Ranjang Hangat Sang Pelakor

Ranjang Hangat Sang Pelakor
Bab 34 Pertemuan di Restoran


__ADS_3

Bab 34 Pertemuan di Restoran


Disebuah restoran sederhana langganan biasa Toni dan Stella. Terlihat Stella melambaikan tangan ketika mendapati sosok Toni yang sedang duduk sendiri dengan secangkir kopi di mejanya.


Stella tersenyum dan duduk di kursi depan Toni, "Sudah lama nunggunya?" Tanya Stella.


"Ya lumayan. Tapi demi kamu aku rela nunggu sampai kapanpun" Jawab Toni dengan diiringi tawa kecilnya.


"Gombal aja. Sejak kapan kamu jadi suka gombal kayak gini?" Tanya Stella dengan menggelengkan kepalanya.


"Sejak aku mencintai mu!" Jawab Toni dengan tersenyum simpul. Stella menatap Toni dengan intens. Seakan meminta penjelasan lebih dari Toni.


"Hehe. Bercanda kok! Kamu serius banget sih" Ucap Toni lagi memecah keheningan.


Stella tersenyum lega. Nafasnya sempat tertahan mendengar penuturan sahabatnya tadi.


"Oh ya! Kamu mau jelasin apa sama aku? Kayaknya serius amat?" Tanya Stella langsung pada intinya dan menjadi alasan kedatangannya untuk menemui Toni hari ini.


Toni diam sejenak, menatap lekat wajah Stella.


Stella merasa salah tingkah. Tidak biasanya Sahabatnya itu menatapnya sedalam ini sebelumnya.


"To-Toni! Ka-kamu Ba-baik-baik aja kan? Kamu gak sedang ada masalahkan?" Tanya Stella terbata. Memastikan bahwa sahabatnya itu baik-baik saja.


"Ahh iya maaf. Oh ya, gimana hubungan kamu sama Kairo? Kamu gak lupa kan kedatangan kamu kesana untuk apa?" Tanya Toni.


"Aku masih ingat kok. Kamu tenang saja, aku tidak lupa tentang kematian ibuku!" Jawab Stella. Wajahnya tiba-tiba murung. Sebenarnya dia sedih jika mengingat kematian sang ibu.


"Kamu jangan sedih. Masih ada aku kok di sampingmu. Aku siap membantumu jika kamu butuh bantuan" Jawab Toni mencoba menghibur.

__ADS_1


Sementara itu, di tempat lain. Kairo sudah menerima rekaman video Stella dan Toni dari orang suruhannya.


"Aku masih ingat kok. Kamu tenang saja, aku tidak lupa tentang kematian ibuku!"


Kairo tidak bisa mencerna apa yang sebenarnya Stella dan Toni bicarakan. Mengenai kematian ibu Stella, Kairo sama sekali tidak tau. Karena Stella berkata bahwa ibunya pulang ke kampung halaman mereka. Dan Stella belum menceritakan semuanya mengenai kematian ibunya.


Kening Kairo mengkerut hebat, "Apa maksud mu Stella? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Gumam Kairo dengan pikiran yang masih mencerna perkataan Stella.





Bella berdiri di tempat lain sambil melihat kedekatan Stella dan Toni dari balik kaca restoran.


Wajahnya nampak menyeringai dengan sebelah bibir yang terangkat ke atas.


"Cinta itu egois. Kamu tidak akan bisa mengendalikannya. Dan rasa ingin memiliki akan semakin besar"


Setelah beberapa saat berdiri disana. Bella pun akhirnya pergi.


Sementara itu, Toni dan Stella masih Asyik mengobrol seperti biasanya. Mereka bercengkrama layaknya seorang teman. Tidak lebih daripada itu.


"Kamu yakin Kairo tidak berkata apapun tentang diriku?" Tanya Toni penasaran.


"Tidak. Dia bilang dia mengenalmu karena kalian satu sekolahan" Jawab Stella sekenanya. Karena memang waktu itu, Kairo mengatakan bahwa Toni dan Kairo memang teman sekolahan dulu. Dan nyatanya memang benar, mereka memang pernah sekolah di sekolahan yang sama. Dan tidak pernah akur sejak hari itu.


Toni terlihat diam membisu. Pikirannya berkecamuk memikirkan rencana apa yang sebenarnya Kairo mainkan.

__ADS_1


Kedatangan Toni untuk menemui Stella pun memang memiliki tujuan. Yaitu memastikan apakah Kairo mengatakan kebenaran tentang dirinya kepada Stella. Dan jika itu terjadi, dia ingin menjelaskan kepada Stella bahwa dirinya tidak berniat untuk berbohong. Hanya saja, dia tidak ingin Toni yang dulu akan terlihat beda di mata Stella karena status mereka yang berbeda kasta.


"Kalian gak sedang berantem kan?" Tanya Stella menyelidik. Karena sejak tadi Toni terlihat masih diam membisu dengan tatapan yang masih kosong, seperti dengan memikirkan sesuatu.


Toni tersenyum kecut, "Tidak! Kita berteman baik. Tapi setelah lulus sekolah, kita jarang bertemu dan kini semakin jauh karena dia berpikir kita berdua berselingkuh" Jawab Toni dengan terkekeh kecil.


"Sekarang dia sudah percaya kok kalau kita sahabatan. Lagi pula aku sudah menjelaskan semuanya kepadanya" Jawab Stella yang juga ikut tersenyum manis.


Toni hanya tersenyum tipis, menyembunyikan kekalutan di hatinya mengenai sikap Kairo yang begitu berbeda.


Biasanya pria itu tidak akan pernah bersikap baik kepadanya. Apalagi mempercayai perkataan Stella bahwa mereka memang bersahabat. Dan hal itu tidak akan pernah terjadi.


Sebenarnya, hubungan Kairo dan Toni dulu cukup baik. Mereka juga memiliki hubungan saudara sepupu.


Kakek Kairo dan kakek Toni adalah saudara kandung. Karena perebutan harta warisan keluarga. Kedua pria itu menjadi bermusuhan. Dan kakek Kairo yang licik menggunakan segala cara untuk melenyapkan Kakek Toni yang notabennya adalah kakak dari kakeknya Kairo. Dan karena hal itulah kedua keluarga ini menjadi musuh hingga sekarang. Dan kakek Kairo pun tidak akan membiarkan semua anak dan cucunya mengetahui kejadian yang sebenarnya dan memanipulasi keadaan bahwa dirinya lah yang terasingkan dan ingin dibunuh oleh kakaknya itu.


Memikirkan itu. Toni jadi pusing sendiri. Entah mau sampai kapan mereka akan seperti ini. Bahkan Kairo tidak pernah menganggap mereka sebagai keluarga. Karena Kairo dulu adalah cucu kesayangan kakeknya. Dan otaknya sudah dapat di pastikan sudah di cuci oleh kakeknya itu.


"Ton! Kamu baik-baik saja kan? Kamu kok banyak ngelamun gini?" Kata Stella memecah keheningan.


Toni tersenyum simpul, "Sudah mau sore. Yuk aku antar pulang!" Jawab Toni sekenanya. Stella pun hanya mengangguk. Walaupun dalam hatinya bertanya-tanya mengenai sahabatnya itu. Tapi dia tidak egois. Selama Toni tidak ingin bercerita, dia tidak akan memaksa.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️


__ADS_2