Ranjang Hangat Sang Pelakor

Ranjang Hangat Sang Pelakor
Bab 40 Pikiran Tak Menentu


__ADS_3

"Sudahlah! Lupakan mereka. Ada aku disini bersamamu! Aku janji akan selalu ada di samping mu. Karena aku sangat......" Suara Toni Seketika tertahan. Dia langsung menghentikan ucapannya ketika dia mengingat persahabatan diantara dirinya dan juga Stella.


"Karena apa Ton?" Tanya Stella yang juga merasa penasaran.


"Tidak ada Stella. Aku hanya tidak ingin kau tersakiti oleh mereka. Aku menyayangimu dan aku tidak ingin sahabat baikku di sakiti seperti ini" lagi-lagi Toni tidak memiliki keberanian mengutarakan perasaannya kepada Stella. Dia merasa tidak akan sanggup kehilangan Stella, jika sewaktu-waktu perasaan cintanya itu akan membuat Stella pergi menjauh darinya.


Stella menatap ke wajah Toni, "Maaf Ton. Aku selalu membuatmu khawatir selama ini!" Jawab Stella merasa bersalah.


"Sudahlah! Sekarang kamu harus istirahat agar tubuhmu kembali pulih!" Toni kembali merebahkan tubuh Stella dan menyelimuti tubuh Stella dengan sangat perhatian.




Malam itu, Kairo pulang dengan keadaan basah kuyup.


Ternyata, Kairo kembali pulang dari rumah sakit hanya dengan jalan kaki. Bahkan handphone miliknya tertinggal di dalam ruangan inap Stella.


"Tuan! Anda basah!" Ujar seorang kepala pelayan khawatir yang langsung dengan sigap mencarikan handuk untuk menghangatkan tubuh Kairo.


Kairo hanya mengambilnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hatinya masih sangat sakit, namun dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.


Tubuhnya begitu Limpung dan Jalannya sempoyongan tanpa arah. Tatapannya pun terlihat begitu kosong. Entah apa yang terjadi, semua orang yang melihat itu benar-benar tidak tahu.


Terlihat mama Sonia langsung berlari kearahnya dengan wajah khawatir.

__ADS_1


"Anakku! Kamu kenapa hujan-hujanan? Kamu bisa sakit!" Mama Sonia panik, segera ia meraih tubuh anaknya dan membawanya menaiki tangga ketika Kairo tidak menjawab pertanyaannya.


Terlihat Bella juga keluar dari kamarnya setelah mendengar keributan di luar.


Langkah kakinya semakin di percepat ketika dia melihat suaminya kembali.


"Ma! Sini Bella saja!" Pinta Bella. Lalu mama Sonia hanya menganggukkan kepalanya.


"Ma! Mama gak usah ikut! Bella bisa kok mengurus mas Kairo sendiri!" Cegah Bella cepat ketika melihat mama mertuanya mengekor di belakangnya.


Mama Sonia menghentikan langkahnya, dengan berat hati dia membiarkan Bella mengurus anaknya.


Di dalam kamar.


"Mas! Kamu harus mandi!" Ujar Bella.


"Aku tau, kamu sedih karena Stella sudah membencimu saat ini Kairo. Aku akan membuat dirimu merasakan di benci dan di abaikan oleh seseorang yang kamu cintai. Setelah kamu merasakan itu, aku yakin kamu akan menghargai aku sebagai seorang istri!" Gumam Bella di dalam hatinya.




Setelah malam menyingsing gelapnya malam, mata hari pagi pun menyambut pagi hari yang begitu cerah.


Stella yang masih setia duduk di kasur rumah sakit, hanya bisa termenung memikirkan suaminya, Kairo.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan, Kairo adalah orang yang sangat dia cintai, namun Kairo pula yang menorehkan luka mendalam di hatinya saat ini.


"Stella!" Seru Toni yang baru masuk ke ruang rawatnya. Toni terlihat membawa nampan berisikan makanan yang sengaja dia beli di kantin rumah sakit untuk Stella.


Stella tidak menjawab, pandangannya terlihat kosong dan sedang memikirkan sesuatu.


Toni segera meletakan nampan itu ke atas meja, lalu dia mendekati Stella dengan sebelah tangannya yang terulur memegang pundak Stella.


"Stella!" Serunya sekali lagi. Stella terperanjat kaget, lalu menoleh kesisi suara.


"Toni! Sejak kapan kau datang?" Tanya Stella.


Toni menghela nafas, "Apa kamu memikirkan Kairo?" Bukannya menjawab, Toni malah balik bertanya.


Stella terlihat murung, "Ton! Apa aku berlebihan memarahi Kairo? Aku merasa, dia tidak benar-benar berniat menyakiti aku?" Ucap Stella kemudian.


Toni terlihat masih diam, "Apa kehilangan anakmu masih membuatmu tidak sadar? Kairo sudah membuatmu menderita, seharusnya kamu menyadari itu Stella!" Jawab Toni marah dan membuang muka kearah lain dengan sangat kesal.


Stella yang melihat itu, merasa tidak enak hati. Toni adalah orang satu-satunya yang selalu ada untuknya, dia tahu bahwa Toni juga merasa kecewa kepada Kairo. Sebab itulah Toni sangat marah ketika dirinya membahas tentang Kairo. Begitulah pikir Stella.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️


__ADS_2