Rahasia Rumah Clara

Rahasia Rumah Clara
Kejadian aneh


__ADS_3

"Clara berubah?? berubah gimana Pa?" tanya Clara dengan wajah terkejut pada Papanya.


Sementara Mama dan ketiga temannya mendengarkan dan menatap Papa Clara dengan wajah serius sekaligus penasaran.


" Apa hobi kamu Cla?" tanya Papanya.


"Papa kan tahu Clara hobi melukis,, sama shopping" jawab Clara sambil menatap aneh kearah Papanya.


"Kamu bisa main alat musik?" tanya Papa lagi.


"Aih,, kok aneh sih,, Papa kan tahu semuanya,, Clara mana bisa main musik,,, kalau dengerin musik suka,, kalau main musik ya enggak lah Pa" jawabnya.


"Tapi hampir setiap tengah malam Papa lihat kamu main piano yang ada dibawah tangga" ucap Papa sambil menatap putrinya yang kebingungan.


"Pa jangan bercanda,, Clara gak pernah main piano,, Clara gak ngerti cara main piano,, lagian jadwal tidur Clara gak pernah berubah Pa,, Clara selalu tidur paling lambat jam 10 malam,, Papa salah lihat itu gak mungkin Aku Pa!" jelasnya.


"Memangnya Papamu ini rabun atau buta sampai gak bisa lihat itu kamu atau bukan!?!" ucap Papa.


"Pantes aja kamu selalu ngantuk setiap jam kuliah,,!" sahut Andini.


"Tapii itu.., itu gak mungkin,, aku gak bisa main piano" ucap Clara kebingungan.


"Kamu bukan hanya sekedar bermain piano biasa saja,, tapi musik yang kamu mainkan seperti sudah pemain profesional,, Kamu juga semakin boros dan sering pulang terlambat apa kamu ga sadar??" tanya Papa.


"Clara bingung Pa?" jawabnya jujur.


Sesaat suasana kamar rawat pun hening. Masing-masing sibuk dengan pemikirannya, mencoba mencerna hal-hal aneh diluar nalar.


"Ya sudah besok kita bahas lagi,,. sekarang kalian pulang saja istirahat dirumah,, biar Papa sama Ragil yang jaga Delila!" ucapnya


"Nggak Om terima kasih,, kita disini saja, jaga Delila" Jawab mereka bertiga serempak,, tanpa sadar.


"Kalian yakin?" Tanya Mama Clara.


"Iya Tante,, biar saya, Andini, sama Ragil yang jaga Delila,,. Om,. Tante sama Clara istirahat saja,, kami baik-baik saja tapi Om juga Clara kan terluka jadi butuh istirahat lebih!" ucap Farika.


"Maaf" ucap Clara dengan raut wajah bersalah.


"Bukan salahmu Cla,, we are okay!" jawab Andini.


"Gak apa-apa Cla,, kamu pulang saja kasihan Papamu tadi terluka dan belum sempat beristirahat,," ucap Ragil sambil menepuk pelan bahu Clara.


Clara menatap terharu ketiga temannya,,

__ADS_1


"Terima kasih,, kalian semua sangat baik juga pengertian!" ucap Clara tulus.


"Kita teman Cla,, jangan sungkan!" ucap Ragil.


Clara tersenyum mendengar ucapan Ragil.


Kedua orang tua Clara juga ikut tersenyum melihat Clara kesayangannya memiliki teman-teman yang baik.


Clara dan kedua orang tuanya pulang kerumah meninggalkan Delila yang koma dibawah penjagaan tiga serangkai.


Selepas kepergian Clara dan orang tuanya,, Tiga serangkai itupun bernapas dengan lega,,


"Gil besok kamu jadi kerumah Delila buat kasih kabar ke keluarganya kan?" tanya Andini.


"Hmm, besok agak siang sama Om Danu!" jawab Ragil.


"Eh kalian ingat gak waktu Delila nendang kursi yang melayang kearah Tante sama Om Danu diruang makan?" tanya Farika tiba-tiba.


Ragil, juga Andini mengangguk.


"Sumpah aku gak nyangka sikulkas ini bisa salto bahkan bela diri,,,!" oceh Farika.


"Hmm,, keren banget!" ucap Ragil sambil menatap kearah Delila terbaring dengan pandangan kagum.


"Tapi kayaknya ada yang aneh" ucap Andini, membuat kedua temannya serempak menoleh kearahnya.


"Kamu ingat gak waktu Clara mau menyerang Delila,, itu yang waktu Clara kayak mau mencekik Delila,, kok bisa ya Clara mental dengan sendirinya??" ucap Andini pada dua temannya.


Farika dan Ragil pun terdiam karena mereka pun merasakan keanehan yang sama dengan Andini.


Ketiganya lalu saling memandang dengan tatapan bingung,, tanpa mereka sadari ketiganya kemudian kompak menatap Delila dengan tatapan penasaran,,


"Apa dia punya kekuatan?? jangan-jangan dia dukun??" ceplos Farika.


"Ishh,, dukun darimana aku gak pernah cium Delila ada bau-bau kemenyan atau bunga-bunga yang aneh,,,. dia juga gak pernah bawa barang-barang yang aneh jimat, keris atau apalah didalam tasnya" ucap Andini.


" Iya Din,, sama,, saat aku kerumahnya semua juga wajar gak ada yang aneh-aneh kayak rumah dukun yang punya koleksi klenik begitu" sahut Ragil yang beberapa kali main kerumah Delila.


"Lah terus kok bisa Clara terpental sekuat itu sebelum berhasil menyentuh Delila??" tanya Farika lagi.


"Mbuh lah Far,,. wes mengko pas Delila tangi, kita interogasi bersama-sama Yo!" ucap Ragil sambil menguap. ( Gak tahu lah Far,, sudah nanti saja, saat Delila bangun kita interogasi dia sama-sama).


"Wes jam 2, Kalian berdua tidur duluan,, biar aku yang jaga Delila!" ucap ragil.

__ADS_1


"Lum ngantuk Gil!" jawab Farika.


Ketiganya untuk sesaat diam sambil melihat tubuh Delila yang terbaring tak sadarkan diri.


Tiba-tiba ketiganya berdiri serempak menatap kearah wajah Delila,


*Brusshh*


Mulut Delila menyemburkan darah,,.membuat wajah Delila tertutup darahnya sendiri.


"Panggil dokter Gill,, cepetan!" panik Farika.


"Tombol,, tombol darurat aja tekan cepet?!" Andini tak kalah heboh.


Tombol merah emergency didekat tempat tidur segera ditekan Ragil,,, Dalam waktu beberapa menit seorang dokter perempuan yang masih muda dan seorang perawat yang berjaga masuk kedalam ruangan dengan tergesa-gesa,


"Dok,, tolong Delila Dok,, darah keluar dari mulutnya,, tolong Dok!!" ucap Farika setengah berteriak dengan panik sekaligus cemas.


Dokter segera memeriksa keadaan Delia,, sementara perawat disebelahnya mengusap darah yang masih terus keluar dari mulut Delila.


Dengan cepat dokter memeriksa Delila,,


Saat stetoskop menempel didada Delila,, terdengar degup jantung Delila begitu cepat seolah habis berlari. Tiba-tiba dokter itu memicingkan matanya melihat ke arah dada bagian atas Delila yang kini muncul dengan perlahan tanda telapak tangan berwarna biru keunguan.


Itu kejadian teraneh di luar nalar yang tidak pernah dia tangani atau jumpai selama menjadi dokter.


Dokter perempuan itu sesaat menatap Delila dengan tatapan rumit.


Tak jauh berbeda dengan sang dokter,, perawat yang menyeka darah yang keluar dari mulut Delila pun juga tidak kalah terkejut melihatnya.


Sementara menurut catatan sebelumnya, kondisi Delila baik-baik saja tanpa luka dalam.


Sementara ketiga serangkai berdiri mematung dengan wajah penuh kekuatiran.


"Kita hubungi Om Danu!" ucap Farika.


"Jangan,, kita bertiga tunggu dulu,, mereka baru pulang beberapa jam lalu,, kasihan Papanya Clara,, kamu gak lihat wajah Papanya Clara babak belur begitu? biar mereka istirahat,, kita tunggu sampai dapat kabar dari dokter,, semoga Delila baik-baik saja" ucap Andini.


Ragil dan Farika menyetujui ucapan Andini.


Jantung ketiganya berdebar-debar karena was-was dengan keadaan Delila,, ketiganya diam membisu menunggu hasil pemeriksaan dokter.


*** Halo..Readers Yang kece badai,, sama kecenya dengan author.. kkkk ijinkan Author sedikit narsis ya 😂🙏🏻.

__ADS_1


Gimana ceritanya? sudah seru belum?? please komentarnya dong..


Kalau suka jangan lupa likenya ya.. thankyou.. lup yuu pull...😘


__ADS_2