
*Mpphhh* Mulut Julia tiba-tiba dibekap kuat oleh sosok tangan kekar berkulit coklat gelap.
Mata Julia melotot,, panik dan ketakutan.
*Mpphh,, mphhh* Julia berusaha terus berontak.
"Diamm!!" bentak sosok yang membekapnya sambil menodongkan golok besar didepan Julia.
Julia semakin gemetar ketakutan, melihat 4 orang yang memakai topeng berbahan rajut menutupi seluruh kepala dan menyisakan mata mereka saja dengan golok tampak mengkilap terasah ditangan masing-masing.
Keempat salin berpandangan mata seakan saling mengirimkan kode,
Lalu seorang yang bertopeng hitam menunjuk kamar utama dengan jarinya, segera ke empat orang naik sambil salah seorang menyeret Julia. keatas, sementara yang satu orang berjaga dilantai bawah.
*Brakk* dua orang berbadan besar bertopeng biru bergaris putih bersamaan mendobrak pintu kamar utama.
Pintu terbuka,, Seorang yang bertopeng hitam tiba-tiba menarik kuat tubuh Julia dan membekapnya, sementara dua orang menahan Wisnu dan juga istrinya dengan todongan golok dilehernya masing-masing.
Tersisa satu orang mengobrak-abrik ruangan untuk mencari harta berharga milik keluarga Wisnu.
Tak memperdulikan aksi ketiga temannya,, sosok bertopeng hitam merasakan gairah melihat tubuh Julia dalam bekapannya,, daster batik katun berbelahan dada rendah, memperlihatkan dua gundukan putih yang menggoda.
Tanpa banyak kata,, sosok bertopeng hitam segera merobek pakaian Julia,,
"tolong" Julia segera berteriak ketika bekapan mulutnya dilepaskan.
"Plakkk" dengan kasar pria beropeng hitam itu menampar Julia dengan keras.
"Jangan sakiti putriku.." teriak Navila, Mama Julia dengan air mata menetes.
"Kalau kalian mau hartaku Ambi,, ambil saja tapi lepaskan putriku,, " Wisnu tak kalah panik.
Dari arah pintu tiba-tiba 2 orang bertopeng lainnya ikut masuk menyusul. 6 orang bertopeng mengepung Julia, dan kedua orang tuanya.
Julia sudah dalam keadaan setengah telanjang begitu juga dengan kondisi sang Mama yang kini juga diseret dan dibaringkan dengan kasar diatas tempat tidur.
"Papa tolong,, jangaannn!! lepaskaann,, aku mohonn!!" panik Julia sambil berusaha menendang 1 orang yang kini memeganginya, sementara yang bertopeng hitam dengan cepat membuka celananya sendiri.
Adegan tak senonoh pun terjadi, pria bertopeng hitam memperkosa Julia, sementara pria bertopeng biru memperkosa Mama Julia.
Berenam mereka bergiliran memperkosa dua perempuan beda generasi itu tanpa belas kasihan.
__ADS_1
Mengabaikan suara jeritan dan rintihan kesakitan dari keduanya.
Wisnu yang melihat kedua orang terkasih menjadi korban kebiadaban mereka benar-benar tidak berdaya. Tubuh Wisnu dijadikan bulan-bulanan oleh para perampok hingga babak belur tak berbentuk.
Puas melampiaskan nafsunya, dan menguras harta benda dari brankas,, keenam perampok sadis segera pergi meninggalkan rumah keluarga Wisnu dengan puas.
Pagi menjelang, Wisnu yang terkapar tidak sadarkan diri dengan lemah mulai bangun sambil merangkak menghampiri istri dan anaknya yang terbaring mengenaskan.
Wisnu mengecek hembusan nafas keduanya.
Setelah memastikan anak dan istrinya masih bernafas, dengan kekuatan yang tersisa dia menelpon rumah sakit, dengan hati yang hancur Wisnu memakaikan anak dan istrinya pakaian semampu yang dia bisa.
Tak berapa lama sirene ambulan datang mendekat, melihat suasana gerbang yang terbuka dan dua penjaga terikat dan tersumpal mulutnya di dalam pos satpam,, petugas ambulan segera menelpon polisi.
5 menit berselang mobil patroli polisi datang,, 4 orang polisi turun dari mobil.
1orang melepaskan ikatan kedua satpam, sementara 3orang lainnya bergegas masuk kedalam memeriksa keadaan rumah diikuti petugas ambulan.
3 orang pembantu terikat dan terkunci disatu kamar.
Sementara dikamar utama 3 orang ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Berita segera menyebar dengan cepat seperti debu yang terbawa tiupan angin.
Wisnu, dan Julia dalam keadaan kritis,, sementara sang Istri, Navila meninggal satu jam setelah menerima perawatan dari rumah sakit.
Duka mendalam dirasakan Wisnu, setelah kehilangan istri tercinta, kini Wisnu harus melihat Julia, putri tunggalnya yang setelah sadar menatap semua dengan tatapan kosong tanpa cahaya kehidupan tampak dimatanya.
Selalu berteriak histeris ketika malam tiba.
Wisnu memutuskan membawa putrinya pindah jauh dari rumah yang telah membuatnya kehilangan istri dan masa depan Julia.
Barang sudah dipacking,, hanya tinggal menunggu pagi,, mereka berdua segera berangkat.
Tanpa diduga, pagi hari menjelang keberangkatan terjadi kehebohan.
Julia menghilang dari rumah. Wisnu berusaha keras mencari keberadaan putrinya bahkan sampai malam kembali menjelang, Jia tetap tidak berhasil ditemukan.
6 hari berlalu, Wisnu masih belum menemukan Julia bahkan pihak kepolisian juga ikut membantu pencarian Julia berdasarkan laporannya.
Hari yang ketujuh Wisnu terduduk lemas, mendengar berita dari kepolisian tentang penemuan mayat perempuan dipinggir Alas Roban,, dengan ciri-ciri yang sangat mirip dengan putrinya.
__ADS_1
Hati Wisnu penuh dengan rasa was-was,, bersama polisi menuju rumah sakit untuk mengidentifikasi mayat perempuan yang ditemukan.
Langkahnya begitu berat,, kakinya gemetar, perasaan tidak enak menyeruak menyesakkan dadanya.
Seorang petugas kamar mayat berdiri membukakan pintu untuknya.
Beberapa kali Wisnu menarik napas panjang menyiapkan kemungkinan terburuk yang akan dia hadapi didalam sana.
Didampingi seorang polisi, Wisnu berjalan dengan gemetar mendekati brankar dimana sesosok tubuh masih tertutup kain putih dengan petugas koroner berdiri disampingnya.
"Apa anda sudah siap?" tanya polisi yang mendampinginya dengan penuh simpati.
Lagi-lagi Wisnu menarik napasnya dalam-dalam, lalu menganggukkan kepalanya pelan.
Jantungnya berdebar dengan kencang,, perlahan tangannya mulai terulur memegang ujung kain putih dan membukanya dengan pelan pelan.
Wisnu menahan napasnya, tubuhnya terhuyung kebelakang,, Polisi yang berdiri disampingnya dengan sigap segera menahan tubuh Wisnu agar tidak terjatuh.
"Julia,, itu Juliaaa,, dia Juliaa,, anakku..." Tangis Wisnu seketika pecah.
"Saya turut berduka cita Pak" ucapnya tulus sambil memegang bahu Wisnu yang masih tergugu.
Dalam bulan yang sama Wisnu harus kehilangan dua orang yang dicintainya, Navila istrinya yang baru dia makamkan satu Minggu yang lalu, dan kini Julia putri kesayangannya.
Pria paruh baya itu limbung,, tidak mampu menghadapi kenyataan pahit dihadapannya.
Terduduk lemas dibawah jasad kaku Julia sambil mengepalkan kedua tangannya.
Dadanya begitu sesak, merasakan rasa bersalah yang begitu besar. Merasakan kegagalannya sebagai seorang Ayah dan suami yang tidak bisa melindungi keduanya dari kebejatan para perampok yang hingga kini belum tertangkap.
Siang itu Wisnu harus kembali melangkah menuju ke pemakaman memakamkan jasad putri tunggalnya disamping makam sang istri yang belum kering.
Wisnu melangkah dengan gontai meninggalkan makam istri dan putrinya.
Sementara itu tanpa disadari siapapun, tampak di kejauhan Robin berdiri dibalik pohon menatap sendu kearah gundukan tanah merah dengan taburan bunga diatasnya.
Sesekali pemuda tampan itu menyeka airmatanya yang menetes. Tanpa mendekati gundukan tanah itu dia pergi menjauh meninggalkan tempat peristirahatan terakhir sang mantan kekasih.
**** halo.. halo mana suaranya...??" *** mana hadiahnya?? wkwkwk...
Author malak ya??😂😂 Please komentar juga like nya n jangan lupa jadikan favorit Readers ya. Terima kasih 😘😘 lope,, lope yu
__ADS_1