Rahasia Rumah Clara

Rahasia Rumah Clara
kacauuu


__ADS_3

Clara berjalan dengan menyeringai mendekati kedua orang tuanya,, Tampak Mama dan Papa Clara gemetar, menatap ngeri pada perubahan putri tunggal mereka.


Tanpa Clara sadari sesosok bayangan putih mendekatinya dengan cepat,, menumpang kan tangannya tepat diatas kepala Clara,,,


Clara berhenti,,, matanya melotot.... Dalam sekejap tubuhnya luruh terjatuh dan tidak sadarkan diri.


Melihat Clara terjatuh,, Andini, Farika ,Ragil dan Mama Clara segera berlari mendekati tubuh Delila dan juga Clara.


Sementara Papa Clara berjalan mendekat ke arah Robin.


"Kamu pulang lah... " ucap Papa Clara dengan datar.


Karena keberadaannya yang tidak diinginkan,, Robin pun segera pamit dan keluar dari rumah Clara.


Pesta meriah kini berganti kepanikan dan kekacauan yang mencekam.


Dibantu asisten rumah tangga,, mereka mengangkat tubuh Clara dan Delila dibawa kedalam kamar tamu yang berukuran besar dilantai satu.


Mama Clara segera menelpon dokter langganannya untuk memeriksa keduanya.


Jedag,, jedug jantung ketiganya melihat wajah pucat dan tubuh dingin Delila yang terpejam sudah seperti mayat.


"Gill,, apa kamu gak menghubungi keluarga Delila?" bisik Andini.


"Tunggu dokter datang dulu Din,, aku gak berani mengabari keluarga Delila,, tau sendiri dia tinggal sama Paman,, juga Kakek-Neneknya,, kalau sampai mereka jantungan gara-gara lihat cucunya jadi mayat kan kacau Din!!" jelas Ragil dengan wajah galau.


"Iya juga sih Gil,,," ucap Andini lirih dengan wajah suram.


Tak berapa lama dokter yang ditunggu-tunggu masuk kedalam kamar, dan segera memeriksa Clara,,


"Gimana keadaan anak saya Dok?" tanya Ayah Clara dengan tidak sabar.


"Clara baik-baik saja Pak,, dia hanya pingsan,, dan hanya luka luar saja.. Tapi lebih baik untuk berjaga-jaga,, Clara bisa dibawa ke rumah sakit memastikan tidak ada luka dalam yang membahayakannya"


Dokter pria paruh baya itu pun berjalan dan pindah ke sisi lain tubuh Delila yang dibaringkan dengan posisi miring,, karena garpu yang menusuknya masih tertancap..


Dengan hati-hati dia mencabut garpu yang menancap dibahu Delila,,


darah segera mengalir dari lubang luka.

__ADS_1


Sebotol kecil alkohol dari ambil didalam tasnya,, lalu mulai membersihkan luka Deli dan menghentikan pendarahannya,, sekali pun darah yang keluar tidak sebanyak luka sayat.


Ruangan terasa begitu hening,, hanya suara gerakan dokter yang sedang memeriksa dan mengobati Delila sesekali terdengar, hingga..


"Uughh." terdengar lenguhan dari Clara yang menandakan dia siuman dari pingsannya.


"Papa,," panggil Clara saat melihat Papanya duduk disampingnya,,


Sesaat Clara mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan,, Mamanya yang berdiri cemas disamping Papanya, sementara ketiga temannya berdiri dengan wajah cemas sekaligus juga takut menatap kearah Clara dan juga sosok terbaring disampingnya


Perlahan Clara menoleh kesamping kirinya,, wajah terkejut tak bisa disembunyikannya,,


"Delila,?!!? Pa,, Ma apa yang terjadi sama Delila,, dan Papa,, Papa kenapa banyak luka lebam,, ada apa ini Pa??" tanya Clara bertubi-tubi.


"Isssh badanku juga rasanya sakiit semua" Keluhnya merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"Kamu gak ingat sama kejadian tadi Cla??" tanya Farika spontan.


"Hah kejadian,,?? Kejadian apa Far?? memangnya ada kejadian apaan?? terus itu Delila kenapa sampai luka begitu?" tanya Clara sambil menatap Dokter Burhan yang sedang membalut luka dibahu kiri Delila.


Farika melirik Ragil dan juga Andini,, lalu beralih menatap sesaat Kedua orang tua Clara.


"Dokter,, Clara sudah siuman kenapa Delila belum siuman juga ya Dok??" tanya Mama Clara dengan cemas.


"Iya Dok mana tubuh Delila semakin dingin,, dia gak apa-apa kan Dokter?? Dia gak mati kan??" tanya Farika.


"Kita tunggu 10 menit lagi,, Saya juga bingung,, denyut nadi sedikit lemah, seperti layaknya orang pingsan,, tapi suhu badannya sangat dingin,, ini gak biasa" ucap Dokter Burhan.


15 menit bahkan sudah berlalu,, tapi Delila belum sadarkan diri juga,, beberapa cara sudah dilakukan dokter Burhan untuk menyadarkan Delila,, tetapi tidak ada hasilnya.


"Pak,, gadis ini takutnya mengalami koma,, akan lebih baik kalau kita membawa gadis ini kerumah sakit untuk mendapat pertolongan lanjutan." ucap dokter.


"Baik Dokter,,," jawab Papa Clara dengan lemas.


Delila adalah teman Clara, dan gadis ini celaka dirumahnya dan juga karena putrinya,,


Bukan hanya sekedar rasa bersalah yang kini mengganggunya,,, tapi rasa kuatir dan bingung untuk menyampaikan berita ini pada keluarga Delila menjadi beban terberat di dalam hatinya.


Malam semakin larut,, kini jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.

__ADS_1


Takut terjadi apa-apa dengan Delila, akhirnya keluarga Clara langsung membawa Delila ke rumah sakit menggunakan mobil keluarga Clara yang dikendarai sopir dan ditemani Farika dan juga Andini.


Mobil kedua berisi Ragil, Clara,,Mama dan juga Papa Clara menyusul dibelakangnya.


Sampai dirumah sakit Delila segera diperiksa,, Proses pemeriksaan mendalam dari CT-scan dan pemeriksaan lainnya langsung dilakukan.


Tapi semua seperti yang diucapkan dokter Burhan,, Delila hanya mengalami luka luar,, tapi anehnya mengalami koma dan tidak ada yang tahu kapan Delila akan terbangun.


Proses administrasi selesai diurus oleh keluarga Clara,, selanjutnya hal terberat mau tidak mau Papa Clara harus lakukan,, menyampaikan kepada keluarga Delila tentang musibah tidak masuk akal yang menimpa Delila, dan semuanya.


Delila sudah dipindahkan keruang VIP oleh keluarga Clara.


Sambil menunggu datangnya pagi,, didalam ruangan Delila,, Clara dengan tidak sabar menanyakan tentang kejadian yang terjadi saat acara ultahnya sedang berjalan.


Ketiga temannya, Mama dan juga Papanya akhirnya menceritakan semuanya pada Clara.


"Far,, Din,, Ragil,, kalian pasti tahu kalau aku gak mungkin sejahat itu kan? "


"Entahlah Cla,, 1 bulan ini kau banyak berubah,, kau sering sekali menyakiti Delila,, kata-kata mu selalu tajam dan juga menyerang Delila secara langsung,, bahkan kamu juga sering mempermalukan Delila" jawab Ragil jujur. Dan mendapat anggukan dari kedua temannya yang lain.


"Tapi...,, tapi aku gak ingat pernah ngelakuin itu semua" ucap Clara dengan rasa bersalah tapi sekaligus bingung.


"Papa,, mama,, maaf,, Clara juga tidak pernah punya pikiran untuk menyakiti Papa sama mama, apa lagi sampai mencelakai Papa! ucap Clara sambil menangis.


"Teman-teman maaf aku sudah mencelakai kalian,,maaf" ucap Clara dengan tulus.


Semua yang mendengar pengakuan Clara akhirnya bingung,,


"Jangan-jangan kamu itu sedang kerasukan Cla? makanya kamu sampai gak ingat semuanya?" celetuk Farika.


"Kerasukan? memang masih ada hal-hal seperti itu?" tanya Mama Clara


"Iya Tante,, kayaknya Clara kerasukan,, kalau nggak mana mungkin sampai ada banyak hal yang gak masuk akal terjadi??" ucap Ragil.


"Tapi mana mungkin,, ?" ucap Clara masih tidak percaya.


"Ya bisa saja Cla,, Papa sendiri juga merasa aneh dengan perubahanmu satu bulan terakhir ini" ucap Papa.


"Aneh gimana Pa??" tanya Clara dengan wajah penasaran,,

__ADS_1


__ADS_2