean masuk ke ruang tahanan dan menghentikan para polisi yang memukul Ryan. Andrean merengkuh tubuh Ryan


yang sudah tidak berdaya. Wajahnya penuh luka memar.


“Oh… tidaaakkk… Maafkan papa anakku... Maafkan


papa....”


Andrean menyesal dan terus memeluk putranya yang sekian


lama tidak bertemu. Maryati menggigit bibirnya menahan tangis. Melihat keadaan


Ryan yang babak belur ingin rasanya ia menuntut keadilan.


Ryan luka parah. Ia segera dilarikan ke rumah sakitterdekat. Darah mengucur dari


pelipis dan hidungnya. Tangannya juga luka karena tergores benda tajam. Maryati


duduk sambil menahan tangisnya.



“Aku menyesal, Mar... Aku orangtua yangtak


berguna,” Andrean mengawali pembicaraan di ruang tunggu rumah sakit. Suaranya


berat dan parau.


“Dia hartaku satu-satunya, Ndre. Aku tidak punya


siapa-siapa lagi selain Ryan...”


Andrean menoleh ke Maryati. “Aku akan menebus semua


dosa-dosaku, Mar... Aku akan memberitahu Baim, kalau Ryan itu abangnya,”


Maryati terdiam dengan pandangan kosong. Andrean lagi-lagi tak kuasa


menahan tangisnya.


“Aku akan


menerima Ryan apa adanya. Dia anakku… dia darah dagingku…”


Maryati


menghapus airmatanya, lalu berkata dengan suara berat.


“Bagaimana


dengan istrimu? Apakah dia akan menerima kehadiran


anakku?”


Andrean tertunduk


dan terdiam. Dia benar-benar dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Bodoh kalau


dia dulu meninggalkan perempuan yang sangat ia cintai dan mempertahankan


cintanya sampai saat ini.


“Mar... aku sangat merindukanmu...”


Maryati tertunduk sedih. Ingin rasanya ia merajut kembali


benang cinta mereka yang telah hilang. Cinta yang dulu dirampas oleh keegoisan


yang memisahkan mereka.


“Aku masih


menunggu cinta itu, Ndre…”


“Dan aku telah


mengkhianatimu…”


Maryati menahan tangisnya dan merebahkan kepalanya di bahu Andrean. Ia merasa damai berada di dekat Andrean yang telah lama dirindukan. Ia seperti menemukan mutiaranya yang telah hilang.


Maryati menatap


langit hitam. Bintang di luar sana berkedip-kedip, namun redup ketika awan


hitam menyapu lembut. Malam terus berlalu dalam balutan kisah sedih


yang meleburkan airmata Maryati.

__ADS_1



__ADS_2