
Brenda menyibak gorden merah muda, lalu duduk di sofa sambil menyeruput coklat hangat buatan pembantunya. Kini ia tak perlu was-was
lagi dengan teror debt collector yang selalu mengganggu
pikirannya. Semua hutang-hutang di bank sudah ia lunasi. Brenda bisa bernafas
lega. Kencan tadi malam tak membuatnya patah semangat. Meski pun Yuda hanya
menganggapnya sebagai mainan, Brenda tak perlu ambil pusing.
Pagi itu Dedy datang
dengan seikat mawar dan seulas senyum menemui Brenda. Sudah lama ia naksir
Brenda, namun belum ada jawaban dari gadis itu. Entah apa yang ditunggu Brenda
hingga tidak menerima cinta dr. Dedy.
Brenda menatap wajah dr. Dedy
dengan lekat. Laki-laki itu memang tampan dengan senyuman yang menawan.
Kulitnya putih bersih dan terawat. Sudah mapan, sebagai seorang dokter. Namun
Brenda tidak tertarik dengan dr. Dedy.
“Apalagi yang kamu cari, Nda? Apakah aku kurang di matamu?” tanya Dedy.
Brenda tak bergeming. Ia
menghela nafas dengan berat lalu berujar.
“Hatiku masih tertutup untuk
siapapun, Ded. Aku nggak mau
sakit hati untuk yang kedua kali. Kamu tahu bagaimana perasaanku?”
“Setelah laki-laki itu
membohongi cintamu? Lantas kamu anggap aku sama seperti dia? Nda... Please... aku sangat mencintaimu,”
“Apa kamu tahu arti cinta yang
sesungguhnya?”
“Itu nggak menjadi alasan kamu
menolakku, Nda...”
Brenda kembali terdiam.
“Maukah kamu menikah denganku, Nda?”
Kata-kata itu membuat hati Brenda berdesir kencang.
“Nda, aku sangat
mencintaimu…”
__ADS_1
“Ded… maafkan aku. Aku
tidak bisa menerima ajakanmu,”
“Tapi kenapa, Nda? Apa
yang kamu tunggu? Usia kita sudah sama-sama matang. Kita akan membina sebuah
keluarga kecil yang bahagia.”
Brenda kembali terdiam.
Ditatapnya wajah laki-laki itu dengan lekat.
“Beri aku waktu untuk
memikirkannya,”
“Okey... aku akan menunggu
keputusanmu, Nda.”
Setelah obrolan yang singkat
itu, Dedy pamit pulang dan menunggu jawaban Brenda. Namun hati Brenda terus
berontak. Penghianatan yang dilakukan Franky masih mendarah daging di hatinya. Belum lagi cinta semu Yuda yang membuatnya terus memikirkan cowok itu.
Brenda menemui Ela di rumahnya. Dia mau curhat masalah Dedy, namun Ela terkejut mendengar penuturan Brenda.
“Kamu menolak dr. Dedy? Oh my God, Nda... kamu bodoh sekali. Dia sudah terang-terangan
sebesar jengkol. Bibirnyamenganga.
“Sudah dong, La. Jangan melototi aku begitu,”
Ela mengatupkan bibirnya dengan sewot.
“Aku nggak percaya kamu
melakukan itu, Nda. Apalagi yang kamu tunggu?”
“Sudahlah, La. Aku juga nggaktahu asal-usulnya bagaimana?”
“Dia jelas-jelas seorang
dokter dari keluarga baik-baik. Tampan dan punya penghasilan. Enggak seperti Franky yang melorotimu,”
“Dari keluarga
baik-baik? Memangnya kamu tahu keluarganya?”
Ela diam sejenak. “Nggak sih… tapi menurutku dia dari keluarga baik-baik,
Nda. Kamu jangan jadi gadis bodoh,”
“Yah... aku memang gadis bodoh
yang dipermainkan kaum lelaki. Kamu puas kan dengan nasib yang kualami?”
__ADS_1
“Hhh… Nda… jangan
berprasangka buruk dulu padaku. Aku sahabatmu yang ngerti tentang dirimu. Itu salahmu. Kamu terlalu mencintai
Franky,” Ela melipat tangannya dengan muka cemberut.
“Trus aku harus bagaimana?
Menerima ajakan menikah dari cowok begitu
saja? Dan melupakan siapa dia sebenarnya?”
“Kamu bisa pedekate dulu kan,
Nda. Kalau kamu tidak suka jangan diteruskan. Cinta itu sangat indah, Nda….”
“Aku tahu. Kamu nggak usah mengajariku. Aku masih bingung
menentukan jalan hidupku,”
“Kamu temui Dedy dan kamu
tarik ucapanmu,”
“Ugh... aku terkesan murahan,”
“Daripada kamu menjadi perawan
tua,”
“Dan aku dianggap pengemis
cinta? Tidak, Ela. Kalau dia memang mencintaiku, dia pasti akan kembali lagi
padaku,”
“Huh, jangan harap,”
“Sudah, ah... kamu membuatku
pusing. Aku mau ke rumah Ryan. Masih ada beberapa tanggung jawab yang harus aku
selesaikan,”
“Okey... aku sudah
menyarankanmu untuk menerima dr. Dedy,”
“Terima kasih atas saranmu.
Akan kupertimbangkan. Permisi.”
Brenda menuju mobilnya
dan meninggalkan Ela di rumah. Pikirannya
semakin semrawut gak karuan. Tekanan bathin yang ia hadapi seperti bom waktu
yang kapan saja bisa meledak.
__ADS_1