
Mendapati pertanyaan dari Pamannya,, Delila pun terdiam
"Arwah itu masih mengancam Clara dan keluarganya Paman!" jawabku.
"Itu bukan urusanmu,, cukup beri tahu mereka supaya mereka cari jalan keluar sendiri! Jangan main-main dengan dunia gaib yang membahayakan keselamatanmu !!" Marah Paman.
"Paman,, percayalah,, apa Paman lupa dengan kejadian didesa Kereng, bukankah saat itu Delila juga baik-baik saja?" bantahku.
"Jangan keras kepala Lila!! kalau ada apa-apa sama kamu,, bagaimana Paman bisa menjelaskan pada Ayah, Ibumu!"
Delila menarik napas dalam-dalam.
"Paman tolong,, ini tugas Lila untuk menolong sesama,, Lila janji akan menjaga diri dengan baik,, Tolong doakan Lila,, Lila yakin semuanya pasti baik-baik saja,,!"
"Kamuu,,!! Hahhh,,Yo wes,, Yo wes terserah kamu,, dasar kepala batu!" ucap Paman dengan kesal.
"Terima kasih Paman,,!" ucapku.
Sementara Paman hanya melirikku dengan kesal.
Suasana kamar sejenak menjadi sunyi.
Delila mulai merasakan hawa dingin yang aneh,, hawa dingin yang bukan dari AC yang menyala dikamarnya.
Hawa dingin menusuk tulang, bercampur bau anyir darah,
"Lepaskan aku,, setidaknya beri tahu aku cara melepaskan tali ini!" terdengar suara bisikan ditelinga Delila.
"Seorang yang berhati iblis tidak akan pernah bisa lepas dari tali itu,, Lupakan niatmu memanfaatkan dan menyerang orang yang tidak bersalah,, maka tali itu akan lepas dengan sendirinya." ucap Delila melalui kontak batin.
"Persetan denganmu!" dengus sosok tak nampak itu ditelinga Delila.
"Waktumu hanya tersisa 1hari, sebelum arwahmu sepenuhnya musnah,, selamat tinggal,, bye,,, bye!" sinis Delila.
"Arggghhh.. Brengs*kk, sialan!!" terdengar teriakan kesakitan sekaligus kemarahan dari sosok yang diikat oleh Delila dan Simo.
"Lila, Paman pulang dulu ya,, tadi Paman belum pamit sama Kakek juga Nenek,, kasihan nanti mereka kuatir sama Paman juga kamu yang gak ada kabar" ucap Paman.
"iya Paman,, emm,, Paman gak usah balik kesini juga gak apa-apa, biar Delila disini sendiri saja,, takutnya kalau Paman kembali kesini nanti Kakek sama Nenek malah curiga"
__ADS_1
"Yakin??"
"Yakin Paman"
"Yo wes,, besok pas jam istirahat siang Paman kesini yo"
"Hmm, hati-hati dijalan Paman"
"Yoo wes kamu istirahat,, ora usah aneh-aneh"
"Injih Paman"
Pria berusia hampir setengah abad itu pun keluar dari kamarku untuk pulang.
Kini Delila dikamarnya seorang diri,,
gadis berkulit kuning langsat itupun berusaha bangun dari tidurnya.
Badannya terasa lemas hampir tanpa tenaga.
Resiko pemakaian tali geni menyedot habis seluruh energinya,, apalagi hingga kini sosok perempuan itu masih keras kepala dengan kemarahannya yang membabi buta.
Jam dinding menunjukkan pukul 3 siang,, sementara jam visit dokter sekitar jam 7 malam,, tabung infus juga baru diganti.
2 jam lebih Delila bermeditasi,, dengan perlahan kini wajah pucat Delila mulai berangsur kembali normal, tak sepucat 2 jam yang lalu.
Bisa dia rasakan badannya juga tidak selemas tadi pagi.
Delila kembali membaringkan tubuhnya,, dalam batinnya dia melihat sosok tua berjubah putih mendekat kearahnya,,
"Eyang Lodra!" panggil Lila setelah sosok itu berdiri dekat tepat didepannya.
"Tuntaskan tanggung jawabku melindungi sahabat juga keluargamu Nduk,, tapi setelahnya pergilah ke gunung Bayangkaki secepatnya,, lakukan tapa brata, lan pati geni. Luka dalammu dan juga Simo tidak bisa kamu sembuhkan dengan semedi alakadarnya ditempat ini,, nyawamu taruhannya,, Simo bisa berbalik menyerangmu karena kekuatan besar dua iblis yang sempat diserapnya!"
"Baik Eyang,," ucap Lila Dangan mata berkaca-kaca menatap penuh kerinduan pada sosok yang sangat dia hormati juga dia sayangi.
Sosok Eyang Lodra menghilang begitu saja,, membuat Lila hanya bisa menarik napas panjang.
"Kalau saja Paman Seno tidak melakukan kesalahan fatal di desa Kereng,, tidak mungkin aku kehilangan Eyang" pikir Delila sambil mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Delila mencengkram sprei tempat tidurnya dengan kuat.
Lagi-lagi untuk kesekian kalinya Delila menyalahkan Seno atas kematian kakeknya, Eyang Lodra Perwira.
Selama ini dia sekuat tenaga untuk berusaha ikhlas akan kepergian sang kakek dan tidak menyalahkan Pamannya,, tapi ternyata ikhlas tak semudah mengucapkannya.
Delila menghembuskan nafasnya dengan kasar.
*Wusshhh* Delila merasakan desiran angin yang panas masuk kedalam telapak tangan kanannya.
"Sudah kembali rupanya!" Delila tersenyum tipis.
"Bagus kamu sudah berhasil lepas dari tali itu!" ucap Delila menyeringai.
"Kemari!!" perintah Delila entah pada siapa.
Hening,, tidak ada jawaban.
Udara dingin mulai merayap, suhu ruangan turun dengan drastisnya.
Sosok gadis cantik berbaju putih muncul didepannya, dengan tiba-tiba..
"Seenaknya memanggilku mau apa!!" tanyanya dengan ketus.
"Hantu Somplak,, jelas-jelas kamu butuh bantuanku masih berani melawanku!!" sarkas Delila.
"Aku bisa sendiri kalau seandainya kamu gak ikut campur!" ucapnya dengan angkuh.
"Heh,, salah sendiri berani menyenggol sahabat juga keluargaku!" ucap Delila sambil memandang sinis hantu didepannya.
"Wes dadi setan kok isih bucin! wingi pas urip lapo wae??" ledek Delila.
(Sudah jadi setan masih bucin! kemari waktu hidup ngapain saja)
"Gadis sialan! kalau bukan karena kamu aku sudah bisa jalan sama Robin!" bentak sosok itu.
"Lahh kamu itu sebenernya mau balas dendam apa mau nyambung percintaan to??" tanyaku.
"Dua-duanya lah,, gara-gara para berandalan laknat itu aku tidak bisa bersatu dengan Robin,, mereka semua harus mati! Aku tidak terima... aku tidak terimaaa!!" teriaknya dengan marah.
__ADS_1
Delila mengulurkan tangannya lalu memegang tangan sosok perempuan itu,,
Dan...