
Maryati panik
ketika melihat Ryan pulang dengan bibir berdarah. Dia tahu kelakuan Ryan pasti
merepotkan orang di sekitarnya.
“Kamu kenapa,
Yan?” tanya Maryati dengan perasaan kalud. “Ryan berkelahi?”
Ryan menggeleng,
lalu menunduk.
“Kenapa dengan
Ryan, Nda?”
“Hhh… tante…
Maafkan saya…”
“Yan… katakan
pada mama, Ryan berkelahi?”
“Ryan tidak suka
kelahi,”
“Lantas kenapa
bibir Ryan berdarah?”
Ryan tidak
menyahut. Ia duduk sambil memainkan bola kristal yang selalu dibawanya.
“Hh… maafkan
saya, Tante,” ujar Brenda kemudian. “Tadi ada sedikit masalah di restoran. Itu bukan salah Ryan,”
Maryati
terkejut. “Ada perampok di restoran?”
Brenda
menggelang.
“Bukan. Tapi ada
seorang laki-laki yang berbuat onar. Ryan ingin melindungi saya,
Tante,”
“Oh, ya Tuhan.... Kamu tidak
apa-apa, Nda?”
Brenda mengangguk pelan. “Saya baik-baik saja, Tante,”
“Syukurlah…”
Maryati menghela lega. “Hati-hati, Nak Brenda. Jaman sekarang orang pada nekadmelakukan
apa saja,”
“Iya, Tante.
Saya minta maaf, kejadian ini menimpa Ryan,”
“Tidak apa-apa.
Ini bukan kesalahanmu,”
“Kalau begitu
saya permisi dulu, Tante. Saya mau menenangkan diri dulu. Saya benar-benar shock...”
“Silahkan, Nak
Brenda. Hati-hati di jalan.”
Brenda mengangguk sambil berlalu. Pikirannya kacau.
Seperti ditumpuki berton-ton kerikil. Mengapa kehidupannya jadi berantakan
seperti ini. Brenda berkali-kali menghela berat. Kelakuan Baim masih terngiang
di matanya. Cowok itu benar-benar nekat.
Baim dirawat di
rumah sakit setelah menelepon orangtuanya. Mereka
tidak terima atas apa yang sudah menimpa putranya. Orangtua Baim berusaha
mencari rumah Ryan. Mereka ingin menuntut atas tuduhan
penganiayaan.
Maryati terkejut ketika beberapa polisi datang ke
rumahnya. Wajahnya terlihat pias dengan kehadiran mereka.
“Kami akan membawa putra ibu,”
“Putra saya? Memangnya ada apa dengannya?” tanya Maryati
heran.
“Putra ibu menganiaya seseorang...”
Maryati terdiam dengan pandangan tajam. Ia menarik nafas
dengan berat lalu mengelus dadanya.
“Anak saya tidak bersalah, Pak. Apa yang bisa ia lakukan?
Itu tidak mungkin, Pak?!”
“Maaf, Bu. Ini perintah dari atasan saya. Lebih baik
serahkan anak ibu segara, agar masalahnya tidak semakin panjang,”
“Pak... Tolong... anak saya tidak bersalah,”
“Kita bereskan di kantor polisi saja, Bu. Laporan yang kami terima
begitu adanya. Jadi kalau ingin melindungi anak ibu sebaiknya ibu ikut ke
kantor polisi,”
__ADS_1
Beberapa polisi mencari keberadaan Ryan. Mereka menggedor
kamar Ryan yang ketakutan. Ryan menjerit-jerit sambil menunduk. Ia benar-benar
shock dengan kehadiran laki-laki berperawakan tinggi besar dan menariknya dengan paksa. Ryan
meronta-ronta, namun mereka tetap membawa Ryan
dengan paksa.
Maryati tidak dapat berbuat apa-apa selain menangis hingga
tubuhnya terguncang.
“Jangan sakiti anak saya, Pak...” Maryati berusaha
merelai tangan-tangan kekar dari tubuh Ryan.
“Tenang, Bu. Anak ibu akan baik-baik saja sampai di
kantor polisi,”
“Apa jaminannya kalau anak saya akan baik-baik saja kalau
kalian begitu kasar membawa anak saya?!”
“Kami berusaha membujuknya, Bu...”
Ryan memanggil-manggil Maryati dengan suara perih. Dia
benar-benar ketakutan seperti anak kecil. Maryati menangis lagi sambil melihat
kepergian para polisi yang membawa anaknya.
Maryati duduk di bangku tamu. Ia tertunduk sambil menahan
tangisnya.Berharap Ryan baik-baik saja.
‘Apalagi cobaan yang Kamu berikan
padaku ya Allah...’ gumamnya sedih.
“Maryati...” suara berat membuyarkan tangisnya. Ia mendongak
menatap seseorang yang menegurnya.
“Andrean...” sapanya berat.
Andrean adalah laki-laki yang sangat ia rindukan.
Laki-laki itu pergi meninggalkan dirinya dan Ryan begitu saja. Dua puluh empat
tahu yang lalu. Perkawinan mereka tidak disetujui ibu Andrean.
Maryati terpaku. Ada gejolak rindu dalam hatinya. Rindu yang sekian
lama tidak ia temukan. Maryati beranjak dari duduknya, menyambut kehadiran
Andrean.
“Apa yang kamu lakukan disini, Mar?”tanya Andrean penasaran.
Maryati
menghapus airmatanya. “Aku menjenguk putraku,”ucapnya sendu.
“Putramu?”Andrean terbelalak. Ia tak pernah tahu tentang putranya.
“Itu tidak
mungkin, Mar… Kamu menghianati cintaku?”
“Tidak, Ndre…
Dia buah cinta kita…”
Andre menggeleng. “Tidak...! Kamu menipuku, Mar! Kenapa?”
“Aku tidak menipumu, Ndre. Dia anak kita, hasil buah
cinta kita. Kenapa kamu beranggapan begitu padaku? Sekian lama aku menantikan
kehadiranmu, Ndre... Dimana tanggung jawabmu?”
“Kenapa selama ini kamu tidak memberitahuku, Mar?
Kenapa?”
Maryati
menggigit bibirnya.
“Kamu pergi ketika aku belum sempat memberitahumu, Ndre. Kamu
meninggalkan aku ketika usia kandunganku baru sebulan. Aku sangat menderita hidup
tanpa dirimu, Ndre… Sedangkan ibumu mengusirku begitu keji,”
Maryati terduduk di kursi sambil menangis.
“Perkawinan kita memang tidak pernah disetujui ibumu,
Ndre. Ibumu berusaha memisahkan kita dengan alasan kamu menuntut ilmu di
Australia. Hidupku terkatung-katung mempertahankan buah hatiku...” Maryati
terisak. “Dan yang paling aku sesali mengapa aku membiarkanmu pergi... Aku
melahirkan anak kita di rumah temanku, dengan semua kekurangan. Anakku kurang
gizi dan ia menderita autis...”
“Autisss...?” Andrean menatap Maryati dengan pendar mata
berkaca-kaca.
“Yah... dan aku sangat terpukul saat itu. Duniaku serasa
gelap...”
Maryati menatap
wajah Andrean yang mulai kelihatan berkerut. Garis-garis penuaan terlihat jelas
di wajah tampannya. Andrean menarik nafas berat, lalu menghembuskannya
perlahan.
“Dimana anak kita, Mar? Katakan padaku…?”
Maryati
menghapus airmatanya yang sempat menggenang.
__ADS_1
“Dia di ruang tahanan,”ucapnya sedih. Tubuhnya terguncang menahan tangis.
Andrean terdiam, lalu mendongakkan wajah Maryati.
“Apa maksudmu,
Mar?”
“Ini nggak
pernah terjadi sebelumnya, Ndre. Ryan dijemput oleh polisi dengan tuduhan
kekerasan. Apa salah anakku?” Maryati sesenggukan. Andrean terduduk di kursi.
“Jadi…. Ryan anak kita…”
“Iya, Ndre... Dia anak kita. Ada apa?”
“Baim mengadu
dipukul seseorang dan orang itu Ryan…”
“Lantas kamu yang
mengadu ke kantor polisi?”
“Oh… Mar…
Maafkan aku… Maafkan akuu….” Andrean terlihat menyesal. Ia seperti dihantam sebongkah batu yang sangat besar. Ia
tersadar kalau dia baru saja dari ruang tahanan dan membiarkan beberapa polisi menghajar Ryan.
“Jadii... dia anak kita?” suara Andrean terbata. Maryati
menatap wajah Andrean dengan lekat.
“Kenapa, Ndre...?”tanya Maryati penasaran.
Andrean terduduk lemas sambil memukul dinding, lalu memukul dirinya
sendiri. Ia menangis.
“Maafkan aku, Mar... Maafkan aku… Aku menyuruh mereka menghajar
anak kita...”
“Andree....” bibir Maryati terasa keluh.
Buru-buru Andrean masuk ke ruang tahanan dan menghentikan para polisi yang memukul Ryan. Andrean merengkuh tubuh Ryan
yang sudah tidak berdaya. Wajahnya penuh luka memar.
“Oh… tidaaakkk… Maafkan papa anakku... Maafkan
papa....”
Andrean menyesal dan terus memeluk putranya yang sekian
lama tidak bertemu. Maryati menggigit bibirnya menahan tangis. Melihat keadaan
Ryan yang babak belur ingin rasanya ia menuntut keadilan.
Ryan luka parah. Ia segera dilarikan ke rumah sakitterdekat. Darah mengucur dari
pelipis dan hidungnya. Tangannya juga luka karena tergores benda tajam. Maryati
duduk sambil menahan tangisnya.
“Aku menyesal, Mar... Aku orangtua yangtak
berguna,” Andrean mengawali pembicaraan di ruang tunggu rumah sakit. Suaranya
berat dan parau.
“Dia hartaku satu-satunya, Ndre. Aku tidak punya
siapa-siapa lagi selain Ryan...”
Andrean menoleh ke Maryati. “Aku akan menebus semua
dosa-dosaku, Mar... Aku akan memberitahu Baim, kalau Ryan itu abangnya,”
Maryati terdiam dengan pandangan kosong. Andrean lagi-lagi tak kuasa
menahan tangisnya.
“Aku akan
menerima Ryan apa adanya. Dia anakku… dia darah dagingku…”
Maryati
menghapus airmatanya, lalu berkata dengan suara berat.
“Bagaimana
dengan istrimu? Apakah dia akan menerima kehadiran
anakku?”
Andrean tertunduk
dan terdiam. Dia benar-benar dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Bodoh kalau
dia dulu meninggalkan perempuan yang sangat ia cintai dan mempertahankan
cintanya sampai saat ini.
“Mar... aku sangat merindukanmu...”
Maryati tertunduk sedih. Ingin rasanya ia merajut kembali
benang cinta mereka yang telah hilang. Cinta yang dulu dirampas oleh keegoisan
yang memisahkan mereka.
“Aku masih
menunggu cinta itu, Ndre…”
“Dan aku telah
mengkhianatimu…”
Maryati menahan tangisnya dan merebahkan kepalanya di bahu Andrean. Ia merasa damai berada di dekat Andrean yang telah lama dirindukan. Ia seperti menemukan mutiaranya yang telah hilang.
Maryati menatap
langit hitam. Bintang di luar sana berkedip-kedip, namun redup ketika awan
hitam menyapu lembut. Malam terus berlalu dalam balutan kisah sedih
yang meleburkan airmata Maryati.
__ADS_1