
Hari berlalu begitu saja.
Setelah hadiah rumah yang dia terima dari suaminya, Kairo. Kini saatnya dia menepati janjinya kepada Toni bahwa dirinya akan menemui Toni di restoran langganan mereka.
"Aku tunggu di restoran biasa. Jangan lupa untuk datang!" Pesan Toni.
Kairo mengerutkan keningnya. Menatap sebuah pesan singkat yang masuk ke handphone miliknya. Sebenarnya, handphone milik istrinya itu sudah ia sadap. Sebab itulah dia bisa menerima pesan dari siapapun yang masuk ke handphone Stella.
"Mereka ingin bertemu?" Gumam Kairo dengan meninggikan sebelah alisnya.
Tidak lama seorang wanita cantik masuk ke ruangan kerjanya. Ia mengulas senyum termanisnya. Begitupun dengan Stella.
"Ada apa sayang?" Tanya Kairo.
"Sayang bolehkah aku pergi keluar?" Tanya Stella manja. Stella beringsut menghampiri sang suami dan duduk di pangkuannya. Kairo sudah mengira bahwa kedatangan istrinya kali ini pasti ada maksud lain. Setelah apa yang ia terima dari pesan singkat dari Toni untuk istrinya, hati Kairo mendadak tidak tenang.
"Pergi kemana? Sendiri?" Tanya Kairo.
Stella diam sejenak, lalu kembali bersuara, "Sebenernya aku ingin bertemu Toni. Apakah boleh?. Aku tidak akan macam-macam, tolong ijinkan aku pergi mas, karena Toni adalah sabahat ku" Rengek Stella yang terdengar memohon.
Kairo selalu tidak tahan melihat wajah berbinar istrinya itu. Setelah sejenak diam, dia pun menjawab, "Tapi berjanjilah tidak akan lama!" Jawab Arjuna pada akhirnya.
Stella tersenyum sumringah. Dia tau bahwa suaminya itu tidak akan melarangnya bertemu Toni. Tanpa Stella sadari, sebenarnya ada api cemburu yang membara di dada Kairo. Bagaimana bisa istrinya meminta ijin untuk menemui pria lain yang jelas-jelas adalah musuh keluarganya.
"Kalau begitu aku pergi ya mas! Aku akan segera kembali" Kata Stella yang sudah kembali berdiri. Wanita itu terlihat begitu bersemangat, membuat Kairo memaksakan senyumnya untuk terlihat baik-baik saja di depan sang istri.
"Apa perlu di antar?" Tanya Kairo lagi. Sebenarnya ia berat membiarkan istrinya itu pergi sendiri.
__ADS_1
"Tidak perlu mas. Aku bisa sendiri. Lagi pula, mas masih banyak pekerjaan, jangan khawatirkan aku" Jawab Stella yang di balas anggukan kepala oleh Kairo. Senyum itu lagi-lagi ia paksakan demi melepaskan kepergian Stella yang kini sudah akan berjalan keluar.
Dan di waktu yang sama. Hans juga masuk kedalam. Stella tersenyum kepada Hans, sementara Hans menanggapi dengan senyuman kikuk. Dia tidak tau mengapa Stella terlihat begitu bahagia. Sementara matanya beralih kepada Kairo yang terlihat sangat sendu dan tidak bersemangat. Tidak seperti biasanya, jika Stella bahagia, sudah dapat di pastikan bahwa tuannya itu akan merasa bahagia pula. Lalu kenapa malah sebaliknya?
Banyak pertanyaan yang belum terjawab di benak Hans. Namun ia enggan untuk bertanya kepada Kairo.
"Tuan! Ini berkas yang anda minta!" Hans memberikan sebuah map berisikan berkas-berkas laporan keuangan perusahaan bulan lalu di atas meja Kairo.
Hans mendadak merasakan hawa dingin yang tidak biasa melihat Kairo yang diam seribu bahasa.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari sang tuan. Hans pun berniat untuk berpamitan untuk keluar, namun suaranya tertahan ketika Kairo sudah lebih dulu bersuara.
"Kenapa? Kenapa dia begitu bersemangat menemui pria itu? Apakah dia tidak tau bagaimana perasaan ku?"
Hans menjadi kikuk sendiri. Lebih tepatnya dia bingung harus menjawab seperti apa pertanyaan dari tuannya itu.
Kairo terdiam. Lalu menatap Hans dengan raut wajah dinginnya.
"Tidak perlu! Aku sudah memerintahkan seseorang untuk mengikuti Stella".
"Aku tau pria itu tidak benar-benar menjadi sahabat istriku. Aku merasa bahwa dia memiliki perasaan kepada Stella. Cara dia memeluk istriku waktu itu. Aku bisa memastikan dan merasakan dengan jelas sebagai sesama pria. Tatapannya begitu berbeda kepada Stella. Aku khawatir jika dia menggunakan Stella untuk menghancurkan aku" Lanjut Kairo lagi yang terdengar penuh dengan rasa khawatir.
"Jika tuan khawatir Nona akan membalas cinta Toni. Kenapa tuan mengijinkan Nona pergi?" Tanya Hans.
"Aku belum siap untuk mengatakan kebenarannya. Aku takut Stella malah salah paham dan beranggapan aku terlalu posesif sehingga menggunakan cara itu untuk membuatnya menjauhi Toni"
"Lalu apa solusinya tuan?" Tanya Hans lagi.
__ADS_1
Sebenarnya Kairo sedikit tertahan oleh pertanyaan Hans. Dia sendiri belum menemukan solusi yang tepat untuk itu.
"Selama dia tidak menyakiti Istriku. Maka aku akan tetap diam untuk sementara waktu. Aku harus menemukan celah agar aku bisa membuat Stella mengerti dan menjauhi Toni tanpa aku suruh" Jawab Kairo pada akhirnya.
Alih-alih memikirkan masalah Stella. Kairo kini lebih memilih untuk membahas masalah perusahaan yang memang sedang dalam pemulihan setelah beberapa waktu lalu sedang mengalami masalah.
"Hans! Cari informasi mengenai manager keuangan kita. Aku curiga ada kecurangan yang terjadi di perusahaan ini. Sehingga keuntungan perusahaan sempat anjlok beberapa waktu lalu. Aku ingin informasi itu secepatnya kamu dapatkan!" Perintah Kairo.
"Baik tuan! Tugas akan saya laksanakan dengan baik" Jawab Hans tegas.
"Ingat jangan sampai ada yang curiga bahwa kita sedang mencurigai beberapa kandidat penting pengurus perusahaan" Kata Kairo memperingati.
"Baik tuan! Saya mengerti!" Jawab Hans tegas. Kairo pun menjentikkan jari. Hans yang mengerti pun hanya menunduk hormat, lalu pergi meninggalkan Kairo.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️
Happy Reading 🌺
__ADS_1