Rahasia Rumah Clara

Rahasia Rumah Clara
Malam Mengesalkan


__ADS_3

Malam semakin larut,, Tampak sang Nenek sudah tidak mampu menahan kantuknya,, sambil duduk ditepi ranjang,, Nenek menundukkan badannya dan tertidur menelungkup disamping Kakek.


"Hooamm,, Waduuhh mataku kari 5 watt Iki" gumam Lila sambil menguap dan mengucek matanya.


Delila beranjak dari tempat duduknya dengan perlahan,, menuju kekamar mandi berniat mencuci muka untuk mengusir rasa kantuknya.


Didalam ruangan rawat sang Kakek,, ada kamar mandi didalamnya,, tapi Delila memilih memakai kamar mandi diluar ruangan untuk menghindari suara berisik gemericik air yang bisa mengganggu Kakeknya atau pasien yang ada disebelah Kakek.


Delila keluar,, dan menyusuri lorong rumah sakit.


Lila melirik jam tangan yang dipakainya,, 12 malam.


Udara rumah sakit memang selalu beda dengan udara diluar rumah sakit.


Sebersih dan sebagus apapun rumah sakit tetap saja hawa suram dan mencekam yang mendominasi.


Bulu kuduk Delila meremang,, dan ini sedikit membuatnya tidak nyaman.


Meski tidak lagi memiliki rasa takut,, tapi rasa tidak nyaman tetap dirasakannya.


Lorong rumah sakit begitu sepi,, hanya dua tiga orang saja yang tampak bersliweran,, tidak seramai seperti sore tadi.


Tiba-tiba dari arah depannya terlihat 2 sosok perawat pria sedang mendorong brangkar dengan sosok diatasnya tertutup dari kaki sampai kepala.


Tetap santai berjalan dengan arah berlawanan, Delila melewati tubuh mayat yang sedang didorong kedua perawat pria dewasa itu..


Tepat disamping jenazah,,


*Plakkk*


"Ehh Setannn..!!" pekik Lila spontan melompat karena terkejut.


"Waaaa.." salah seorang perawat berteriak cukup kencang.


Melihat jenazah yang dibawanya tiba-tiba duduk, dan tangannya sekarang ada di bahu Delila, sementara kain yang menutupinya melorot ke bawah,, terlihat bagian kepala mayat itu penyok separuh,, dengan darah menetes tanpa henti..


Dua perawat pria hanya bisa menganga tercengang,, lutut dan tubuh mereka berdua gemetar hebat.


Sementara Delila, bersiap membalikkan badannya untuk melihat sosok yang menahan langkahnya.


"Ja..jangan me..menoleh dekk!" ucap salah satu perawat dengan suara gemetar


Delila dengan wajah dingin tetap membalikkan badannya,


"Gusti Pangeran...!!" Lila melotot kearah mayat yang duduk dengan tangan masih terulur dibahunya.


"Wes mati ae nyusahno sekampung,, ijek wanii medeni,," Delila berusaha menahan rasa mualnya melihat darah sekaligus kondisi mengerikan mayat didepannya,,


(Sudah mati saja menyusahkan orang sekampung,, masih berani juga nakut-nakutin)

__ADS_1


Jari telunjuk Delila mendorong tangan mayat yan masih terulur.


"Turu,, ojo Tangi!"


(Tidur , jangan bangun)


Mayat itu kembali terlentang diatas brangkar.


Delila segera meraih kain putih yang terkena noda darah dan menutupkan kembali dibadan mayat itu lagi.


Kedua perawat pria itu melotot tak percaya kearah Delila,,


"Ka.. kamu berani Dek?" masih dengan suara yang terdengar gemetar.


"Ya berani lha wong cuma mayat saja,, memang itu mayat matinya kenapa Pak?" jawab Delila enteng.


"Kecelakaan saat balapan liar !"


"Oww" jawabnya dengan dingin.


"Kamu berani ya Dek,, padahal dia bangun..?" ucapnya sambil bergidik ngeri.


"Lha cuma mayat kan Pak,, apa yang mau ditakuti,, dosen ku aja lebih nyeremin dari ini mayat!!! ceplos Delila.


Kedua perawat lagi-lagi dibuat melongo dengan jawaban Delila.


"Ta..tapi kamu manusia kan Dek??" tanya perawat pria yang lebih muda sambil menatap ketakutan kearah Delila, dan melihat kearah kaki memastikan kaki gadis yang didepannya ini menapak di tanah.


"Yo mesti aku menungso,, opo yo raiku Iki medeni koyo setan?" ketus Delila dengan kesal.


(Ya aku manusia,, apa mukaku ini nakuti kayak setan?).


Sementara perawat muda itu hanya nyengir mendengar jawaban ketus Delila.


"Lha mukamu dingin datar begitu,, Yo gak salah to,, apalagi ini tengah malam kamu jalan sendirian,, jadi tak kirain yo setan" ucapnya lagi.


"Emm,, Dek mau temani kita ke arah kamar mayat gak?" tanya seorang perawat pria yang masih muda.


Tampak kaki dan tangannya yang berkeringat dingin masih gemetar karena ketakutan.


"Nggak!" ketus Delila.


"Sudah menghina sekarang minta tolong,, ogahh!" omel Lila dalam hati.


Sambil mendengus kesal, Delila segera beranjak pergi menuju kekamar mandi yang sudah tidak jauh didepannya.


Sementara kedua perawat dengan takut-takut terpaksa mendorong tempat tidur jenazah korban kecelakaan itu menuju ke kamar mayat.


"Wong ayune koyok ngene kok di padakno setan!" gerutu Delila.

__ADS_1


(Cantik begini kok disamakan sama setan)


Sesampainya di kamar mandi Delila segera mencuci mukanya meskipun rasa kantuknya sudah lama hilang karena kejadian tadi.


Saat dia berniat mengambil tissue untuk menyeka air diwajahnya,,


Lagi-lagi Delila mendengus dengan kesal,,


"Kaliaannn!!" bentak Delila dengan geram.


Hantu Bences berdiri bersebelahan dengan hantu pemuda kecelakaan yang tadi mengganggunya.


"Kalian mau apa ??!"


"Tolong aku,, sampaikan pesanku pada keluargaku,,


Arwahku tidak akan tenang kalau begini,, ada banyak penyesalan,, banyak hal yang belum aku lakukan."


"Memang selama hidup ngapain saja,,? Sudah mati baru menyesal,, Emang manusia ni banyak yang gak sadar diri,,. sudah tahu hidup itu cuma sementara tapi masih aja banyak bertingkah gak tobat-tobat. Sudah mati saja baru menyesal!" cibir Delila.


"Siapa yang tahu kalau akan mati secepat ini." jawab hantu pemuda itu.


"Karena tidak ada yang tahu kapan mati makanya selama hidup kelakuan tu yang benar,, masih hidup nyusahin orang,, sekarang mati juga masih mau nyusahin orang."


"Cuma permohonan maaf saja ,, tolonglah kita berdua" mohon hantu bences.


"Nggak !! Sekarang minta tolong permohonan maaf, berikutnya merembet kemana-mana. Aku gak mau!!" tegas Delila.


"Nikmati penyesalan kalian, itu pantas buat kalian" tambah Delila dengan dingin.


"Tega sekali,, kita ini sesama mahkluk hidup harus saling tolong menolong."


"Yang mati dengan tidak wajar akibat kesalahan diri sendiri didunia ini terlalu banyak. Kalau hari ini kalian berdua minta tolong,, dan aku turuti, terus arwah lain tahu lalu semua berbondong-bondong meminta tolong,, apa semua harus aku tolong?" ketus Delila.


"Aku mahkluk hidup, kalian sudah tidak bernafas alias mati,, jadi jangan ngaku-ngaku mahkluk hidup.


Belajarlah ikhlas memetik Buah, hasil dari yang kalian tanam selama hidup." Ucap Delila lagi dan bersiap keluar dari kamar mandi mengabaikan dua arwah yang mengganggunya.


"Tolong kami saja,, yang lain gak usah!" jawab Bences.


"Terus arwah lain juga bilang begitu dan akhirnya sama dengan kelakuan kalian yang ngikuti aku sepanjang waktu.?? Nggak akan!"


Kedua arwah tampak tidak terima dan berniat terus mengikuti Delila.


"Jangan coba-coba mengikuti atau mengganggu aku lagi kalau tidak ingin jadi santapan Simo" ancam Delila dan langsung melangkah pergi menuju kekamar Kakeknya.


Hantu pemuda kecelakaan melirik kearah Bences,, seolah bertanya siapa Simo yang dimaksud Delila.


"Harimau galak sebesar sapi" jawabnya dengan mata sendu.

__ADS_1


__ADS_2