
M
atahari pagi menerobos kisi-kisi jendela rumah Brenda. Ia tengah duduk santai di teras
samping sambil memperhatikan bunga-bunga di halaman. Sudah pukul delapan. Brenda melewatkan
pagi-pagi yang indah. Dimana embun-embun berkerendahan dan membuat mahkota di
daun-daun tamannya telah lenyap. Brenda tersentak kaget ketika
handphonenya berdering. Dari Baim. Malas Brenda mengangkat handponenya, tapi
suara itu terus menggelegar. Dengan berat ia menekan tombol OK.
“Halo…” sapa Brenda dingin.
“Aku mau bicara, Nda!” ucap Baim ketus.
“Kamu mau bicara apa, Im? Diantara kita tidak ada hubungan apa-apa?!”
“Itu menurutmu. Bagiku kamu adalah kekasihku. Aku mencintaimu, Nda. Aku
tidak bisa berpisah denganmu.”
“Jangan memaksakan kehendakmu, Im. Aku bukan kekasihmu!”
“Nda, please. Aku mau bertemu dengan kamu,”
“Maaf, aku nggak bisa. Sore nanti aku ada janji dengan temanku,”
“Kamu batalkan saja janjimu itu. Please, demi status hubungan kita,”
“Status? Kita tidak ada hubungan apa-apa, Im! Apalagi yang kamu inginkan
dariku?!”
“Aku ingin bertemu denganmu. Aku tidak bisa melupakanmu,”
“Im, aku tidak bisa menemuimu hari ini. Pertemuan ini jauh lebih penting
dari apapun,”
“Oh, begitukah…?” nada suara Baim semakin meninggi. “Apakah kamu pikir
pertemuan kita tidak penting?”
“Kamu egois, Im. Tolong, aku tidak ingin bersitegang sama kamu. Ini
masalah pekerjaan. Tolong hargai aku. Aku mau bertemu dengan klienku,”
“Baiklah. Aku menunggu keputusanmu dalam dua hari ini. Aku ingin
kepastianmu sekali lagi.”
“Terserah kamu, Im!”
Klik. Brenda mematikan handphonenya dengan kesal. Dia menarik nafas panjang.
Apa sih maunya cowok itu? Ugh…sialan. Brenda lupa mengganti no handphonennya.
Pagi itu Brenda menyempatkan
diri membawa mobilnya ke bengkel. Dengan uang yang masih ada beberapa juta
cukuplah untuk membetulkan mobilnya.
Mobil Brenda berhenti di depan rumah Maryati. Seperti biasa ia menyapa
perempuan itu dengan senyuman mengembang, tapi di wajah Maryati terlukis kesedihan.
Brenda menangkap kesedihan itu di mata Maryati.
“Tante baik-baik saja?” tanyanya. Maryati tersenyum tipis.
“Saya baik-baik aja kok, Nda…”
“Wajah tante terlihat murung. Ada apa? Apakah ini menyangkut Ryan?”
Maryati menggeleng pelan. “Sudahlah, Nda. Ini masalah pribadi saya,”
“Apakah tante tidak mau berbagi cerita dengan saya?”
Maryati tersenyum tipis. “Nanti saja kita ngobrol. Sekarang temui Ryan,
__ADS_1
ya. Dia sudah lama menunggumu,”
Brenda mengangguk. “Baik, Tante,”
Brenda menemui Ryan di
gazebo. Ryan asyik menyiapkan lukisannya. Ia
menghentikan kegiatannya begitu melihat Brenda menatapnya. Ia buru-buru
beranjak dan mengambil bola kristal di atas meja.
“Bagaimana kabarmu, Yan?”
Ryan tidak menjawab. Ia asyik dengan bola kristalnya.
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Yah… keliling kota Medan. Ryan mau?”
Ryan menghentikan gerakan tangannya, lalu menatap Brenda.
“Brenda mau ajak Ryan jalan?”
“Iya. Yuk…” ajak Brenda
lagi.
“Ryan tidak suka keramaian. Ryan pusing…”
“Kamu harus mengetahui dunia luar, Yan. Itu sangat menyenangkan,”
“Ryan tidak mau,”
“Ayolah…” pujuk Brenda.
Maryati menghampiri Brenda dan Ryan. Ia juga nggak mau anaknya menjadi anak cupu dan
tidak tahu dunia luar.
“Ayolah, Yan… Kamu pergi sama Brenda sana,”
“Ma…”
Maryati memberi isyarat dari gerakan wajahnya. Akhirnya Ryan mengikuti
“Kalian diantar supir aja,
Nda...” usul Maryati.
“Iya, Tante...”
Mobil keluar dari perumahan
mewah ke jalan hitam. Brenda sesekali melirik ke arah Ryan yang asyik dengan
bola kristalnya. Ryan hanya dia sepanjang perjalanan. Mereka pergi keliling
kota, lalu masuk ke sebuah restoran. Alunan musik slow mengiringi para tetamu.
Entah apa judulnya, namun mampu membius para tamu yang menikmati makan malam.
Mungkin judul tidak terlalu penting. Brenda terpaku menatap Ryan. Ada kegundahan yang
memupus selera makannya. Sesungguhnya apa yang membunuh rasa laparnya?
Pertengkarannya dengan Baim? Atau tentang impian-impiannya yang belum terwujud?
Brenda menikmati makanan di
atas meja. Daging asap, Vegetablesouse dan beberapa makanan penutup. Dua gelas jus buah segar dan saladfruid.
Lampu temaram dengan interior yang klasik. Wallpaper yang menawan dan
aksesoris lainnya bernuansa etnik. Suasana yang nyaman membuat makan malam
mereka benar-benar romantis. Lagu berganti dengan tembang manis dari Afgan.
“Lagunya bagus…” ujar Brenda sambil tersenyum. Ryan diam saja, bahkan ia tidak menimati alunan lagu itu.
“Apa musik kesukaanmu,
Yan?”
Ryan tidak menyahut. Ia menyantap hidangannya. Tiba-tiba saja sebuah suara
menghentakkan mereka berdua. Meja dipukul dengan keras.
__ADS_1
Gubbrraaaakkkk!!!
Brenda terkejut. Baim tiba-tiba saja menarik kemeja Ryan dengan kasar. Sebuah pukulan
keras menghantam rahangnya. Ryan terjatuh di lantai. Suasana mendadak saja
kacau.
“Bangsat!” maki Baim tak terkendali. “Ternyata kamu yang mempengaruhi Brenda! Kamu telah
merebut Brenda dariku!” sergah Baim berapi-api. Ryan masih tersungkur di lantai.
“Baim..?! Apa yang kamu lakukan?!” teriak Brenda menghadang.
“Minggir!” hardik Baim. “Seujung jari pun dia tak berhak memilikimu, Nda.
Pantas saja kamu berubah. Kamu tergila-gila padanya dan memilih dia daripada
aku?”
“Baim! Diantara kita tidak ada hubungan apa-apa! Aku tidak mencintaimu
dan jangan harap cintaku! Sekarang kamu pergi! Jangan ganggu aku!” sergah Brenda emosi. Ryan
bangkit sambil menghapus bibirnya yang berdarah.
“Apa yang kamu harap dari cowok idiot seperti dia?”
“Cukup! Jaga bicaramu! Kamu tidak berhak melarangku dan mengatur
kehidupanku!”
“Dasar murahan!” Baim masih memaki.
“Tinggalkan tempat ini, Im! Sebelum aku berteriak dan menuduhmu sebagai perampok!”
hardik Brenda dengan mata tajam.
“Apa yang kamu cari
dari cowok dungu seperti dia, Nda? Apa?!! Harta? Kekuasaan?”
“Aku tidak membutuhkan itu. Jika kamu memandang harta bagian dari kehidupanmu,
kamu salah besar. Tinggalkan aku dan tinggalkan kehidupanku!”
“Tidak. Aku tidak akan menyerah sampai mendapatkan cintamu, Nda,” tangan Baim
mencengkram pipi Brenda. Ryan yang melihat kelakuan Baim tidak terima Brenda
diperlakukan seperti itu. Saat Baim membalikan badannya, Ryan mengambil vas
bunga dan memukul kepala Baim hingga berdarah.
Praaakk… Kletaaak..
“Argghkk…” Baim memekik kesakitan. Ia tersungkur di lantai. Darah keluar
dari kepalanya.
“Yan… apa yang kamu lakukan?”
“Dia orang jahat. Dia sakiti Brenda.”
Brenda panik. Orang-orang yang berada di restoran
segera berkerumun. Brenda dan Ryan buru-buru keluar. Brenda ketakutan. Mereka buru-buru masuk ke mobil dan
menyuruh sang supir segera meninggalkan tempat itu.
“Jalan,
Pak...” ucap Brenda.
Sepanjang jalan Brenda terlihat panik sambil menggigit
bibirnya. Oh..my God… apa yang
terjadi? Pikirnya.
Bibir Ryan
berdarah. Brenda sibuk menghampus darah yang keluar dengan tisu.
__ADS_1