Rahasia Rumah Clara

Rahasia Rumah Clara
Awal Pembalasan Dendam.


__ADS_3

*Bughh*


Julia tergelincir dan terguling kebawah hingga tubuhnya menghantam batu.


"Aggrhh" Erang Julia menahan sakit sambil meremas kuat perutnya.


"Abaikan,, kuatlah,, dendammu harus terbalas" terdengar suara bisikan di telinganya.


Julia terus menahan rasa sakit yang teramat sangat diperutnya, perlahan dia merangkak menuju kolam yang ada didepannya.


Julia masuk kedalam kolam,,air yang dingin menyapu kulitnya,,


Julia yang keras kepala mengabaikan rasa sakit, rasa dingin yang menyiksanya.


Dendamnya sudah mendarah daging,, sulit untuk dilepaskan begitu saja.


Toh menjalani hidup dengan rasa malu dan kehancuran yang tidak bisa diperbaiki juga tidak bisa disebut dengan hidup.


Kalau hidup maka dia harus memiliki identitas dan penampilan baru sesuai ucapan Nini Kalungga.


Tapi kalaupun memang akhirnya harus mati, itupun juga tidak masalah baginya asalkan setelah itu dia tetap bisa membalas dendam.


Julia mulai menggigil,, matanya berkunang-kunang dan tanpa dia sadari darah terus keluar dari selangkangannya,,


Sementara itu dari kejauhan tampak sepasang mata yang mengawasinya berkilat penuh kepuasan,, dan seringaian licik tersungging dibibirnya.


Julia mengalami pendarahan yang cukup hebat membuat air kolam disekitarnya berubah menjadi merah.


Fisik yang lemah,, tanpa makan,, ditambah pendarahan yang hebat membuat Julia yang baru berendam didalam kolam beberapa lama jatuh pingsan tak sadarkan diri.


Sayup-sayup dalam pendengarannya sebelum kehilangan kesadaran, dia mendengar suara gending layon yang tidak dia mengerti artinya,


Suara gending yang terdengar begitu mendayu lembut mengalun, seolah dipersiapkan untuk menghantarkannya ke dunia mimpi.


Perlahan Julia mulai kehilangan kesadarannya. Sementara darah terus keluar tanpa henti.


Wajahnya semakin putih memucat, seputih kertas.


Hingga akhirnya Julia menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Sosok yang terus mengawasinya tersenyum, dengan tenang dia berjalan kearah tubuh Julia.


Kalung yang dikenakan Julia tiba-tiba terlepas dan berpindah tangan.


Kalung delima merah darah itu kini sudah ada digenggamannya.


Kalung tanda perjanjian antara para pemuja kekayaan dan pemuja aura kecantikan, atau ketampanan.


Dengan sekali hentakan, tiba-tiba ruangan gua berubah sepenuhnya.


Jasad Julia yang awalnya terendam air kini tiba-tiba tergeletak ditepi jalan dengan baju penuh dengan darah.

__ADS_1


Hingga ditemukan oleh warga yang melintas dan melaporkannya pada kepolisian setempat.


Wisnu benar-benar terpuruk,, disaat berdekatan dia haru kehilangan anak dan istrinya.


Pada akhirnya dia memilih untuk bertahan ditempat yang sudah memberinya luka demi bisa melihat pelaku yang menghancurkan kebahagiaanya.


Satu bulan setelah kematian Julia,,, petugas kepolisian mulai menemukan titik terang pelaku perampokan sadis dirumah keluarga Ardhana.


Saat kejadian biadab itu terjadi Julia dan Mamanya sempat melawan dengan mencakar pelaku.


Dua identitas tersangka sudah dikantongi pihak kepolisan, melalui tes DNA dari darah yang tertinggal dikuku cantik Julia dan Mamanya.


Sebuah hal yang sangat mencengangkan bagi Wisnu melihat pelakunya ternyata adalah satpam yang baru bekerja beberapa minggu dirumah Wisnu,, dan satu orang yang tidak dia kenal, adalah sosok pelaku yang akhirnya berhasil diungkap oleh Kepolisian.


Introgasi terus dijalankan,, tapi keduanya memilih bungkam, tidak mau menyebutkan identitas anggotanya yang lain.


Masih tersisa 4 orang yang masih belum terungkap.


Perlahan Kepolisan menyusuri jejak pertemanan kedua pelaku,, namun ternyata masih jauh dari titik terang.


Kedua tersangka sudah diseret ke pengadilan, Jaksa menuntut hukuman mati pada pelaku atau tuntutan hukuman maksimal, namun hakim pada akhirnya hanya menjatuhkan hukuman pada masing-masing terdakwa selama 20 tahun penjara,,


Ketidakpuasan terlihat jelas diraut wajah Wisnu,, baginya hukuman itu tidak setimpal untuk penderitaan yang dirasakan anak, istri dan juga dirinya.


Tapi dia tidak punya pilihan selain menerimanya,,


Hari demi hari dilalui Wisnu dengan kemarahan yang besar,, dengan kekayaannya dai menyewa beberapa orang untuk mencari tahu 4 pelaku yang belum tertangkap dengan segala cara.


Sementara itu kedua terdakwa sudah dipindah kesebuah LP diSemarang.


Malam telah larut,, disebuah ruang LP,, dengan keadaan nyaris gelap masih terdengar suara percakapan dari 2 orang,


"Sial Run,, Harun lagi wae ape ngrasakno urep penak lah kok yo kecekel to,, apes tenan nasibku!" keluh seorang napi berbadan kurus tinggi dengan suara perlahan dengan wajah penuh dengan kekesalan.


(Sial, Run,, Harun baru saja mau merasakan hidup enak, kok malah tertangkap,, sungguh apes nasibku)


"Iyo Kang podo,, aku dewe yo lagi wae nglamar calon bojo, ulan ngarep ape dadi nganten lhaa malah mlebu penjara,," keluh pria yang berusia lebih muda.


(Iya Kang, sama,, aku juga baru saja melamar calon istri,, bulan depan mau jadi pengantin,, malah masuk penjara)


"20 tahun Run,, iso mati neng penjara tenan" sungutnya.


(20 tahun Run,. bisa mati dipenjara beneran)


"Lha terus karepmu piye Kang? Opo sampeyan duwe rencana?" tanya pria bernama Harun.


(Terus maumu gimana Kang? Apa kamu punya rencana)


"Opo awake dewe banding wae yo Run,, njaluk keringanan hukuman,!"


"Memange iso Kang?"

__ADS_1


"Yo pasti iso Run, kan polisi durung berhasil nyekel konco-koncone dewe,, nah awake dewe ngomong wae gelem diajak kerjasama,, asal Yo iku mau harus ono pengurangan hukuman kanggo awake dewe" jelasnya.


Malam semakin larut, meski tidak ingin mengakhiri percakapan mereka,, namun suara langkah sipir yang mendekat kearah ruangan yang mereka tempati, akhirnya keduanya memilih untuk berpura-pura tidur meringkuk diatas kasur lantai yang tipis.


Bunyi lonceng sesekali terdengar menandakan waktu sudah menunjukkan dini hari.


Hembusan angin dingin masuk disela-sela jeruji besi, pria yang tidur tidak jauh disamping Harun meringkuk dan merapatkan tubuhnya untuk mengurangi rasa dingin yang malam ini begitu menusuk tulang.


Sementara Harun sudah terlelap dan tidur dengan pulasnya.


"Huu.. huu.. uuu.." terdengar suara tangisan perempuan yang begitu menyedihakan.


Teman Harun seketika merasakan bulu kuduknya berdiri.


Ini jelas hal yang tidak masuk akal.


Lapas yang ditempatinya adalah Lapas pria, bagaimana mungkin ada wanita yang masuk ditengah malam seperti ini.


"Hu.. u.. u..." Lagi-lagi suara tangisan perempuan terdengar begitu menyayat hati, padahal pria itu sudah menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.


Dengan terpaksa dia membalikkan badannya ,. dan menatap kearah Harun, yang masih terlihat tidur dengan nyenyak.


Dalam keremangan malam dia melihat tepat didepan ruangan selnya


ada sosok berbaju putih dengan rambut panjang sekitar sebahu duduk jongkok membelakanginya.


Pria itu segera menggosok kedua matanya, memastikan apa yang dia lihat.


"Dengan menyeret paksa tubuhnya,, dia mendekat ke arah Harun tertidur,,


"Runn,,. tangi Runn,,,!" dengan tangan kirinya mengguncang pelan bahu temannya.


"Emmm,," Harun menggeliat.


"Tangii ,, Runn,, cepetan!!"


"Eneng opo Kang?" tanyanya dengan suara serak.


"Kui,, kuii enek,, enek setan Runn!" serunya degan wajah ketakutan.


"Setan opo to kang,,! sampean ngimpi to?"


"Kui Run,, kuii" pria itu menunjuk kearah sosok perempuan yang masih berjongkok dengan suara tangisannya yang terdengar memilukan.


Harun dengan terpaksa membuka matanya, lalu melihat kearah yang ditunjukkan Barno, pria berumur 35tahunan yang kini terlihat pucat ketakutan.


"Ndi to Kang?? ora ono sopo-sopo ngunu lho!" ucap Harun kesal merasa dipermainkan temannya.


"Buka matamu Run,, kui looo!" ucap Barno bersikeras sambil menunjuk satu arah didepan sel.


Tiba-tiba saja didepan Harun, Barno melotot,, dan tubuhnya luruh kejang sambil melotot seperti orang yang tercekik.

__ADS_1


"Tolongg,, toloonggg .." Harun berteriak panik


__ADS_2