
Malam itu. Stella tidur dengan nyenyak. Tentunya tanpa ada suaminya yang selalu menggangu malamnya seperti biasa. Walaupun sebenarnya dia resah karena suaminya yang sedang marah, namun ia membiarkan suaminya itu memikirkan semuanya sendiri. Karena yang dia tahu, seseorang akan membaik setelah pikirannya kembali stabil.
Sementara itu, Kairo pergi ke ruang kerjanya. Bahkan dia menolak mentah-mentah ajakan Bella untuk memadu kasih malam ini. Entah kenapa, dia sangat sulit menerima kehadiran Bella dan menerimanya sepenuh hati sebagai seorang istri. Mungkin ini tidak adil untuk Bella, namun perasaan samasekali tidak bisa di paksakan.
Dengan hati yang lega, Kairo pergi keluar dari kamar Bella. Terlepas dari wanita itu tentu memiliki rasa tersendiri untuk Kairo.
"Kenapa sangat sulit memiliki dua istri. Rasanya aku sangat gila memikirkan semua ini. Aku merasa bersalah karena tidak bisa bersikap adil kepada Bella, tapi aku tidak bisa memberikan apa yang seharusnya Bella terima." gumam Kairo frustasi. Ia begitu pusing, namun tidak bisa berbuat lebih.
"Ah apa Stella sudah tidur? Aku merindukannya. Aku tidak bisa memikirkan orang lain selain dia. Stella pasti sangat marah karena aku menamparnya tadi siang. Sungguh, aku tidak bermaksud melakukan itu, tapi...." Kairo kembali bergumam sendirian dengan wajah frustasi. Jauh di lubuk hatinya paling dalam, dia menyesal karena sudah bersikap kasar kepada Stella.
Kairo pun beranjak dari tempatnya, lalu pergi ke kamar Stella. Dia membuka pintu, dan ternyata pintu itu tidak dikunci samasekali oleh Stella. Hatinya cukup lega, dan dia pun masuk dengan mengendap-endap, takut jika istrinya itu terbangun karena mendengar suaranya yang masuk.
Terlihat Kairo memperhatikan wajah Stella lekat-lekat. Wajah yang begitu damai di saat tertidur. Entah mengapa, melihat wajah istrinya yang terlelap itu membuat amarahnya berangsur membaik.
Lama setelah menatap wajah istrinya, Kairo pun menunduk dan memberikan kecupan tipis di bibir dan kening istrinya. Terlihat Stella menggeliat, namun tidak berniat membuka matanya. Mungkin dia sedang lelah, belum lagi saat ini istrinya itu sedang mengandung. Kairo merasa bersalah telah mengabaikan istrinya sejak tadi.
Akhirnya, Kairo pun memilih untuk bergabung bersama Stella di tempat tidur dan memeluk wanita itu dari belakang dengan sangat erat.
"Kau hanya milikku sayang. Tidak akan aku biarkan siapapun mengambil mu dariku"
__ADS_1
Pagi hari. Stella menyerjapkan matanya. Dia merasakan sesuatu yang berat menahan tubuhnya. Dilihatnya dengan seksama, sebuah tangan melingkar di tubuhnya, bahkan tidak membiarkan dirinya untuk beranjak sedikit pun.
Ada rasa senang, karena suaminya itu tidak bisa jauh darinya. Karena dari yang dia tahu, Kairo memang sangat mencintainya.
"Mas! Aku ingin bangun!" Ucap Stella.
Kairo tidak menjawab, namun pelukannya semakin dia eratkan, seakan membuat Stella sesak.
"Mas! Apa kau ingin membunuh ku? Aku tidak bernafas" Ujar Stella lagi dengan kesal.
Stella pun dengan pasrah membiarkan suaminya itu memeluknya lebih lama. Karena seperti itulah kebiasaan Kairo di pagi hari di saat bersamanya.
Stella seketika memikirkan sesuatu untuk membalas Bella. Tentunya membuat wanita itu cemburu kepadanya.
Dengan hati-hati, Stella mengambil handphone miliknya di atas nakas di samping tempat tidurnya. Lalu memotret sebuah foto dirinya dan juga Kairo yang masih terlelap memeluk tubuhnya mesra.
Ia tersenyum penuh arti. Lalu mengirim foto itu kepada Bella dengan beberapa kata untuk menyakiti perasaan Bella sebagai sarapan di pagi hari.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain. Bella yang sedang berkemas akan pergi ke kantornya pun terhenti. Dia melihat sebuah notifikasi masuk ke handphone nya. Dia melihat nama "Plcur" tertera di layar handphone miliknya yang sengaja dia beri nama itu sebagai nama untuk nomor kontak Stella.
"Kenapa pelcr itu mengirim pesan?" Gumamnya kesal. Namun tidak menghentikan niatnya untuk membuka isi pesan itu.
Di tekannya tombol buka, lalu matanya seketika berubah merah setelah melihat apa yang dia lihat dari pesan yang dikirim oleh Stella.
Sebuah foto yang begitu mesra sangat terlihat dengan jelas dari matanya. Hal itu membuat hatinya mendidih menahan amarah yang begitu mendominasi.
"Bagaimana rasanya di tinggal oleh suami sendiri? Apakah rasanya nyilu? Atau sangat menyakitkan? Ahh, aku rasa itu biasa terjadi kepadamu. Kasihan sekali nasib mu, mana katanya akan bercinta hingga kelelahan, hahahha. Aku merasa kasihan kepada nasibmu" Pesan Stella yang membuat Bella meradang. Sungguh kata-kata itu sangat mempermalukan dirinya.
"Sial! Awas kamu Stella" geram Bella dengan meremas kuas handphone yang ada di tangannya.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️