Rahasia Rumah Clara

Rahasia Rumah Clara
Bersiap Untuk Pergi


__ADS_3

Harun tetap diam berdiri ditempatnya.


Sang Ayah kemudian berdiri, dengan mata melirik tajam kearah Harun,


" bikin susah!! bikin malu!" dia mendengus lalu meninggalkan Harun yang masih terdiam.


Sepeninggal ayahnya, Harun berjalan dengan gontai ke arah dapur. "Haahh" Harun menghela napas dan menggaruk kepalanya dengan kasar.


"Memang benar kata orang, penyesalan itu dibelakang kalau didepan itu namanya pendaftaran" gumam Harun dengan linglung sambil menggaruk kepalanya.


Harun menatap meja makan kayu berwarna kusam yang kosong tanpa ada makanan diatasnya.


"Biyung,, maafkan Harun,, Harun benar-benar khilaf. Harun hanya pingin nikah cepat dan punya modal usaha tanpa membebani Bapak juga Biyung. Harun gak menyangka malah jadi begini" sesalnya dalam hati.


Harun menyesal menerima ajakan teman-teman nya untuk merampok rumah majikannya yang dipelopori seorang misterius sebagai pemimpinnya.


Awalnya dia hanya tergiur dengan jumlah uang puluhan juta yang bisa dia dapatkan dalam semalam,, tapi tidak terpikirkan olehnya ikut-ikutan memperkosa Julia,, gadis cantik anak majikannya yang memang sangat cantik dan berbodi aduhai.


Harun berdiri dan mengambil gayung dari batok kelapa,, mencedok air dari dalam panci yang ada diatas tungku dan menuangnya kedalam gelas.


Harun meminumnya dalam sekali teguk.


Selesai minum, Harun mengambil sendok semen dari tempat peralatan milik Bapaknya lalu menuju ujung dapur.


Tepat dibawah gentong air berukuran kecil Harun memindahkan gentong gerabah itu dan mulai menggali lantai tanah didepannya.


*Tukk* Sendok semen menubruk sesuatu.


Cepat-cepat Harun menggali sedikit lebar,, tak berapa lama terlihat kotak kecil berukuran 20x20 dari seng yang dibungkus plastik hitam terlihat jelas.


Harun mengeluarkan kotak itu dan membukanya,


"Masih utuh" gumam Harun tersenyum.


Harun merapikan kembali tanah yang digalinya dan menaruh gentong gerabah seperti semula.


Setelah membuang plastik pembungkus kotak yang kotor, Harun mendekap kotak itu didada dan membawa kekamarnya.


"50 juta, ini cukup buat modal aku merantau dan kabur dari kejaran polisi" pikir Harun.


Selesai mengambil kotak miliknya, dia merapikan kembali tanah yang dia gali lalu membawa kotak berisi uang itu kedalam kamar.


Harun pun segera berkemas, dia mulai mengambil baju-bajunya dan memasukkan beberapa barang yang dibutuhkan kedalam tas.


Dia mengambil satu ikat uang dan berniat memberikan pada Reifan adiknya yang masih sekolah dibangku SMA.


Harun menunggu kedatangan Reifan , dan baru berniat berangkat ke pangkalan travel yang menuju Sumatra saat malam nanti.


Tepat jam 3 siang, Reifan pulang dari sekolah.


"Fan!" Panggi Harun.


"Iya Mas" jawabnya.


"Kamu sudah makan siang Fan?"

__ADS_1


"Belum Mas,, uang sakuku hanya cukup buat sarapan dikantin tadi pagi. Emm, kenapa Mas? Mas lapar ya? Mas belum makan?" tanya Reifan.


"Iya dari kemarin Mas belum makan, Kamu bisa beli makanan ke warung buat kita makan siang kan ?"


"Boleh Mas,, tapi aku gak punya uang Mas,, masa mau ngutang?" tanya Reifan polos.


" Ya nggak lah, masa ngutang! Nih" Harun menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangan Reifan.


Reifan berbinar menatap uang warna biru didepannya.


"Wah Mas,, kalau begitu aku boleh beli nasi campur pake daging sama ayam bakar sekalian yo Mas?" Reifan tersenyum riang.


"Yo wes terserah,, kamu beli saja yang kamu pengen" jawab Harun santai.


"Bener yo Mas, Mas gak marah kan kalau nanti uang ini habis!" ucap Reifan dengan semangat.


"Hmm, yang penting Mas belikan nasi pecel terus lauknya ayam bakar sama itu tempe mendoannya jangan lupa" pesan Harun.


"Iya Mas siap, Reifan jalan sekarang ya" Reifan bergegas pergi ke warung nasi yang jaraknya sekitar 100 meter dari rumah dengan senyum sumringah.


Selesai membeli dua bungkus makanan, Reifan kembali kerumah.


Keduanya lalu makan bersama dengan lahap.


Reifan yang dasarnya masih masa pertumbuhan, memakan makanan yang dia beli hingga tak bersisa.


Sementara Harun hanya bisa menatap adiknya yang lugu dan polos sambil menggelengkan kepalanya.


Seusai makan, Reifan pamit masuk kekamarnya untuk beristirahat sambil mengerjakan pr sekolahnya.


Sementara Harun kemudian juga menyusul masuk kedalam kamar adiknya,


Reifan menoleh kearah kakaknya.


"Ada apa Mas?"


"Kamu gak marah sama Mas?" tanyanya sambil duduk ditepi ranjang kayu adiknya.


Reifan pun menatap kakaknya lalu menghela napas panjang.


"Awalnya ya marah Mas,, Aku benci sama Mas, aku juga malu.. Malu pada semuanya. Gara-gara perbuatan Mas, biyung meninggal terkena serangan jantung, masih ditambah hinaan dari para tetangga juga teman-teman disekolah, pasti aku marah sama Mas yang sudah menghancurkan keluarga juga nama baik kita semua" Reifan lagi-lagi menarik napas dalam-dalam dan tampak binar kesedihan terlihat dimata pemuda bertubuh kurus itu..


"Tapi semarah apapun aku, semuanya tidak akan kembali seperti semula, apalagi sekarang aku hanya punya Bapak dan juga Mas Harun tidak mungkin aku memusuhi Mas untuk selamanya kan?" lanjutnya.


"Maafkan Mas, Fan. Mas khilaf" ucap Harun penuh sesal.


"Yo wes lahh Mas, semua sudah terlanjur mau bagaimana lagi" jawab Reifan mampu berbesar hati.


"Ini kamu simpan, kamu pakai sebaik-baiknya" Harun tanpa basa-basi memberikan seikat uang pecahan seratus ribuan yang berjumlah sekitar 5 juta-an.


"Tapi Mas ini apa!? ini untuk apa? banyak sekali?" Reifan terbelalak menatap uang begitu banyak yang belum pernah dilihat olehnya seumur hidupnya.


"Ini buat bantu biaya sekolahmu, sama uang saku mu sampai lulus. kamu lulus 5 bulan lagi kan?!" tanyanya.


"Tapi Mas..

__ADS_1


"Wes gak usah tapi-tapi! simpan uang ini baik-baik! usahakan Bapak atau siapapun tidak boleh ada yang tahu tentang uang ini, ingat kamu harus tetap merahasiakan! mengerti!"


Reifan terdiam untuk sesaat sambil menatap mata kakaknya.


"Tapi Kak, Kakak dapat dari mana ini? ini halal kan Mas?" tanya Reifan dengan tatapan menyelidik


"Wes gak usah kebanyakan mikir! ini.. ini halal kok. Ini tabungan Mas saat kerja"


"Tapi Mas" ragu Reifan.


"Kalau kamu gak mau ya sudah, sini kembalikan!" Harun mengambil uangnya kembali.


"Eh iya Mas, Reifan mau,, tapi bener ya ini halal" ucapnya memastikan.


"Iyo,,. dasar cerewet!" dengus Harun sedikit kesal.


"Matur suwun Mas" ucap Refan tersenyum.


"Tapi jangan bilang Bapak kalau Mas kasih kamu uang, Bapak soalnya masih marah besar sama Mas" Ucap Harun.


"Iyo Mas,, aman"


"Tapi ngomong-ngomong, Mas sekarang dirumah jangan bilang kalau Mas kabur dari penjara!" tebak Reifan.


"Wes gak usah ngurusi urusan Mas,, tapi kamu harus ingat kalau ada orang atau polisi tanya tentang Mas bilang saja gak tahu, ngerti!"


"Lah,, aku Yo takut o Mas,, kalau sampai ketahuan bohong gimana?" Reifan tampak keberatan.


"Kamu ini! sudah tinggal bilang tidak tahu, Mas tidak pernah pulang apa susahnya!" Kesal Harun.


"Terserah Mas lah!" Reifan tak kalah kesal.


"Mas mau siap-siap dulu" Harun kemudian beranjak berdiri.


"Mas mau pergi? pergi kemana?"


" Gak perlu tahu" jawab Harun sambil ngeloyor pergi ke kamarnya.


Perlahan waktu mulai merayap dan senja pun mulai menyapa.


Lokasi desa tempat tinggalnya yang tidak jauh dari kaki gunung, membuat udara mulai terasa dingin.


Harun sudah selesai mengepak barang miliknya, tampak sebuah tas ransel berukuran besar teronggok diatas tempat tidurnya.


Dengan gelisah Harun menunggu malam tiba. Tampak bebebrpa kali pemuda berbadan kekar itu mengintip dari lubang jendela kamarnya memastikan tidak ada sosok polisi atau orang yang mencurigakan yang mungkin akan menangkapnya.


Setelah memastikan aman, Harun bisa sedikit bernapas dengan lega.


Sambil duduk merenung, suara adzan Maghrib sayup-sayup terdengar di kejauhan.


Sempat terbersit dipikirannya untuk sembahyang, tapi bayangan saat dia melakukan kejahatan beberapa bulan yang lalu membuat Harun dengan seketika menghentikan niatnya.


Sambil menunggu malam tiba, Harun akhirnya memilih untuk tidur-tiduran, dia menyandarkan kepalanya beralaskan tas ransel besar miliknya lalu memejamkan mata sambil terus mewaspadai suara-suara yang mencurigakan.


Hallo Readers apa kabar?

__ADS_1


Mohon maaf ya kalau Author baru unggah episode terbarunya setelah sekian lama.. mohon maklum karena kesibukan didunia nyata, ditambah imajinasi author yang tiba-tiba blank membuat author mati kutu..


PLEASE dukung author terus ya teman-teman semua. Terima kasih


__ADS_2