
Setelah mendapat telepon dari Bella. Wajah Toni mendadak sangat merah dengan nafas yang begitu memburu. Ia khawatir sekaligus sangat marah.
Tanpa menunggu lebih lama. Toni bangun dari duduknya dan pergi begitu saja.
"Tuan! Anda mau kemana?" Sekertaris nya Anton menyeru khawatir dan menyusul tuannya itu keluar.
"Tetaplah disini! Aku akan pergi sebentar!" Kata Toni memerintah.
"Tapi tuan... Anda sepertinya sangat marah. Biarkan saya menyetir, nanti terjadi sesuatu kepada tuan!" Bantah Anton cepat.
"Turuti saja apapun yang aku perintahkan!" Teriak Toni sangat marah.
Semua orang menatapnya heran. Terlebih lagi, Anton sangat terkejut. Ia tidak pernah melihat tuannya sekasar ini sebelumnya.
Dengan perasaan yang semakin marah. Toni masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan keterkejutan Anton terhadapnya. Lalu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan kantornya tersebut.
Tidak lama setelah mobil melaju meninggalkan tempatnya. Kini Toni sudah memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah rumah sakit ternama. Ya, disanalah tempat Stela dirawat.
Dengan langkah tergesa-gesa, Toni memasuki rumah sakit tersebut.
Dengan amarah memuncak, Toni mendaratkan pukulannya kepada seseorang yang menjadi puncak kemarahannya.
Bruakkkkkk!
Seorang pria tersungkur dengan sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah segar.
Kairo menoleh dengan sedikit menyapu darah di di sudut bibirnya.
"Br\*ngsek kamu Kairo. Bisa-bisanya kamu melakukan itu sehingga membuat Stella celaka. Sini kamu! Akan aku habisi kamu disini" Teriak Toni dengan lantang. Amarahnya seakan sudah tidak terkendali. Bahkan banyak orang sudah mulai berbondong-bondong datang untuk melihat situasi yang membuat atensi mereka beralih kepada dua pria yang sedang berkelahi.
"Apaan kamu! Siapa yang mencelakai Stella. Pergi kamu dari sini!" Usir mama Shopia. Lalu membantu Kairo untuk bangun.
__ADS_1
"Tante tau? Dia telah......"
"Diam!" Bentak Kairo cepat.
"Siapa dirimu yang berani mengurusi urusan keluarga ku? Stella adalah istriku!" Ujar Kairo dengan intonasi penekanan dengan nama istriku. Itu sudah menjelaskan bahwa Toni tidak berhak atas Stella.
"Dia adalah sahabat ku! Aku menyesal karena telah membiarkan Stella kembali kepadamu Kairo. Ternyata kamu laki-laki B\*jat. Kau laki-laki pengecut yang hanya bisa menyakiti seorang wanita." ujar Toni tidak kalah lantangnya.
"Maaf tuan! Mohon untuk pergi. Disini adalah rumah sakit!" Ujar seorang suster yang mencoba melerai perkelahian antar pria tersebut.
Toni merasa belum puas untuk memukul wajah Kairo berulang kali.
Namun kedua satpam sudah memegang tangannya dan mengusirnya dari rumah sakit karena sudah membuat keributan.
"Aku akan kembali. Akan aku pastikan, Stella aku pergi bersamaku Kairo! Ingat itu! Aku akan kembali membawa Stella pergi dari hidupmu!" Teriak Toni yang terus meronta ketika kedua satpam sudah menariknya keluar.
Kairo tidak menggubrisnya, didalam hatinya masih berkecamuk penuh pertanyaan.
Malam itu. Stella sudah dipindahkan ke ruang rawat. Beruntung Kairo membawanya tepat waktu sehingga para tim medis masih bisa menyelamatkannya tepat waktu. Namun tidak pada anaknya. Hal itupun membuat Kairo sangat terpukul, karena ulahnya sendiri membuat istrinya celaka dan secara tidak sengaja juga membunuh anaknya sendiri.
Kairo sangat terpukul. Bagaimana dia akan menghadapi istrinya nanti kalau Stella sudah sadar?
Sungguh dia tidak sanggup. Dia sangat merasa bersalah, bahkan tidak henti-hentinya menerutuki dirinya sendiri sepanjang hari.
Kairo tertidur di tepi ranjang istrinya dengan posisi duduk. Tangannya selalu memegang jemari manis istrinya.
Tidak lama, Stella pun terlihat menyerjapkan matanya. Ia merasa tubuhnya sangat sulit untuk bergerak. Seakan tubuhnya mati rasa. Ternyata itu hanyalah efek dari obat bius karena dirinya telah melakukan operasi.
Seketika Stella yang tersadar meraba perutnya yang sudah merata. Dia syok dan khawatir kenapa perutnya bisa seperti ini.
"Ahrgkkkkkk" Teriak Stella histeris.
__ADS_1
Kairo seketika terbangun. Namun Stella sepertinya kembali pingsan, membuat Kairo merasa khawatir dan segera memanggil Dokter untuk memeriksa.
Setelah selesai memeriksa, Kairo langsung bertanya, "Bagaimana Dok? Istri saya tidak kenapa-kenapa bukan?" Tanyanya dengan nada khawatir.
"Tidak pak Kairo. Hanya saja, sepertinya istri bapak sangat Syok saat ini. Untuk itu saya sudah memberikan obat penenang. Besok akan kembali normal, saya harap bapak bisa memberikan pengertian kepada Bu Stella dan jangan membiarkannya sendiri untuk saat ini" jelas Dokter.
Kairo mengangguk mengerti, "Baik Dok. Terimakasih!"
Dokter itu hanya tersenyum ramah, lalu berpamitan untuk pergi.
Keesokan harinya. Bella sengaja datang ke perusahaan milik Toni. Itu karena ia ingin membuat sebuah perjanjian bersama Toni. Karena ia tau, ini adalah saat yang tepat untuk mempengaruhi pikiran Toni.
"Bagaimana? Apa kau setuju untuk melakukan kerjasama?"
"Jangan bilang kalau kau rela melihat Stella menderita bersama Kairo? Dan perlu kamu ingat! Kairo yang telah membuat Stella celaka" Lanjut Bella lagi.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen setelah membaca ya☺️
__ADS_1