Rahasia Rumah Clara

Rahasia Rumah Clara
Menghajar Dua Tuyul


__ADS_3

Sore pun berlalu, Dellila juga sudah selsai mandi dan bersiap untuk makan malam sebelum bergulat kembali dengan tugas-tugas kuliahnya.


"Malam, Kek,, Nek!" Sapa Delila.


"Lungguho Nduk!" Ucap Kakek.


(Duduk lah nak)


Delila menganggukkan kepalanya dan duduk disamping sang Kakek.


Delila mengambil nasi dan menaruhnya dipiring,, hari ini neneknya memasak soto ayam kampung kesukaannya,, saat menuang sayur kedalam piringnya.. terdengar suara mobil Paman Seno memasuki halaman rumah.


Bunyi langkah Paman terdengar mulai masuk mendekati pintu ruang samping yang terhubung dengan garasi dan juga dapur.


"Baru pulang Lhe?" Tanya Kakek.


"Iya Pak,,, biasa lembur dikantor!" Sambil salim sama Nenek dan Kakek.


"Wes makan malam kamu Sen?" Tanya Nenek.


"Belum Bu,, nggak sempat!" Jawabnya.


"Yo wes,, langsung makan bareng kita!" Ucap Kakek.


"Inggih Pak!" Lalu mencuci tangannya di wastafel dapur dan bergabung dengan kita.


"Kakek, Nenek,, Paman,, emm lusa Delila ijin menginap dirumah Clara, teman Lila bolehkan?" Tanyaku disela-sela makan malam kami.


" Memangnya ada acara apa La?" Tanya Paman.


"Itu Paman, Lila sama teman-teman yang lain diundang acara selamatan pindahan rumah baru,, sekalian ngerjain tugas kelompok untuk presentasi minggu depan!"


" Memang rumah barunya dimana La?" Tanya Nenek.


"Di Perumahan Permata Regency Nek!"


"Wah perumahan elit itu La,, temanmu wong sugih to?" (Temanmu orang kaya ya?)


"Gak tau Paman,," jawab Delila asal.


"Siapa nama temanmu tadi?" Tanya Paman sambil masih mengunyah makanannya.


"Clara, Paman,, kalau gak salah Clara Tanuhardjo!" Jawab Lila.


"Oww Iyo La,, Paman pernah dengar, keluarga Tanuhardjo itu pemilik perkebunan teh didaerah Bandungan"


"Jadi boleh kan Paman, Nenek,, Kakek?" Tanya Delila lagi memastikan.


"Boleh tapi jangan aneh-aneh ya!" Ucap Pamannya mengingatkan.


"Pasti Paman,, Pasti..!" Jawab Delila.


Selesai makan malam,, seperti biasa Delila mengambil alih dapur dan mencuci piring-piring kotor.


Baru saja dia menyelesaikan pekerjaannya, dan berniat kembali kekamar,,


"Hi.. hi.. banyak ya!"


"Ho,, oh,, pasti bos senang dengan hasilnya!"


"Iyo,,alamat dapat makanan enak!"


terdengar suara berisik anak-anak dari dalam kamar Nenek, dan Kakeknya.

__ADS_1


"Aneh" pikir Delila.


Karena penasaran,


*Tok.. tok..* Delila mengetuk pintu kamar neneknya.


Pintupun dibukakan oleh neneknya,


"Enek opo Ndhuk?" (Ada apa Nak)


"Em,, anu Nek,, itu Lila,, Lila butuh minyak kayu putih!" Jawabku asal.


Sambil melihat kedalam kamar Nenek.


"Kamu sakit?" Tanya Kakek dari dalam kamar.


"Emm, kayaknya Lila sedikit masuk angin ini Kek!" Bohong Delila.


"Oww yo wes mlebu mrene Nduk, biar nenekmu ngerokin kamu !" Kakek kemudian melangkah keluar dari kamar.


"Ayo mrene Nduk,, tak keroki!" Ajak Neneknya.


"Emh, i..iya Nek!" Sambil mataku memandang keseluruh ruangan kamar Nenek.


Tapi kosong tidak ada apa-apa,,


"Aneh,, terus suara anak kecil cekikikan tadi dari kamar siapa?" Tanya Delila dalam hati.


"Emm ga usah dikerok Nek,, biar Delila balurin sendiri aja diperut sama punggung, nanti pasti juga enakan!"


"Yakiin??"


"Iya Nek"


Tepat saat Nenek membuka laci meja didepannya.


Tiba-tiba dari dalam lemari muncul dua sosok anak kecil menembus pintu lemari sambil tertawa cekikikan.


Mataku membeliak,, aku pikir yang keluar itu dua hantu anak kecil,, rupanya dua tuyul berwajah tua berbadan kecil, yang tingginya tidak lebih dari 50cm.


"Rupanya ada dua tuyul mencuri Uang Nenek dari dalam lemari!" Ucapku dalam hati.


Merasa ada yang menatapnya,, dua tuyul itu menatap balik Delila,, lalu menyeringai menakutkan menunjukkan deretan gigi yang berwarna hitam bercampur putih menjijikkan.


Dua tuyul itu pun tersenyum meremehkan Delila sambil melambai-lambaikan uang biru ditangannya, berniat memamerkan beberapa lembar uang lima puluhan ribu hasil curiannya seolah mengejek Delila.


Delila pun tersenyum menyeringai membalas senyuman kedua tuyul itu.


Delila segera merapalkan sebuah mantra,


"Ajiku tapak kabut sejagad,, nutupo tangan setapak, kebuka marang kibasan perintah." Ucap Delila dalam hati.


Lalu,,


*Plokk"


Delila menepuk tangannya satu kali.


"Enek opo Nduk!?" nenek terkejut mendengar suara tepukan Lila dari belakangnya.


"Eh,, anu itu Nek ada nyamuk besar banget!" Jawab Lila.


"Ow,, Iki Nduk minyak kayu putih-e"

__ADS_1


"Matur suwun Nek,, Delila betho dateng kamar nggih Nek?"


(Terima kasih Nek, Delila bawa kekamar ya Nek?)


"Iyo Nduk,, bawa saja,, !"


"Delila kekamar dulu ya Nek!' pamitku.


"Hmm,, Yo wes kono gek turu,, Ojo melekan!" Ucap neneknya mengingatkan.


(Hmm, ya sudah sana buruan tidur, jangan bergadang)


"Injih Nek" Lalu Delila keluar dari kamar Neneknya dan berjalan menuju kedalam kamarnya sambil tersenyum lucu.


Tepat jam 9 malam,, semua orang didalam rumah Kakeknya sudah tidur dengan nyenyak.


Delila dengan perlahan berjalan menuju keruang tengah.


Dapur dan ruang tamu cukup gelap karena lampu yang ada diruangan itu dimatikan.


Hanya lampu ruang tengah saja yang Lila nyalakan.


Lila tersenyum melihat dua sosok kerdil di dekat dapur terus berputar, tidak bisa keluar,, mencoba menembus tembok yang ada diruang tamu maupun ruangan lain juga tidak bisa.


Kedua tuyul tak kehilangan akal,, dengan tiba-tiba tubuh keduanya mengecil hanya sepanjang jari kelingking anak berumur 10 tahun.


Kedua tuyul mencoba melewati lubang angin dari bawah pintu dapur yang tembus menuju teras belakang.


Tapi lagi dan lagi dua tuyul itu tidak bisa melewatinya, seolah ada tabir transparan menghalangi jalan keluar dari rumah ini.


Delila tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya,, melihat dua tuyul berdiri kebingungan sambil menggaruk kepalanya yang tak berambut tapi berbulu layaknya anak kucing yang baru lahir.


"Kkkkk..." Delila terus tertawa cekikikan melihat kedua tubuh tuyul itu mental terjatuh berkali-kali dalam ukuran normalnya.


Mendengar suara tawa seseorang, kedua tuyul melotot tak percaya.


Kedua tuyul pun terlihat dalam mode marah, kedua matanya berubah merah menyala,, lalu berjalan mendekat kearah Delila siap menyerang.


Kedua mahkluk tiba-tiba melompat kearah Delila,, namun Delila mengibaskan telapak tangannya dengan cepat,, tiba-tiba angin yang cukup kencang menghantam tubuh kedua tuyul hingga terhempas ke dinding rumah.


Kedua tuyul semakin tidak mengerti dengan manusia didepannya.


Mereka tidak menyangka akan tertangkap bahkan lebih buruknya terkurung ditangan seorang Delila yang bukan tuannya yang memelihara dan yang memberinya makan.


Kedua tuyul meringkuk seperti bocah yang dihukum oleh emaknya.


Delila berjalan kearah kedua tuyul, dengan kedua tangannya dia menjinjing kedua tuyul seperti menenteng termos.


"Kembalikan sekarang sebelum kalian aku masukkan kedalam botol kecap!" Ucap Delila dengan enteng.


Kedua tuyul menganggukkan kepalanya.


Beberapa lembar uang lima puluh ribuan dijatuhkan kelantai,, dengan tangannya yang mungil kedua tuyul melambaikan tangannya diatas uang-uang itu.


Tak butuh waktu lama uang itu menghilang dari pandangan mata.


"Berani kalian masuk kerumah ini,, jangan harap bisa keluar dengan selamat! Atau perlu aku jadikan kalian gantungan kunci untuk koleksi tasku haa!" Ucap Delila memasang wajah dingin kearah kedua tuyul.


Kedua tuyul melotot, sambil menggelengkan kepalanya.


Merasa cukup memberi pelajaran pada para tuyul koplak, Delila melambaikan tangannya,, membuka tabir selimut yang dia pasang tadi,,


Delila melemparkan kedua tuyul begitu saja kearah dapur.

__ADS_1


Tubuh kedua tuyul terlempar menembus dinding dapur,, Setelahnya kedua tuyul segera berlari terbirit-birit kembali menuju rumah majikannya.


__ADS_2