
"Hahah, itu terserah kepadamu karena aku sudah memberikan keringanan kepada mu untuk mengakuinya secara baik-baik" Ujar Stella dengan tertawa lepas.
"Jangan macam-macam ya Stella! Aku tidak akan segan-segan bertindak lebih kasar dari ini jika kamu berani mengancam ku. Apa kau perlu uang? Aku akan memberikan berapapun yang kau mau, asalkan kau pergi meninggalkan Kairo dan pergi jauh dari kehidupan kami. Atau perlu, aku akan membayar nyawa ibu mu itu agar kau pergi dan tidak mengungkit kecelakaan itu lagi" Ujar Bella mencoba bernegosiasi.
"Jika kau tidak mau pergi secara baik-baik, maka jangan salahkan aku jika suatu saat berlaku kasar kepadamu" Lanjut Bella lagi memperingati.
"*Cih*, kamu pikir aku akan diam begitu saja? Hah? Ingat ya Bella, aku tidak akan berhenti membuat mu menderita sampai kau menyesal karena sudah membunuh ibu ku. Kairo yang kau cintai itu, sebentar lagi akan aku pastikan akan segera meninggalkan kamu. Dan setelah itu terjadi, kau akan menyesal karena sudah salah berurusan dengan siapa saat ini" Stella balik memperingati Bella dengan mengecam keras tindakan Bella.
"Dan satu lagi! Cepat atau lambat, aku akan membuatmu masuk penjara. Ingat itu! Oh ya! Sudah dulu ya! Sepertinya suami kita, eh, suamiku maksudnya sudah menungguku sejak tadi. Dia akan khawatir jika aku lama-lama berada di luar" Setelah mengatakan itu, Stella pun pergi meninggalkan Bella begitu saja yang masih mematung.
Bella menggeram, sungguh tidak mudah untuk membuat Stella takluk kepadanya. Bella juga sempat memikirkan masalah perempuan yang dia tabrak waktu itu, "Jadi yang aku tabrak waktu itu adalah ibunya Stella?" Ujar Bella dengan lirih.
Dia pun balik ke kamar miliknya, dimana dulu itu adalah kamar dirinya bersama Kairo. Namun kini suaminya itu lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar Stella. Yang membuat kamar milik Bella terasa hampa dan penuh dengan kesunyian.
Di dalam kamar, Bella mengambil Handphone miliknya di atas nakas. Lalu menelpon Pengacaranya.
Tutttt
Tutttt
Tutttt
Suara handphone menyambung.
Tidak lama suara itu pun berhenti dan di gantikan dengan suara lembut seorang pria, "Hallo Nona!"
"Doni! Gimana sih pekerjaan kamu itu? Aku sudah menyuruh mu untuk membereskan masalah kecelakaan itu, tapi kenapa bisa seseorang mengetahuinya?" Bella langsung marah-marah, membuat Doni menyernyit heran.
"Kemarin memang sudah ada yang menggugat, dan aku sudah mengancam pengacara yang menggugat kasus ini Non. Kasusnya sudah di tutup, dan tidak ada masalah lagi!" Jelas pengacaranya itu.
__ADS_1
Bella masih diam membisu setelah mendengar perkataan Pengacaranya, "Apa Stella sengaja kembali karena sudah mengetahui bahwa aku yang sudah menabrak ibunya waktu itu? Jika dugaan ku benar, maka dia datang untuk membalas dendam untuk ku" Batin Bella curiga dengan segala persepsinya.
"Aku sudah tau siapa yang aku tabrak itu. Dan anaknya datang kepadaku dan mengacam ku. Kamu puas sekarang?"
Tittttt.
Bella pun mematikan teleponnya setelah mengatakan itu. Dia sangat kesal saat ini. Memikirkan Stella yang mengancamnya, membuat Bella merasa khawatir akan masa depannya.
"Aku tidak akan membiarkan Stella semakin bertindak semaunya di sini. Sepertinya memang harus aku yang turun tangan untuk menyingkir wanita itu" Lirih Bella dengan geram.
"Kita lihat, siapa yanga menang kali ini. Akan aku tunjukan posisi mu itu Stella. Bahwa kau itu hanyalah seorang istri pajangan yang tidak akan berguna untuk siapa pun" lirih Bella senang, yang terus tersenyum memperhatikan pantulan dirinya di dalam cermin.
"Sudah waktunya. Aku harus pergi menemui Mas Kairo" Ujarnya lagi setelah siap berhias.
Setelah keluar dari kamar, Bella melihat Kairo juga keluar dari kamar Stella, dan dia pun segera menghampiri dengan tersenyum sumringah.
"Mas!" Serunya dengan tersenyum manis.
Kairo sedikit tertegun, "Mas ayo!" Tidak lama Stella pun juga keluar, namun Stella juga terhenti melihat Bella yang juga sudah berdandan dengan cantik.
Dua wanita yang saling melempar tatapan tajam penuh kebencian, "Mas! Kau mengajak dia?" Tanya Stella dan Bella serempak. Lalu saling membuang muka setelah kalimat itu sama-sama keluar dari mulut mereka.
Kairo sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Awalnya dia hanya mengajak Stella, tidak di sangka Bella juga akan berdandan dengan sendirinya seperti ini.
__ADS_1
"Mas! Harusnya kan aku yang pergi. Kok kamu mau membawa pelakor ini sih"
Stella tidak membalas ucapan Bella yang mengatakan dia adalah seorang pelakor, dia hanya menggelayut di lengan suaminya itu dengan sangat mesra.
"Mas! Memangnya kamu mengajak dia? Aku rasa tidak kan? Gimana kalau kita pergi saja sekarang?" Ucap Stella lembut dengan sedikit sindiran.
Bella menganga lebar, "Heh kamu gak tau diri banget sih. Dimana-mana pelakor itu gak akan di anggap. Apa kamu gak malu datang kesana dengan status sebagai perebut suami orang lain?" Bentak Bella.
"Bella stop!"
Mata Bella langsung tertuju kepada Kairo yang membentaknya.
"Aku mendengar, kau selalu saja menghina Stella. Walaupun dia istri kedua, tapi aku memilih dia yang akan mengikuti aku ke pesta. Dan kau,,,tinggal saja di rumah" Sambung Kairo yang membuat senyum puas penuh kemenangan melukis indah di bibir Stella.
Sementara Bella? Dia diam membeku akan keputusan suaminya itu. Seharusnya dia yang pergi. Dan bukan Stella. Seharusnya dia yang di utamakan, dan bukan Stella.
Ketika hendak pergi, stella mendekat dan berbisik di telinga Bella, "Tidak selamanya istri sah akan selalu di utamakan! Ingat itu!" Stella pun menyunggingkan senyuman kemenangan, dan berlalu mengikuti Kairo yang sudah lebih dulu pergi dari sana.
.
.
.
.
Bersambung.
jangan lupa untuk like dan komen ya teman-teman ☺️
__ADS_1