
Brenda memperhatikan
titik-titik air hujan melalui jendela kaca kamarnya. Kota Medan basah digenangi air hujan. Angin dingin
sesekali berhembus lembut dari celah-celah
jendela.
Brenda terpaku sesaat,
lalu memainkan penanya, seperti seorang pujangga kehabisan kata-kata. Menggigit
ujung pena dengan pandangan semu. Ada sebuah guratan-guratan bathin dalam dirinya. Guratan-guratan itu semakin jelas
saja dirasa. Terlebih saat memainkan sebuah skenario dari Maryati. Dia bingung atas permintaan perempuan itu yang dianggap beresiko bagi mental Ryan.
Diliriknya jam di dinding
kamarnya. Sudah jam lima sore. Tidak terasa hari begitu cepat
berlalu tanpa sedetikpun untuk berhenti. Senja mulai menapak,
meninggalkan warna cerah menjadi gelap.
Brenda masih ingin berlama-lama di kamarnya. Tidak ada yang ia kerjakan hari ini selain membaca buku tentang
autis dan psikologi. Brenda masih memikirkan perasaanya yang telah
hanyut. Akankah pangeran hatinya datang dan membawakan sejuta bintang di
angkasa. Seperti dalam mimpi-mimpi indahnya? Atau cerita-cerita dari negeri
dongeng? Brenda tersentak
kaget ketika handphonenya berdering. Getaran itu membuat lamunan Brenda pudar. Ia melirik reminder di handphonennya. Dari Yuda.
Lama Brenda mengangkat
Hp-nya. Ada sedikit rasa getir yang mencekat tenggorokannya. Sungguh Brenda tidak ingin membuat hatinya semakin pedih, namun cintanya begitu
besar ke Yuda.
“Ya halo...” sapa Brenda lembut.
“Halo, Nda.... Gimana
kabarmu?”
“Aku baik-baik aja, Yud...
Gimana denganmu?”
“Aku baik. Oh ya... kamu
sibuk?”
“Hmm... kenapa?”
“Temenin aku ke acara pesta
sahabatku yuk...”
“Pesta?” Bibir Brenda
menganga.
“Ya... ayolah, Nda...”
__ADS_1
“Hmmm…” Brenda berpikir
sejenak.
“Please…” Yuda memohon.
“Baiklah... aku ganti baju
dulu. Kamu jemput aku ya…”
“Okey… Makasih, Nda.”
Klik.
Brenda terdiam sejenak.
Mungkin ini kesempatan kedua baginya untuk mendapatkan hati Yuda. Ia lalu bergegas
ke kamar mandi dan mengganti bajunya dengan gaun pesta. Hatinya kembali
berbunga-bunga saat menerima ajakan Yuda.
Brenda mengirim sms ke Ela.
Brenda : Yuda
mengajakku ke pesta perkawinan sahabatnya
Ela : O ya? Bagus
dong, Nda. Ini kesempatan buatmu.
Yuda pasti
menyukaimu
sekali, La. Jantungku sampai mau
copot
Ela : Jangan kegeeran, nanti kamu bisa terpeleset
kulit pisang... heheh
Brenda : Udah ah...
Brenda kembali menikmati
kebersamaannya dengan Yuda.
Brenda menutup pintu rumah
dengan kesal. Tadi Yuda sibuk
sendiri berhaha-hihi dengan sahabat-sahabatnya. Sama sekali tidak menikmati
kebersamaannya dengan Brenda.
Brenda bersungut-sungut di
dalam kamarnya.
“Bagaimana kencanmu dengan
Yuda?” tanya Ela lewat ponsel.
__ADS_1
“Ugh... membosankan. Kamu tahu
nggak sih, aku seperti kambing congek di sana. Yuda nggak memperdulikan
keberadaanku, sebel!”
“Loh kok begitu? Bukannya Yuda
tertarik denganmu?”
“Itu masalahanya. Aku nggak tahu
apakah Yuda serius atau hanya mempermainkanku. Dia pikir aku ini cewek apaan?”
“Sudahlah, Nda... Kamu yang
sabar ya. Mungkin Yuda memang begitu,”
”Padahal aku berharap malam
itu Yuda mengungkapkan isi hatinya, La. Aku kesel lihat Yuda. Dia malah ngobrol
dengan teman-temannya,”
“Trus apa tindakkanmu
selanjutnya?”
“Aku akan menerima tawaran
Maryati,”
“Ya ampun, Nda... Kamu sadar
nggak sih? Itu akan menjadi masalah besar buatmu,”
“Aku harus bagaimana, La?
Hutangku juga sudah menumpuk. Apalagi Yuda yang cuek bebek denganku,”
“Makanya kamu terima tuh Dedy.
Ia setia menunggumu,”
“Ogah...”
“Ya udah... kalau begitu kamu
nikmati aja kesendirianmu,”
“Yah... itu memang takdirku.
Sudah ah, aku mau istirahat. Capek...”
Klik.
Brenda bersungut-sungut setelah mematikan ponselnya.
Menikmati malam yang sepi dengan alunan lagu sendu. Membiarkan angin malam
masuk melalui celah jendela kamarnya
dan mematikan lampu kamar agar terlihat temaram dengan nuansa lampu-lampu kecil
berbentuk bintang.
__ADS_1