RAHASIA RUANG CINTA

RAHASIA RUANG CINTA
Episode 26


__ADS_3

 Brenda menyibak gorden merah muda, lalu duduk di sofa sambil menyeruput coklat hangat buatan pembantunya. Kini ia tak perlu was-was


lagi dengan teror debt collector yang selalu mengganggu


pikirannya. Semua hutang-hutang di bank sudah ia lunasi. Brenda bisa bernafas


lega. Kencan tadi malam tak membuatnya patah semangat. Meski pun Yuda hanya


menganggapnya sebagai mainan, Brenda tak perlu ambil pusing.


Pagi itu Dedy datang


dengan seikat mawar dan seulas senyum menemui Brenda. Sudah lama ia naksir


Brenda, namun belum ada jawaban dari gadis itu. Entah apa yang ditunggu Brenda


hingga tidak menerima cinta dr. Dedy.


Brenda menatap wajah dr. Dedy


dengan lekat. Laki-laki itu memang tampan dengan senyuman yang menawan.


Kulitnya putih bersih dan terawat. Sudah mapan, sebagai seorang dokter. Namun


Brenda tidak tertarik dengan dr. Dedy.


“Apalagi yang kamu cari, Nda? Apakah aku kurang di matamu?” tanya Dedy.


Brenda tak bergeming. Ia


menghela nafas dengan berat lalu berujar.


“Hatiku masih tertutup untuk


siapapun, Ded. Aku nggak mau


sakit hati untuk yang kedua kali. Kamu tahu bagaimana perasaanku?”


“Setelah laki-laki itu


membohongi cintamu? Lantas kamu anggap aku sama seperti dia? Nda... Please... aku sangat mencintaimu,”


“Apa kamu tahu arti cinta yang


sesungguhnya?”


“Itu nggak menjadi alasan kamu


menolakku, Nda...”


Brenda kembali terdiam.


“Maukah kamu menikah denganku, Nda?”


Kata-kata itu membuat hati Brenda berdesir kencang.


“Nda, aku sangat


mencintaimu…”

__ADS_1


“Ded… maafkan aku. Aku


tidak bisa menerima ajakanmu,”


“Tapi kenapa, Nda? Apa


yang kamu tunggu? Usia kita sudah sama-sama matang. Kita akan membina sebuah


keluarga kecil yang bahagia.”


Brenda kembali terdiam.


Ditatapnya wajah laki-laki itu dengan lekat.


“Beri aku waktu untuk


memikirkannya,”


“Okey... aku akan menunggu


keputusanmu, Nda.”


Setelah obrolan yang singkat


itu, Dedy pamit pulang dan menunggu jawaban Brenda. Namun hati Brenda terus


berontak. Penghianatan yang dilakukan Franky masih mendarah daging di hatinya. Belum lagi cinta semu Yuda yang membuatnya terus memikirkan cowok itu.


Brenda menemui Ela di rumahnya. Dia mau curhat masalah Dedy, namun Ela terkejut mendengar penuturan Brenda.


“Kamu menolak dr. Dedy? Oh my God, Nda... kamu bodoh sekali. Dia sudah terang-terangan


sebesar jengkol. Bibirnyamenganga.


“Sudah dong, La. Jangan melototi aku begitu,”


Ela mengatupkan bibirnya dengan sewot.


“Aku nggak percaya kamu


melakukan itu, Nda. Apalagi yang kamu tunggu?”


“Sudahlah, La. Aku juga nggaktahu asal-usulnya bagaimana?”


“Dia jelas-jelas seorang


dokter dari keluarga baik-baik. Tampan dan punya penghasilan. Enggak seperti Franky yang melorotimu,”


“Dari keluarga


baik-baik? Memangnya kamu tahu keluarganya?”


Ela diam sejenak. “Nggak sih… tapi menurutku dia dari keluarga baik-baik,


Nda. Kamu jangan jadi gadis bodoh,”


“Yah... aku memang gadis bodoh


yang dipermainkan kaum lelaki. Kamu puas kan dengan nasib yang kualami?”

__ADS_1


“Hhh… Nda… jangan


berprasangka buruk dulu padaku. Aku sahabatmu yang ngerti tentang dirimu. Itu salahmu. Kamu terlalu mencintai


Franky,” Ela melipat tangannya dengan muka cemberut.


“Trus aku harus bagaimana?


Menerima ajakan menikah dari cowok begitu


saja? Dan melupakan siapa dia sebenarnya?”


“Kamu bisa pedekate dulu kan,


Nda. Kalau kamu tidak suka jangan diteruskan. Cinta itu sangat indah, Nda….”


“Aku tahu. Kamu nggak usah mengajariku. Aku masih bingung


menentukan jalan hidupku,”


“Kamu temui Dedy dan kamu


tarik ucapanmu,”


“Ugh... aku terkesan murahan,”


“Daripada kamu menjadi perawan


tua,”


“Dan aku dianggap pengemis


cinta? Tidak, Ela. Kalau dia memang mencintaiku, dia pasti akan kembali lagi


padaku,”


“Huh, jangan harap,”


“Sudah, ah... kamu membuatku


pusing. Aku mau ke rumah Ryan. Masih ada beberapa tanggung jawab yang harus aku


selesaikan,”


“Okey... aku sudah


menyarankanmu untuk menerima dr. Dedy,”


“Terima kasih atas saranmu.


Akan kupertimbangkan. Permisi.”


Brenda menuju mobilnya


dan meninggalkan Ela di rumah. Pikirannya


semakin semrawut gak karuan. Tekanan bathin yang ia hadapi seperti bom waktu


yang kapan saja bisa meledak.

__ADS_1


__ADS_2