
Seperti biasanya, Ishaq datang dengan sebuah bunga cantik yang hendak dia letakkan pada sebuah wadah. Bunga itu sebagai perlambang dari cinta Ishaq yang di bawa Ishaq ketika sedang menjenguk Arin.
Ishaq tak tega sebenarnya untuk pergi meninggalkan Arin ke Belanda. Tapi Ishaq juga tidak mungkin mengesampingkan pekerjaan yang harus dia selesaikan. Sehingga Ishaq berharap tetap bisa berkomunikasi dengan Arin seperti biasanya. Sehingga Ishaq tidak akan pernah kehilangan kabar dari seorang Arin.
Ishaq mengelus lembut wajah Arin. Mengelus juga bagian mata Arin yang menurut Ishaq merupakan bagian paling sempurna dari Arin. Mata Arin itu tidak pernah terbuka kembali, sejak Arin mengalami koma. Hingga Ishaq begitu merindukan bagaimana mata indah Arin itu dapat di lihat oleh seorang Ishaq.
"Arin, lusa kemungkinan akan berangkat ke Amsterdam. Aku harap saat aku nanti pulang, kamu sudah siuman. Aku harap itu akan terjadi, sebuah keajaiban yang selalu aku rindukan pada kamu. Aku harap itu akan terwujud sayang." ujar Ishaq dengan suara sendunya.
Tak lama, Ishaq pun mulai mengambil bunga yang sebenarnya baru di letakkan oleh Ishaq beberapa hari yang lalu. Bunga yang masih segar, di ganti oleh Ishaq dengan bunga baru. Bunga lama itu tetap Ishaq buang kedalam sebuah tong sampah. Sesuai dengan janji seorang Ishaq yang akan selalu mengganti bunga itu, ketika Ishaq datang ke ruang perawatan seorang Arin.
Ishaq menarik kursi untuk dirinya duduk. Kemudian dengan segera Ishaq duduk di samping Arin. Dia menggenggam erat tangan pacarnya tersebut. Bahkan sesekali Ishaq menciumi tangan Arin yang sudah lama tidak pernah di gerakkan oleh Arin tersebut. Ishaq begitu bahagia bisa menggenggam tangan Arin yang begitu lembut tersebut.
Kedua mata Ishaq tak mampu lepas untuk memandang seorang Arin. Memandang wajah Arin yang tetap cantik dengan kondisi koma yang di lalui oleh seorang Arin. Ishaq tak bisa menyembunyikan kekaguman dari dirinya pada seorang Arin yang begitu cantik dan mempesona. Sehingga senyum Ishaq tak bisa pergi, saat dia memandang wajah cantik pacarnya tersebut.
Di luar kamar perawatan Arin, ayah Arin yang bernama Jatmiko terus memperhatikan seorang Ishaq yang tak terus menunjukkan rasa cintanya pada seorang Arin. Ishaq terlihat begitu tulus mencintai seorang Arin. Hingga Iko, panggilan ayah Arin. Merasa beruntung Arin bisa memiliki pacar seperti Ishaq. Sebab Ishaq menunjukkan bagaimana seorang pacar setia yang menunggu Arin dalam segala keadaan.
Tapi Iko pun tak bisa menutup mata akan desakan dari orangtua Ishaq yang meminta Ishaq untuk mencari pengganti Arin. Baru juga berpikir ke arah sana. Dugaan dari Iko ternyata tepat. Santi menelpon Ishaq, dia meminta Ishaq untuk menemui seorang perempuan.
__ADS_1
Ishaq menolak permintaan dari ibunya tersebut. Dia tetap meyakini Arin yang akan sembuh secepat mungkin. Sehingga Ishaq tidak harus mencari perempuan lain pengganti Arin. Tapi Santi tetap ngotot meminta Ishaq untuk datang ke rumah, sebab perempuan yang hendak di kenalkan pada Ishaq telah datang. Dia pun harus datang ke rumah untuk bertemu dengan perempuan tersebut.
Ishaq yang sedikit kesal pada ibunya yang terus memaksa Ishaq untuk datang. Akhirnya mengakhiri panggilan telepon dengan ibunya tersebut. Dia pun meminta ibunya untuk tidak mengubungi dirinya lagi. Sebab Ishaq tidak ingin bertemu dengan perempuan yang hendak di jodohkan oleh ibunya tersebut.
Ishaq pun mematikan handphone miliknya. Dengan seperti itu, Santi tidak akan mengubungi Ishaq kembali. Ishaq pun akan tenang dalam kunjungannya kali ini.
Iko menyadari keinginan dari Santi akan Ishaq, dia menginginkan Ishaq untuk bisa lebih realistis lagi. Sehingga Ishaq harus mencari pengganti Arin yang menurut Santi tidak akan pernah kembali pada Ishaq. Sehingga Santi mendorong Ishaq untuk mencari pengganti Arin.
Iko masuk kedalam ruang perawatan Arin. Dia melihat bagaimana Ishaq terlihat begitu bimbang, di satu sisi mungkin Ishaq ingin mempertahankan cintanya pada seorang Arin. Tapi di sisi lain, Ishaq pun menginginkan kebahagiaan bagi ibunya sendiri. Sehingga Ishaq begitu dilema dengan keputusan yang hendak di ambil oleh dirinya tersebut.
"Kenapa kamu membentak ibu kamu seperti itu?" tanya Iko merangkul pundak Ishaq.
"Saya sedikit kesal saja Om. Saya yakin, Arin akan sembuh. Dia akan segera sembuh Om. Sehingga tidak ada yang harus saya khawatirkan. Saya akan segera menikah dengan Arin, bahagia untuk selamanya. Tapi ibu saya selalu memaksa saya untuk mencari pengganti Arin. Dia ingin saya segera menikah, meninggalkan Arin." jawab Ishaq dengan begitu kesalnya.
"Kalau Om jadi ibu kamu, sepertinya Om akan mengikuti hal yang sama." ujar Iko.
Ishaq menatap wajah Iko dengan penuh keheranan. Mengapa Iko mengatakan hal demikian. Padahal Ishaq membela Arin yang merupakan puteri dari seorang Iko.
__ADS_1
"Kenapa Om berkata demikian?"
"Saya pikir itu hal yang realistis. Kamu sudah mau kepala tiga, sudah saatnya kamu mencari seseorang yang bisa di nikahi oleh kamu. Kamu tidak bisa terus-terusan menunggu Arin. Om sendiri sudah pesimis Arin akan kembali sembuh dari komanya tersebut. Jadi Om sarankan pada kamu, untuk mencari pengganti Arin. Sesuai dengan keinginan Ibu Kamu." ujar Iko dengan begitu ikhlas.
"Tidak Om, saya tidak akan pernah mencari pengganti Arin. Arin adalah segalanya buat saya. Dia perempuan yang sempurna untuk saya Om. Jadi saya tidak akan meninggalkan Arin. Sekali pun yang meminta itu adalah ibu saya sendiri."
Iko kembali menasehati seorang Ishaq. Dia mengatakan apa yang Ishaq lakukan adalah tindakan sia-sia. Ishaq akan menunggu Karin, sementara Ishaq harus balapan dengan usia ibunya sendiri. Sehingga Ishaq harus bisa memenangkan balapan itu. Salah satunya tentu mencari perempuan lain yang bisa Ishaq nikahi. Bukan Arin, perempuan tersebut.
Mendapatkan nasehat dari Iko, Ishaq pun mulai berpikir kembali dengan tindakan dari dirinya yang terlalu egois. Dia setia menunggu Arin, berharap sebuah keajaiban akan terjadi pada seorang Ishaq. Tapi apakah keajaiban itu nyata? Tentu saja itu bukan hal yang nyata, sebab hampir 3 tahun Ishaq menunggu seorang Arin. Keajaiban pada Arin tak kunjung datang. Sehingga Ishaq harus segera melupakan semua kejadian yang dia harapkan tersebut.
Ishaq mulai berpikir untuk meninggalkan Arin, menemui perempuan yang mungkin akan menjadi jodohnya kelak. Perempuan yang hendak di jodohkan ibunya pada dirinya. Sosok perempuan cantik yang bisa membuat Ishaq jauh lebih bahagia lagi.
Ishaq kembali menghidupkan handphone miliknya. Dia lalu mengirimkan pesan pada ibunya. Pesan yang mengatakan jika Ishaq akan segera pulang ke rumahnya. Pulang untuk menemui perempuan yang hendak di kenalkan pada Ishaq. Sosok perempuan cantik yang siap menggantikan posisi Arin di hati Ishaq.
Ishaq pun berpamitan pada Iko untuk segera pulang. Iko sebagai ayah dari Arin, mendukung penuh apa yang di lakukan oleh Ishaq. Tidak ada yang salah dengan keputusan dari seorang Ishaq. Dia melakukan itu untuk membuat hidupnya lebih baik lagi. Sehingga Ishaq harus melakukan hal tersebut untuk bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi.
Di hati kecil seorang Iko, dia masih menyimpan keinginan pada seorang Ishaq. Keinginan dari Iko akan Ishaq yang kelak akan menjadi menantunya. Ishaq adalah sosok yang di idamkan oleh Iko untuk menjadi menantunya. Selain penuh tanggung jawab, Ishaq juga merupakan sosok yang dewasa. Sehingga sangat cocok untuk meneruskan perusahaan yang di miliki oleh Iko saat ini.
__ADS_1
Namun takdir berkata lain, Ishaq sulit untuk menjadi menantunya. Sebab Arin yang tak kunjung bangun dari komanya, telah membuat Ishaq harus pergi. Pergi mencari perempuan lain yang bisa benar-benar di nikahi oleh Ishaq sebagai istrinya kelak.