Rahasia Rumah Clara

Rahasia Rumah Clara
Noni Jahil


__ADS_3

Delila sampai digedung perpustakaan UNDIP, terlihat empat orang temannya duduk lesehan diteras depan sambil bercanda,,


"Hay,, kalian sudah lama?" Sapa Delila menyusul duduk diantara mereka berempat.


"Nggak juga Ragil aja baru sampai 10 menit sebelum kamu!" Jawab Andini.


"Mana tugasnya?" Tanyaku.


"Ini ,, kita disuruh bikin review dari buku dan presentasi untuk Minggu depan!" Jawab Clara.


”Sayang dosen filsafat ini sudah tua jadi gak semangat kalau mau ngikuti kuliahnya,," celetuk Farika asal.


"Coba kalau dosennya itu seganteng dosen Statistik 1,, ! Sumpahh kuliah 5 jam sama itu dosen aku juga betah!" Tambahnya.


"Yeee,, kamu ini Far,, kayaknya sudah kelamaan jadi jomblowati abadi ya sampai segitunya!" Ledek Ragil.


"Eh,, enak saja,, begini-begini aku juga punya cowok kok,, ga jomblowati abadi,,,!" Tukasnya.


"Oh yaa?" Lirik Andini usil.


"Iya satu tahun yang lalu!" Celetuk Farika sambil nyengir.


"Ha.. haa.." kami tertawa mendengar celetukan Farika.


"Pantess ternyata sudah jomblo setahun rupanya.. sudah butuh belaian ya bokk??" Ucap Andini.


"EM.. ?" Jawab Farika dengan gaya melambaikan tangan dengan genit.


Seketika kami pun tertawa melihat tingkah Farika.


"Eh, teman-teman mumpung ingat,, hari Sabtu lusa kalian kerumahku ya!" Ucap Clara.


"Ada acara apa Cla?" Tanya Ragil.


"Syukuran pindahan rumah baru Gil!"


"Wokeeh.., aku pasti datang,, pasti ada acara makan-makan juga kan?" Sahut Farika cepat.


"Pasti dong!, Anything for you sist" sambil tersenyum.


"Mancapppp,, kita anak kos pasti datang dengan semangat juang 45" jawab Andini sambil mengepalkan tangannya ala pejuang kemerdekaan mau perang.


"Yoii, betul ituu!" Timpal Farika dengan senyum sumringah.


"Kalau kamu La?" Tanya Ragil.


"Hmm,, asal tidak ada halangan pasti datang dong,, kamu smsi aja alamatnya ya!" Ucap Delila.


"Kalau perlu hari Sabtu besok kalian m menginap dirumahku gimana?" Tawar Clara.


"Memang boleh sama BoNyok lu?" Tanya Farika.


"Boleh dong!"


"Wokeehh siap,, aku sama Andini aman bisa langsung nginep dirumah mu,, tapi gak tahu kalau Delila sama Ragil!" Ucap Farika sambil melirik kearah keduanya bergantian.


"Kalau aku sih gak masalah! Jawab Ragil.

__ADS_1


"Kalau aku ijin dulu sama orang rumah ya,, ntar aku kabari!" Jawab Delila.


"Beres,, Sipp.. thanks ya friends!" Ucap Clara tersenyum.


Selesai mengerjakan tugas, mereka berlima pun berpisah, kecuali Delila dan juga Ragil yang kebetulan rumah mereka searah.


Delila tinggal di jalan Nirwanasari Raya sedangkan Ragil tinggal didaerah Banjarsari,,


Dengan memakai motornya Delila diantarkan sampai depan rumah Kakek dan Neneknya.


"Mampir dulu Gil" ajak Delila.


"Makasih La,, kapan-kapan saja aku mampir yo.?! Sekarang aku lanjut dulu,, biasa dinas rutin dari nyokap buat belanja barang toko,, kalau terlambat bisa nyap-nyap 7 hari, 7 malam" jawab Ragil.


Delila pun tersenyum mendengar celotehan Ragil.


"Oww ya sudah,, suwun yo Gil sudah mau antar, hati-hati dijalan,, !"


"Hmm,, sami-sami"


Ragil menyalakan motornya kembali,, dan lanjut pulang.


Tapi mata Delila segera melotot,, sosok Noni Belanda yang malam itu diusirnya,, sekarang justru sedang duduk membonceng dimotor Ragil.


Badannya menghadap kearah Ragil dengan tangan siap mencekik leher Ragil,, sementara kepalanya berputar 360⁰ kerah belakang.


Atau lebih tepatnya memandang kearah Delila dan tersenyum mengejek kearahnya.


"Gil tunggu!" Teriak Delila.


Ragil bersama motornya yang baru dua meter melaju segera mengerem.


"Kenapa La!?" Tanya Ragil dengan heran.


"Em,, anu itu,, besok lusa kamu jemput aku bisa kan?" Ucap Delila beralasan.


Sebelum Ragil menjawab,


Tanpa sepengetahuan Ragil tangan Delila mengepal dan menepuk jok motor Ragil.


Ragil menoleh kaget.


"Eh,, anu,, itu ada binatang!" Ucapku sedikit gelagapan.


"Oww, iya nanti Sabtu kita smsan aja ya!"


"Owke,, sorry ya ngerepotin kamu!"


"Gak masalah,, oke aku lanjut ya?!" Ragil melanjutkan perjalanannya.


Sementara Delila dengan napas lega segera berjalan kearah rumah.


Delila telah belajar dari masa lalunya,, rasa takut dan tindakan absurd tanpa alasan hanya akan membuatnya dipandang aneh dan tidak bisa menjalani hidup normal layaknya orang lain yang hidup tanpa kemampuan lebih sepertinya.


Delila tidak mau siapapun tahu tentang kemampuannya apalagi sampai mencapnya sebagai anak indigo apalagi sampai dicap sebagai seorang dukun diusianya yang baru 18 tahun.


Dia tidak mau dikucilkan lagi seperti saat dia tinggal didesa Kalibening tempat tinggalnya sebelum dia tinggal di desa Kereng.

__ADS_1


"Hantu jahil satu ini memang minta diberi pelajaran! Tunggu saja kamu!!" Ancam Delila dalam hati.


Dia pun masuk kedalam, melihat rumah sepi tak seperti biasanya,,


Delila pun segera mencari Nenek dan Kakeknya,, yang biasanya setiap sore duduk ngobrol diteras belakang.


Tapi yang dicari tidak ada juga.


Delila memutuskan untuk masuk kekamarnya.


Rumah terasa begitu sepi,, Nenak dan Kakeknya tidak ada dirumah, sedangkan Seno pamannya,, biasanya jam 7 malam baru pulang.


Delila melirik kearah jam tangan yang dipakainya.


"jam 4" gumamnya,,


Delila duduk didepan meja rias didalam kamarnya.


Pantulan wajahnya dicermin sekali lagi membuatnya tersentak kaget,,


Ekspresi wajahnya adalah datar,, tapi pantulan dirinya dicermin tampak menyeringai menyeramkan.


"Diperingatkan malah semakin menjadi,, mahkluk jahil tak beradab ini memang layak untuk dihajar!" pikirnya.


Delila segera berdiri dan mengunci pintu kamarnya.


Dia duduk bersila dilantai sambil memejamkan matanya,,


Tiba-tiba suhu udara didalam kamarnya menurun drastis,, begitu dingin dan bercampur dengan sedikit bau bunga yang tercium didalamnya.


Dengan ilmunya dia membuka mata batinnya untuk melihat keberadaan mahkluk itu,


Benar saja sosok Noni Belanda yang mungkin sudah menempati tempat ini selama puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun sedang duduk dimeja riasnya sambil menggoyangkan kakinya.


"Simo!! Panggil Delila lewat batinnya.


Simo si hewan roh, harimau sebesar sapi dewasa muncul dan berdiri dengan garang disamping Delila dengan mengaum,,, memperlihatkan giginya yang tajam menakutkan


"Berikan pelajaran pada hantu nakal itu! Jangan lepaskan sebelum aku yang menyuruhmu!" Perintahnya.


Simo segera melompat menerkam sosok Noni Belanda itu,,


"Waaaaaa...!!" terdengar teriakan akibat serangan Simo.


Tampak baju yang dikenakan terkoyak dan tercabik-cabik karena ulah Simo.


"Ampun,, Ampunn,,!" teriak sosok itu sambil berlarian melayang didalam kamar ketakutan.


"Ampun,, Ampunn,,!" ucapnya lagi.


"Simo Cukup!" Ucapku dalam hati.


"Dengar aku tidak suka kamu mengganggu apalagi sampai menyentuh siapapun yang berhubungan dengan penghuni rumah ini,, berani macam-macam seperti tadi,, aku kurung kamu seperti jin botol!" Ancam Delila.


Sosok itu pun menganggukkan kepalanya. Lalu segera menghilang dari pandangan matanya.


Delila mengibaskan tangannya membuka tabir pelindung kamar yang tadi dia pasang, agar sosok Noni yang diberinya pelajaran tidak bisa kabur.

__ADS_1


Kini suasana dingin kamar Delila berangsur normal kembali ke suhu udara yang seharusnya.


__ADS_2