
Delila mempercepat langkahnya,, matanya kemudian melihat satu persatu deretan warung yang ada disamping kanan, kiri dan juga depan rumah sakit.
Delila berjalan mendekati warung Lamongan yang jaraknya hanya 10 meter dari rumah sakit,
"Bu nasi penyet lele dua bungkus ya!"
"Iya Neng,, tunggu sebentar ya!" jawab ibu penjual.
"Iya Bu ini saya bayar dulu saja,, nanti baru saya ambil,, bisa kan Bu?" tanya Lila sambil menyerahkan uang 5pulan ribu.
"Bisa Neng" sambil menerima uang biru bergambar Pak Harto dari tangan Lila.
"Ini kembaliannya Neng!" sambil memberikan selembar uang 20rbuan.
"Saya tinggal sebentar yo Bu,,!"
Delila keluar dari warung berwarna hijau itu lalu bergegas menuju minimarket berlogo huruf A untuk membeli air mineral dan beberapa cemilan untuk menemaninya berjaga diruang rawat kakeknya.
Ditangannya masih ada 5 ribu Delila pergi mendekati gerobak penjual gorengan, membeli 2 lumpia dan 3pisang goreng masuk kedalam kantong plastik.
Selesai belanja di minimarket, Delila kembali ke warung Lamongan untuk mengambil nasi pesanannya.
Lalu berjalan kembali ke dalam area rumah sakit dengan menenteng dua kresek warna putih dan hitam.
Delila menarik napasnya sekali lagi,, melihat sosok itu masih setia mengikutinya dari belakang.
Delila memperhatikan sekelilingnya, ternyata di lorong yang dilewatinya ini sepi,, hanya ada dia dan mahkluk aneh itu.
Delila pun terpaksa membalikkan badannya,
"Jangan ganggu aku kalau gak ingin menyesal!" ucap Lila dengan nada dingin mengancam sambil menatap tajam mahkluk aneh itu.
Mahkluk aneh itupun hanya tersenyum,, membuat Delila bergidik ngeri sekaligus geli.
Sambil menahan ekspresi dinginnya Delila kembali berjalan dengan cepat menuju ruang rawat sang Kakek.
"Apa aku kearea kamar mayat untuk mengusir mahkluk ini dulu apa ya??" tanyanya dalam hati.
"Tapi kasihan nanti Nenek kelamaan nunggu maka malamnya!" pikir Delila.
"Yo wes ben lah,, nanti saja aku urus! asal gak ganggu apa membahayakan,, !" putusnya sambil melangkah mendekati area paviliun melati.
Perlahan Delila masuk kedalam ruangan 214 A.
"Nekk, Maaf Delila kelamaan ya?" tanyanya sambil melirik kearah Kakeknya yang sudah tertidur.
__ADS_1
"Nggak kok Ndukk,, kamu beli apa?"
"Ini Nek,, nasi penyet Lele, air, gorengan sama cemilan Nek!, Nenek makan duluan saja ya!" ucap Lila sambil menyiapkan makanan yang dibelinya untuk sang Nenek"
"Wes kita makan saja sama-sama,, lha wong Kakekmu ya sudah tidur,, !" ucap Nenek.
"Iya Nek!" akupun duduk di samping kanan Kakek, sambil membuka kertas minyak pembungkus nasiku.
"Akupun mulai makan dengan pelan,,.
"uhukk.. uhuk.." aku tersedak gara-gara melihat tingkah somplak mahkluk aneh didepanku.
Sosok berkumis, dengan rambut dikepang dua memakai dress ketat warna putih,, sedang menari dengan genitnya didepanku,,
Sumpah demi apapun,, aku mati-matian menahan tawa sampai membuat aku tersedak sambal lele yang aku makan.
"Diamputtt..!" umpatku dalam hati.
"Alon-alon Ndukk!" tegur Nenek sambil memberikan botol air mineral yang sudah dibukanya.
Sambil memalingkan wajahku dari mahkluk itu dengan cepat aku meminum air yang diberikan oleh Nenek.
Tapi rasa geli membuatku kesulitan untuk menelan.
"Kamu gak apa-apa nduk!?" tanya Nenek cemas melihat mukaku yang merah.
"Nggak Nek" dengan cepat aku membungkus kembali nasiku dan memasukkannya kedalam kantong plastik.
"Lila kekamar mandi sebentar ya Nek"
Tanpa menunggu jawaban dari sang Nenek Delila segera kabur menuju arah area kamar mayat.
"tunggu... heii!!! tungguuu..!" teriak kemayu hantu bences yang berhasil membuat hidungku perih akibat tersedak sambal lele.
Delila mengabaikan teriakan kemayu mendayu-dayu si hantu bences.
Delila takut ada pengunjung rumah sakit memergokinya ngomong dan ketawa sendiri gara-gara perbuatan si bences kan bisa dikira gila dia nanti.
Sampai diarea kamar mayat yang sepi dengan penerangan lampu yang redup,, Delila menghentikan langkahnya,,
"Hua.. ha..ha.. ha.." Delila tertawa terbahak- bahak sambil memegangi perutnya.
"Bangcatt.. bangcattt..!" umpatnya sambil terus tertawa dan mengusap airmatanya.
__ADS_1
Hancur sudah image dingin dan datar yang dia jaga didepan hantu bences yang sekarang berdiri dengan santai didepannya.
"Hufff" Lila menarik napas panjang dan menghembuskan dengan perlahan.
"Kamu!! kamu kenapa mengikuti ku??!" tanya Lila sambil masih menahan geli akibat tingkah si bences.
"Yeii,, Eike kan hanya mau kenalan,, siapa tahu Yei bisa bantu Eike buat menyampaikan pesan buat pacar Eike!" ucapnya sambil memasang wajah sedih yang dibuat-buat.
"Ogah,, aku bukan pegawai pos,!!" tolak Delila.
"Jangan begitu dong Ai,, bentu Eike,, Yei nggak kasihan lihat Eike mati gak sempurna begini?"
"Gara-gara rumah bedeng ku digusur mendadak sama satpol PP,, aku kabur sampai belum sempat cukur Eike punya kumis,, mirisnya lagi malah aku kecium besi kereta,, aisshh,, sebel..sebell!" omelnya.
"Aku gak mau,, sudah pergi jauh.. jauh!" usirku.
"Kalau kamu gak mau bantu aku,, ya aku akan ngikutin kamu terus!" ancam si Bences.
"Sekarepmu (terserah)! tapi jangan salahkan aku kalau setelah ini kamu malah makin berantakan!" ancam Lila.
Si hantu bences malah tersenyum,,, dan nekat mengikuti Delila yang bersiap pergi.
"Simo,, tahan si mahkluk jadi-jadian ini,, hajar kala perlu!" ucapnya melalui batinnya.
Simo muncul menghalangi di hantu bences..
"Heii.. heiii.. tega nya.. kamu..aiih.. sereeemm,, iihh,, takut nek,, heii tolong donggg!!" teriak si bences.
Delila mengabaikan teriakan hantu itu.
Sambil berjalan kembali kearah paviliun melati,
*Pukk*
"Dari semua jenis hantu di rumah sakit kok yo malah hantu bences yang keluar ganggu aku to !!" ucapnya dalam hati sambil menepuk dahinya.
Delila menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ampunn.. ampun.. jangan lagi-lagi ketemu model begituan! gara-gara ondel-ondel gagal jadi hidungku sekarang panas gara-gara tersedak sambal" omel Delila dalam hati.
Delila pun masuk kedalam ruangan Kakeknya dirawat,,
"Kamu gak apa-apa La?"
"Nggak Nek,, Lila gak apa-apa,, emm Lila lanjut makan ya Nek" ucapku. Meski perutku masih terasa penuh karena terlalu banyak tertawa.
__ADS_1
Demi membuat Nenek tidak cemas lagi,, Delila pun melanjutkan makannya yang tadi sempat tertunda.