Rahasia Rumah Clara

Rahasia Rumah Clara
Teror 02


__ADS_3

"Aaaaaa!!" seru Barno terlonjak kaget dengan wajah pucat.


"Kamu ini kenapa Kang?" tanya Harun.


"Kamu kenapa bikin kaget?!!" marah Barno sambil mengelus-elus dadanya menenangkan diri.


"Maaf Kang,, aku gak bermaksud ngagetin, dari tadi aku sudah panggil sampean Kang, tapi sampean gak jawab. Dan dari tadi aku perhatikan Akang malah bengong menatap lorong buntu memangnya lihat apa?" Harun penasaran.


"Gak,, gak lihat apa-apa" bohong Barno.


"Jangan bilang orang lihat hantu perempuan lagi!" tebak Harun.


"Halah, aku ngomong jujur awakmu yo gak percoyo" dengus Barno.


"Serius kang?? Beneran sampean lihat hantu, sampean gak lagi nakut-nakuti aku kan?"


"Wes sekarepmu Run,, aku ngomong opo anane (apa adanya). kalau kamu tetap gak percaya, ya sudah" kesal Barno.


Harun menatap temannya dengan tajam,, seolah mencari kebohongannya.


Tapi Harun melihat sorot ketakutan dan kejujuran dari teman satu kampungnya itu.


Harun menarik tangan Barno dan mengajaknya duduk,


"Kang aku percaya" ucapnya.


Barno menatap tajam pemuda yang kini duduk bersila berhadapan dengannya.


"Aku,, sebenarnya juga melihat hantu perempuan itu Kang" sambil menghela napas.


"Gak usah bohong kamu Run!" giliran Barno tidak mempercayai ucapan Harun.


"Awalnya aku memang gak percaya sama cerita sampean Kang,, tapi tadi,, tadi aku melihatnya Kang"


Flashback On.


Seusai makan malam,, sesuai jadwal, Harun bersama dengan beberapa rekan napi lainnya menuju tempat cucian piring.


Total ada 20 orang, 10 orang mencuci piring, 10 orang membilas.


Duduk dibangku kecil saling berhadapan.


Perlahan-lahan beberapa orang sudah mulai menyelesaikan bagian mereka dan kembali ke sel.


Menyisakan 3 pasang pencuci piring termasuk dirinya.


*klontang,,, bruk* piring seng yang dipegangnya terjatuh, dibarengi Harun yang jatuh terjengkang kebelakang sambil melotot kearah teman yang duduk berhadapan dengannya.


" Settan.. setannn!!" teriak Harun sambil menunjuk sosok perempuan yang tetap duduk ditempat temannya sambil menyeringai.

__ADS_1


"Pergii,, pergii,, setan Tolongg!!" Harun menyeret badannya menjauhi sosok yang masih duduk ditempatnya.


"plakk,, plakk" tamparan ringan seorang sipir mendarat dikedua pipi Harun.


"Jangan bikin onar!!" bentak sipir itu dengan mata menatap tajam kearahnya.


"Tapi Pak,,itu ada setan!!"


"Setan,, setan ,, siapa yang setan" sahut orang yang ditunjuk Harun.


Harun menganga tidak percaya, dia menatap temannya yang masih sibuk membilas piring ditangannya sambil menatap marah kearah Harun.


"Tapi.. tadi,, tadi beneran Pak,, disitu ada setan,, setan perempuan" gugupnya.


"Masih sore sudah ngigau,, dari tadi aku duduk disini,, kamu katain aku setan,, dasar gendheng!" omelnya.


"Sudah,, sudah! selesaikan pekerjaannya, jangan bikin gaduh!" tegur sipir yang berjaga.


Dengan linglung Harun menyelesaikan tugas mencuci piring yang tersisa, matanya melihat ke sekeliling memastikan sosok hantu perempuan yang dilihatnya itu tidak kembali lagi.


Selesai mencuci piring,, Harun segera kembali kedalam selnya, dan melihat Barno yang pucat dan berdiri kaku tak berkedip menatap lorong buntu.


Flashback Off.


"Wess percoyo kan,, aku semalam lihat hantu itu kamu malah gak percaya,, sekarang kalau sudah lihat sendiri baru percaya!" omel Barno.


"Iyo Kang,, maaf"


"Aku yo gak ngerti Run,, kalau kita cerita sama siapapun juga gak bakalan ada yang percaya,, malah kita dianggap gila" jawab Barno sambil menarik napas panjang.


"Iyo Kang,, apa lagi yang melihat hantu itu cuma kita berdua Kang" Harun tampak frustasi.


"Nyesel aku Kang, enak e mung semenit, sorone hukuman seumur urip" ucap Harun dengan wajah sendu.


(Aku menyesal Kang, enaknya hanya satu menit, tapi sengsara menjalani hukuman seumur hidup)


Keduanya terdiam sama-sama menunduk.


Malam semakin larut, sipir mendatangi masing-masing sel untuk memeriksa jumlah napi sekaligus mengunci sel masing-masing.


Lampu lorong dimatikan dan hanya menyisakan 1 lampu, hingga suasana menjadi remang-remang.


Sementara para napi satu persatu mulai terlelap,, Barno dan Harun terlihat gelisah diatas tempat tidurnya.


*sreettt,,, sreeettt* terdengar suara seseorang sedang menggaruk-garuk dinding dengan kuat.


Barno dan Harun yang sama-sama mendengar suara itu sontak bangun dan duduk sambil saling menatap satu sama lain dengan perasaan was-was.


Keduanya berdiri dan mencari sumber suara.

__ADS_1


Baik lorong sisi kanan dan kiri semuanya sunyi dan kosong.


Keduanya pun membalikkan badan berniat kembali ketempat tidur,,


"Brughh" Harun jatuh karena terlalu terkejut, sementara Barno berdiri dengan wajah tegang dan pucat pasi.


Tepat didepan mata mereka, dinding putih didalam selnya perlahan memunculkan sebuah tulisan berwarna merah darah,


"M A T I !"


Baik Barno maupun Harun sama-sama menatap tulisan itu tanpa berkedip.


Entah kekuatan dari mana, Harun tiba-tiba berdiri,,


"Setan sialann,, jangan hanya bisa manakut-nakuti,, keluar kauuu!!" teriak Harun dengan emosi yang memuncak.


"Hoii, jangan berisik,,!! mengganggu orang mau tidur saja!" terdengar teguran marah dari beberapa napi.


"Awas kalau teriak bikin keributan,, besok aku sumpal mulut kalian berdua pakai sandal!!" timpal napi yang lain.


"Pang,, pang,, pang! " seorang sipir yang mendengar keributan segera memukul jeruji sel dengan pentungan ditangannya.


"Kalian lagi,, kalian lagi,, !" marah sipir penjaga pada Harun dan Barno.


"Maaf Pak,, bukan ,, bukan niat kami bikin onar Pak,, tapi ada setan Pak,, kalau Pak tidak percaya lihat itu Pak ada tulisan itu Pak" Harun membela diri dan menunjukkan dinding yang tadi muncul tulisan darah.


"Lihat apa?? lihat tulisan?? tulisan apa!?!" marah sipir berusia 35 tahunan itu.


Harun dan Barno terkejut setengah mati,, tulisan didinding itu menghilang tak berbekas


"Tapi Pak,, sumpah,,. beneran Pak tadi didinding itu ada tulisan darah Pak" ucap Harun.


"Buktinya mana??" sudah tidur sana!! awas jangan bikin keributan lagi atau bersiap masuk sel isolasi!" ancamnya dengan marah.


Barno dan Harun diam tidak membantah.


Lampu kembali dimatikan, dan suasana suram mencekam mulai terasa, terutama di ruangan sel yang ditempati Barno dan Harun.


Desir angin dingin membuat keduanya merinding.


Suhu udara turun dengan drastis.


namun keduanya tampak berkeringat dingin, dengan perasaaan yang tidak menentu.


Mata mereka menyapu kesemua arah memastikan sosok itu tidak datang mengganggu mereka.


Bulu kuduk mereka seketika meremang dan ketakutan mereka semakin menjadi, manakala hidung mereka sama-sama mencium bau anyir darah yang begitu kuat.


Bahkan ketika keduanya menutup dan menjepit hidung mereka, bau anyir itu tetap tercium dan membuat mereka mual.

__ADS_1


*wusshhh*


*Hay-hay Readers,, maaf ya kalau author jarang2 up,, maklum Author sedang sakit,, otak jadi bantu susah dapat inspirasi. Author juga mau ucapin Terima kasih buat teman-teman yang masih mau baca karya ini bahkan bersedia memberi Like n komen. Terima kasih..


__ADS_2