
Kairo sangat panik dan khawatir. Sekaligus ia merasa menyesal karena sudah membuat istrinya itu celaka.
Di rumah sakit. Semua orang sedang menunggu di depan ruangan UGD dengan wajah Khawatir yang terlihat begitu kentara di wajah masing-masing orang. Sepertinya mereka memang mengkhawatirkan Stella dan calon bayi yang masih di kandungan Stella.
"Kenapa?... Kenapa aku begitu bodoh! Kenapa aku tidak bisa mengendalikan perasaan dan kemarahan ku sendiri? Kenapa aku membuat istriku dan anakku celaka? Aku begitu bodoh!" Umpat Kairo kepada dirinya sendiri dengan suara tangisnya yang menyesali perbuatannya kepada Stella.
Mama Shopia pun menatap sedih anaknya yang terlihat menyalahkan diri sendiri. Ia menghampiri Kairo yang sejak tadi duduk berjongkok dengan suara tangis penyesalan yang tiada henti-hentinya ia ucapkan. Walaupun dia sebenarnya belum tahu penyebab asli kenapa Stella sampai pendarahan hebat, namun melihat kondisi anaknya membuatnya tidak berani untuk bertanya. Hatinya juga tidak memungkiri bahwa ia juga mulai menyayangi Stella dan calon cucunya. Ia juga merasa sangat khawatir akan keselamatan mereka.
"Nak! Bangunlah. Stella akan baik-baik saja!" Ujar sang mama lembut. Lalu mengangkat tubuh Kairo yang terlihat begitu lemah dengan mata yang sudah membengkak dan sembab.
Pria itu terlihat tidak berdaya. Bahkan ia merasa hidupnya sudah tidak bearti apa-apa jika terjadi sesuatu kepada istrinya, Stella.
"Ma! Istriku ma" Kairo benar-benar sangat terpukul saat ini. Ia begitu takut jika terjadi sesuatu kepada istrinya. Bahkan sampai detik ini ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Yang ia pikirkan hanyalah Stella dan calon anaknya.
"Sudahlah Nak. Kita berdoa saja agar tuhan memberikan keselamatan kepada Stella" Ucap Mama Shopia. Lalu menarik tubuh anaknya dan memeluknya erat dengan mengusap lembut pundak sang anak.
Jujur! Dia sebenarnya juga ingin menangis. Namun ia urungkan karena dirinya sangat menjaga Images dan juga penampilannya. Karena tidak sedikit orang-orang asing juga berada di sana menunggu keluarganya yang juga di tangani oleh dokter.
Mama Shopia pun membawa Kairo menuju kursi rumah sakit. Dan membawanya duduk disana. Ia berusaha menenangkan Kairo, begitu juga dengan papanya yang juga ada di sana bersama mereka.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain.
Bella berdiri di balkon teras rumahnya dengan senyuman kepuasan yang mengembang di wajahnya.
Ia sangat bahagia melihat Stella yang sekarat. Bahkan yang membuatnya sekarat adalah suami yang dia cintai selama ini.
Dia duduk di kursi santai disana dengan mengangkat kedua kakinya di atas meja, mensejajarkan kakinya dengan duduk nya saat ini.
Tidak lama. Ia pun meraih benda pipih kesayangannya itu di atas meja. Lalu ia menelpon seseorang yang tidak lain adalah Toni.
"Hall Pak Toni! Masih ingat saya?" Ucapnya dengan senyuman menyeringai.
"Bella?. Kamu menelpon saya? Dari mana kamu mendapatkan nomor saya?" Tanya Toni beruntun dari seberang sana.
"Apa?"
"Kamu jangan bercanda Bella"
Terdengar suara Toni yang begitu khawatir, membuat Bella langsung tersenyum puas.
__ADS_1
"Jika kau tidak percaya datang saja ke rumah sakit Xx" Kata Bella lagi yang sengaja berbicara seakan dengan nada marah.
Namun detik berikutnya, ia pun kembali berbicara, "Kamu tau siapa yang membuatnya terluka?" Tanya Bella dengan menggantung ucapannya sendiri. Sementara Toni masih setia menunggu Bella melanjutkan ucapannya yang menggantung
"Yang menyakitinya adalah suaminya sendiri" Lanjut Bella lagi.
Tanpa mendengar jawaban dari Toni. Bella sengaja mematikan teleponnya begitu saja.
Ia sengaja menelpon Toni dan memberitahu keadaan Stella saat ini. Hal itu bukan karena ia peduli. Melainkan untuk menciptakan api di antara Toni dan Kairo. Dan lebih tepatnya, ia ingin membuat Toni merebut Stella dari Kairo.
"Hahaha. Dasar pria bodoh. Apa cantiknya Stella? Mereka adalah pria-pria yang bodoh dibutakan oleh cinta kepada seorang wanita miskin seperti Stella" Ujar Bella yang masih dengan suara tawa kebahagiaan yang masih ia rasa.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa untuk memberikan like dan komen ya ☺️