
"Kenapa kaget ?? kaget aku tahu kamu mengancam keluargaku? menyesal?? bocah ingusan yang kamu remehkan ternyata tidak bisa diremehkan??" sinisku.
Sosok itu mendengus, lalu kembali menatapku,,,
"Lepaskan aku,, aku tidak ada urusan denganmu,,. lepaskaann!!" teriaknya belum mau menyerah.
"Dari awal aku sudah bilang, Kamu tidak ada urusan denganku kalau kamu tidak menyentuh temanku bahkan mencoba mengancam ketenangan keluargaku,, tapi sayangnya kamu terlalu bernyali untuk tidak memandang peringatanku sedikitpun!" ucap Lila dingin.
"Lepaskan aku,, aku janji tidak akan menyentuh atau mengancam keluargamu" pintanya memelas.
"Keluargaku kamu lepaskan,, bagaimana dengan semua teman-teman ku?"
"Aku hanya mau Clara saja!" jawabnya.
"Bermimpilah!!" sinis Delila.
"Tolong lepaskan aku, aku mohon, Aku juga mau hidup lagi,, aku mau bahagia,, aku juga mau membalas dendam!" ucapnya dengan tatapan kebencian yang masih terlihat begitu besar dimatanya.
"Sudah aku bilang aku tidak bisa melepaskan mu..
"Argggh,, kamu gadis sialan.. kamu brengs3k,, aku sudah memohon tapi kamu memang kurang ajar!" selanya tanpa menunggu Delila menyelesaikan kalimatnya.
Delila memutar matanya malas,
"Simo kembalilah ke tempatmu!" ucap Delila dengan suara lirih.
Delila lalu melangkahkan kakinya bersiap keluar dari dunia lain untuk kembali ketubuhnya.
"Tunggu.. kamu mau kemana??, lepaskan aku,, lepaskan aku dulu!!" menatap panik Delila.
"Segera urungkan niat burukmu,, atau sebentar lagi jiwamu hancur oleh tali itu" ucapnya dingin lalu mulai melangkahkan kakinya.
"Iya aku janji tidak akan menyentuh siapapun termasuk clara!!" teriaknya.
"Kamu tidak bisa menipuku!!" jawab Delila dingin sambil tetap melangkahkan kakinya dan perlahan jiwanya kembali masuk kedalam tubuhnya.
Sementara itu didunia nyata,, waktu sudah beranjak siang,,
Seno,. Paman Delila begitu terkejut ketika pagi tadi Ragil bersama Danu Tanuhardjo, ayah Clara datang kerumah.
Lebih terkejut lagi mendengar berita tentang kecelakaan yang menimpa keponakan kesayangannya.
Beruntung saat Ragil, dan ayah Clara datang Ibu serta ayahnya sedang keluar, hingga kabar tentang kecelakaan Delila cucunya bisa dirahasiakan sementara dari keduanya.
Seno menatap rumit kearah Delila yang sekarang terbaring lemah belum sadarkan diri.
Farika, Andini, juga Ragil sudah lebih dulu pamit pulang 1 jam setelah Paman Seno sampai dirumah sakit.
Didalam ruangan kini tersisa Delila yang belum sadarkan diri, Clara,. kedua orang tuanya, dan Paman Seno.
Seno sudah mendengar semua detil cerita tentang kejadian aneh sekaligus mengerikan yang terjadi kemarin malam.
"Kamu percaya cerita kami semua Seno?" tanya Papa Clara dengan wajah terkejut.
"Saya percaya Mas" jawab Seno tanpa keraguan.
"Tapi bukankah ini tidak masuk akal Paman?" tanya Clara.
__ADS_1
"Hmm,, hal gaib memang tidak pernah masuk akal Clara" jawabnya dengan tatapan sendu.
"Apa Paman tahu kalau Delila punya kemampuan lebih atau ilmu beladiri?" tanya Clara penasaran.
"Setahu Paman Delila tidak punya kemampuan yang kamu sebutkan tadi" jujur Seno.
"Tapi mendengar cerita dari kalian,, Delila mungkin saja bisa sedikit bela diri" tambah Seno.
"Paman, Clara sekali lagi minta maaf sudah membuat Delila jadi celaka!" ucap Clara merasa bersalah.
"Bukan kamu yang buat aku celaka Cla,, ini bukan salahmu" terdengar suara Delila yang ternyata sudah siuman dan menanggapi ucapan Clara yang sempat didengarnya.
Semua menengok kearah Delila yang terbaring.
"Delila!!" seru Clara dengan wajah senang.
Delila tersenyum tipis menandakan dia sudah baik-baik saja.
"Dasar anak nakal membuat kami semua cemas!" ucap Paman.
"Maaf" ucapku tulus.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanyaku pada Clara sambil menatap bergantian kearah kedua orang tua Clara.
"Semuanya baik-baik saja Nak, terima kasih kamu sudah menolong kami" ucap Mama Clara dengan lembut.
Sementara Papa Clara menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
"Sama-sama Tante" ucapku sambil tersenyum tipis.
"Permisi,, kita periksa dulu ya!" ucap dokter pria paruh baya mendekati tempat tidur.
Paman pun mempersilakan,
Dokter paruh baya itu mendekati Delila,, sejenak terlihat dia mengernyitkan dahinya.
Dalam catatan disebutkan,. di pemeriksaan pertama Delila tidak mengalami luka internal, hanya luka luar.
Tapi pemeriksaan kedua Delila masuk masa kritis karena adanya luka dalam yang mengenai hatinya.
Siang ini luka dalam itu hilang tak berbekas.
Dokter itu hanya menatap heran kearah Delila seolah ingin menanyakan sesuatu pada Delila.
Tapi Delila hanya tersenyum tipis pada dokter yang menatapnya.
"Gimana keponakan saya dokter?" tanya Paman.
"Baik,, semuanya baik,, besok pagi Delila sudah boleh pulang" ucap Dokter Kelvin,. nama yang tertera di nametag yang terpasang didada kanannya.
"Alhamdulillah.." serempak berempat mengucap syukur.
"Dokter kalau pulang sekarang boleh kan?" tanyaku yang sudah tidak sabar untuk keluar dari rumah sakit.
"Belum bisa Nak,, kita perlu memastikan semuanya benar-benar baik, dan tidak ada komplikasi,, hanya sampai besok pagi,, kalau semua aman besok pulang,, jadi bersabar semalam saja ya!" jawabnya.
"Sudah jangan bandel,. dengar kata dokter!" tegur Paman.
__ADS_1
"Inggih,,, sendiko dawuh!" jawabku sambil meledek Paman.
(Iya, siap dilaksanakan)
Paman tersenyum mendengar jawaban asal dari mulutku.
"Delila, maaf Om sama Tante masih ada urusan,, kita pamit dulu ya!" ucap Om Danu.
"Iya Om, terima kasih. Maaf ya Om Delila merepotkan!" ucapku sungkan.
"Bukan merepotkan Nak,, ini sudah tanggung jawab kami" jawab Om Danu.
"La,, terimakasih ya.. besok pagi aku sama yang lainnya pasti kesini" ucap Clara.
"Terimakasih juga Cla!" jawabku sambil tersenyum tipis.
"Seno kami pamit ya,, tolong jangan sungkan untuk menghubungi kami kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu" ucap Om Danu pada Paman.
"Baik Mas,, terima kasih,, hati-hati dijalan" ucap Paman Seno.
Clara dan keluarganya pergi meninggalkan kamar Delila, Hingga tersisa Delila dan Pamannya.
"Tidak ada yang kamu mau jelaskan La?" tanya Paman sambil menatap tajam keponakannya.
"Jelaskan apa Paman??" tanyaku santai.
"Jangan bohong lagi, apa yang kamu tutupi dari Paman??" tanyanya lagi.
"Bohong apa Paman,, sungguh ga ada yang Delila tutupi!" jawabku berkeras menutupi kemampuanku dari Paman.
"Paman ini bukan mulut ember, kenapa kamu masih tidak percaya pada Paman" ucapnya dengan tatapan bersedih.
"Percayalah Paman, tidak yang Delila sembunyikan,,"
Paman menarik napasnya dalam-dalam.
"Ya sudah,, yang penting lain kali lebih hati-hati,, jangan sampai kamu celaka lebih parah dari ini," ucap Paman lalu duduk disofa tak jauh dari tempat tidur ku.
"Baik Paman" jawabku.
Pamannya kini bersandar disofa sambil memejamkan matanya,
"Paman, apakah Nenek sama Kakek tahu tentang ini ?"
"Belum,, Paman belum memberi tahu mereka"
"Emm,, tolong jangan beritahu mereka Paman, Delila tidak mau membuat nenek sama kakek kuatir"
"Paman pikir juga sebaiknya begitu,, tapi kamu yakin, kamu baik-baik saja??"
"Delila baik Paman,, seperti yang Paman lihat,, Ehhmm apa gak sebaiknya Paman pulang saja,, kasihan kalau Nenek butuh sesuatu. Tolong sekalian Paman kasih tahu Nenek, Delila ijin menginap dirumah Clara untuk beberapa hari kedepan"
"Paman pulang sekarang gak masalah,, tapi kamu?? kamu mau apa lagi nginap dirumah Clara?? Nggak Paman nggak akan ijinkan,, Paman gak mau terjadi apa-apa lagi sama kamu!" tolak Paman.
"Paman,, percayalah tidak akan terjadi sesuatu yang membahayakan. Delila mohon Paman,, hanya 3 hari saja Paman,, boleh kan Paman" ucapku memohon.
"Jelaskan dulu kamu mau apa menginap lagi dirumah Clara??" ucap Paman sambil menatap tajam kearahku.
__ADS_1