Ranjang Panas Sang CEO 1

Ranjang Panas Sang CEO 1
Benarkah?


__ADS_3

Karen, Leonard dan Adriana masih sibuk mengotak atik laptopnya sedangkan Rani dan dokter Adriana kadang mengobrol namun suaranya pelan karena takut mengganggu konsentrasi Karen, Leonard dan Adriana.


Karena lama menunggu sekaligus lelah akhirnya Rani tidur di pundak suaminya dokter Adrian namun belum ada dua menit tiba - tiba terdengar suara yang membuatnya memaksakan membuka matanya.


"Gawat." Ucap Adriana.


"Ada apa?" Tanya mereka bersamaan sambil menatap ke arah Adriana.


"Itu lihat." Ucap Adriana sambil menunjuk ke layar laptopnya.


Serempak mereka menatap ke arah laptop  dan mereka sangat terkejut ketika melihat dua puluh lima pria berpakaian serba hitam menembak para bodyguard yang berjaga di luar pintu utama.


"Aku akan menghubungi Sandra dan Kasandra untuk berjaga-jaga dekat pintu utama." Ucap Karen sambil mengambil ponselnya.


Karen menghubungi sahabatnya karena berada di lantai atas sedangkan saat ini mereka berada di lantai bawah. Sambungan pertama langsung di angkat oleh dokter Kasandra.


("Ada apa Karen?" Tanya dokter Kasandra sambil masih setia memejamkan matanya).


("Mansion ini di serang kalian bawa perlengkapan termasuk pistol." Ucap Karen).


Tut tut tut


Tanpa menunggu jawaban Karen langsung memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak.


Di tempat yang sama hanya berbeda ruangan di mana dokter Kasandra yang mendapatkan telepon dari Karen langsung membuka matanya dengan sempurna kemudian turun dari ranjang.


Dokter Kasandra mengambil tas yang tadi di letakkan di atas meja dekat sofa kemudian keluar dari kamarnya menuju ke kamar sahabatnya yang berada di sebelahnya sambil membawa tas yang berisi pistol dan perlengkapan untuk perang.


Brak


Dokter Kasandra membuka pintu kamar dengan paksa di mana Sandra sedang tertidur dengan pulas membuat Sandra memaksakan membuka matanya.


"Ada apa?" Tanya Sandra dengan nada kesal karena dirinya sangat mengantuk.


"Mansion ini di serang, kita bantu Karen dan yang lainnya." Jawab dokter Kasandra.


"Apa? Baik kita ke lantai satu sekarang." Ucap Sandra sambil turun dari ranjang sambil berjalan ke arah meja sofa untuk mengambil tas yang berisi pistol dan perlengkapan untuk perang sama seperti dokter Kasandra.


Ceklek


Dokter Kasandra membuka pintu kamar kemudian ke dua gadis tersebut keluar dari kamar untuk berjalan ke arah pintu lift untuk menuju ke lantai dasar di mana musuh masuk ke ruang keluarga.


Baru saja sampai di depan pintu lift terdengar suara tembakan saling bersahutan begitu pula jerit kematian dari para musuh. Hampir semua bodyguard milik Daddy Raka terluka karena mereka menyerang secara mendadak.


Dokter Kasandra dan Sandra yang mendengar suara tembakan saling bersahutan langsung menekan tombol angka satu menuju ke lantai dasar.


Ting


Pintu lift terbuka dokter Kasandra dan Sandra keluar dari kotak persegi empat tersebut dan berjalan ke arah ruang keluarga.


Lift tersebut terletak di sudut ruangan karena itulah para penjahat tidak mendengar suara lift.


"Sepertinya mereka menggunakan jaket anti peluru, kita tembak keningnya dengan menggunakan pistol." Ucap dokter Kasandra.


"Ok." Jawab Sandra singkat.


Dor                   Dor                Dor Dor


"Akhhhhhhhh...." Teriak ke empat pria bersamaan.


Bruk                        Bruk                Bruk


Bruk


Tembakan dokter Kasandra dan Sandra tepat mengenai sasaran membuat para pria yang kini berjumlah sebelas orang sangat terkejut kemudian menatap ke arah tembakan.


Karen, dokter Adrian dan Adriana yang melihat ada kesempatan mengarahkan pistolnya ke arah mereka.


Dor                         Dor                  Dor


Dor                         Dor                  Dor


"Akhhhhhhhh...." Teriak ke enam pria tersebut bersamaan.


Bruk                        Bruk                Bruk


Bruk                        Bruk                Bruk


Tembakan mereka berhasil mengenai ke enam pria tersebut dan kini tinggal lima orang.


"Si*l, tembak mereka semuanya!" Perintah salah satu pria tersebut.

__ADS_1


"Baik." Jawab ke empat pria tersebut bersamaan.


Ke lima pria tersebut mengarahkan pistolnya ke Karen, dokter Adrian, Adriana, dokter Kasandra dan Sandra begitu pula sebaliknya.


Dor                         Dor                  Dor


Dor                         Dor                  Dor


Dor                         Dor                  Dor


Dor                         Dor                   Dor


"Akhhhhhhhh...." Teriak ke lima pria bersamaan.


"Akhhhhhhhh .... " Teriak Karen, dokter Kasandra dan Sandra bersamaan juga.


Bruk                        Bruk                Bruk


Bruk                        Bruk


"Karen, Kasandra, Sandra!" Teriak dokter Adrian, Leonard dan Rani bersamaan.


"Kak Adrian tolong mereka bertiga." Pinta Rani.


"Tapi kamu ..." Ucapan dokter Adrian terpotong oleh Rani.


"Aku tidak apa-apa, tolong mereka." Mohon Rani.


"Aku akan menjaga Istrimu."Ucap Leonard yang sudah terkena luka tembak.


Akhirnya dokter Adrian berjalan ke arah mereka bertiga kemudian menarik tangan Karen dan dokter Kasandra untuk bersembunyi sedangkan Adriana menarik tangan Sandra.


Kini Rani, Leonard, Karen, dokter Kasandra dan Sandra terkena luka tembak dari para musuhnya karena banyaknya musuh yang menyerang mereka.


Dokter Adrian dan Adriana menembaki para penjahat sekaligus melindungi Rani, Leonard, Karen, dokter Kasandra dan Sandra yang sudah terkena luka tembak.


Tiba - tiba datang sepuluh pria berpakaian serba hitam dan mengarahkan pistolnya ke arah mereka.


"Jika kalian berdua masih menembaki kami maka kami tidak segan-segan mengebom mansion ini." Ucap pria tersebut sambil memperlihatkan granat ke arah dokter Adrian dan Adriana.


Dokter Adrian dan Adriana tidak mungkin menembak para penjahat karena jika melakukannya yang ada nyawa Karen, dokter Kasandra, Sandra, Rani dan Leonard dalam bahaya. Mereka hanya bisa berharap ada keajaiban di mana Daddy Raka dan yang lainnya datang menolong mereka.


'Jika aku diberikan kesempatan untuk hidup aku bersedia menikah dengan  Kak Ronald / Kak Marcel.' Ucap dokter Kasandra dan Sandra bersamaan dalam hati.


"Matilah kalian! Tembak!" Perintah pria tersebut.


'Kak Ronald, aku mohon datanglah dan apapun yang Kak Ronald minta Aku akan turuti.' Ucap dokter Kasandra dalam hati.


'Kak Marcel, apapun yang kamu minta akan aku turuti semua permintaanmu.' Ucap Sandra dalam hati.


"Kak Rico tolong aku!" Teriak Karen sambil masih mengusap perutnya karena perutnya kram hingga darah segar keluar dari sela-sela pahanya.


Dor                         Dor                  Dor


Dor                         Dor


"Akhhhhhhhh...." Teriak ke lima pria tersebut secara bersamaan.


Bruk                        Bruk                Bruk


Bruk                        Bruk


Di saat kritis datang Daddy Raka, Mommy Nicole, Rico, Marcel dan Ronald kemudian menembak kening ke lima musuhnya membuat ke lima pria tersebut berteriak kesakitan bersamaan tubuhnya ambruk dan meninggal di tempat.


Ke lima penjahat serempak membalikkan badannya dan menatap Daddy Raka, Mommy Nicole, Rico, Marcel dan Ronald yang sedang mengarahkan pistolnya ke arah mereka.


Dor                         Dor                  Dor


Dor                         Dor


"Akhhhhhhhh...." Teriak ke lima pria tersebut bersamaan.


Bruk                        Bruk                Bruk


Bruk                        Bruk


Daddy Raka, Mommy Nicole, Rico, Marcel dan Ronald berhasil menembak ke lima pria tersebut tepat di keningnya hal itu membuat ke lima pria tersebut berteriak kesakitan bersamaan tubuhnya ambruk dan meninggal di tempat.


Daddy Raka, Mommy Nicole, Rico, Marcel dan Ronald berjalan ke arah mereka dengan wajah sangat kuatir.


"Sayang, aku mohon bertahanlah." Mohon Ronald dengan mata berkaca-kaca sambil menggendong dokter Kasandra.

__ADS_1


"Aku tidak kuat Kak, jika aku tiada carilah gadis lain." Ucap dokter Kasandra dengan nada lirih dan wajahnya yang sudah pucat.


"Kamu harus hidup aku tidak sanggup kehilanganmu karena aku sangat mencintaimu tidak ada wanita lain." Ucap Ronald.


"I Love You." Ucap dokter Kasandra sambil memegang pipi Ronald.


Tidak berapa lama dokter Kasandra tidak sadarkan diri. Ronald dengan langkah cepat menuju ke arah garasi mobil untuk membawanya ke rumah sakit diikuti oleh bodyguard Daddy Rico.


"Sandra, bertahanlah." Ucap Marcel sambil menggendong Sandra.


"Jaga diri Kak Marcel baik-baik, I Love You." Ucap Sandra lirih bersamaan tidak sadarkan diri.


Marcel langsung berlari ke arah mobilnya untuk membawa Sandra ke rumah sakit dengan perasaan bercampur aduk di ikuti oleh bodyguard milik Daddy Raka.


Mereka masuk ke dalam mobil masing-masing dengan ditemani para bodyguard milik Daddy Raka dan juga Rico. Hingga lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit.


Mommy Karen, dokter Kasandra, Sandra, Rani dan Leonard langsung di bawa ke ruang UGD sedangkan yang lainnya menunggu di depan pintu UGD dengan perasaan kuatir.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Daddy Raka sambil menahan amarahnya karena putrinya dan menantu kesayangannya terluka.


Dokter Adrian menceritakan apa yang telah terjadi sedangkan Daddy Raka, Mommy Nicole, Rico, Ronald dan Marcel mendengarkan cerita dokter Adrian.


'Pantas saja sejak dalam perjalanan perasaanku sejak tadi tidak enak.' Ucap Marcel dalam hati.


"Ternyata jantungku berdebar - debar karena orang yang aku cintai terluka.' Ucap Ronald dalam hati sambil mengingat ketika dalam perjalanan menuju ke mansion.


xxxxxxx Flash Back On xxxxxxx 


Daddy Raka, Mommy Nicole, Rico, Ronald dan Marcel sudah sampai di mansion namun mereka sangat terkejut karena melihat pintu gerbang terbuka dengan lebar membuat mereka menghentikan mobilnya di depan gerbang.


"Kenapa pintu gerbang terbuka?" Tanya Daddy Raka dengan wajah kuatir begitu pula dengan yang lainnya.


"Kita turun dan masuk ke dalam gerbang." Ucap Rico sambil menghentikan mobilnya begitu pula dengan yang lainnya.


Mereka keluar dari mobil kemudian masing-masing mengeluarkan pistol sambil berjalan masuk ke dalam gerbang hingga mereka melihat para bodyguard milik Daddy Raka meninggal dunia terkena luka tembak.


'Semoga kekasihku baik-baik saja.' Ucap Roberto dalam hati walau dalam hatinya sangat takut jika terjadi sesuatu dengan kekasihnya.


'Perasaanku semakin tidak enak.' Ucap Marcel dalam hati.


Mereka langsung melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah pintu utama yang sudah terbuka hingga mereka mendengar teriakan Karen memanggil nama Rico.


Mereka semakin mempercepat langkahnya dengan secepat kilat hingga akhirnya mereka melihat sepuluh pria berpakaian serba hitam bersiap menembak dokter Kasandra, Sandra dan yang lainnya.


Marcel dan Ronald yang melihat kekasihnya dalam bahaya langsung menembak ke arah pria tersebut begitu juga yang lainnya ikut menembak para penjahat sesuai arahan Daddy Raka.


Hingga akhirnya para penjahat mati di tempat, Marcel dan Ronald berjalan ke arah kekasihnya masing-masing kemudian menggendongnya untuk di bawa ke rumah sakit.


xxxxxxx Flash Back Off xxxxxxxx 


'Sayang, kamu harus kuat karena Aku tidak sanggup kehilanganmu. Apapun yang kamu minta maka Aku akan menurutinya.' Ucap Ronald dalam hati.


'Kamu harus kuat Sayang, Aku berjanji untuk selalu ada untukmu dan menjadikanmu sebagai prioritas.' Ucap Marcel dalam hati.


'Aku akan percaya apapun yang kamu katakan.' Ucap Marcel dan Ronald bersamaan.


Ceklek


Tiba - tiba pintu ruang UGD terbuka membuat mereka berjalan ke arah pintu tersebut.


"Bagaimana keadaan putriku Rani dan menantuku Karen serta Kasandra, Sandra dan Leonard?" Tanya Daddy Raka.


"Semuanya baik-baik saja dan pelurunya sudah di ambil hanya saja lain kali khusus untuk Nyonya Rico harus istirahat total karena janinnya lemah dan bisa membahayakan nyawa Ibunya dan anaknya." Jawab dokter tersebut.


"Baik Dok." Jawab Rico dengan patuh.


"Sebentar lagi mereka akan dipindahkan ke ruang perawatan." Ucap dokter tersebut.


"Terima kasih Dok." Ucap mereka bersamaan.


"Sama-sama karena itu sudah kewajiban saya, kalau begitu saya permisi dulu, karena saya ingin mengecek pasien lainnya." Pamit dokter tersebut.


"Baik Dok." Jawab mereka bersamaan lagi.


Dokter tersebut hanya menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan mereka. Tidak berapa lama pintu UGD terbuka dengan lebar kemudian keluarlah dua perawat mendorong brangkar di mana Karen berbaring menuju ke arah ruang perawatan dan di susul oleh dokter Kasandra, Sandra, Rani dan Leonard.


xxxxxxx


Kini Ronald berada di ruang perawatan di mana dokter Kasandra sedang berbaring di ranjang dan masih setia memejamkan matanya.


"Sayang, Kakak janji untuk selalu melindungi dan menjaga dirimu dari orang yang berniat berbuat jahat. Selain itu apapun yang kamu minta akan Kakak kabulkan." Ucap Ronald sambil menggenggam tangan dokter Kasandra yang tidak terkena jarum suntik.

__ADS_1


"Benarkah?" Tanya dokter Kasandra sambil perlahan membuka matanya.


__ADS_2