Rahasia Rumah Clara

Rahasia Rumah Clara
Perseteruan.


__ADS_3

Robin mengikuti pria berpakaian hitam dan berdiri didepan ruang rawat,,


Dia seketika terkejut ketika Samapi didepan ruang rawat adiknya dia melihat Wisnu Ardhana, ayah Julia berdiri membelakanginya.


"Om" panggil Robin.


"Aku sudah memperingatkan mu untuk meninggalkan Julia,, tapi kamu keras kepala,, bagaimana sekarang? apa pelajaran kecil ini cukup untuk membuatmu sadar??" ucap Om Wisnu tanpa menoleh kearah Robin.


Robin tersentak kaget,,


Spontan dia mendorong pria paruh baya itu dengan emosi,,


*Duaghhh* pria itu terdorong dan membentur tiang rumah sakit.


Segera pria berbaju hitam segera menangkap tubuh Wisnu sebelum dia terjatuh.


"Jadi Anda yang melakukan semua ini,, benar-benar anda monster tak berhati nurani!" teriak Robin meringsek mendekat kearah Papa Julia bersiap menghajarnya.


Wisnu sudah berdiri tegak sambil memegangi dahinya yang berdarah.


Melihat Robin bergerak menyerang tuannya,, pengawal yang dibawa Wisnu segera menghadang pergerakan Robin.


Kepalan tangan Robin segera dihadangnya,, dia cengkram tangannya dan memlintirnya dengan kuat,,


*Agghh* Robin berteriak kesakitan.


"Lepaskan dia,,," ucap Wisnu dengan dingin.


"Aku kesini berniat membantumu membayar semua biaya rumah sakit,, tapi sayangnya emosimu lebih besar dari otakmu!"


"Aku tidak butuh bantuanmuntuan Wisnu yang terhormat!! jadi pergi kalian sekarang juga!!" usir Robin.


"Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa anak muda!!" sinis Wisnu.


Robin mengepalkan kedua tangannya menahan kemarahannya yang sangat besar..


Wisnu diikuti anak buahnya segera keruang emergency,, meminta visum dan mengobati luka yang ada di dahinya.


Sementara Robin masuk kembali keruang rawat dimana Ibunya dan adiknya terbaring lemah.


"Maafkan Robin Bu,, maafkan kakak, Ellis,, kakak mencelakai mu" ucap Robin sambil menundukkan kepalanya.


"Permisi Mas,, " ucap perawat yang tahu-tahu sudah berdiri didekatnya.


"Iya Suster?"


"Satu jam lagi Adik anda akan dioperasi, mohon selesaikan admistrasinya Mas" ucapnya.


"Oh,, iya Mbak,, iya sekarang saya selesaikan,, saya titip adik dan ibu saya ya Suster"


"Baik Mas"


Robin bergegas menuju ruang administrasi untuk menyelesaikan pembayaran rumah sakit,,

__ADS_1


Robin tercengang melihat jumlah tagihan yang tertera,,


"Total 12 juta untuk operasi Ellis dan juga perawatan ibu"


"Mbak saya ada 2,5 juta,, apa bisa sisanya besok saya bayar?" tanya Robin.


"Maaf Mas tidak bisa,, sudah jadi kebijakan dari rumah sakit,,, minimal yang harus dibayar 50% dari total yang tertera Mas" jawab bagian administrasi.


"Owh,, Baik Mbak,, kalau begitu saya titip uang ini di ya Mbak,, saya cari tambah untuk menutup sisanya dulu" ucap Robin.


Selesai menerima kuitansi pembayaran,, Robin segera keluar dari rumah sakit.


Dengan memakai ojek,, Robin menuju cafe untuk menemui bosnya.


Samapi di cafe,, Robin segera menemui Erlans.


"Bos aku mohon,, tolong bantu kami Bos" Robin memohon pada Erlans.


"Aku bisa bantu kamu tapi tidak sebesar itu,, kamu juga tau aku hanya manajer bukan pemilik cafe ini,," jawab Erlans.


Robin terdiam sambil duduk didepan meja kerja Erlans.


"Terimalah,, ini dariku,, dan ini dari solidaritas teman-teman cafe,," Erlans memberi 2 amplop berisi uang untuk Robin.


"Yang ini pinjaman dari Cafe untukmu" Erlans menyodorkan sejumlah uang pada Robin.


"Terima kasih Bos" ucap Robin.


"Aku permisi dulu ya Bos"


"Hati-hati,, yang sabar ya Bin" ucap Erlans menyemangati.


Robin tersenyum tipis, lalu beranjak keluar dari cafe.


Total uang ditangannya 2,5 juta,, masih kurang 7 juta lagi untuk menutup biaya rumah sakit Ibu dan Adiknya.


Dengan terpaksa Robin pulang kerumah, mengambil sertifikat rumah yang selama ini ditempatinya,,


Hatinya ragu untuk melangkah,, sertifikat ditangannya adalah satu-satunya harta peninggalan almarhum ayahnya,,


"Kalau aku menggadaikan rumah pada rentenir aku memang bisa bayar biaya rumah sakit,, tapi cicilan selanjutnya? kalau bisa bayar aman,, kalau aku gak bisa bayar?? Arggghhh!!" Robin menarik rambutnya dengan frustasi.


"Gara-gara orang tua sialan itu!! brengs3k!!" umpat Robin.


Dengan terpaksa Robin nekat berhutang pada rentenir dengan menjaminkan sertifikat rumah.


Uang sebesar 10 juta sudah ditangannya. Robin segera kembali kerumah sakit dan menyelesaikan pembayaran rumah sakit.


Operasi berjalan lancar,, Ibunya juga sudah siuman,, perasaan lega dan senang terpancar di wajah Robin.


Sementara itu Wisnu, Papa Julia pulang,


"Papaa,, Papa kenapa?" seru Julia melihat kepala Papanya diperban sambil dipapah oleh pengawalnya.

__ADS_1


"Papa Non Julia dihajar Den Robin Non" jawab pria berbaju hitam.


"Jangan asal ngarang cerita Kamu!!" teriak Julia terkejut tidak percaya.


"Iya Jul,, Papa terluka karena Robin yang menyerang Papa" jawab Papanya membenarkan.


"Pa, gak mungkin Robin menyerang Papa tanpa alasan,, Julia kenal siapa Robin" bela Julia.


"Kalau kamu kenal Robin,, kamu juga pasti kenal Papa kan?" tukas Papanya dengan wajah kecewa pada putri tunggalnya yang ternyata lebih membela orang lain daripada Papa kandungnya sendiri.


"Papa kesana hanya mau membantu membiayai biaya rumah sakit adik dan ibunya,, apa salah?"


Julia menatap wajah Papanya dengan penuh tanya,


"Papa tahu dari mana keluarga Robin kecelakaan?" tanya Julia mencurigai Papanya.


Wisnu terdiam mendengar pertanyaan Julia.


"Papa,, Papa tahu dari mana ?" tanya Julia lagi.


"Oww,, Juli tahu,, jadi selama ini Papa memata-matai Julia!? Kalau papa menawarkan bantuan sama Robin dan dia menyerang Papa,, jangan bilang kalau Papa mengajukan syarat atas bantuan Papa?" tebak Julia


Wisnu diam tidak menjawab putrinya.


"Papa keterlaluan,, Papa jahat!!"


"Cukup Julia,, Papa melakukan semua ini demi kebaikan mu!"


"Pa,, sudah berapa kali Julia bilang,. Julia hanya mau dengan Robin. Julia gak mau putus dari dia" ucap Julia dengan marah.


"Kalau papa terus memaksa ku untuk putus dari Robin dan tidak merestui hubungan kami, lebih baik Julia pergi dari rumah ini" ancam Julia.


Julia dengan wajah marah bersiap untuk pergi,


"Berani kamu keluar dari rumah ini dan berhungan dengan pengamen itu,, jangan salahkan Papa kalau besok, Papa jebloskan dia dipenjara" ancamnya.


Julia yang baru berjalan beberapa langkah segera berhenti,


"Paa,," teriak Julia dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa berhenti!??" tanya Papanya dengan sinis.


"Kamu lihat kan surat ditangan Papa ini,,ini hasil visum dari rumah sakit,, ada saksi yang melihat Papa dihajar oleh pria mu itu!! Berani kamu berhubungan atau mendekati Robin lagi akan Papa pastikan dia mendekam dipenjara dalam waktu yang lama, ow jangan lupa adik dan ibunya bisa papa jadikan gembel dijalanan setelah keluar dari rumah sakit!"


"Papa tega,,. papa jahat,, Julia benci Papa!!" teriak Julia.


"Kamu benci Papa demi orang lain?? bagus,, bagus sekali,, luar biasa!" sarkas Wisnu.


"Baik kalau Papa bersikeras,, aku juga akan bersikeras,, Sepertinya Papa pasti senang kalau aku mati bunuh diri didepan Papa,, bukankah dengan begitu aku tidak lagi berhubungan dengan Robin,, begitu kan yang Papa mau" Julia balik mengancam Papanya.


"Lakukan saja yang kamu mau,, kamu mau minggat atau mau bunuh diri keputusan Papa akan tetap sama,, justru kalau kamu bunuh diri,, akan Papa buat Robin dan keluarganya lebih menderita,, coba saja!" tantang Wisnu.


"Kamu turuti kata-kata Papa,, maka Robin akan Papa lepaskan, bahkan Papa akan bantu dia,, dan tidak akan mengusiknya lagi. Otakmu itu cerdas pasti tahu memilih keputusan yang baik" tambah Wisnu.

__ADS_1


__ADS_2