
Seketika lampu dilorong sel menyala,,
"Kenapa ribut-ribut" terdengar suara bas dari ujung lorong dekat pintu masuk.
"Tolong Pak,, tolong Barno,,!" Harun memegangi bahu temannya.
Kunci sel segera dibuka, melihat Barno yang kejang memegangi lehernya.
Baru saja sipir berjalan mendekat,,, tubuh Barno tenang dengan mata terpejam.
"pak tolong cek Pak,, jangan-jangan Barno mati Pak!" cemas Harun melihat wajah pucat Barno.
Sipir berbadan tegap berusia 40 tahunan itu pun segera memeriksa nafas dan detak jantung Barno.
"Pripun Pak? ( gimana Pak?)
"Ora popo,, koncomu isih urip"
(gak apa-apa, temanmu masih hidup)"
"Ada keributan apa Pak Tio?" tanya salah seorang sipir yang berdiri bersama 2 orang sipir lainnya didepan pintu sel yang terbuka.
"Tolong panggil dokter lapas, Pak" ucap sipir yang baru memeriksa Barno.
Segera salah seorang sipir berlari menuju ruang kesehatan lapas, tidak lebih dari lima menit sipir yang memanggil dokter berjalan dengan cepat bersama dengan seorang pria yang masih cukup muda.
"Permisi Pak Tio" ucap dokter muda itu.
"Mari dokter" Pak Tio menyingkir dan memberi ruang pada dokter untuk memeriksa Barno.
Beberapa waktu setelah memeriksa kondisi Barno,
"Giman Dokter?"
"Gak apa-apa Pak Tio, dia hanya pingsan karena shock ringan"
"bukan serangan jantung kan dok?" tanya Harun.
"Nggak,, sebentar juga siuman" ucap Dokter
Tak berapa lama, terlihat Barno mengerjapkan matanya,
Masih dalam keadaan setengah sadar,, Barno tiba-tiba langsung duduk dan bangun,
"Ampun,, jangan,, jangan bunuh,, salah ,, salah!" teriak Barno tanpa melihat sekeliling.
"woi,, sadar Kang sadar Kang!" teriak Harun menepuk punggung temannya dengan keras.
Barno langsung terdiam, dan menatap nyalang ke seluruh ruangan,,
"Wes sadar opo ijek ngimpi?? tegur Pak Tio.
(sudah sadar apa masih bermimpi)
__ADS_1
"Sadar Pak,, sudah sadar, Pak ada setan Pak,, tolong Pak pindahkan saya,, Blok ini ada hantunya Pak!" cerocos Barno.
"No.. Barno,, kui cuma ngimpi,, ndi onok setan,,? aku tugas jogo Blok Iki wes 10 tahun ora ono jenenge setan" ucap Pak Tio dan diangguki dokter dan juga sipir lain yang berjaga.
(No,. Barno! itu cuma mimpi, mana ada setan? aku tugas jaga Blok ini sudah 10tahun dan gak ada yang namanya Setan)
"wes leren, turu maneh,, aneh-aneh wae!" omel salah seorang sipir.
Dokter dan Pak Tio keluar dari ruangan sel yang ditempati Harun dan Barno.
Pintu sel kembali dikunci, menyisakan dua orang dalam keheningan.
"Sumpah Run,, aku gak salah ndeleng (lihat)!"
"Tapi aku ora ndeleng opo-opo lho Kang!?" sanggah Harun.
"Sumpah Run,, kui setann,, setane anakke wong sugeh sing wingi awake dewe 'garap' " jelas Barno.
"Serius Kang?? Ojo medeni ngono to Kang!" tanya Harun tidak percaya
"Aku serius,, aku mau wes ape mati di tekek (cekik) Run!" Barno bergidik ngeri.
"Wengi-wengi kok nglawak Kang,,!" tegur Harun.
"Nglawak ndasmu!!" umpat Barno marah.
"Ojo ngamuk Kang,, sumpah Kang ancen aku ora ndeleng setan kui kang,, sumpah aku gak ndeleng opo-opo" Harun mengalah.
"Yo wes lah,, ayo kang turu maneh" tambah Harun
Harun sudah kembali terlelap, sementara Barno, hanya bisa berguling kekanan, kemiri dengan gelisah.
Bayangan sosok perempuan berbaju putih dengan darah yang mengalir dibagian bawahnya, bibir menyeringai menakutkan dengan mata merah semerah darah terus terbayang dipelupuk matanya.
Lagi-lagi Barno bergidik,, buku kuduknya meremang seketika,,. masih jelas terasa dilehernya, rasa dingin tangan hantu perempuan yang mencekiknya dengan kuat.
"Ampun Neng,, ampun,, saya salah, saya khilaf!" gumam Barno lirih dengan badan gemetar.
Desir angin terasa makin menusuk tulang, membuat Barno semakin meringkuk diatas tempat tidurnya.
Pagi menjelang, Barno akhirnya bisa tidur dengan nyenyak.
Namun suara lonceng membangunkan semua penghuni sel, termasuk Barno yang baru memejamkan mata beberapa jam yang lalu.
Dengan malas dan menahan rasa sakit dikepala karena kurang tidur Baro tetap bangun dan melaksanakan aktivitas yang sudah terjadwal bagi semua para penghuni sel.
Di sela jam istirahat seusai makan siang, terlihat Barno duduk terkantuk-kantuk didekat lapangan depan blok sel yang ditempatinya.
"Kang, piye sido ngajukno banding?" Harun tiba-tiba datang den menepuk bahu Barno. Membuat Barno terlonjak kaget.
(Gimana jadi mengajukan banding?)
"Bocah edan,, semprul!! nggawe wong jantungan ae!" marah Barno.
__ADS_1
(Anak gila, bikin orang jantungan saja!)
"He.. He sepurane Kang, aku gak ngerti lek pean keturon!" Harun terkekeh.
( He.. hee maaf Mas, Aku gak tahu kalau Mas ketiduran)
"Em,, durung sempet mikir maneh Run" (belum sempet untuk berpikir lagi)
"Pean Isih kepikiran setan mau wengi yoo Kang?" tebak Harun.
( Kamu masih kepikiran setan yang semalam ya Mas?)
" Hmm,, perasanku gak enak Run"
"Wes Kang, gak usah dianggap,, gak usah dipikirin lagi!"
"Aku nyesel Run,,! Aku lali, aku Iki nduwe anak wedok,, lha kok kelakuanku bejat,, wayahe aku cukup ngrampok wae,, ora melu-melu ngrudopekso nglampiasno nafsu bejat ku,, lek anakku kenek karmaku terus piye Run" ucapnya sendu penuh penyesalan.
( Aku menyesal Run,! Aku lupa, kalau aku punya anak perempuan, Lha kok kelakuanku bejat, seharusnya aku cukup merampok saja, gak ikut-ikut memperkosa dan melampiaskan nafsu bejatku Kalau anakku sampai kena karmaku terus bagaimana Run?)
"Yo wes lah Kang, wes kadung kedadean, nyesel yo ora ngubah kahanan Kang" jawab Harun menarik napas panjang.
(Ya sudahlah Mas, semua sudah terlanjur, menyesal sekalipun juga tidak bisa mengubah apapun)
Keduanya lalu terdiam,, duduk diatas lantai sambil memandang rerumputan dilapangan didepan mereka.
Senja mulai merayap,, dan malam mulai datang menyapa.
Seusai makan malam bersama para penghuni sel lainnya,
Barno masuk kedalam ruangan selnya, dan duduk didalam dengan gelisah.
"Kenapa Harun gak balik ke sel ya? apa masih belum selesai cuci piringnya? tanya Barno dalam hati yang memang tahu seusai jam makan malam ada jadwal untuk penghuni sel bergantian mencuci piring bersama napi lainnya.
*wusshhh..*
Tiba-tiba bulu kuduk Barno berdiri, tampak didepan matanya
sekelebat bayangan putih melewati depan selnya dengan sangat cepat.
Jantung Barno berdegup dengan kencang,, wajahnya memucat mengingat sosok semalam yang mendatanginya.
Tubuh Barno mulai gemetar dan berkeringat dingin.
perlahan dia berdiri untuk memastikan bayangan putih yang baru saja melintas berkelebat.
Dengan sedikit keberanian yang tersisa dia menoleh ke kiri kearah pintu keluar, yang menembus keruang aula yang biasa dipakai juga untuk tempat makan bersama para napi.
Kosong dan sepi,, lalu dia menengok kearah ujung lorong sel disebelah kanan. Matanya melotot tak berkedip, melihat ujung lorong yang sunyi berdiri sosok perempuan berdiri membelakanginya.
"Kaang!"
"Aaaaa...
__ADS_1
***Hay Readers,, mohon maaf ya baru bisa Up hari ini, maklum Author baru mulai sembuh setelah sakit hampir 1minggu ini**** Mohon doanya ya,, terima kasih ya Kakak semua.. please jangan lupa Like n komentarnya oke??. Matur Nuwun sanget.