
Hari Sabtu pagi,, Andini dan Farika menghubungiku,,
"Hallo,, La,, kamu yakin ga ikut kita shoping? biar nanti kita bertiga jemput kamu!"
"Nggak Far,, aku masih harus bantu Nenekku dulu,, biar nanti siang aku sama Ragil baru menyusul ya?!"
"Oww,, ya sudah,, kita jalan dulu ya"
"Oke,, hati-hati dijalan ya"
Siang harinya,, Ragil dengan motor matic miliknya datang menjemputku.
Setelah berpamitan, aku dan Ragil pun segera melaju menuju jalan raya.
"Kamu bawa kado buat Clara gak La??" tanya Ragil.
"Aku bawa,, kamu??" tanyaku balik
"Belum La,, bingung mau belikan apa" jawab Ragil sambil melajukan motornya perlahan.
"Jadi kamu mampir ke mall buat beli kado dulu atau gak?" tanyaku.
"Boleh,, memang itu tujuanku jemput kamu,, bantu aku pilih ya"
"Oke"
Kami berdua segera menuju ke mall,, beberapa toko kami masuki hingga menemukan hadiah yang cocok untuk Clara.
Selesai memilih hadiah,, kami pun melanjutkan perjalanan kami kerumah Clara.
Didepan pagar kami disambut ramah oleh securiti yang berjaga,, bahkan mengantarkan kami Samapi di gazebo di taman belakang rumah.
"Ragil, Lila.. buruan!!" heboh Farika sambil melambaikan tangannya kearah kami.
"Lama sekali Klian nyampe nya??" omel Farika.
"He.. He.. maaf,, maklum kalau sabtu Ratu Emak harus nyalon dulu,, jadi terpaksa aku jaga kios ratu dulu,, kalau nggakk,, bisa nyap-nyap tanpa titik koma" jelas Ragil sambil tersenyum.
"Ya elahh.. kasihan amat yaa nasib lu.." ledek Farika.
"Kamu ini Far,, mereka datang bukanya di suruh duduk malah sibuk nerocos!" ucap Andini.
"Halaahh,, gak usah disuruh duduk juga sudah pada duduk sendiri!" jawab Farika gak mau kalah.
"Pesta ultahmu hanya kita berempat saja yang di undang Cla?" tanya Ragil.
"Emm" jawab Clara singkat.
"Nanti malam kita mau ber barbeque ria,, asik- asikk josss..!" Ucap Farika ceria.
"Sambil nunggu waktu gimana kalau kita main tebak-tebakan?" usul Clara.
"Boleh tuuhh,, tapi apa hukumannya kalau ga bisa jawab??" tanya Andini
"Gimana kalau muka dicoret pake lipstik?" usul Farika.
"Boleh- boleh,, bentar ya!"
Cakra masuk kedalam dan mengambil salah satu koleksi lipsticknya yang tidak dia pakai.
"Nentuin siapa yang nebakin, dan siapa yang menebak caranya gimana?" tanya Delila.
"Gampang pake botol kosong diputar saja,, arah ujung atas botol untuk yang nebakin,, arah ujung bawah botol untuk menjawab gimana?"
"tapi bukan game dare or truth kan?" tanya Farika
__ADS_1
"Bukann,, kita tebak-tebakan iseng aja!" ucap Clara.
"Oke aku putar ya" ucap Clara melihat kami berempat yang duduk mengelilingi botol soda yang ada ditengah-tengah kami.
"Farika bertanya, Ragil menjawab" ucap Clara.
Sejenak Farika diam sambil berpikir,
"Okee ,, siap ya Gil,, Apakah aku saat jatuh gerakku lamban,, saat naik gerakku cepat, ,, ??" ucap Farika tersenyu sambil memandang Ragil.
Ragil pun mengerenyitkan dahinya dan berpikir.. begitupun yang lainnya ikut berpikir.
"kapas jatuh "tebak Ragil.
"Salah" ucap Farika.
"Daun jatuh??" tebak Ragil lagi.
"Salah" jawab Farika tersenyum lebar.
"Wess nyerah saja Gill" goda Farika dengan senang.
"Tunggu.. tunggu. aku masih mikir!" ucap Ragil tidak mau menyerah
1 menit, 5 menit, berlalu,,
"Wes to.. nyerah to???" tanya Farika dengan wajah semangat.
"Hmm,, Yoo aku nyerah,, emang jawabannya apa?" tanya Ragil.
"jawabnya adalah.. Ingus meler! ha.. ha..." Farika tertawa ngakak melihat Ragil melongo tak percaya.
Dengan cepat Farika mengambil lipstick lalu mencoret panjang wajah. Ragil satu garis tepat dibawah hidungnya.
Botol kembali diputar,,
"Claa kamu sentimen sama aku ya,, masa aku lagi yang harus menjawab??" sewot Ragil dengan muka bercanda.
"Sentimen gimana,, ini botol yang pilih kamu kok!" ucap Clara disambut tawa renyah dari kita semua.
"Giliranku tanya ya..!" ucap Andini dengan wajah jahil..
"Hmmm,," jawab Ragil sambil menggaruk kepalanya.
"Siapa aku,, aku berlengan tapi tak menjari,, aku berbadan tapi tak berkaki" tanya Andini pada Ragil.
"Hahh.. apaa ya?" ucap Ragil sambil berpikir.
"Sudah gak usah kelamaan mikir kalau ga tahu jawabannya" ledek Farika.
"Ssssttt,, jangan ganggu,, Abang lagi mikir nih!" ucap Ragil dengan wajah serius.
"Iihh,, Abang,, abangg bisa gak bangg!??" Andini mencolek genit Ragil.
"Ha.. ha.." tawa mereka pun pecah seketika..
"Nyerahh,, aku Nyeraah!! jawabannya apa!" jawab Ragil kesal.
"Jawabannya, Kemeja" jawab Andini dengan santai.
"Slompreet,, jawaban apa itu,, !!" teriak Ragil gak terima.
"Woii.. woi,, sudah nyerah Bang, saatnya adek mendandanimu!!" sahut Andini cepat dengan senyum kemenangan.
"Ga.. gak.. Mau..!" teriak Ragil bersiap berdiri.
__ADS_1
"Ha.. ha..." semua tertawa melihat Andini mengejar Ragil yang kabur menghindari polesan lipstick dari Andini.
"Curangg, kalian.. curang... gara-gara aku cowok sendiri masa iya dianiaya begini!" omel Ragil yang mukanya berhasil dicoreti lipstick oleh Andini.
Menikmati keseruan sore, tanpa terasa hari perlahan mulai menjelang sore,, kelimanya mandi dan bersiap untuk pesta barbeque merayakan ulang tahun.
Matahari mulai tenggelam,, suasana taman belakang pun kini terlihat berbeda,, lampu kelap-kelip dipasang menggantung diantara cabang pohon.
Membuat pemandangan taman menjadi cantik..
Tungku pemanggangan mulai mengepulkan asap,, kelima sahabat begitu asik bercanda sambil menyiapkan bumbu, macam-macam daging, aneka minuman dan kue diatas meja yang tidak jauh dari gazebo taman yang kini terang benderang oleh nyala lampu.
Tepat jam 7 malam orang tua Clara ikut bergabung bersama kami.
Bercanda sambil memanggang daging yang sudah diolesi saos barbeque sambil bercanda penuh keseruan.
Tiba-tiba seorang asisten rumah tangga datang menghadap,
"Non,, didepan ada tamu namanya Robin,,, katanya Non Clara yang mengundang" ucapnya.
Kami berempat pun terkejut,, saat nama Robin disebutkan.
Sementara Clara terdiam tampak kebingungan.
"Siapa Mbak?" tanya Papa Clara.
"Namanya Robin, Tuan"
"Teman barumu Cla?" tanya Mama.
"Iya Ma,, dia teman Clara" jawabnya tiba-tiba dengan senyum mengembang.
"Clara kedepan sebentar ya Ma" pamitnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Mamanya, Clara berlari untuk menemui Robin.
"Sstt,, jangan-jangan Robin yang disebut sama gadis yang dikafe itu?"
bisik Farika pada Andini.
Andini mengedikkan bahunya.
"Pa, Ma kenalin ini Robin, pacar Clara" ucapnya dengan berani.
Mama dan Papa tampak terkejut dengan pengakuan Clara, tak terkecuali kami berempat pun melongo dibuatnya.
"Selamat malam Om,, Tante" sapa Robin sambil tersenyum ramah.
"Malam" jawab Mama Clara datar.
"Clara,, ikut Papa sebentar" ucap Papa dengan wajah serius.
"Bentar ya Mas" ucap Clara pada Robin.
Dijawabi anggukan dan senyum manis dari Robin.
Clara segera menyusul Papanya yang berjalan menuju kedalam rumah,,
Sepuluh menit berlalu, tapi Clara dan Papanya tak kunjung keluar dari dalam rumah.
Tiba-tiba saja,,,,
*Pranggg...*
*Bughhh* terdengar benda besar yang terjatuh disertai keributan yang tak biasa dari dalam rumah.
__ADS_1
Segera Delila,, teman-temannya, Robin dan juga Mama Clara berlari ke arah asal suara,,
Semuanya membelalakkan mata,, melihat pemandangan didepannya,,...