
Julia terdiam mendengar ancaman dari sang Papa.
Julia kenal betul sifat Papanya,, Sosok keras kepala yang tidak jauh beda dengan dirinya.
Julia percaya Papanya sanggup melakukan semua hal yang tadi sudah diucapkannya.
"Putuskan dan tinggalkan dia,, Papa janji akan membantu dan melepaskannya,, Setelah itu bersiap berangkat ke Singapura untuk sekolah disana!" putus Wisnu.
Julia menatap tajam dengan air mata terus membasahi pipinya.
"Papa tega dengan Julia,, Robin kebahagiaan Julia Pa,, kenapa Papa tega?" rengek Julia mengiba.
"Dia tidak baik untukmu,, dia pemuda kere yang ingin naik menaikkan derajat hidupnya dengan mendekatimu!" ucap Wisnu tanpa perasaan.
"Tapi Robin tidak seperti itu Pa!" Julia masih bersikeras meluluhkan hati Papanya.
"Hehh,, apa menunggu kamu disakiti, atau hartamu habis ditangannya baru kamu percaya kalau laki-laki yang kamu pilih itu brengs3k! Cintamu cinta buta,, bodoh" sinis Papanya.
"Segera ambil keputusan. Menurut sama Papa, atau besok Papa buat kekasihmu itu hidup segan mati tak mau!" ucap ya seraya meninggalkan Julia berjalan menuju kekamarnya.
Julia dengan perasan kacau dan merasa patah hati naik kelantai dua dan mengurung diri semalaman didalam kamarnya.
Keesokan paginya, Julia menemui Papanya,
Wajah cantiknya terlihat sembab dan mata yang bengkak, dengan lingkar mata yang hitam dibawahnya menandakan Julia semalaman sama sekali tidak tidur dan kebanyakan. menangis
"Pa,, Julia akan menuruti semuanya,, tapi ijinkan Julia bertemu dengan Robin untuk yang terakhir" pinta Julia.
"Hmm, tidak masalah. Sesuai janji Papa semalam, ini kamu bawa dan berikan pada Robin" ucap Papanya sambil melemparkan amplop tebal berisi uang pada Julia.
"Tapi ingat,, hasil visum ada ditangan Papa,, jangan coba-coba mengelabui Papa!" ucap Papanya dengan mata menatap tajam kearah putri tunggalnya.
"Iya Pa" jawab Julia dengan lirih.
"Pergilah, minta Pak Herman mengantarmu, jangan pergi sendiri dengan kondisi mu seperti sekarang!"
Lagi-lagi Julia hanya menganggukkan kepalanya menuruti perintah sang Papa.
Setelah bersiap Julia segera pergi menuju rumah sakit.
Julia menyusuri lorong rumah sakit dengan perasaan tidak menentu.
Julia dengan ragu masuk kedalam ruang rawat adik dan ibu Robin kekasihnya.
Dia lihat adiknya masih terpejam. Sementara Ibunya baru selesai disuapi oleh Robin.
__ADS_1
"Mas" panggil Julia dengan suara pelan.
Robin perlahan menengok kearahnya.
"Hallo Bu bagaimana keadaann Ibu?" tanya Julia.
"Baik Nak" ucapnya lirih dan sedikit kesulitan karena stroke ringan yang menyerangnya.
"Syukurlah Bu,, Ibu cepat sembuh ya" ucap Julia tulus.
Ibu Robin tersenyum tipis menanggapinya.
"Mas, bisa kita bicara sebentar" tanya Julia dengan suar pelan.
Robin tidak menjawab, tapi menatap Ibunya sebagai tanda meminta ijin kepadanya,
Terlihat Ibunya mengangguk kecil tanda mengijinkan.
"Ayo" ucap Robin, lalu berjalan keluar.
"Bu,, Julia permisi keluar dulu ya" pamitnya.
Lagi-lagi senyum tipis sebagai responnya.
Julia berjalan dengan cepat menyusul Robin yang sudah lebih dulu keluar, dan mengikuti langkah kekasihnya dari belakang sambil menundukkan kepala dan menata hatinya.
Robin akhirnya masuk kesebuah cafe kopi yang sepi dan duduk diujung ruangan.
"Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi dengan wajah datar tanpa menunggu Julia duduk di kursinya.
"Mass" Julia tertegun melihat perubahan sikap pria tampan didepannya.
"Papamu yang terhormat itu berhasil membuat keluargaku berantakan,, Adikku terancam cacat kalau kemarin aku tidak membayar biaya operasinya,, Jahat sekali Papamu tidak lebih dari seorang penjahat tidak berhati nurani!" ucap Robin.
"Jangan menuduh Papaku,, Papa tidak mungkin melakukan hal tercela seperti yang kamu tuduhkan!" ucap Julia membela Papanya.
"Memang itu kenyataannya,, adikku celaka karena Papamu!" ucapnya dengan sengit.
"Keterlaluan kamu Mas,, Papa memang tidak merestui hubungan kita, lebih tepatnya memang menentang hubungan kita, tapi aku percaya papa tidak mungkin melakukan hal yang kamu tuduhkan!"
"Terserah bela saja Papamu aku tidak perduli, sekarang mau apa kamu menemuiku?"
"Maaf mas aku mau kita putus!" ucap Julia lirih, menahan rasa sakit dihatinya.
" Hmm,, setelah hidupku berantakan kamu mencampakkan aku,, padahal dari awal ketika keluargamu menentang hubungan ini, aku sudah meminta untuk putus.Tapi aku memintaku untuk bertahan dan berjuang. Sekarang setelah semuanya dikacaukan oleh Papamu,, adik dan ibuku ikut menderita baru kamu minta putus dariku, Aku benar-benar merasa dipermainkan!" ucapnya dengan nada geram.
__ADS_1
"Aku tidak mempermainkan mu, aku juga terpaksa" ucap Julia dengan mata berkaca-kaca.
"kalian orang kaya selalu berbuat seenaknya," Robin terlihat marah dan juga kecewa.
"Tolong terimalah, ini tulus dari Papa" ucap Julia sambil meletakkan amplop pemberian Papanya pada Robin.
"Aku tidak butuh,, bawa kembali?!" ucap Robin dengan dingin.
"Aku mohon,, aku yakin kamu membutuhkan banyak biaya untuk Ellis juga Ibu," Mohon Julia dengan air mata mengalir deras.
"Aku tidak butuh rasa kasihan kalian" ucapnya dengan tegas lalu berdiri dan pergi meninggalkan Julia yang masih duduk menangis sesenggukan.
"Aku tidak mempermainkan mu, aku juga terpaksa memutuskan hubungan kita, aku tidak mau kamu dan keluargamu celaka,, maaf,, maafkan aku Mas" ucap Julia dengan lirih.
Julia pergi dari rumah sakit dan pulang kerumahnya.
Melihat Julia menuruti keinginannya, Wisnu pun bersedia memenuhi permintaan Julia yang bersedia pindah setelah ujian semester berakhir, atau tepatnya 2 bulan lagi.
Satu bulan berlalu seja pertemuan terakhirnya dengan Robin,,
Hari ini Julia untuk pertama kalinya terpaksa pergi dengan seorang pemuda pilihan Papanya.
Dari kejauhan Robin yang tanpa sengaja melihat Julia turun dari mobil mewah sambil digandeng seorang pemuda tampan hanya bisa meringis merasakan sakit di hatinya.
Tanpa Robin tahu bahwa Julia juga menderita hidup dibawah tekanan keluarganya.
Robin hanya mendengar dari Erlans dan beberapa karyawan yang bergosip bahwa Julia dalam waktu dekat akan bertunangan dengan seorang anak pengusaha besar pemilik supermarket ternama dengan cabang dimana-mana.
Bahkan kemudian berita di koran pun ikut memberitakan pertunangan spektakuler dua pengusaha cukup ternama di Semarang.
Robin hanya bisa diam menahan sakit dihatinya, menatap foto pertunangan mantan kekasihnya yang terpampang di koran lokal yang baru dia beli dari bocah pedagang koran di perempatan jalan siang tadi.
Terlihat didalam foto Julia tersenyum begitu cantik menerima cincin yang dimasukkan ke jarinya.
1Minggu sebelum kepindahannya ke Singapura.
Malam sudah sangat larut, kedua orang tuanya juga sudah terlelap dikamarnya.
Tidak seperti malam biasanya,,, malam ini Julia tidur dengan gelisah.
Suara binatang malam yang biasanya menghiasi sunyinya malam, kali ini tidak terdengar.
Mereka seolah bersembunyi dengan rapat.
Hanya terdengar suara lolongan anjing yang panjang sesekali terdengar, membuat bulu kuduk yang mendengarnya bergidik ngeri.
__ADS_1
Malam semakin mencekam,, kegelisahan yang dirasakan Julia membuatnya merasa gerah,, dengan malas dia turun kelantai bawah untuk mengambil minum.
*Greppp*.....