Rahasia Rumah Clara

Rahasia Rumah Clara
Langkah Terakhir 01


__ADS_3

Setelah Julia keluar dari rumah sakit,, Julia hanya diam dikamarnya, meringkuk tanpa berniat untuk melanjutkan hidupnya yang hancur.


Beberapa kali mencoba bunuh diri, namun selalu berhasil digagalkan oleh Papa dan juga para pelayan yang selalu waspada menjaganya.


"Aarrrghhh,,,, hidupku hancur,,, semuanya hancurrrrr! bangs@**,, jahanaamm, brengs3k semuanyaaa!" teriak Julia.


*braakkkk,, pranggg... prangg* semua barang dibanting dan dilemparkan kesemua arah.


"Berhenti !!" teriak Wisnu.


"Berhenti sayang,, berhenti!" Wisnu berjalan mendekati putrinya.


"Pergi.. Pergiii,,, semuanya pergiiii..,, Pergiii,,, Aaaaaaa!!!" Julia semakin histeris.


Keadaannya sangat mengenaskan,, wajahnya pucat kuyu,,. lingkaran hitam dibawah mata, rambut tergerai acak-acakan, persis orang yang kehilangan kewarasannya.


"Tenanglah nak,, Papa masih bersamamu,, kita hadapi bersama ya" Ucap Wisnu mendekati putrinya perlahan.


"Pergi,, pergiiii,,,,!!" teriaknya.


"Tenanglah sayang, ini Papa Nak,, ini Papa sayang" ucap Wisnu lembut, terus berjalan mendekati Julia.


"Aaaa,,, duaag" Julia terus berteriak melemparkan gelas ke segala arah.


"Aassshh" terdengar suara rintihan Wisnu yang ternyata terkena lemparan gelas.


Julia segera menengok kearah Papanya dan terduduk lemas begitu saja.. tatapan matanya kosong degan air mata yang mengalir deras.


"Tenanglah sayang,," hibur Wisnu menahan sakit dikepalanya sambil berjalan dengan hati-hati menghindari barang-barang yang pecah berhamburan dilantai kamar putrinya.


"Hikss, hikkss mereka jahat Papa,, Julia sudah hancur,, Kenapa?? kenapa Julia tidak mati saja dengan Mama,, kenapa Papa tidak biarkan Julia mati.. kenapaaaa!!" Lagi-lagi Jia berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri dengan keras.


"Sst,, sstt,, tenanglah sayang" Wisnu berjongkok dan mendekati Julia lalu memeluknya dengan hangat.


"Biarkan aku mati Pa,, Aku malu Pa,, maluuu,, hiks.. hikkss.." Julia menangis dengan kencang.


"Kita pergi dari sini ya,, kita pindah ketempat yang jauh." ucap Wisnu.


"Kemanapun kita pergi hanya akan ada aib buat Julia Pa" ucap Julia sambil menangis tersedu-sedu.


"Tidak sayang,, tidak akan, kalau perlu kita pindah keluar negri" ucapnya.


"Percuma Pa,, percumaaa"


"Tidak sayang, percayalah Nak kita pasti bisa melewati semuanya,, Kalau perlu kita ganti identitas. Semua,, semua akan papa lakukan demi kamu sayang"


"Keluarlah Pa, Julia mau sendiri"

__ADS_1


"Tapi sayang..


"Aku mohon Pa,, "


Demi ketenangan putrinya, Wisnu mengalah dan keluar dari kamar Julia meski perasaan was-was menguasainya.


Sepeninggal sang Papa, Julia meringkuk dilantai kamarnya meratapi nasibnya.


Rasa marah, benci, dendam, putus asa bercampur jadi satu..


Hampir dua Minggu berlalu tapi pihak kepolisian belum juga berhasil mengungkap kejadian pilu yang menimpanya dan keluarganya.


Kemarahan dan kekecewaan membuncah didadanya, tapi tidak tahu harus berbuat atau melakukan apa..


12 hari setelah kejadian itu,, Julia awalnya menuruti keinginan sang Papa untuk pindah untuk memulai hidup baru,, meski Julia lebih memilih mati daripada melanjutkan hidupnya.


Namun pagi ini 2hari sebelum rencana kepindahan, Julia mengalami mual-mual.


Julia tidak mengerti dengan yang dialaminya,, hingga saat dia melihat kalender dimejanya dia menyadari sesuatu,,


Dia terlambat datang bulan.


Dadanya seketika merasa sesak,, tubuhnya luruh kelantai,, dia sudah menyadari sesuatu yang sangat ditakutinya selama ini.


Julia hamil dari hasil kejahatan para penjahat biadab.


Malam harinya Julia seperti orang linglung,,


"Tuhan tidak ada,,. Tuhan tidak adil,, dia Tidak menolongku,, Dimana Kau Tuhann,,, dimanaaaa? Kenapa,, kenapa Kau membiarkan semuanya terjadi? Kenapaaa???" teriaknya dengan marah.


"Tuhan mengabaikanku,, Tuhan tidak menganggap ku ada, Kau tidak menyayangiku Tuhan, jadi jangan salahkan aku kalau aku memilih bersekutu dengan setan.. ha.. ha... haa..." ucapnya sambil tertawa penuh kepahitan.


"Ibliss,, Setan.. siapapun kamu yang bisa membantuku untuk membalas dendam aku bersedia mati dan memberikan jiwaku asal dendamku ini terbalas!! jawab.. jawab akuuu!!" teriaknya dengan lantang.


"Setan,, Ibliss.. ha.. ha... ha.. aku sudah gila ternyata.. ha.. haa." Julia tertawa sambil meneteskan air matanya.


Malam semakin larut,, Julia tetap duduk bersujud diatas lantai kamarnya sambil menangis..


Tiba-tiba jendela kamarnya terbuka lebar,, angin kencang yang dingin mencekam menerobos masuk kedalam kamarnya,, membuat bulu kuduk siapapun jadi merinding.


"Alas Roban.." terdengar suara bisikan yang membuat bulu kuduk siapapun pasti merinding mendengarnya.


Julia segera bangun dari sujudnya dilantai lalu menggosok-gosok telinganya takut salah dengar.


"Dendammu pasti terbalas,, pergi,, pergilah ke Alas Roban" lagi-lagi terdengar suara bisikan ditelinga Julia.


Mendengar bisikan gaib itu Julia diam termangu,, Dia masih tidak yakin dengan apa yang didengarnya.

__ADS_1


Keesokan paginya Julia menjalani hari terakhirnya dirumah ini dengan linglung.


Tidak di perdulikannya para asisten rumah tangganya yang membantu mengemas barang-barang miliknya didalam kamar.


Makanan yang diantarkan kepadanya pun hanya beberapa suap dia makan, selanjutnya Julia kembali duduk sambil memejamkan matanya dengan bersandar di sandaran tempat tidurnya, bahkan hingga malam menyapa, Julia tatap terdiam didalam kamarnya.


Malam mulai larut, dan Julia lagi-lagi tidak bisa memejamkan mata. Semenjak kejadian itu, tidur adalah siksaan baginya.


Mimpi buruk yang sama selalu menghantuinya, sekalipun obat penenang sudah diminumnya, bayangan kejadian terkutuk itu tetap menghantui dan mengganggunya.


Lagi dan lagi jendela Jia yang sudah terkunci terbuka dengan sendirinya.


Bulu kuduk Julia pun meremang,, suhu udara dikamarnya lebih dingin dari sebelumnya.


Julia menatap nyalang ke arah luar jendela,, sesosok bayangan hitam melesat masuk kekamarnya dan kini berdiri dihadapannya.


Julia mengucek matanya, memastikan apa yang dilihatnya.


Bayangan itu tetap ada, berdiri tegak didepannya.


Mahkluk hitam legam setinggi 2 meter, bermata merah dengan bibir menyeringai lebar menunjukkan giginya yang putih kehitaman meneteskan darah segar menakutkan.


Jari-jari tangannya yang panjang ditambah kuku-kuku hitam yang panjang dan runcing menakutkan.


"Siapa,, siapa kamu??" tanya Julia dengan suara bergetar karena ketakutan.


"Kamu memanggilku?"


"Memanggil mu??" Tanyanya kebingungan


"Balas dendammu yang memanggilku" ucapnya lalu sosok itu menghilang begitu saja.


Kemarahan dan kebenciannya yang terlalu besar menguasainya,,masih menggunakan daster putih bahan kaos bermotif bunga sakura, Julia keluar dari kamarnya.


Terus berjalan keluar menuju pintu.


Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari saat Julia keluar dari ruang dan menuju ke gerbang depan.


Anehnya satpam yang biasa berjaga seolah terkena sirep,, kedua penjaga tampak tidur dengan lelapnya dipos. satpam depan rumah.


Julia dengan mudah keluar dan terus berjalan. Seolah ada yang menuntunnya Julia pergi menuju kearah Alas Roban.


Seolah tidak merasakan lelah Julia terus berjalan tanpa berhenti, sebuah hal yang aneh mengingat kondisinya Julia berhasil masuk kedalam hutan alas Roban dalam waktu 2 jam perjalanan dengan berjalan kaki.


Jia terus masuk kedalam hutan,, tidak perduli dengan sekitarnya, tekadnya sudah bulat,, dendamnya harus terbalas bagaimanapun caranya, dan berapapun harga yang harus dibayarnya.


Tiba-tiba,,

__ADS_1


"Sreetttt,, bughhhh..."


__ADS_2