Ranjang Hangat Sang Pelakor

Ranjang Hangat Sang Pelakor
Bab 26 Pengusik


__ADS_3

Bella masuk ke dalam kamar. Dia melihat Kairo duduk di tepi ranjang dengan wajah yang kesal. Bella bisa menebak, bahwa Kairo dan Stella memang sedang bertengkar. Dia pun berinisiatif untuk mendekat di sisi Kairo dan pura-pura perhatian atas apa yang Kairo resahkan saat ini.


"Mas! Kau baik-baik saja?"


Suara Bella pun sontak mengagetkan Kairo. Dia sedikit menoleh dengan tatapan dingin.


"Maaf aku masuk ke kamar mu tanpa permisi!" Ujar Kairo setelahnya.


Bella duduk di samping Kairo, "Apa yang kau katakan Mas. Sebelumnya ini adalah kamar kamu, lebih tepatnya kamar kita berdua, lalu untuk apa aku marah kepadamu. Kau adalah suamiku, mana mungkin aku melarang mu kesini. Kau bisa saja kesini setiap hari kalau kau mau" Balas Bella dengan nada bicara yang lembut. Kairo hanya membalasnya dengan tersenyum tipis.


"Aku akan mandi dulu!" Ujar Kairo setelahnya. Dia merasa sangat tidak nyaman dan canggung di saat Bella semakin mendekatkan tubuhnya kepadanya.


Bella pun hanya tersenyum simpul, lalu mengangguk mengiyakan.


Disaat Kairo sudah berdiri dan hendak pergi, belum sempat kaki itu melangkah ke kamar mandi, suara dering handphonenya menghentikan langkahnya.


Kairo sedikit menautkan kedua alisnya heran setelah melihat layar handphonenya. Pasalnya yang menelponnya saat ini adalah Stella.


Kairo enggan untuk mengangkatnya, dan membiarkan begitu saja handphone miliknya di atas nakas. Sebelum meletakan handphone nya, Kairo sudah lebih dulu men-silent dering handphonenya. Lalu kembali berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Bella dapat melihat gelagat suaminya yang begitu berbeda dan tidak biasa. Kairo benar-benar sedang mengabaikan Stella saat ini. Bahkan disaat Stella menelpon pun, Kairo tidak berniat untuk mengangkatnya sama sekali.


Rasa penasarannya semakin mendominasi, hal itu pun membuat Bella mencari tahu sendiri apa masalah yang sedang terjadi kepada suaminya dan juga madunya itu.


Di tempat lain. Kini Bella sudah berdiri dan nampak sedang menelepon seseorang.


"Apa kau tau penyebab Stella dan suamiku bertengkar?" Tanya Bella kepada orang suruhannya yang selalu memata-matai setiap pergerakan Stella dan Kairo.


"Mereka bertengkar nyonya. Dari yang aku lihat tadi di taman, tuan Kairo marah disaat seseorang memeluk nona Stella. Seperti yang aku lihat, pria yang bersama nona Stella tadi adalah Toni. Pengusaha kaya yang merupakan musuh besar tuan Kairo" jelasnya dengan mendetail.


Bella mengerti sekarang. Dapat dia tangkap dari pembicaraan orang suruhannya itu, bahwa sekarang Kairo sedang cemburu dan marah karena Stella di peluk oleh musuh keluarganya. Perihal keluarga Kairo dan Toni, tentu saja Bella tau. Karena dia sudah mendengar kabar tentang permusuhan kedua pengusaha tersebut dari mama Mertuanya Shopia.


Toni adalah seorang anak dari pengusaha besar yang bernama William Ragarsa. Toni yang biasa di kenal sebagai Toni Ragarsa juga merupakan anak tunggal dari William dan Zahra.


"Sepertinya aku harus membuat kerja sama bersama pria itu. Aku pikir, dia menyukai Stella, dan jika itu benar, maka sangat mudah bagiku menyingkirkan Stella dari rumah ini" gumam Bella dengan wajah yang sumringah. Bella pun bergegas kembali ke kamar, takut jika suaminya itu menunggunya di dalam sana. Namun sebelum itu, Bella masih sempat mengirim pesan singkat kepada Stella, sebelum dirinya benar-benar pergi ke kamarnya untuk menemui Kairo.


Sementara itu didalam kamar. Stella duduk di depan cerminnya dengan wajah yang sendu. Hatinya sangat gelisah memikirkan suaminya yang salah paham kepadanya dan Toni. Namun memikirkan Kairo yang tidak mau mendengarkan penjelasan darinya, rasanya Stella benar-benar kesal dan marah.


Tringgggg

__ADS_1


Tringgggg


Lamunan Stella seketika buyar. Pandangannya kini beralih kepada sebuah benda pipih kesayangannya itu yang sejak tadi merana menunggu sang pujaan kembali Menelpon atau menemuinya di kamar.


Dengan semangat, Stella meraihnya dengan wajah senang. Namun senyum itu tiba-tiba memudar setelah melihat siapa yang mengirim pesan kepadanya.


"Maduku tersayang! Aku harap jangan menganggu kesenangan kami dulu ya. Suami ku sedang ingin bermain denganku malam ini. Sepertinya menyenangkan jika malam panjang ini kami lalui dengan penuh cinta. Oh ya, aku sangat menikmati keperkasaan suamiku. Sepertinya malam ini akan ada beberapa ronde untuk kami memadu kasih" Pesan Bella.


Stella merasa sangat mual membaca pesan itu. Sungguh, kehadiran Bella sangat merusak kedamaian jiwanya.


"Sepertinya wanita itu sengaja membuat aku cemburu. Tenang saja, kali ini aku membiarkan kamu bersenang-senang. Tapi lihat saja nanti, aku akan membuat kamu menyesal." Lirih Stella geram. Tentu ia tidak lupa akan kesalahan Bella dahulu yang telah membuat ibunya meninggal. Kali ini dia tidak akan kembali berleha-leha. Ia harus mengungkap kebusukan Bella secepat mungkin. Itulah tekad Stella sekarang. Bahkan dia tidak lagi memikirkan Kairo yang begitu egois. Setelah menyelesaikan masalah Bella, maka keluarga Kairo akan mengetahui siapa yang salah dan siapa yang benar.


"Dasar Pengusik!" gerutu Stella lagi dengan nada kesal.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2