Rahasia Rumah Clara

Rahasia Rumah Clara
Langkah Terakhir 02


__ADS_3

Hutan yang begitu rimbun membuat cahaya matahari terhalang untuk masuk membuat suasana didalamnya sedikit gelap,,


Hingga Julia tidak melihat lubang besar yang menganga dibawahnya.


Julia terperosok dan jatuh kedalamnya.


Namun keberuntungan masih berpihak pada Julia, sehingga tepat sebelum badannya terjatuh ketanah, kakinya tersangkut akar yang menjulur.


Dengan susah payah Julia berhasil turun dengan selamat didasar lubang yang ternyata menghubungkannya dengan sebuah pintu gua.


Dengan perasaan was-was Julia mulai berjalan menyusuri gua yang gelap dan lembab itu.


*tik.. tik.. tikk" terdengar suara titik air jatuh menggema diruang goa yang berukuran cukup besar.


Lelah berjalan,, Julia memilih beristirahat dan duduk diatas lantai gua dan menyandarkan tubuhnya disebuah batu yang berukuran cukup besar.


Angin dingin mulai berhembus masuk kedalam gua, hingga terasa menusuk tulang.


Julia segera meringkuk memeluk kedua lututnya nya menahan rasa dingin yang dirasakannya.


"Apa yang sudah aku lakukan,?? kenapa aku ada disini??" gumamnya lirih.


Suasana gua yang gelap membuat Julia tidak mengetahui waktu.


Tanpa tersadar Julia tidur dengan nyenyak.


Entah sudah berapa lama Julia tertidur,, tiba-tiba saja dia terbangun ketika dia merasakan tubuhnya terlilit sesuatu dan terangkat dari atas lantai gua.


Julia segera membelalakkan matanya,, melihat kepala ular berukuran besar,, dengan kedua mata yang merah dan kulit keemasan bersinar tepat berhadapan muka dengannya,, sementara tubuh ular itu melingkar dan melilit tubuh Julia.


Julia menatap takut kearah ular itu.


"Apa kamu masih berniat membalas dendam cah ayu?" terdengar suara seorang nenek menggema pelan didalam gua.


Julia hanya terdiam masih dalam keadaan terkejut dan takut hingga membuatnya tidak mampu membuka mulut.


Perlahan dia Isa merasakan lilitan ular itu melonggar,,


*Sshhh* terdengar desisan yang menakutkan,,


Tubuh Julia seketika gemetar merasakan takut yang luar biasa.


Hanya dalam hitungan detik ular besar itu menghilang dari pandangan matanya,, berganti asap tipis yang mengepul.


"Ojo Wedi cah Ayu," lagi-lagi terdengar suara nenek-nenek tapi tanpa wujud yang bisa dilihat olehnya.

__ADS_1


Bu kuduk Julia meremang,,ingin rasanya dia berlari,, tapii seolah kaki dan tubuhnya terpaku,, Julia diam tak bergeming dari tempat duduknya.


Tak berapa lama dari menghilangnya asap tipis,,, tiba-tiba muncul sosok nenek tua,, tubuhnya berdiri tegak dengan tongkat berkepala ular ditangannya.


Pandangan matanya terlihat begitu tajam seolah mampu menembus jantungnya.


Julia menatap kearahnya tanpa berkedip,, desir angin yang aneh melewati tengkuk Julia. Membuat gadis berusia 22 tahunan itu bergidik.


"Ora usah wedi,, ora usah bingung,, aku bakal nulungi niatmu kanggo mbales dendam"


"Nenek siapa?? darimana nenek tahu??" tanya Julia memberanikan diri.


"Panggil aku Nini Kalungga,, Kalung sing bok gawe, iku kalung turun temurun, kalung delima darah,, kalung kekayaan turun temurun dan aura yang menarik" ucap Nenek tua itu sambil melihat kalung yang dipakai Julia.


Julia meraba kalung yang dipakainya.


Benar yang dikatakan Nenek didepannya, kalung yang dipakainya itu memang kalung pemberian sang Nenek dari keluarga Ayahnya.


Hanya saja Julia tidak tahu kisah dari kalung yang dia pakai.


Kalung bermata batu delima berwarna merah darah,,. dan dibaliknya tertulis ukiran huruf Jawa sejenis ho, no ,co, ro, ko yang tidak dia mengerti.


Julia hanya tahu bahwa kalung yang dipakainya saat ini sudah turun digenerasi ke empat yaitu dirinya.


Dan ayahnya Wisnu Ardhana adala anak pertama dari keluarga Ardhana,, sedang Julia adalah anak pertama sekaligus cucu perempuan pertama dari keluarga Ardhana.


Sehingga Julia menjadi keturunan terpilih untuk memakai kalung delima darah itu.


Kalung yang tidak bisa dipindahkan tangankan ke orang lain,, atau diwariskan pada keluarga dari adik-adik ayahnya.


Bayaran untuk memakai kalung itupun Julia tidak mengetahuinya,,


Tumbalnya ternyata 2 nyawa adik kandungnya yang baru saja dilahirkan oleh ibunya. Itu sebabnya Julia menjadi anak tunggal.


"Kalung itu perjanjian antara Nenekmu dengan kami bangsa siluman. Dan kamu adalah keturunan terakhir yang akan memakai kalung itu.. Akhirnya perjanjian itu berakhir juga ditanganmu" ucapnya tersenyum misterius.


"Apa kamu jadi membalas dendam cah ayu?" tanyanya lagi.


"Iya Nini" jawab Julia tanpa keraguan.


"Apa kamu siap dengan harga yang harus kamu bayar untuk membalaskan dendammu itu?" sambil menatap tajam kearahku.


"Harga,, berapapun mahalnya akan aku bayar Nini"


"Apa kau tau bayarannya Cah ayu?" tanyanya dengan seringai aneh dibibirnya.

__ADS_1


"A.. apa itu Nini?" gugup Julia.


"Nyawamu,, juga nyawa anak yang ada dalam kandunganmu,, dan satu lagi semua jiwa dari orang yang kamu bunuh sebagai tumbal tambahan,, jumlah yang harus kamu persembahkan ditambah nyawamu dan juga nyawa anakmu adalah 13 nyawa,,,"


"Se.. sebanyak itu Nek??"


"Iya,, Jadi apa kamu yakin sanggup?" tantangnya.


"Saya sanggup Nini" jawabku nekat.


"3 hari ini berendamlah ditengah kolam yang ada di tengah goa ini, kalau kamu selamat dan tetap hidup,, maka kamu akan mengalami yang namanya malih rupo ( berubah secara penampilan), tapi kalau kamu mati saat berendam ditempat ini,, maka hanya arwahmu lah yang akan membalas dendam"


Julia terdiam mendengar penjelasan Nini Kalungga.


"Apa kamu tahu Cah Ayu,, apa kamu mau mundur?" tanyanya dengan senyuman tipis mengejek.


"Tidak Nini,, tekadku sudah bulat,, hanya saja jika aku mati,,. apakah Nini bisa membantuku untuk hidup kembali satu kali lagi?" tanya Julia.


"Hi.. hi.. hii,, opo kamu yakin mau hidup lagi" terdengar suara tawa Nini Kalungga yang memekakkan telinga sekaligus membuat bulu kuduk merinding.


Suara tawa yang sangat mengerikan lebih dari suara nenek lampir di serial televisi atau suara kuntilanak-kuntilanak yang digambarkan seram diacara dunia lain.


"Yakin Nini!" jawab Julia.


"Aku mau bertemu Robin,, aku mencintainya aku tidak bisa mati tanpa merasakan menjadi istrinya,, dengan hidup sekali lagi meski dalam wujud lain setidaknya aku bisa hidup bersamanya" pikir Julia yang masih merindukan dan mencintai Robin.


Sebuah cinta yang tak sampai, yang ingin diraihnya sekali lagi.


"Bisaa, tapi tidak hidup dijasadmu yang lama, kamu harus mencari wadah yang sama dengan weton lahir yang juga sama denganmu,, tapi setelah kamu mempersembahkan 13 nyawa yang tidak termasuk nyawamu dan anakmu!"


"Kenapa harus ribet begitu Nini,, weton? apa itu weton Nini??" keluhku.


"Gadis bodoh! weton itu hari dan pasaran lahirmu,, kamu terlahir di Jumat Legi,, cari wadah yang sama yaitu gadis dengan kelahiran Jumat Legi,, penyatuan dilakukan dibulan Suro sebelum Maghrib" jelas Nini Kalungga.


"Baik Nini, Aku mengerti"


"Mulailah pergi dan segera berendam,, setelah hari ketiga aku akan datang melihatmu!" ucapnya lalu menghilang begitu saja.


Julia bangkit berdiri,, berjalan menyusuri lorong gua.


Sedikit cahaya menembus masuk melalui lubang kecil diatas gua membuat Julia tidak terlalu kesulitan untuk menyusurinya.


Sampai ditengah gua dia melihat kolam yang cukup besar, dan tepat ditengah kolam ada dua batu besar yang menonjol,, dengan hati-hati Julia turun kearah kolam.


*sreeettt,,

__ADS_1


__ADS_2