
Sapto berteriak melotot sambil menunjuk kearah belakang Harun.
Sementara itu rekan Sapto, yang bernama Karyo kebingungan dengan tingkah Sapto yang jelas ketakutan.
"To,, Sapto!! woii!! sadar,, gak ada apa-apa,, woii kamu mabuk Yo!!" teriak Karyo sambil mengguncang bahu Sapto dari samping.
Sementara Harun bergidik ngeri, dengan perlahan dan tubuh gemetar, Sambil menahan napasnya Harun perlahan menoleh kebelakang dengan rasa takut yang luar biasa.
"Hhhh" Harun merasa lega karena ternyata tidak ada apa-apa dibelakangnya.
"Wah kurang ajar pean To,, ora ono opo-opo ngene lho!" kesal Harun merasa dipermainkan.
"Aku gak mabuk,, aku gak asal ngomong Run,, Kang,, sumpah setann perempuan berbaju putih tadi dibelakang Harun,, gak mungkin pean gak ngerasain apa- apa Run,, wong aku bisa lihat setan itu berbisik di telingamu!" omel Sapto.
Harun terdiam kerena sesaat sebelum Sapto berteriak memang dia dia merasakan hembusan angin aneh ditengkuk dan telinganya yang membuat dia bergidik ngeri.
Sementara Karyo, pria yang usianya lebih tua dari keduanya hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya.
Untuk beberapa menit ketiganya terdiam dan larut dalam pikirannya masing-masing.
Sementara mereka bertiga ketakutan.
Dirumah Julia tinggal,, Wisnu ayah kandung Julia terduduk lemas menatap kearah meja rias milik mendiang istrinya.
"Tidak perlu membalas dendam,, itu bagianku" Wisnu terus menatap tulisan merah darah yang tertulis dicermin meja rias yang biasa digunakan almarhum istrinya.
Kedua tangannya terkepal dengan erat. Hampir beberapa bulan berlalu Wisnu yang membayar orang untuk menyelidiki komplotan Barno dan Harun sudah mulai mendapatkan titik terang.
"Aku tidak mau,, aku akan menghancurkan para binatang itu dengan tanganku!! siapapun kau tidak bisa menghentikanku!!" teriak Wisnu dengan marah.
Hening,, sunyi tidak ada jawaban atas teriakan amarahnya.
Angin tiba-tiba berhembus, sementara jendela kamarnya tertutup dengan rapat.
Wisnu bergidik,, buku kuduknya meremang namun tetap tidak mampu membuat pria dipertengahan usia 40 ini takut.
Tanpa menunggu lama,, kini tiba-tiba muncul sosok bayangan putih didepannya.
Perlahan namu pasti sosok putih yang awalnya belum kelihatan jelas kini mulai terlihat nyata didepan matanya,
"Julia, sayang" Wisnu mantap kearah sosok berbaju putih itu dengan terkejut.
Julia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Sayang,, anakku,," Wisnu meratap dengan air mata yang tidak terbendung lagi.
"Maaf nak,, maafkan Papa tidak bisa melindungi mu dari para binatang biadab itu,, maafkan Papa Julia" Wisnu meratap penuh penyesalan merasakan rasa bersalah yang besar dihatinya.
"Papaa tidak bersalah, Papa pergilah mulailah hidup baru tanpa kami. Dendam ini Papa tidak boleh membalasnya,, Aku yang akan menuntut pembalasan dari mereka semua dan menuntut mereka berkali-kali lipat" Suara Julia terdengar menggema didalam kamar utama.
"Tidak nak,, biar Papa,, Papa saja yang mencincang mereka!!" tolak Wisnu.
"Aku mohon turuti permintaanku kaIi ini saja Pa,, jangan ikut campur lagi masalah pembalasan dendam ini, Pergilah Pa mulailah hidup Papa yang baru. Berbahagialah Pa meski tanpa kami. Kami menyayangimu" pinta Julia dengan mata berkaca-kaca.
"Anakku yang malang.. kesayangan Papa" Wisnu berlutut dilantai dengan muka menempel diubuin dan menangis dengan pedihnya.
"Julia pamit Papa,," Lalu sosok itupun hilang seperti terbawa angin.
Wisnu mendengar putrinya yang pamit pergi segera menengadahkan kepalanya dengan air mata yang masih meleleh dipipinya,,
"Julia.. tidak nak,, juliaa jangan pergi sayang,, Anakku, kesayangan Papa" panggil Wisnu setengah berteriak dengan putus asa.
Wisnu kembali terduduk lemas diatas lantai yang dingin dengan tatapan kosong, membiarkan sisa air mata yang masih menggenang dikedua pelupuk matanya.
Rasa sakit dihatinya begitu besar. luka didadanya menganga dengan lebar. Tak bisa dibayangkan olehnya dimasa senja usianya dia harus kehilangan anak tunggal dan juga istri tercintanya dengan cara yang teramat tragis.
Kini sang putri memintanya untuk melupakan semua dan memulai hidup baru dan berbahagia.
Matahari sudah mulai muncul dari ufuk timur ketika Wisnu akhirnya berdiri.
Menatap nanar keseluruh ruangan kamar miliknya dan menarik napas dalam.
Dealer miliknya sudah diakuisisi oleh rekan bisnisnya, dan rumah yang ditempatinya pun sudah diserahkan pada broker terpercaya untuk dijual.
Memenuhi permintaan terakhir putrinya,. Wisnu akhirnya melepaskan dendamnya dan membiarkan putrinya yang membalas sesuai keinginannya.
Wisnu berkemas,, dan satu Minggu setelah pertemuan ya dengan arwah Julia, putrinya Wisnu pergi dari Semarang.
Semenjak hari itu tidak ada yang tahu keberadaan Wisnu,, dia menghilang seperti ditelan bumi.
Kembali ke kampung halaman Harun, malam setelah sempat berkumpul dengan kedua rekannya, dia segera pulang kerumahnya meninggalkan Sapto dan Karyo yang masih menikmati waktu menenggak minuman keras dirumah kosong.
Harun berjalan dengan cepat menuju rumahnya yang masih sekitar 20 menit waktu perjalanan dari rumah kosong yang tadi disinggahinya.
Sambil berjalan Harun makin memantapkan rencananya untuk kabur ke Sumatera.
Tiba didepan halaman rumahnya Harun mengetuk jendela samping rumahnya yang dia tahu itu adalah kamar adik laki-laki satu-satunya.
__ADS_1
*tok..tok..*
"Fan,, Reifan,,, bukain pintu Fan,, ini Mas!" ucapnya setengah berbisik.
Harun menunggu beberapa saat menunggu jawaban sang adik.
*Tok.. tok.. tok*
"Fan.. Reifan!" panggilnya sekali lagi.
"hoammm" terdengar suara adiknya menguap.
"Siapa sih?" tanyanya dengan kesal.
"Ini Mas Harun Dek, cepet bukain pintu!" ucapku.
"Oh,, iya Mas,,Iyya!"
Harun kemudian berjalan ke pintu depan.
"Mas,, Mas kok pulang sudah bebas Mas?" Tanya Reifan keheranan dengan wajah masih mengantuk.
"Wes gak usah cerewet,, kono balek turu maneh!" jawab Harun.
"Hoaam,, Iyo Mas,, aku tidur lagi aja" Reifan tidak lagi menggubris Kakaknya dan kembali masuk kedalam kamarnya.
Sementara Harun segera menutup kembali pintu rumah dan menuju kekamarnya.
Segera dia membaringkan tubuhnya, karena kelelahan dia tertidur dengan nyenyak.
Hingga siang menjelang,, Harun pun terbangun karena rasa lapar yang mengganggunya.
Harun keluar dan berniat kedapur untuk mencari makanan.
"Kamu berani pulang apa mau mencelakai kami Run!? Apa ora cukup kowe gawe wirang (malu) keluargamu! opo Kowe pengen Bapakmu Iki nyusul Biyungmu! " Tegur ayahnya yang duduk dikursi kayu depan kamarnya.
"Bapak?? Biyung pergi?? Pergi kemana?" Harun kebingungan mendengar ucapan ayahnya.
" Gara-gara kelakuanmu, Biyungmu keno serangan jantung, nyowone ora iso dislametke,, wes puass,,, seneng!!" Marah Ayahnya.
Harun seketika lemas, tidak menyangka kepergian ibunya.
"Maaf Pak,, Maafkan Harun! Harun khilaf" ucapnya dengan penuh penyesalan.
__ADS_1
"Pergi.. gak usah kembali kerumah ini!" Usir ayahnya.