Rahasia Rumah Clara

Rahasia Rumah Clara
Berubah??


__ADS_3

Siang harinya selesai makan siang, Andini dan Farika pamit pulang ke kost an mereka,, begitu pula Ragil juga pulang kerumahnya.


Hari berlalu,, Senin pagi Delila, dan keempat temannya sudah berada didalam ruang kelas.


Tapi hari ini agak sedikit aneh,, Clara si mahasiswi teladan memilih duduk dibangku paling belakang, tampak tidur pulas, kepalanya menelungkup diatas meja dengan lengan sebagai bantal kepalanya.


Padahal jam baru menunjukkan pukul 9 pagi.


"Kenapa Dia?" Tanya Ragil sambil melirik kearah Clara.


"Tau.., pas aku sama Andini nyampe dia sudah ngorok" Jawab Farika sambil mengedikkan bahunya.


"Bangunkan Clara,, La,, bentar lagi siKiller masuk!" Ucap Andini pada Delila.


Delila yang duduk didepan Clara berdiri dan mendekati bangku temannya itu,,


"Cla.. bangun Cla..,!" Delila membangunkannya sambil menepuk bahu Clara pelan.


Sejenak Delila terdiam, sekilas dia menatap Clara.


"Hoaamm" terdengar Clara menguap dan memaksakan diri membuka matanya.


"Kalian sudah datang?" Sambil mengucek matanya.


"Hmm" jawab Delila sambil kembali kebangkunya.


Clara dengan malas menegakkan posisi duduknya sambil menguap beberapa kali,,


"Memangnya semalam kami ngapain aja Cla,, kayaknya ngantuk berat banget?" Kepo Farika.


"Gak ngapa-ngapain,, jam tidur juga seperti biasanya,," jawab Clara malas.


Tidak berapa lama dosen Killer yang mereka takuti masuk kedalam kelas.


Clara yang mengantuk dengan susah-payah mengikuti kelas,, tapi di menit terakhir Clara sudah tidak mampu menahan kantuknya.


Kembali dia tertidur dengan cukup nyenyak,, untung si Dosen tidak melihatnya.


2 jam kuliah pertama akhirnya selesai,, tinggal menunggu 1 jam lagi untuk mata kuliah kedua.


"Cla bangun Cla!" Farika membangunkan Clara sambil menepuk pelan punggung Clara.


"Hoaamm,, sudah selesai ya?" tanyanya sambil mengucek matanya.


"Hmm,, ayo sudah kita keluar!" ajak Andini.


Mereka berempat pun memutuskan untuk menunggu waktu kuliah selanjutnya dengan nongkrong dikantin.


Sementara mereka berjalan kearah kantin Clara dan Farika pamit untuk kekamar mandi dulu.


Tinggalah Andini, Ragil dan Delila berjalan dan masuk kekantin kampus terlebih dahulu.


Sejenak mereka bertiga mengedarkan pandangan kedalam ruangan kantin yang tidak terlalu ramai.


"Disitu saja!" Tunjuk Ragil disudut kiri kantin yang mejanya masih kosong.


Mereka bertiga pun duduk,, Andini bersebelahan dengan Delila, dan Ragil duduk persis didepan Andini.


"Gimana acara nginep Sabtu kemarin?" Tanya Delila.


"Seru La,, sayang kamu aja ga ikut!" Ucap Andini.


"Hanya..,," Andini terdiam dan menggantung ucapannya, dan tampak ragu untuk bercerita.


"Hanya apa Din?" Tanya Ragil.

__ADS_1


"Emm gak apa-apa" jawab Andini.


"Terus Kamu,, kenapa kamu gak bisa tidur saat dirumah Clara?" Tanya Andini dengan pandangan menelisik.


"Gak.. ada.. hanya belum terbiasa" jawab Ragil.


"Jangan bohong,, aku rasa kamu pasti mengalami hal aneh kan saat nginap dirumah Clara!" Celetuk Andini sambil menatap tajam kearah Ragil.


Ragil pun terkejut mendengarnya.


"Sembarangan, hal aneh apaan,, sok tahu kamu Din!" Sangkal Ragil.


"Jangan bohong Gil,,, karena.. aku,, aku sebenarnya juga mengalami hal aneh saat nginap dirumah Clara" jujur Andini tampak sedikit ragu.


Sekali lagi Ragil membelalakkan matanya kearah Andini, dan menatapnya tak percaya.


Sementara Delila hanya menarik napas panjang,, tak tampak terkejut atau penasaran,, ekspresinya tetap dingin seperti biasanya.


"Kamu serius?" Tanya Ragil pada Andini.


"Hemm" Andini mengangguk.


"Gimana ceritanya??" Tanya Ragil penasaran.


Andini pun mulai menceritakan dengan detil kejadian malam itu,, malam disaat dia melihat sosok yang mirip dengan Clara dan melompat terjun dari jendela lantai dua kamarnya.


"Kamu serius Din??" Tanya Ragil tak percaya.


"Hmmm,,, tapi Farika sama Clara berpikir kalau aku mungkin hanya mimpi buruk,, atau berhalusinasi,, tapi itu gak mungkin Gil,, sumpaahhh aku yakin sekali dengan apa yang aku lihat,,! aku gak mimpi,,! lha wong aku saja baru keluar dari kamar mandi dengan kesadaran penuh" ucap Andini.


"Kalau kamu Gil?? Kamu lihat apaan??" Tanya Andini penasaran.


Sejenak Ragil menarik napas dalam-dalam, lalu melirik kearahku.


"Hemm" aku mengangguk tanpa ekspresi.


"Apa kamu pernah lihat mahkluk begituan juga?" Tanya Andini beralih memandang kearahku penasaran.


"Iya" jawabku.


"Memangnya kamu lihat apaan Gil?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Heeyy..kalian kelihatan serius banget ngobrolin apaan!!" Seru Farika yang datang bersama dengan Clara.


Dengan terpaksa Kami menghentikan obrolan kami dan mengambil daftar menu untuk memesan makanan.


"Ahh,, La sayang banget kemarin kamu gak ikut nginap dirumah Clara,, coba kamu ikut,, wahh pasti tambah seru" heboh Farika.


"Tambah rame dan seru apaan,, orang Delila saja manusia dingin tanpa ekspresi begitu! Yang ada malah merusak suasana" Ketus Clara dengan tatapan sinis kearahku.


Andini,. Farika dan Ragil seketika melotot mendengar ucapan ketus keluar dari mulut seorang Clara.


Ketiganya seakan tak percaya,, Clara yang ramah, lembut,, dan baik hati itu tiba-tiba bisa mengucapkan ucapan seketus itu pada Delila.


Ketiga temannya pun memandang bergantian kearah ku dan Clara seakan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi?


Tapi ketiganya justru melihat Delila hanya tersenyum tipis dengan tenang dan tidak menanggapi ucapan Clara,, seolah tidak sakit hati sama sekali dengan ucapan Clara.


"Kenapa kaget?? Memang kenyataanya begitu kan?" Ucap Clara lagi dengan kilat mata bermusuhan kearah Delila.


"Kalian ada masalah??" Tanya Farika takut-takut padaku dan Clara.


Akupun menggelengkan kepalaku.


"Masalah apa ,,. Aku hanya gak suka saja!" Jawab Clara sekenanya.

__ADS_1


Membuat ketiga temannya lagi-lagi tercengang tak percaya.


Dellila menarik napas panjang,, sambil menundukkan kepalanya sesaat lalu tanpa sepengetahuan ketiga temannya mengepalkan tangannya yang dia sembunyikan didalam saku,, setelah itu dia berdiri dan berjalan mendekati Clara yang duduk disamping Ragil.


"Kamu mau apa??" Tanya Clara sambil melotot kearah Delila.


"Mau apa? Tidak ada aku hanya mau bertanya sesuatu sama kamu?" Ucap Delila dengan tenang dan wajahnya yang datar.


Tampak Clara duduk dengan tidak tenang melihat Delila kini berdiri dibelakangnya,


Delila menepuk bahu Clara dan membungkuk kearahnya,


"Kamu baik-baik saja kan Cla?" Tanya Delila.


Seperti tersentak kaget,, Clara melonjak dari tempat duduknya.


"La,, kamu ngapain?" Tanya Clara heran.


"Nggak apa-apa,, aku hanya tanya apa kamu baik-baik saja?"


"Hmm aku baik-baik saja" jawab Clara.


Sementara ketiganya menatap heran padaku dan Clara.


Delila dengan tenang kembali ketempat duduknya dengan tangan kanan yang masih terkepal yang dia sembunyikan didalam saku jaketnya.


"Eh,, La aku pinjam catatanmu yang terakhir tadi ya,, yang terakhir tadi aku ketinggalan gara-gara ngantuk" ucap Clara dengan lembut, dan mendapat tatapan aneh dari ketiga temannya.


"Kalian kenapa menatapku begitu?? Apa ada yang salah dengan mukaku?" Tanya Clara merasa tidak nyama dengan pandangan ketiga temannya.


"Ga ada apa-apa" jawab ketiganya serempak menggelengkan kepalanya.


"Anehh..!" Celetuk Clara melihat tingkah ketiga temannya.


"Ini!" Aku menyodorkan bukuku.


"Hari ini kalian yang pesan makan dan minumnya,, aku yang traktir!" Ucap Clara.


"Serius Cla?" Tanya Farika dengan mata berbinar.


"Ya iyalah serius..!" Ucap Clara sambil melihat-lihat catatan Delila.


"Far,,, tolongin aku pesanin ice kopi, sama burger ya,, aku mau nyalin catatan Delila dulu ni" ucap Clara memohon sambil menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan pada Farika.


"Amann,,!" Jawab Farika.


"Oh iya La,,2 Minggu lagi aku mau ngadain acara nginap dirumahku,, kamu bisa datang kan?!" Masih dengan sibuk mencatat.


"Semoga ya Cla,, asal ga ada masalah seperti kemarin aku pasti datang" jawabku.


"Dalam rangka apa Cla?" Tanya Andini.


"My Birthday party!" Ucap Clara sambil tersenyum.


"Yang penting pas malam Minggu kan?" Tanya Ragil.


"Yoii.." jawab Clara.


"Party.. party.. makan lagiii!" Sahut Farika dari belakang.


"Wah parah kamu Far,, otakmu isinya hanya makan Mulu..!" Ledek Andini.


"Untuk itulah aku hidup" jawab Farika sekenanya.


"Ha.. ha.." kami pun tertawa mendengar jawaban asal dari Farika.

__ADS_1


__ADS_2