Rahasia Rumah Clara

Rahasia Rumah Clara
Pindah ke Semarang.


__ADS_3

Setelah satu tahun lebih tinggal di desa Kereng dan menyelesaikan SMA nya disana,, kini Delila Perwira dengan diantar oleh keluarganya tinggal di Semarang untuk melanjutkan studinya.


"Jangan menyusahkan Kakek, Nenek juga Pamanmu,,, Ibu percaya kamu bisa menjaga diri dengan baik,, dan bisa menjaga nama baik keluarga kita." Ucap ibu sambil memeluk Delila.


"Pasti Bu" jawab Delila.


Lalu Delila beralih pada adiknya,


"Kakak jangan lupa kalau libur Kakak pulang ke desa Kereng ya,, awas kalau nggak Dika ngambek yo!" Ancamnya sambil menahan tangis.


"Iya pasti,, ingat kamu dirumah juga jangan nakal ya,!" Sambil menoel hidung adiknya.


"Hohh" jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.


"Kita jalan dulu ya Nak,, ingat baik-baik disini!" Pesan Ayah sambil memelukku.


"Iya Ayah" jawabku.


"Bapak, Ibu,, kami pamit dulu titip Delila ya Pak ,Bu,, sekalian titip salam buat Mas Seno" ucap Ayah kemudian mencium punggung tangan Kakek dan Nenek bergantian dengan Ibu dan juga terakhir si kecil Dika.


"Wes nggakk usah kuatirkan Delila,, dia aman tinggal disini" ucap Kakek, Ayah dari Dina, ibu Delila.


Selesai berpamitan, Ayah, Ibu, dan Dika pun segera masuk kedalam mobil.


Mobil mereka perlahan mulai meninggalkan halaman rumah Kakek.


Tinggalah gadis berusia 18 tahun itu berdiri sendiri didepan teras dengan mata sembab dan bengkak akibat menangis.


Untuk pertama kalinya dia tinggal berjauhan dengan Ayah, Ibu dan Adiknya si Gembul Dika Perwira.


Setelah mengantarkanku kerumah Kakek dari keluarga Ibuku di Semarang untuk melanjutkan kuliahku disini.


Ayah, Ibu dan Dika kembali kedesa Kereng,, sebuah desa dikaki gunung Slamet.


Masa Tugas Ayah di desa itu masih panjang. Pengajuan mutasi kedaerah lain masih belum mendapat jawaban dari kantor pusat.


Meskipun sedih, tapi setidaknya Delila bisa tenang melepas kepulangan Ayah, Ibu dan Adikknya ke desa Kereng.


"Wes cah Ayu, ayo masuk, gak ilok surup-surup isih nek Njobo" tegur Neneknya.


( sudah Anak cantik, ayo masuk, gak baik senja-senja hampir malam masih ada di luar).


"Iya Nek!" Lalu melangkah masuk kedalam rumah.


Delila kemudian duduk diruang keluarga.


Rumah Kakeknya sekarang sudah jadi lebih luas dari terakhir Delila melihatnya 5 tahun yang lalu.


Kata Nenek Pamannya yang sudah merenovasi rumah ini.


Delila menempati kamar bekas milik ibunya sebelum menikah dengan ayahnya yang juga sudah direnovasi menjadi lebih luas dan juga lebih nyaman.


Dirumah ini Delila tinggal bersama, Kakek, Nenek dan Paman Seno, Kakak kandung dari Ibunya.


Delila terdiam melamun sambil memandangi foto Pamannya.

__ADS_1


Dadanya kembali sesak, hatinya tarasa sakit kala mengingat tragedi Pamannya dan Kiara yang menyebabkan Eyangnya, Lodra Perwira orang tua dari Ayahnya meninggal karenanya saat tinggal didesa Kereng.


Delila sudah belajar untuk ikhlas dan menganggap semuanya adalah jalan takdir.


Tapi setiap melihat wajah Pamannya,, rasa kecewa dihatinya selalu muncul tanpa bisa dikendalikan.


Dalam hatinya dia terus menyalahkan sang Paman,, tapi mengingat pesan terakhir Eyangnya, Delila mau tidak mau harus ikhlas menerima kepergiannya.


"Lagi mikir opo to Nduk kok serius banget?" Tanya Neneknya.


"Gak ada Nek,, itu Lila cuma mikir besok pas kekampus ini lho Nek,, kan Lila belum hafal jalan!" bohongnya.


"Yo Ndak usah kuatir to La,, kan Pamanmu nanti malam sampai dari luar kota,, besok pagi biar Pamanmu yang ngantar kamu kekampus!" Ucap Kakek yang baru keluar dari kamarnya disamping ruang keluarga.


"Yo jangan Kek,, kasihan Paman,, pasti Paman capek baru pulang dari luar kota"


"Memangnya kamu besok kekampus jam berapa?"


"Jam 9 Nek,, besok baru masa orientasi mahasiswa baru!"


"Oww,, Yo ndak masalah kalau begitu. Pamanmu biasa berangkat kekantor jam 8 kurang., Lagi pula setahu Kakek kantor Pamanmu itu satu arah sama kampusmu!" Ujar Kakek.


"Owwh.."


"Yo wes Nduk sekarang kita siap-siap makan malam"


"Kita nggak tunggu Paman pulang dulu Nek?"


"Ora usah,, Pamanmu itu pulangnya gak jelas, bisa awal bisa tengah malam!" Sahut Kakek.


"Ohww.." lagi-lagi Delila ber oh ria.


"Wes Nduk ora usah dicuci piring kotor e,, !"


"Nggak apa-apa Nek,, lagian Delila kalau di rumah juga biasa begini Nek!"


"Bocah pinter!" Pujinya sambil tersenyum.


Kakek dan Nenenk memang sangat memanjakanku,, Karena cucu mereka hanya ada dua,, Aku dan Adikku Dika.


Itu karena Paman Seno tidak mau menikah sekalipun sudah dipaksa oleh Kakek dan Nenek.


Rasa cinta dan rasa bersalahnya yang besar pada Kiara Dewi yang meninggal dengan tragis membuat Paman menutup hatinya untuk perempuan manapun.


Kakek dan Nenek sudah masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat, begitupun aku.


Sejenak udara dingin menusuk tulang berdesir melewati tengkukku.


Kuperhatikan jam meja diatas kulkas, baru menunjukkan pukul 8 malam.


Selesai membereskan meja makan, Delila memilih menonton TV diruang keluarga.


"Hahh, sinetron lagi,, sinetron lagi,,!,, Kebanyakan nonton sinetron bisa bahaya!" Gumamnya.


Delila mengubah channel tv beberapa kali,, akhirnya Lila menemukan film bagus untuk ditonton,, film Tom and Jerry dichanel Disney dari layanan tv berbayar.

__ADS_1


Delila pun cekikikan sendir menonton kartun kesukaannya sambil mengunyah keripik singkong didalam toples yang disiapkan sang Nenek dimeja kaca.


Lagi dan lagi Angin dingin menusuk tulang berhembus ditengkukknya.


Bukan,, bukan berhembus tapi lebih tepatnya seperti ditiupkan seseorang dibelakang lehernya.


Bulu kuduk Delila seketika meremang merasakan tanda yang tidak asing baginya.


Sebuah tanda kehadiran mahkluk dari dunia lain yang sedang mencari perhatian dengan mengganggunya.


Tapi Delila yang sekarang bukanlah Delila seperti dua tahun lalu yang akan histeris, lemas bahkan tak jarang jatuh pingsan saat melihat mahkluk astral tak bermoral yang mengobrak-abrik ketenangan harinya.


Delila mulai mendengus kesal.


Dia mematikan tv-nya. Lalunduduk dengan menyilangkan kedua tangannya didadanya.


Matanya menatap kesemua arah ruangan rumah ini.


Tiba-tiba dari sudut ruangan tidak jauh dari pintu penghubung kearah garasi,,


Sesosok gadis seumuran dengannya, berambut ikal dengan warna pirang berdiri sambil menundukkan kepalanya, membuat Delila tidak bisa melihatnya dengan jelas.


Delila memicingkan matanya melihat model pakaian yang dipakainya,, baju model noni-noni dijaman Belanda.


Perlahan gadis itu mulai mengangkat kepalanya,, dengan warna mata hitam pekat,, dia menyeringai degan sanagt menyeramkan kearah Delila.


Delila yang melihat sosok pengganggu didepannya hanya mendecih,,


"Permainan anak kemarin sore!" Ucapnya dengan senyum sinis tersungging dibibirnya.


Delila segera berdiri dan mendekati sosok itu tanpa rasa takut sedikitpun.


Sosok itu semakin melebarkan matanya kearah Delila yang malah berjalan mendekat kearahnya tanpa merasa terintimidasi.


Sambil berjalan, tangan kanan Delila dikepalkan,, tanpa terlihat oleh mata telanjang, kepalan tangan Delila mengeluarkan asap putih tipis.


*Pakkk* tangan yang mengepal itu dia pukulkan kearah sosok hantu gadis yang mencoba menakut-nakutinya.


Sosok itu pun seketika menghilang, dengan suara lengkingan aneh yang membuat bulu kudu siapapun yang mendengarnya berdiri.


"Berani menanggung resiko silahkan menggangguku atau rumah ini,, !" Tantangnya pelan namun penuh dengan nada ancaman yang ditujukan entah pada siapa.


Hanya Delila dan yang diajaknya bicara yang tahu.


Delila akhirnya masuk kekamarnya,, dia sudah tidak memiliki mood untuk melanjutkan acara nonton kartun kesukaannya sambil ngemil karena ulah hantu iseng dirumah ini.


********


Hay Readers,,, ini novel kedua perjalanan Delila, sigadis berkemampuan khusus.


Untuk yang penasaran dengan perjalanan Delila di seri pertama, bisa langsung cuss!! di seri The Journey of Delila Season 01 dengan judul Misteri Desa Kereng, di aplikasi kuning n*velm*, gratis baca tanpa pake koin.


Teman-teman jangan lupa like dan reviewnya ya.. sebagai bentuk dukungan penyemangat untuk Author.


Mohon maaf kalau masih banyak typo bertebaran.

__ADS_1


Terima Kasih semuanya.


Salam sehat


__ADS_2