Rahasia Rumah Clara

Rahasia Rumah Clara
Teman-teman Baru


__ADS_3

Keesokan paginya,,


Delila bangun sebelum ayam berkokok,,


Dihalaman belakang rumah sang Kakek yang cukup luas, tampak Delila sedang berolahraga, dari mulai joging, sit up, push up, dan juga squat jump.


Bahkan semenjak kematian Eyangnya 6 bulan yang lalu,,


Delila mulai belajar ilmu kanuragan,, silat juga karate,, dan berhasil meraih level sabuk hitam.


Tenaga dalam Delila meningkat pesat, mata batin Delila juga semakin teruji.


Kalau hanya memecahkan batu bata tumpuk 10 itu seperti memecahkan kerupuk untuk Delila,, besi bantalan rel pun sanggup di bengkokkan tanpa kesulitan.


Tidak ada yang tahu tentang kekuatan yang dimiliki Delila selain almarhum Eyangnya.


Terkadang tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya,, ketika masih tinggal didesa Kereng, hampir setiap hari di jam 12 tengah malam Delila sering mengendap-endap keluar dari rumah menuju tepi sungai Desa Kereng untuk beruji nyali dan bermeditasi meningkatkan kemampuan mata batinnya.


Ditemani oleh Simo, sang binatang spiritual warisan Eyangnya yang berupa harimau loreng berukuran besar sebagai penjaga Delila.


Matahari perlahan menampakan sinarnya yang keemasan dari ufuk timur,, Delila pun menyudahi latihannya.


Dia bergegas menuju kekamarnya dan menyiapkan baju yang akan dia pakai kekampus,, lalu segera mandi.


Jam enam pagi dia siap dengan kaos dan celana selutut,, lalu keluar dari rumah mencari nasi bungkus dan juga kue rangin atau orang semarang menyebutnya kue gandos untuk Kakek, Nenek dan juga Pamannya sarapan.


Rumah Kakeknya yang tidak jauh dari jalan besar membuat Delila dengan mudah menemukan deretan gerobak penjual makanan.


4bungkus nasi pecel, dan juga Gandos 15 biji, dan 5 buah lumpia ayam sudah ada ditangan Delila.


Dengan semangat Diapun pulang,,


"Pagi Nek,," sapa Delila menyapa Neneknya yang sedang membuat kopi untuk Kakek dan juga Pamannya.


" lhoo.., Kamu dari mana Nduk?? Nenek kira kamu belum bangun!"


"Habis jalan-jalan didepan Nek,, beli sarapan!" Sambil meletakkan bungkusan yang dibawanya.


"Masya Allah,, banyak sekali belanjaanmu Nduk?? Siapa yang mau menghabiskan makanan sebanyak ini!?" Neneknya terkejut melihat belanjaan Delila.


"Tenang saja Bu,, Delila kan masih dalam masa pertumbuhan pasti sebentar juga habis bersih tak bersisa!" Sahut Paman yang sudah rapi dengan pakaian kantornya,, dan keluar dari kamarnya yang berada didepan ruang makan.


"Lhaa kalau makan sebanyak ini bisa bulat badan kamu Ndhuk!" Ucap Nenek.


"Tenang saja Nek,, Lila kan piara naga didalam perutnya, jadi gak mungkin bisa gemuk!" Ledek Paman.


"Paman pasti sirik kan sama Lila,,, makanya ngeledekin Lila terus!" Serang Lila pada pamannya.

__ADS_1


"Sirik,,? Sirik sama kamu?" Tanya Paman.


"Ya iyalah,, kalau Delila makan banyak itu ga bisa gemuk, jadi gak takut-takut kalau mau makan banyak,, beda sama Paman yang makan hanya dua sendok langsung gendut kayak sapi kurban siap dikurbankan!" Ledekku balik.


"Ha.. ha.. bisa aja kamu Nduk!" Tawa Nenek pun pecah mendengar balasanku.


Pamanpun dengan gemasss mengacak-acak rambutku.


Sarapan nasi pecel ditemani teh hangat buatan nenek plus ditutup dengan kue gandos dan lumpia yang gurih,, aslii enak.


Sisa kue dan makanan sebagian dia masukkan kedalam kotak bekal yang nanti akan dibawa kekampus.


Selesai sarapan Delila masuk kembali kekamarnya, memakai celana bahan dan kemeja oversize warna cream,, Delila yang berwajah dingin sekarang terlihat lebih cool,, layaknya cewek tomboy, dengan rambut sebahu yang diikat jadi satu.


Tepat jam 8 kurang 15 menit Paman mengajak Delila berangkat bersama.


Setelah 15 menit perjalanan, Delila sampai di kampus Negri yang menerimanya, Universitas Diponegoro/ UNDIP fakultas Psikologi angkatan 2005.


"Jangan lupa telpon Paman kalau sudah selesai,, nanti pasti Paman jemput"


"Iya Paman, terima kasih ya Paman!" Sambil menutup pintu mobilnya.


"Hmm,, ya sudah Paman lanjut ya!" Pamitnya.


"Iya Paman,, "


Sementara Delila melangkah kearah gedung fakultasnya yang tidak jauh jaraknya dengan gedung fakultas Sains dan Matematika.


Delila menuju gedung fakultas Psikologi.,. Jurusan yang sudah mantap dipilihnya.


Sampai didepan gedung,, semua mahasiswa baru sudah berkumpul memenuhi lapangan, disamping gedung.


Acara orientasi dan perkenalan mahasiswa baru pun dimulai,,


Untungnya Delila berhasil mendapatkan teman baru dengan cukup mudah.


Ragil, Andini, Farika dan juga Clara adalah teman-teman baru Delila.


Mereka menjadi dekat satu sama lain karena kebetulan mereka satu kelompok saat acara orientasi ini berlangsung.


Masa orientasi selama satu Minggu sudah selesai, dan Minggu ini jadwal perkuliahan sudah dimulai.


Tanpa terduga keempat temannya satu jadwal dengan Delila.


Delila yang baru saja masuk dan berdiri didepan kelas dibuat terkejut,


"Yeeeeii,, kita ngumpul lagi!" Seru Farika cewek centil paling cerewet dan heboh diantara kita berlima sambil berdiri dan menyeretnya duduk di samping kiri kursinya.

__ADS_1


Di samping kanan ada Andini, lalu dibelakangnya ada Ragil sementara didepannya ada Clara yang duduk degan tenang sambil tersenyum kearahku dan yang lainnya.


"Coba lihat,, jadwal kalian dong,, kumpulin-kumpulin!" Heboh Frika lagi sambil mengulurkan tangannya meminta jadwal milik kami satu persatu,,


Kami berempat memberikan jadwal kuliah semester satu yang sudah disusun pihak kampus.


"Yesss,, semuanya masih satu kelas,, Bisa ya kita berjodoh begini!" Ucap Farika dengan heboh, lalu mengembalikan jadwal milik kami masing-masing.


"Ssstt,, Dosen sudah datang nanti kita lanjut lagi dikantin!" Ucap Andini sambil menepuk bahu Farika.


Kamipun segera duduk menghadap depan.


2 jam mendengarkan mata kuliah psikologi perkembangan 1 cukup membuat Delila bersemangat,,.


Hingga tidak terasa jam kuliahya sudah berakhir.


"Huaahhh,, capeknya.." keluh Ragil, cowok tertampan karena satu-satunya yang jadi teman terdekat diantara kami yang cewek semua.


"Iyo untung kita masih ada jam istirahat 1 jam,, habis ini Antropologi ya" ucap Clara, cewek cantik yang pembawaannya paling kalem dan juga lembut seperti putri bangsawan, dibandingkan kami bertiga.


"Iya,, mending kita kekantor aja yuk,, sudah laper nih!" Ajak Andini.


"Boleh,, ayo!" Sahut Ragil dengan semangat.


Kami berlima segera ke kantin.


"Waahhh makanan,, I'm coming,, !!" seru Andini dan Farika tanpa sengaja bersamaan.


Membuat kami saling pandang dan akhirnya tertawa karena kebetulan konyol yang tak terduga.


Tanpa terasa 1 semester sudah berhasil dilalui dengan baik,, diantara kami berlima nilai IPK Clara adalah yang tertinggi,, mencapai 3,8, disusul Andini, Delila, Ragil dan terakhir Farika.


Setelah libur semester berakhir,, masa perkuliahan semester kedua pun dimulai.


"La,, kamu dimana?" SMS dari Andini.


"Aku di pintu masuk fakultas, kenapa!?"


"Buruan,, kita tunggu didepan perpustakaan ya!"


"Bukannya sebentar lagi ada kuliah MP 1 ya?"


" Kosong La,, Dosen hanya kasih tugas lewat Asdosnya"


"Oke, aku otw langsung ke Perpus!"


Mempercepat langkahnya menuju Perpustakaan UNDIP yang terletak ditengah-tengah komplek kampus UNDIP.

__ADS_1


__ADS_2