
"Stella!"
"Toni!"
Kedua mata Stella melotot sempurna ketika Toni mulai mendekati dirinya, hingga bibir bawahnya bergetar karena takut, marah, dan kecewa, semua itu terasa bercampur aduk menjadi satu yang siap meledak kapan saja.
"Stella! Sejak kapan kamu di sini?" Tanya Toni penuh selidik.
Stella belum menjawab, dia terlihat masih diam dan mulai berdiri.
"Aku yang harusnya bertanya Toni! Sejak kapan kamu bekerjasama dengan Bella untuk menghancurkan pernikahan ku bersama Kairo?" Tanya Stella balik.
Toni menautkan kedua alisnya, "Jadi kau sudah mendengarnya?"
"Aku tidak menduga kau akan melakukan ini Toni? Kau adalah orang yang paling aku percayai. Tapi kenapa kau melakukan ini kepadaku?"
Toni mendecah, lalu berjalan mendekati Stella. Stella pun spontan berjalan mundur bersamaan dengan langkah Toni yang semakin maju mendekatinya.
"Apa yang ingin kau lakukan Toni?" Tanya Stella panik. Sebab, Toni terlihat begitu asing baginya. Toni sudah seperti bukan dirinya lagi yang Stella kenal.
"Aku mencintaimu Stella. Itulah sebabnya aku melakukan ini agar kamu mau menerimaku sebagai suamimu dan bukan Kairo!" Ujar Toni menyeringai yang membuat Stella sangat takut melihat ekspresi wajah Toni yang terlihat menyeramkan.
"Toni! Ini bukan dirimu! Pergi! Jangan mendekat!" Teriak Stella dengan deraian air matanya.
__ADS_1
Toni malah tertawa puas disana, seakan semuanya terlihat sangat lucu untuknya. Lalu detik berikutnya, wajahnya berubah menyeramkan dengan sorot matanya yang sangat tajam.
Tangannya mencekal tangan Stella dan menarik tubuh Stella dengan paksa, hingga membuat Stella berteriak dan meronta meminta dilepaskan. Namun, Toni nampaknya sudah di sulut oleh emosi yang tidak terkendali sehingga suara Stella yang kesakitan tidak lagi dia dengarkan.
"Masuk! Kita akan segera menikah! Aku tidak akan melepaskan kamu lagi Stella!" Bentak Toni dan mendorong tubuh Stella ke dalam kamar dengan kasar, hingga wanita muda itu tersungkur ke lantai.
"Toni! Jangan!" Stella panik, dan mencoba berdiri dan menahan, namun semua itu sudah terlambat, Toni sudah mengunci pintu kamarnya dari luar.
Sementara itu di tempat lain. Kairo terlihat diam dan termenung merindukan Stella. Sudah lama sekali dia tidak menemui istrinya itu. Rasanya, sudah seperti seseorang yang mati rasa. Tidak memiliki keinginan apapun selain bertemu dengan Stella.
"Bagaimana kabarmu disana Stella? Aku merindukan mu!" Gumam Kairo sedih sambil menatap bingkai foto pernikahannya bersama Stella.
Tok
Tok
Tok
Suara pintu yang diketuk dari luar seketika menyadarkan Kairo dari pikirannya yang berkecamuk memikirkan Stella.
__ADS_1
"Masuk!"
Sekertaris Hans masuk setelah mendengar suara tuannya. Dia menunduk memberi hormat sebelum akhirnya berbicara.
"Tuan! Saya sudah menemukan rekaman cctv nya!" Ujar Hans yang seketika membuat pandangan Kairo yang semula tidak bersemangat, kini menjadi sangat bersemangat.
"Benarkah? Apa yang kamu lihat disana?" Tanya Kairo.
"Sebaiknya, tuan lihat saja dulu! Tuan akan terkejut melihat siapa yang telah merencanakan ini semua!" Jujur Hans dan memberikan sebuah flashdisk berisikan rekaman yang di ambil oleh Hans.
Kairo pun tidak ingin menunda rasa penasarannya, dia segera meraih flashdisk itu dan memasangnya ke Laptop miliknya.
"Bella?" Gumamnya terkejut dengan wajah yang sulit di artikan. Dia melihat bahwa Bella memberikannya sebuah obat yang sama yang dia temukan waktu itu di tempat sampah.
"Jadi dia pelakunya?" Geram Kairo dengan amarah yang sudah memuncak. Berulangkali Bella mencoba mencelakai Stella, namun selama ini Kairo selalu memaafkannya, tetapi kali ini Kairo merasa sudah keterlaluan dan dia tidak akan membiarkan Bella akan kembali selamat setelah berhasil membuat dirinya berpisah dari istri dan anaknya yang sudah meninggal.
"Hans! Siapkan mobil! Kita harus pergi dan menuntaskan semua masalah ini!" Perintah Kairo yang terdengar sangat lantang. Hans pun hanya bisa mengangguk dan pergi segera mungkin untuk melaksanakan perintah tuannya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️