
"Stella! Tolong jawab!" Ucap Toni lagi yang membuat Stella langsung tersentak dari lamunannya.
Stella sangat bingung harus menjawab seperti apa. Tubuhnya bergetar disaat Toni menanyakan pernikahan kepadanya. Sedangkan perasaannya masih mencintainya Kairo saat ini.
"Stella! Aku butuh jawaban!. Tolong jawablah!" Pinta Toni lagi.
"Toni! Aku tidak tau harus menjawab seperti apa saat ini. Beri aku waktu dua hari untuk berpikir!" Jawab Stella setelah sesaat terdiam.
Toni awalnya sempat diam, namun detik berikutnya dia langsung tersenyum dan memegang sebelah tangan Stella.
"Aku akan menunggumu! Tidak apa! Aku masih bisa menunggumu dua hari kedepan!" Jawab Toni. Stella hanya tersenyum tipis untuk merespon jawaban Toni. Entah mengapa, Stella masih tidak percaya bahwa Toni memiliki perasaan kepadanya.
Beberapa hari kemudian. Lebih tepatnya, dua hari setelah kejadian sewaktu Toni melamar Stella.
Stella terlihat murung. Dia diam mematung memikirkan jawaban yang harus dia jawab kepada Toni nantinya.
__ADS_1
"Bagaimana ini? Aku tidak mencintai Toni. Bagaimana caranya aku menolak lamaran ini? Tapi aku juga tidak bisa menolaknya, selama ini, Toni telah banyak berjasa kepada hidupku. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa aku percayai. Aku menyayanginya tapi bukan sebagai kekasih. Aku menganggapnya sebagai saudaraku. Kenapa semua ini harus terjadi? Aku juga tidak bisa menyakiti perasaan nya yang telah banyak berkorban untukku!" Gumam Stella di dalam hatinya yang terus berkecamuk penuh pikiran.
Lama setelah dia berpikir, akhirnya Stella memutuskan untuk menemui Toni dan berbicara mengenai hubungan mereka kedepannya. Sangat tidak adil rasanya jika dia menolak lamaran Toni. Walaupun hatinya masih mencintai Kairo, namun Toni adalah laki-laki baik dan Stella memutuskan untuk membuka hatinya kepada Toni. Dan itulah yang dia rencanakan setelah dua hari ini berpikir keras.
Stella terus berjalan menuju kamar utama milik Toni. Disaat Stella ingin mengetuk pintu, sebuah suara tiba-tiba terdengar di sebuah balkon teras lantai dua tersebut.
Stella sedikit menoleh, dan ternyata itu adalah Toni.
"Sudah aku lakukan! Aku sudah melamarnya, kemungkinan hari ini dia akan menjawabnya. Tidak! Dia tidak mungkin menolak lamaran ku!"
Stella sedikit menautkan kedua alisnya heran. Dia tidak tau siapa yang sedang berbicara dengan Toni, tapi hati kecilnya tersebut sangat penasaran dan memintanya untuk terus menguping pembicaraan Toni.
Stella menutup mulutnya yang spontan menganga mendengar nama Bella yang disebutkan oleh Toni.
"Iya! Setelah ini jangan ganggu Stella lagi, karena dia sudah menjadi milikku dan tidak akan menganggu Kairo lagi. Kerjasama kita untuk menghancurkan pernikahan Kairo dan Stella berjalan dengan lancar. Jadi, setelah Stella menjadi milikku, aku tidak mau lagi berkaitan dengan mu!" Tegas Toni yang seketika langsung membuat Stella hampir meluruh. Tubuhnya seakan tak berdaya setelah mengetahui fakta, bahwa Toni sahabatnya yang paling dia percaya ternyata menjalin kerjasama untuk menghancurkan pernikahannya bersama Kairo. Stella benar-benar merasa hancur. Sahabatnya tega menghianatinya dan bekerjasama dengan Seseorang yang sangat dia benci, yaitu Bella.
Stella yang sangat syok pun tiba-tiba kehilangan keseimbangan, hingga membuatnya hampir terjatuh dan itu pun langsung menyadarkan Toni tentang keberadaan seseorang.
Toni pun segera mematikan teleponnya dan menoleh ke sisi suara. Dia berjalan ke balik dinding yang ada di dekat kamarnya dengan perlahan. Hingga dia membuka tirai jendela yang di tutupi oleh Gorden besar.
__ADS_1
Krakkkk!
Suara tirai Gorden yang dibuka secara cepat yang menimbulkan gesekan hingga membuatnya bersuara.
Toni tidak menemukan siapapun disana, membuat hatinya sedikit merasa lega.
Namun, di tempat lain. Stella bersembunyi di balik lemari hias sebuah jam dinding. Tubuhnya bergetar, membuatnya sangat gugup dan mengigit bibir bawahnya agar tidak menimbulkan suara.
Setelah Toni beranjak pergi dari sana. Stella yang sangat syok pun melangkah keluar dengan menghembus nafas panjang.
"Aku harus pergi! Iya, Aku harus menemui Kairo!" Gumam Stella yang terlihat panik. Dia pun melangkah pergi namun kakinya tiba-tiba keseleo dan menyebabkan dirinya terjatuh. Hal itu pun membuat Toni berbalik ketika mendengar sebuah suara di arah belakangnya. Dan Stella pun langsung menganga lebar dengan kedua matanya yang melotot sempurna saking paniknya.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️