
"Papa tega,, bukannya memang itu pilihanmu!" ucap Papa dengan santai.
"Tapi Julia gak perlu memilih kalau Papa sama Mama merestui hubungan kami!" ucap Julia bersikeras.
"Heh,, merestui kalian,, terus harta yang Papa kumpulkan habis tak bersisa karena kebodohanmu memilih pasangan!!" Hina Papa.
"Pa Mas Robin tidak mencintai Julia karena harta Papa,,!" bela Julia.
"Siapa yang mau dia tipu?? Papamu ini sudah banyak makan asam garam,, Papa tahu betul orang seperti apa Robin itu!"
"Paa..
"Jangan berteriak Julia,, Cukup Papa tidak mau bahas lagi tentang Robin,, silahkan jalani hidup susah yang kamu pilih!" tukas Papanya dengan cepat.
Kedua orang tua Julia masuk kedalam kamarnya,, meninggalkan Julia dengan pikiran kalutnya.
Julia naik kekamarnya dengan langkah berat.
"Apa aku coba bunuh diri biar Papa sama Mama kasih restu?" pikir Julia.
"Hahh.. aku mau Robin tapi aku juga gak mau hidup sudah!!" Omelnya didalam kamar.
Julia adalah anak tunggal,, sekaligus cucu perempuan satu-satunya dari keluarga Ardhana,, membuat gadis cantik ini tumbuh bukan hanya bergelimang harta tapi juga kasih sayang yang berlimpah dari seluruh keluarga besar.
Ditambah lagi Julia yang manja ini cukup berprestasi baik dibidang akademik maupun non akademik. Gelar juara karena kepiawaiannya memainkan piano bahkan sampai tingkat internasional disabetnya.
Piala, medali serta piagam kejuaraan tingkat nasional dan internasional berjajar di lemari khusus piala yang di pasang di dinding depan piano yang ditaruh didekat tangga.
Gadis cantik nan manja ini selalu mendapatkan apapun dengan mudah,, jika kali ini dia disuruh hidup susah,, maka itu sebuah pengorbanan dan beban terberat dalam hidupnya.
Tapi demi cintanya pada Robin kali ini Julia tidak mau mengalah apalagi menurut pada orang tuanya.
Jadilah Julia menjalani harinya dengan menggunakan kendaraan umum,, karena tidak ada uang lebih saat kekampus dia terpaksa membawa bekal dari rumah.
1 bulan berlalu,, Julia tetap kokoh dengan pendiriannya.
Siang terik,, di hari Sabtu dengan peluh membasahi tubuhnya Julia berjalan menuju cafe tempat Robin manggung.
"Siang Mbak Julia!" sapa salah seorang karyawan cafe yang mengenal baik Julia karena seringnya datang ke cafe ini.
"Mau pesan seperti biasa Mbak?" tanyanya.
"Emm,, enggak aku hanya mau ketemu Robin" jawab Julia dengan kikuk.
"uang aja gak ada,, gimana mau pesan" batin Julia dengan ngenesnya.
"Robin sudah datang Mbak?" tanya Julia.
"Belum Mbak,, paling bentar lagi"
"Oww,, ya sudah aku tunggu saja lah"
Julia kemudian menunggu ditempat istirahat karyawan,, yang berada disamping ruang manajer cafe tepatnya disamping panggung yang biasa dipakai Robin tampil.
Tanpa terasa sore mulai menyapa,,tapi yang ditunggu belum muncul juga,, padahal cafe sudah mulai ramai dengan pengunjung.
Tanpa terduga ada sosok lain yang tampi,, dan itu bukan Robin. Julia
bergegas menuju ruang manager,. yang kebetulan kenal dekat dengannya.
"Tok.. tokk.. Kak Erlans boleh aku masuk" ijin Julia
"Hmm,, masuk saja"
__ADS_1
"Ada apa Julia,, tumben kamu mau ketemu sama aku!" ucap pemuda yang sedang duduk di balik meja kerjanya.
Julia menatap pria tampan berusia sekitar 25 tahunan itu dengan serius.
"Kamu tau hari ini Robin gak manggung?"
"Oww masalah Robin,,, barusan ada temannya datang kasih kabar, tadi siang adik perempuannya kecelakaan, sedangkan ibunya pingsan karena darah tingginya naik" jawab Erlans.
"Dirumah sakit mana Kak ?"
"di RSUD"
"Trims infonya Kak,, aku balik dulu ya!" pamit Julia.
Julia dengan cepat keluar dari cafe dan berniat menuju rumah sakit,
Sampai didepan cafe langkahnya terhenti.
"Uangku hanya tersisa 5 ribu,, hanya cukup buat ongkos pulang,, gimana ini??" bingung Julia.
"Apa aku hutang di Erlans dulu ya?" pikir Julia
Julia bergegas masuk kembali ke dalam cafe dan berjalan menuju kantor Erlans.
"Kak" panggil Julia dari depan pintu.
"Masuk,, lhaa kamu belum jalan?" tanya Erlans melihat Julia masuk kekantornya lagi.
"Emm,, Kak,, itu bisakah minta tolong gak?" tanyaku malu-malu.
"Minta tolong apa!?" tanya ya dengan heran
"Emm itu,,. dompetku ketinggalan ,, itu boleh pinjam uang gak?" tanyaku.
"Owwhh, kirain tolong apa,, butuh berapa Julia?"
"Emm 1juta saja Kak,, emm Sabtu depan aku bayar ya"
"Gampang lah kalau masalah itu,, aku percaya sama kamu" ucap Ericks.
"Terima kasih Kak,, Kamu mang terbaik" ucap Julia dengan senang.
"Tapi baik saja gak bisa bukain kau cinta sama aku ya" gumam Erlans dengan lirih
"Kenapa Kak??"
"Ohh,, aitu, gak apa-apa,, ini uangnya,, kamu pakai saja" gugup Erlans.
"Yess,, terima kasih ya,, oke Kak aku jalan dulu ya,, Daagh Kak" ucap Julia dengan semangat
Julia segera berlari keluar,, setelah itu dia memanggil ojek dan pergi ke rumah sakit.
Perjalanan kerumah sakit hanya memakan waktu 10 menit,, setelah Samapi dia langsung membayar ojek dan segera berlari ke resepsionis rumah sakit.
"Permisi Mbak pasien bernama Ellis Aryani dirawat dikamar no berapa ya?"
"Tunggu sebentar ya Mbak,, pasien dirawat dikamar Kamboja no 21b"
"Terima kasih Mbak"
Julia dengan tergesa-gesa mencari kamar Kamboja,, ruang rawat yang ditempati adik perempuan Robin.
Setelah berjalan memalui koridor panjang rumah sakit,, akhirnya Julia berhasil menemukan ruang rawat Ellis.
__ADS_1
"Mas" sapa Julia pada kekasihnya.
Tampak Robin duduk menunduk diantara ranjang ibunya dan ranjang adiknya,
"Kamuu!" ucap Robin tidak bersemangat dan menatap sekilas Julia.
"Gimana keadaan Ellis,, keadaan Ibu??" tanya Julia.
"Ellis agar otak ringan,, tangannya parah,, sebentar dia harus operasi pemasangan pen,, sedang Ibu dia terkena stroke ringan" ucapnya dengan sendu.
"Kamu yang sabar ya Mas,, kamu pasti kuat" ucap Julia menguatkan kekasihnya.
"Mas sudah makan?"
"Aku gak lapar"
"Jangan begitu,, kalau kamu gak makan terus jatuh sakit siapa yang akan merawat Ellis juga Ibu??"
"Sudah aku keluar sebentar ya aku beli makanan buat kamu!" ucap Julia lagi.
Dengan cepat Julia keluar dari ruangan bernomor 21 itu.
15 menit kemudian Julia kembali sambil membawa 2 botol besar air minum kemasan dan sebungkus nasi untuk Robin.
"Makan lah Mas,, biar aku bantu jaga Elis juga Ibu"
"Terima kasih Julia"
"Sama-sama Mas"
Robin makan tanpa semangat,, tapi dia tetap berusaha makan demi menjaga Adik dan Ibunya.
Robin dan adiknya seorang anak yatim,, ayahnya meninggal dunia satu minggu setelah Ellis dilahirkan karena kecelakaan.
Hingga membuat Robin sebagai anak pertama sudah harus bekerja membanting tulang menjadi tulang punggung adik dan Ibunya.
Selepas SMA dia memilih bekerja serabutan,, dan di sore harinya menjadi penyanyi dibeberapa cafe bersama grup band yang terbentuk sejak kelas 1 SMA.
Robin selesai makan,,
"Terima kasih ya" ucap tulus Robin.
"Mas,, aku harus pulang,, sudah malam,, Emm ini aku ada uang sedikit,, lumayan bisa bantu biaya Ellis juga Ibu,, nanti aku usahakan cari uang lagi buat bantu kamu ya" ucap Julia sambil menyerahkan uang sisa hasil pinjamnya dari Erlans.
"Jangan Julia,, aku gak bisa menerimanya" tolak Robin
"Kak,, tolong jangan tolak,, atau aku akan sedih karena kamu gak menganggap niat baikku"
Dengan terpaksa Robin akhirnya menerima uang pemberian Julia.
"Oke,, aku pulang dulu ya Kak"
"Hmm hati-hati dijalan, maaf aku gak bisa antar kamu"
"Its oke,, aku ngerti" jawab Julia.
Julia lalu keluar dan mencari ojek untuk pulang kerumah.
Sementara itu selepas kepulangan Julia,,
"Permisi,, kamu yang namanya Robin?!" tanya seorang pria berumur sekitar 35 tahunan dengan perawakan kekar tidak kalah dengan perawakan Robin.
"Iya saya Robin,, ada perlu apa ya??"
__ADS_1
"Keluar lah aku ada perlu denganmu!!"