Rahasia Rumah Clara

Rahasia Rumah Clara
Harun Kabur


__ADS_3

Ditengah kebingungan pihak kepolisian untuk memecahkan kasus kematian aneh yang menimpa Barno.


Dirumah sakit jiwa, disebuah kamar terkunci tempat Harun dirawat,


Harun duduk diam, dengan tatapan mata kosong membelakangi pintu dan menatap kearah tembok.


Sekilas Harun terlihat tersenyum.


"Untung.. untung aku bisa mengelabui tes kejiwaan,, kkkk.. sekarang aku tinggal mikir gimana caranya aku keluar dari rumah sakit ini dan pergi sejauh-jauhnya dari Semarang" batin Harun dengan hati lega.


Harun kembali bergidik ngeri mengingat kematian Barno yang terlalu mengerikan.


Badan terbelah dia karena ditarik secara paksa dengan kekuatan yang tak terbayangkan seberapa kuat dan besarnya..


Bahkan bunyi patahan tulang Barno pun masih terngiang jelas ditelinganya hingga hari ini.


Mengingat ancaman dan kematian mengenaskan rekannya, dengan penuh tekad Harun memilih untuk keluar dari lapas dengan segala cara.


Memanfaatkan ketakutan terbesarnya Harun memilih berpura-pura stress berat hingga dirujuk dirumah sakit jiwa.


Tujuannya hanya satu,, kabur dan pergi jauh dari Semarang menghindari pembalasan dendam sosok setan perempuan yang kini mengincarnya.


Dua bulan pasca kematian Barno, Harun tetap berpura-pura gila dan tetap terdiam tanpa membuka mulutnya, menatap kosong dan tidak membuat ulah ataupun pergerakan apapun yang mencurigakan.


Memperhatikan setiap tata letak ruangan, termasuk ruang istirahat perawat pria, pergantian sift dan juga pintu yang akan dia pakai untuk kabur.


Harun benar-benar berhati-hati untuk mencari celah dan kesempatan untuk kabur dari rumah sakit yang mengurungnya.


Sementara Pihak rumah sakit yang melihat perilaku Harun yang tenang dan diam pun juga melonggarkan pengawasan terhadap Harun yang dianggap sebagai pasien depresi yang tidak membahayakan keselamatan siapapun.


Tepat jam 4 sore saat persiapan pergantian sift,


Memanfaatkan kelengahan penjaga dan perawat,


Harun berhasil menyelinap dan mengambil seragam perawat,,


Lalu menyembunyikannya, tepat saat pagi hari,


Dengan terburu-buru Harun segera memakai seragam yang berhasil dicurinya, lalu berjalan keluar dan menyelinap diantara para perawat yang bersiap keluar dari rumah sakit karena siftnya sudah berakhir.


Karena kelengahan para penjaga, Harun berhasil keluar dan kabur dari rumah sakit tanpa sepengetahuan siapapun.


Tanpa menoleh kebelakang Harun segera berjalan dengan cepat dan berniat untuk kembali ke kampungnya.


Tanpa uang sepeserpun Harun berhasil menuju ke kampungnya dengan menumpang sebuah mobil pengangkut sayur.


"Aku harus pulang dulu, mengambil uang yang masih tersisa terus pergi dari kota ini" tekad Harun.

__ADS_1


Sampai dikampung, hari masih siang. Karena banyak tetangganya yang tahu tentang penangkapannya, Harun memutuskan kembali kerumahnya saat malam tiba.


Menahan rasa lapar diperutnya, karena hanya makan beberapa potong kue yang diberikan sopir mobil yang ditumpanginya. Harun diam dan bersembunyi disebuah rumah kosong yang tidak jauh dari gapura desanya. Rumah kosong dengan tempat sedikit terpencil dan tersembunyi karena tertutup semak ilalang yang tinggi dan dua pohon tua berukuran besar.


Rumah kosong yang dianggap berhantu padahal sejatinya tempat kumpulnya Barno dan kawanannya.


Matahari mulai beranjak kearah barat,, langit kuning keemasan menandakan senja mulai menyapa.


Desa tempat tinggal Harun dan Barno bisa dibilang desa yang maju dengan pekerjaan rata-rata sebagai petani sayuran.


Hingga jalanan pun ramai karena lalu-lalang kendaraan para tengkulak yang mengambil sayur ditempat ini.


Malam makin larut, Harun mendengar langkah kaki mendekat kearahnya.


*krieeettt...* terdengar suar pintu dibuka. Dengan sigap Harun bersembunyi dibelakang pintu.


Terdengar suara percakapan 2 orang dengan langka yang semakin mendekat kearahnya.


"pean tuku 'putihan' piro Kang?"


(putihan \=Bir)


"Cuma 2 botol To"


"Lhaa.. kere.. kere kok cuma 2 botol to kang!" sungut orang yang dipanggil To.


"Piye maneh To,, Sapto,, wes nasib duitku Kabeh disingitno (disembunyikan) karo bojoku" sungutnya.


"Bocah semprul,, " marah pria yang usianya lebih tua dari Sapto.


"Wess ayo lungguh ojo ribut,, aku wes ngelak (haus) Iki!!" ucap Harun keluar dari persembunyiannya.


"Lhaaa... Ruun!!" teriak Sapto dan juga rekannya tampak terkejut.


Keduanya reflek melompat kebelakang sambil membelalakkan mata.


"Kapan? Memange awakmu bebas?? ojo-ojo awakmu kabur Yo?" Sapto membrondong Harun dengan pertanyaan.


Harun tidak menjawab pertanyaan temannya, dan meraih botol yang dipegang pria yang berdiri disamping Sapto.


Dengan rakus Harun menenggak bir yang dibawa dan menghabiskannya hingga setengah botol.


"Ahhh..." Selesai Harun minum.


Dengan tenaga Harun lalu duduk dilantai yang dialasi tikar pandan yang sudah lusuh, disusul Sapi dan rekannya.


"Iyo aku kabur, soko rumah sakit jiwa" jawab Harun.

__ADS_1


"Run,, sing mateni Barno kui sopo Run?" tanya Sapto yang sepantaran usia dengannya.


"Setan" jawab Harun.


Mendengar jawaban Harun keduanya terdiam dan saling memandang, lalu


"Ha.. ha.. ha...!" keduanya kompak tertawa dengan keras.


Sementara Harun melotot kesal keduanya karena keduanya tidak percaya dan malah menertawakannya.


"Woalah Run.. Harun.. metu soko rumah sakit jiwa lha kok tambah pinter nglawak to!" ledek Sapto.


"Aku Iki ora nglawak, aku yo ora guyon,, Iki serius Kang!" jawab Harun dengan wajah serius.


"Kang Barno dibunuh sama setan gadis yang kita perkosa saat perampokan dirumah majikanku, iling to.. wes iling opo durung!?" tambah Harun dengan wajah serius.


"Wes ora usah aneh-aneh, sumpah aku gak percoyo!" jawab Pria disamping Sapto sambil menenggak tuak yang sudah dia tuang digelas.


"Kang, setan iku ape balas dendam Kang,, Iki aku muleh njupuk duit siso sing isih tak umpetke, aku ape lungo Sumatera kang,, mumpung ijek iso kabur"


"Halaahh,, pean Iki kabur nek Sumatra paling mung ngindari polisi wae kok nganggo alasan setan !" tukas Sapto tidak percaya.


Kedua orang itu dengan santai menenggak tuak dengan tenang sambil sesekali mengisap rokok yang menyala disela-sela jarinya.


"Wess, kari awakmu lah,, penting aku wes ngomongi sampean yo" ucap Harun malas.


Sapto dan juga rekannya memilih mengabaikan ucapan Harun.


"Wes suwe ora ngumpul,, ayo main kartu!" ajak Sapto.


Malam semakin larut, ketiganya asik main kartu..


*wussshhh* angin berhembus dengan kencang.


*Brakkkkk* pintu terbuka dan terbanting dengan kerasnya, membuat ketiganya terlonjak kaget.


Bau bangkai tiba-tiba tercium,, Sapto dan Harun mulai bergidik, sementara rekan Sapto hanya terdiam dan tetap tenang seolah tidak mencium bau bangkai yang makin menusuk hidung.


Bulu kuduk keduanya pun meremang,, terutama Harun yang sudah melihat dan mengalami sendiri kengerian didepan matanya.


Harun melangkah mundur,,


"Ssstt" terdengar suara berbisik ditelinga Harun.


Harun pun melompat kesamping sambil menengok kearah suara.


Sementara Sapto yang berdiri didepan Harun melotot melihat pemandangan didepannya.

__ADS_1


Sosok perempuan berbaju putih berdiri tepat dibelakang Harun, sambil mendekatkan kepalanya kearah Harun seolah membisiki Harun sesuatu, tapi matanya lurus menatap tajam kearah Sapto sambil kemudian menyeringai menyeramkan.


"Runn.. ikuu Runn..!"


__ADS_2