Ranjang Panas Sang CEO 1

Ranjang Panas Sang CEO 1
Mengundurkan diri


__ADS_3

Rico dan Ronald kini berada di perusahaan milik Rico, ke dua pria tampan tersebut kembali melanjutkan pekerjaannya hingga tiga jam kemudian Marcel datang menemui Rico.


"Maaf Tuan, orang tuaku memintaku untuk bekerja di perusahaan milik orang tuaku jadi saya terpaksa mengundurkan diri." Ucap Marcel merasa tidak enak hati dengan Rico.


"Pasti Daddy Mu mengatakan ingin pensiun dan kamu disuruh menggantikannya untuk menjadi CEO." Tebak Rico.


"Kok Tuan tahu?" Tanya Marcel dengan wajah terkejut.


"Tentu saja tahu, karena Daddy ku juga sama seperti yang tadi aku katakan." Jawab Rico.


"Apakah Tuan kecewa karena baru satu bulan lebih Saya bekerja sudah keluar?" Tanya Marcel.


"Tentu saja tidak justru aku senang kalau kamu dan siapa saja menjadi orang yang sukses. Jadi mulai sekarang dan seterusnya panggil namaku saja tanpa perlu embel-embel memakai nama Tuan." Ucap Rico.


"Tapi ..." Ucapan Marcel terpotong oleh Rico.


"Tidak ada penolakan, apalagi bukankah kamu sudah tidak bekerja denganku? Jadi aku harap kita bisa menjadi rekan bisnis." Ucap Rico.


"Baiklah, nanti di saat aku ada proyek kita bisa menjadi rekan bisnis." Ucap Marcel.


"Ok." Jawab Rico.


"Oh ya, nanti malam aku akan mengadakan pesta kecil-kecilan jadi aku harap kedatanganmu." Ucap Marcel.


"Ok, nanti aku datang." Jawab Rico.


"Aku juga akan mengundang Ronald." Ucap Marcel.


"Ok." Jawab Rico singkat.


"Kalau begitu aku permisi mau ke ruangan Ronald." Pamit Marcel sambil berdiri.


Rico hanya menganggukkan kepalanya kemudian Marcel keluar dari ruangan tersebut menuju ke ruangan Ronald.


Tok tok tok


"Masuk." Ucap Ronald dari dalam ruangan.


Ceklek


Marcel membuka pintu ruangan Ronald kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut dan berjalan ke arah meja Ronald.


"Ronald." Panggil Marcel sambil duduk di kursi berhadapan dengan Ronald yang hanya dibatasi oleh meja kerja.


"Ya." Jawab Ronald singkat sambil masih mengerjakan dokumen.


"Mulai besok aku sudah tidak kerja di perusahaan ini." Ucap Marcel dengan nada serius.


Tak


Ronald menjatuhkan penanya ketika Marcel mengatakan hal itu kemudian duduk dengan tegap sambil menatap wajah Marcel seakan tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.


"Kamu serius?" Tanya Ronald.


"Iya aku serius, mulai besok dan seterusnya aku tidak bekerja di perusahaan ini." Jawab Marcel.


"Apa aku melakukan kesalahan karena itu kamu keluar kerja?" Tanya Ronald yang merasa sangat kehilangan rekan kerjanya.


"Tentu saja tidak hanya saja orang tuaku menginginkan aku bekerja di perusahaan milik orangtuaku karena orang tuaku ingin menikmati masa tua." Jawab Marcel menjelaskan.


"Semoga sukses dan jangan lupa sama temanmu ini." Ucap Ronald.


"Amin. Tentu saja aku tidak mungkin lupa sama sahabatku ini." Ucap Marcel.


Mereka berdua berdiri kemudian Ronald dan Marcel berjalan saling berhadapan lalu memeluk, pelukan antar sahabat.


"Semoga persahabatan kita abadi." Ucap Ronald.

__ADS_1


"Amin. Semoga saja jika kita sudah menikah dengan pasangan yang setia dengan kita, kita bisa menjodohkan anak kita agar persahabatan kita abadi sampai ke anak-anak dan cucu kita nantinya." Ucap Marcel sambil melepaskan pelukannya begitu pula dengan Ronald.


"Amin." Ucap Ronald.


Setelah beberapa saat Ronald kembali mengerjakan dokumen dengan di bantu Marcel hingga tidak terasa sudah jam lima sore. Ke tiga pria tampan tersebut pergi ke apartemen milik Marcel untuk mengadakan pesta kecil-kecilan sesuai apa yang dikatakan oleh Marcel.


Kini ke tiga pria tampan tersebut berada di apartemen Marcel di mana sudah tersedia berbagai aneka cemilan dan minuman.


"Kok sudah siap saja aneka cemilan dan minuman?" Tanya Ronald.


"Orang tuaku yang menyiapkan ini semua katanya sebagai ungkapan terima kasih karena sudah mengajariku jadi aku bisa mempratekkannya di tempat perusahaan yang aku pimpin." Jawab Marcel.


"Ke dua orang tuamu kemana?" Tanya Ronald.


"Ke dua orang tuaku pergi ke rumah Oma dan Opa dari Mommyku." Jawab Marcel.


Ronald hanya mengangukkan kepalanya kemudian ke tiga pria tampan tersebut saling mengobrol sambil makan cemilan yang tersedia di meja.


"Tubuhku lengket, aku numpang mandi ya." Ucap Rico yang tidak betah jika tidak mandi.


"Aku juga." Sambung Ronald.


"Silahkan, di kamar yang biasa kalian tempati masih ada pakaian kalian yang sudah bersih dan disimpan di dalam lemari, aku juga mau mandi karena aku tidak betah kalau badanku lengket." Ucap Marcel.


"Ok." Jawab Rico dan Ronald bersamaan.


Ke tiga pria tampan tersebut berjalan ke arah kamar masing-masing. Rico dan Ronald terkadang menginap di rumah Marcel untuk melanjutkan pekerjaan kantor. Selain menginap di apartemen Marcel terkadang menginap di apartemen milik Rico dan Ronald secara bergantian.


Hal itu dilakukan oleh Rico agar Rico bisa kenal lebih dekat dengan ke dua tangan kanannya. Hingga lima belas menit kemudian Rico sudah selesai mandi dan memakai pakaian baru sedangkan pakaian yang tadi dikenakan dimasukkan ke dalam keranjang khusus pakaian kotor di mana nanti pelayan milik Marcel akan mencucinya.


Rico mengambil ponselnya yang diletakkan di meja dekat ranjang dan matanya membulat sempurna karena ada dua panggilan tidak terjawab dan satu pesan dari adik kembarnya.


Rico membaca isi pesan tersebut sambil keluar dari kamar tamu. Rico berjalan dengan langkah cepat ketika sudah membaca pesan adik kembarnya.


"Marcel dan Ronald, aku pergi dulu." Pamit Rico ketika sudah sampai di ruang keluarga.


"Adik kembarku di serang oleh segerombolan pria berpakaian serba hitam di jalan Ketemu Lagi." Jawab Rico sambil menahan amarahnya dan berjalan ke arah pintu utama.


"Apa? Aku ikut." Ucap Ronald dan Marcel bersamaan.


Rico hanya menganggukkan kepalanya kemudian ke tiga pria tampan tersebut pergi dari apartemen milik Marcel. Ronald menghubungi anak buahnya untuk datang ke jalan Ketemu Lagi.


Marcel mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi agar sampai di tempat tujuan sedangkan Ronald duduk di samping pengemudi dan untuk Rico tentu saja duduk di belakang pengemudi.


Kini mereka sudah sampai di Ketemu Lagi di mana adik kembarnya sedang berkelahi dengan para pria berpakaian serba hitam dan di bantu oleh ke tiga gadis bersamaan kedatangan para anak buahnya Ronald.


"Syukurlah adik kembarku ada yang membantu." Ucap Rico sambil keluar dari mobil.


"Iya." Jawab Ronald dan Marcel bersamaan sambil ikut keluar dari mobil.


Ronald dan Marcel kenal dengan adik kembarnya Rico ketika adik kembarnya datang ke perusahaan kakak kembarnya. Adik Kembar nya yang bernama Rani sangat baik dan tidak sombong terhadap para karyawan dan karyawati yang bekerja di perusahaan milik Kakaknya karena itulah Ronald dan Marcel sangat menyayangi Rani dan menganggapnya sebagai adik mereka.


Di antara mereka bertiga Marcel yang lebih tua usianya setelah itu barulah Ronald dan yang terakhir Rico. Rico paling muda di antara Marcel dan Ronald tapi dalam hal strategi Rico paling ahlinya.


Para anak buah Ronald membantu Rani dan ketiga gadis tersebut hingga akhirnya mereka berhasil dikalahkan.


"Aish Kakak lama banget datangnya." gerutu Rani sambil memeluk kakak kembarnya.


"Maaf Kakak datang terlambat, kamu baik- baik sajakan?" Tanya Rico sambil membalas pelukan adik kembarnya dan memberikan kode ke arah anak buahnya untuk menangkap para preman untuk di bawa pergi.


"Tidak apa-apa Kak, Rani baik - baik saja. Untung saja ada mereka bertiga jadi aku baik-baik saja." jawab Rani sambil mendorong perlahan Kakak kembarnya.


"Terima kasih banyak atas pertolongannya." Ucap Rico untuk pertama kalinya mengatakan terima kasih.


"Sesama manusia harus saling tolong menolong, kalau begitu kami pulang dulu." Ucap Karen sambil tersenyum.


"Tunggu Kak, boleh kenalan dulu?" Tanya Rani.

__ADS_1


"Boleh." Jawab Karen sambil masih tersenyum.


"Perkenalkan namaku Karen." Ucap Karen sambil mengulurkan tangannya ke arah Rani.


"Namaku Rani Alexander panggil saja Rani." Ucap Rani membalas uluran tangan Karen.


Tidak berapa lama Karen dan Rani melepaskan uluran tangannya kemudian Karen mengulurkan tangannya ke arah Rico.


"Rico Alexander panggil saja Rico." Ucap Rico memperkenalkan diri dan membalas uluran tangan Karen.


Deg


Deg


Entah kenapa jantung Karen dan Rico berdetak kencang ketika tangan mereka saling bersentuhan.


"Ehem ..." Ucap mereka bersamaan ketika mereka saling menatap tanpa melepaskan uluran tangannya.


Spontan Karen dan Rico melepaskan uluran tangannya sambil tersenyum malu kemudian Ronald, Marcel, Sandra, Kasandra dan Rani saling berkenalan.


"Oh ya boleh aku minta nomer teleponnya?" Tanya Rani.


"Boleh." Jawab ke tiga gadis tersebut dengan serempak.


Karen, Sandra dan Kasandra bergantian memberikan nomer telepon sedangkan Rani mengetik nomer telepon mereka dan menyimpannya di nomer kontak telepon.


Tanpa sepengetahuan mereka kalau Rico, Ronald dan Marcel mempunyai daya ingat yang tinggi. Ke tiga pria tampan tersebut menyimpannya di dalam otak mereka.


'Untung Rani meminta nomer Karen jadi aku bisa kirim pesan.' Ucap Rico dalam hati.


'Untung nona Rani minta juga nomer Kasandra jadi aku bisa mencari cara agar bisa mengajaknya ketemuan dan akhirnya kami bisa menikah.' Ucap Ronald dalam hati penuh harap.


'Sepertinya Sandra baik, aku akan berusaha mendekatinya dengan mengajaknya ketemuan. Aku akan tunjukkan ke mantan ku kalau aku bisa mendapatkan yang lebih baik dari mantanku.' Ucap Marcel dalam hati.


Mereka mengobrol sebentar setelah agak lama akhirnya mereka berpisah. Karen, Sandra dan Kasandra kembali melanjutkan perjalanan menuju ke arah rumah Sandra.


"Ayo kita pulang." Ajak Rico.


"Baik Kak." Jawab Rani.


Mereka pun berjalan ke arah mobil milik Marcel membuat Rani tengak tengok mencari mobil milik Kakak kembarnya.


"Mobil Kakak kemana?" Tanya Rani.


"Ada di apartemen Marcel, kita ke apartemen Marcel untuk mengambil mobil." Jawab Rico.


"Aku sangat lelah Kak, ingin pulang jadi lebih baik pakai mobilku saja." Ucap Rani.


"Kalau begitu Kakak akan temani kamu pulang." Jawab Rico yang tidak ingin terjadi sesuatu dengan adik kembarnya.


"Tapi teman-teman Kakak?" Tanya Rani yang tidak enak dengan Ronald dan Marcel.


"Tidak apa-apa santai saja, nanti mobilnya saya antar." Ucap Ronald.


"Maaf ya jadi ngerepotin Kak Ronald." Ucap Rani merasa tidak enak hati.


"Tidak merasa repot kok, santai saja." Jawab Ronald.


Rani hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka pergi meninggalkan tempat tersebut. Rani pergi bersama Rico dengan menggunakan mobil milik Rani sedangkan Ronald pergi bersama Marcel dengan menggunakan mobil milik Marcel.


Sepeninggal mereka termasuk anak buah Ronald, dua pasang mata menatapnya dengan tatapan kebencian.


"Si*l gagal lagi." Ucap pria pertama.


"Kita pikirkan rencana lain untuk mem x bu x nuh mereka." Ucap pria ke dua.


"Betul katamu, kita pikirkan rencana lain." ucap pria pertama.

__ADS_1


Pria ke dua hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.


__ADS_2