
Selesai makan siang. Stella dan Kairo pun kembali bekerja seperti biasa. Dan kembali ke ruangan kerja masing-masing.
"Lihat tuh istri mudanya Pak Kairo! Gak tau diri banget ya! Niat banget mau nguasain pak Kairo. Dimana-mana selalu nempel gitu deh. Gak tau diri banget, kasihan Bu Bella" Kata seorang pegawai kantor di perusahaan Kairo.
"Iya! Kasihan ya jadi Bu Bella. Apa coba kurangnya Bu Bella? Sudah cantik, modis dan anak pengusaha. Apalagi Bu Bella juga punya butik mewah kalangan artis. Sayang banget ya di sia-siakan" Jawab teman satunya.
"Kalau aku jadi Bu Bella udah tinggalin aja Pak Kairo. Toh masih banyak ya pria kaya yang mau sama dia"
Stella yang sedang bekerja pun merasa tersindir. Matanya beralih kepada segerombolan karyawan di sana yang sedang membicarakannya. Sebenarnya hal ini sudah sering terjadi. Stella hanya bersikap abai dan tidak perduli. Namun ternyata mulut-mulut mereka semakin menjadi membuat Stella cukup meradang dan dongkol.
Hans juga mendengar percakapan beberapa karyawan tadi. Dia penasaran, apa tanggapan Nona mudanya itu tentang isu-isu tersebut. Matanya kini juga menatap wajah Stella yang sudah mulai memerah.
"Gak tau diri banget ya dia! Aku sih gak suka sama pelakor seperti itu"
Bruakkkkkk.
Ketiga wanita tadi pun sontak terkejut ketika Stella kini sudah berada di dekat mereka dan menggerebek meja.
"Kalian ngomongin saya?" Tanya Stella dengan wajah datarnya.
"Ya iyalah,,, kalau gak siapa lagi coba? Pelaaakorrrrrrr" Ujar wanita itu dengan tertawa jahat yang sengaja membuat Stella kesal. Sebut saja namanya Cindy. Lalu seperdetik kemudian, beberapa temannya itu mulai tertawa lepas. Mereka semua bahkan tidak menghormati Stella sama sekali sebagai atasan mereka.
Stella tersenyum sinis, dan tiba-tiba...Byurrrrrrrrrrrrr!
__ADS_1
Cindy dan teman-temannya itu seketika terdiam membeku. Cindy sempat menganga dengan wajah yang sudah basah kuyup.
"Sudah mulai sadar sekarang?" Tanya Stella tersenyum puas dengan melipat kedua tangannya kedepan.
Cindy meradang marah, "Kamu,,,,," Pekik Cindy yang sudah lebih dulu di Potong oleh Hans.
"Ada apa ini?" Potong Hans cepat. Ia pun mendekat kepada kerumunan. Ia bersikap seolah-olah tidak tau apa-apa, namun pada kenyataannya, sejak tadi dia sudah melihat semuanya.
"Pak Hans!" Seru Cindy dengan menunduk takut. Pasalnya Hans adalah orang yang sangat di hormati disana. Kehadiran Hans pun cukup berpengaruh, tidak ada yang berani melawannya disana.
"Apa ada yang menggangu Nona?" Tanya Hans lagi kepada Stella.
Cindy dan beberapa temannya itu mulai gugup dan takut. Jika Stella mengadu, maka tamatlah riwayat mereka. Begitu yang mereka pikirkan di dalam benak masing-masing.
"Apa mereka takut karena kehadiran Hans?" Gumam Stella dalam hati.
"Nona! Apa anda mendengarkan saya?" Tanya Hans lagi ketika tidak mendapatkan jawaban dari Stella.
"Ahh iya maaf Hans. Tadi hanya kecelakaan kecil kok. Gak ada yang serius. Aku tadi gak hati-hati, jadi air minum ku tumpah dan mengenai wajah Cindy. Jadi dia marah sama aku." Jawab Stella berbohong.
"Oh ya Cindy. Aku minta maaf ya! Gara-gara aku, kamu jadi basah begini" Lanjut Stella yang terlihat merasa bersalah.
Cindy sempat berhenti bernafas, hingga akhirnya ia kembali bernafas lega. Jika saja Hans tau bahwa mereka telah menghina istri bosnya itu, maka mereka akan mendapatkan masalah. Jika saja bukan suruhan Bella, mereka tidak akan melakukan ini setiap hari untuk menghina Stella dan membuatnya merasa malu dan tidak berharga.
__ADS_1
"Oh begitu!" Hans manggut-manggut sebagai respon. Sebenarnya ia juga cukup terkejut. Kenapa tidak mengatakan kebenarannya? Dengan begitu dia bisa dengan mudah memecat karyawannya itu sekarang juga.
"Cindy! Lain kali kalau Nona Stella sedang jalan. Kalian harus menepi. Dan ingat untuk terus menghormati dia seperti kalian menghormati Tuan Kairo. Jika sekali saja saya mendengar kata kotor yang terucap dari mulut kalian, saya tidak akan segan-segan menghukum kalian dengan memotong bibir kalian" tegas Hans.
Cindy dan teman-temannya bersusah payah menelan ludahnya yang terasa mencekik. Jika saja Hans tau yang sebenarnya tadi. Tamatlah riwayat mereka.
"Bercanda mu terlalu serius. Mereka sangat baik kok sama aku. Lagi pula jika mereka di pecat, mereka akan kesusahan mencari pekerjaan." Jawan Stella dengan terkekeh kecil.
Cindy sempat tertegun dan sulit untuk berkata-kata lagi. Sebenarnya wanita seperti apa Stella ini. Mereka sudah terprovokasi oleh ucapan Bella selama ini. Namun sikap Stella yang baik tentu membuat mereka kembali berpikir dengan keras. Walaupun awalnya Stella sempat menyiramnya dengan air, namun tetap membela dirinya didepan Hans yang jelas-jelas mungkin mendengar percakapan mereka tadi.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa untuk like dan komen ya ☺️
...Happy Reading 🌺...
__ADS_1